Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pov Dina



Dina menyaksikan semua yang ada didalam goa. Saat melihat pria itu masuk kedalam ruangan kamarnya didalam Goa, Ia kembali teringat akan masa lalunya.


Dimana saat Ia begitu mudahnya terpesona dan mempercayai ucapan pria itu yang mengatakan mencintainya.


Sesaat timbul rasa benci melihat pria itu, namun Ia tidak diberi kesempatan kepada Bromo untuk meluapkan dendamnya. Mungkin saja Bromo menaruh rasa cemburu jika sampai Ia bertemu dengan pria dimasa lalunya.


"Kamu kenapa Dinda? Mengapa wajahmu begiti sangat masam" ucap Bromo, suami silumannya yang yang kini sedang mendekapnya dari arah belakang.


"Kanda, ijinkan Dinda menemui pria itu, Dinda akan membuat perhitungan padanya" ucap Dina dengan berapi-api.


Bromo mengecup lembut leher jenjang istrinya, yang membuat Dina merasa melayang.


"Kanda tidak akan mengijinkannya. Nanti jika hatimu goyah dan merasakan cinta lama bersemi kembali, maka Kanda yang akan repot" ucapnya dengan lirih, sembari menggigit kecil telinga Dina.


Dina menggeliatkan tubuhnya merasa geli dengan perbuatan suaminya.


"Kanda lebih tampan dan juga perkasa, lalu buat apa Dinda harus mencintainya kembali" jawab Dina mencoba menyenangkan hati Bromo.


"Oh, Ya.. Kalau begitu mengapa Dinda harus repot-repot untuk mengurusi pria itu? Lebih baik Kita memadu kasih saja." ucapnya Sembari membopong tubuh Dina yang dirasanya sangat ringan.


"Kanda.." Dina mencoba memberontak, namun tenaganya tidak sebanding dengan Bromo, dan akhirnya hanya pasrah saja.


Bromo begitu sangat mencintai istrinya, sehingga Ia tidak rela jika ada pria lain mengusik hatinya. Namun Ia hanya memberi sebuah kesempatan untuk Pria bejad itu agar bertemu dengan Chakra, bagaiamanapun, pemuda itu harus tahu siapa jati dirinya sebenarnya.


Setelah melewati percintaan yang manis, Dina membenamkan kepalanya didada bidang sang suami.


"Kanda... Bagaimana dengan musuh lain yang akan datang. Apakah mereka juga memiliki tujuan yang sama? untuk mengambil mustika yang kini terhantung dileher Asih" tanya Dina dengan penasaran.


"Ya.. Itu pasti" jawab Bromo dengan tatapan misterius.


"Lalu apa yang akan Kanda lakukan untuk mencegahnya?" tanya Dina penasaran.


"Biarkan saja, Kita ikuti saja permainan mereka" jawab Bromo lalu mengecup lembut Ujung kepala Dina.


Dina tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Suaminya, Ia hanya masih dapat menduga-duga saja.


Dan saat Ia melihat Asih terlempar dari tebing Goa, Dina mencoba meminta Bromo membantunya, namun pria itu hanya tersenyum saja, tanpa bereaksi apapun.


Dina begitu mencemaskan kondisi Asih, namun sepertinya Bromo hanya terlihat santai saja.


"Sayang, bagaimana kondisi Asih?" tanya Dina dengan debaran hati yang begitu sangat takut.


"Tenanglah Dinda, Kanda sudah menjenguknya, dan Ia dalam kondisi baik-baik saja" jawab Bromo seperti tak memiliki masalah.


Dina mencoba menarik nafasnya dalam, dan berusaha mempercayai ucapan suaminya.


"Lalu, pemuda itu bagainana?" tanya Dina dengan tak sabar.


Bromo hanya menatap sendu "Dia tidak akan menyulitkan Asih" jawab Bromo mencoba menenangkan rasa kecemasan yang dialami oleh istrinya secara berlebihan.


"Ingatlah, Asih gadis tangguh, Ia dapat melewati semua masalahnya, maka jangan mengkhawatirkannya" Bromo mencoba mengingatkan.


Dina hanya tercenung mendengarnya, mencoba menekan rasa khawatirnya yang sangat berlebihan.


"Mengapa mereka begitu menginginkan batu mustika itu, Kanda?" tanya Dina dengan nada penasaran.


Dina mencoba memahaminya, dan Ia juga tidak mengerti dengan harga jual dari berlian tersebut didunia nyata, sebab Ia sudah biasa melihatnya didunia ghaib hang mana disuguhkan oleh Bromo secara cuma-cuma, Ia hanya tinggal meminta yang mana.


"Kanda... Saat Dinda akan kembali ke rumah Abah, Dinda bertemu dengan pria yang sangat jahat. Ia menumpang raga seorang pemuda yang tak berdosa, bagaimana cara mengatasinya?" tanya Dina mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


Bromo mengernyitkan keningnya "Dia adalah jelmaan dari ular siluman, sepertinya Ia menyukaimu, maka berhatilah-hatilah."Bromo mencoba menginhatkan kembali.


"Dia juga yang mengirimkan ular-ular siuman yang waktu itu menyerang warga desa. Lalu membuat fitnah jika Dinda adalah orang yang membawa sial didesa itu" ucap Bromo dengan lugas.


Dina terperangah, Ia sudah menduganya, jika pria itu memiliki dendam padanya, namun karena apa? Sebab Dina merasa tidak memiliki rasa permasalahan apapun dengannya.


"Mengapa Ia begitu mendendam pada Dinda? Seingat Dinda, tidak pernah membuat masalah apapun dengannya. Bahkan Dinda baru pertama kali mengenalnya saat berada didesa" ucap Dina mencoba menjelaskan.


"Dia sudah lama mengincar Dinda, sejak masih usia remaja. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menjadikan Dinda istrinya, namun keburu Kanda peristri, sehingga Ia merasa ditikung" Bromo mencoba menjabarkannya.


"Mengapa Ia menyukai Dinda, bukannya didesa itu banyak gadis yang juga cantik" ucap Dina penasaran.


Bromo mencoba tersenyum dan mengacak rambut sang istri " Itu semua Karena didalam pandangan mata para makhluk ghaib, darah kamu begitu manis dan wajah kamu begitu menggoda mereka, termasuk Kanda, yang jatuh cinta saat pertama kali melihat Dinda" jawab Bromo dengan jujur.


Dina terperangah mendengar ucapan dari Bromo suami silumannya. "Lalu, mengapa Ristih terus mengejarku? Dia kan siluman betina" tanya Dina dengan penasaran.


Bromo tersenyum mendengar pertanyaan dari Dina yang selama ini sangat ditunggu-tunggunya.


"Itu karena Ia mencintai Kanda, dan tidak rela jika Kanda menikahi Dinda" jawab Bromo bangganya.


"A.. Apa..? Dia menyukai Kanda?" tanyanya dengan wajah yang berubah masam.


"Bukan cuma menyukai, tetapi cinta mati, sehingga sampai kapanpun akan terus mengejar Kanda" jawab Bromo dengan percaya diri.


"Idiiih.. Seperti gak ada siluman jantan lain saja, sampai ngejar-ngejar kanda segitunya" ucap Dina dengan wajah cemberut.


Perubahan wajah Dina membuat Bromo semakin senang, sebab itu akan membuat Dina menunjukkan kecemburuannya.


"Ya.. Karena tidak ada yang setampan Kanda" jawab Bromo sembari tersenyum.


"Haaah??" Dina memasang wajah kaget "Segitunya? Dinda pernah ketemu siluman tampan di kolam saat sedang bermain ditaman" jawab Dina spontan.


Seketika wajah Bromo memerah dan tak ingin Dina menyebutkan jika ada siluman jantan yang tampan selain dirinya.


"Kalau begitu, Kanda tidak mengijinkan lagi Dinda keluar dari kamar ini, dan jangan pernah mencoba melanggar perintah Kanda" titah Bromo terbakar apai cemburu.


Dina tertawa senang, karena berhasil mengerjai suaminya.


"Iya.. Siluman tampan itu sedang mandi dikolam, dan saat itu Dinda tanpa sengaja mengintipnya" ucap Dina lagi dengan sengaja memanasi hati Bromo.


"Sudah, jangan Dinda teruskan lagi" ucap Bromo yang sudah sangat panas telinganya.


Ternyata seorang pria jika sudah terbakar api cemburu, maka tidak akan dapat berfikir dengan jernih.


"Dan.. Ia hampir saja membunuh Dinda dengan anak panahnya" ucap Dina sembari tertawa.


Bromo menghujani Dina dengan kecupan bertubi-tubi.. "Dinda terlalu nakal, dan saat itu untuk pertama kalinya Dinda mengintip Kanda mandikan" Bromo menimpali, setelah mencerna ucapan Dina yang ternyata sedang mengulik kisah masa lalu mereka.