Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terdampar-4



Sisa dari orang-orang suku itu saling tatap saat melihat Tetuah suku mereka terbakar. Kini meraka ingin membalaskan dendam kepada gadis cantik yang sangat berbahaya tersebut.


Mereka mengangkat tombaknya, lalu beramai-ramai menyerang Asih.


Sementara itu, Edy masih berperang melawan beberapa orang Suku tersebut.


Berbekal tombak yang dipungutnya dari salah satu orang Suku yang telah roboh, Edy mencoba melumpuhkan mereka.


Disisi lain, pemuda tawanan tadi sudah sampai ditepi pantai dengan rasa lelah yang teramat sangat. Namun, Ia berusaha mencari perahu motor yang dikatakan oleh tadi sesuai petunjuk Edy.


Pemuda meletakkan kekasihnya dibawah pohon kelapa, dan menyandarkannya. Sedangkan Ia mencari perahu motor tersebut kedalam semak.


Setelah mendapatkannya, pemuda itu merasa bingung bagai mana dapat menariknya ketepian. Dimana perahu itu tentulah sangat berat.


Ia mencoba berfikir mencari cara untuk mempermudah perkerjaannya.


Sesaat Ia memandang kearah bawah perahu. Ia melihat jika perahu diberi dudukan dua batang kayu sebagai penyangganya.


Ia memastikan, jika orang yang menyembunyikan perahu motor itu adalah orang yang genius. Kayu penyangga itu diperpanjang lagi oleh pemuda itu.


Ia mencari dan mengumpulkan dahan pohon dan menatanya untuk mempermudah peluncuran perahu motor tersebut.


Setelah berhasil membuat rel untuk meluncurkan perahu motor, maka pemuda itu mulai mendorongnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.


Perlahan perahu itu mulai meluncur, namun tersendat di dipertengahan jalan.


Sesaat Ia terdiam, ketika seseorang memanggilnya.


"Michel" ucap seorang gadis dengan sangat lemah. Seketika pemuda bernama Michle itu menoleh, dan Ia terperangah..


Ia melihat kekasihnya Lorenza sedang ditawan oleh orang-orang suku, sepertinya Lorenza tersadar saat Ia meninggalkannya mencari perahu motor tersebut.


Dua orang suku yang membawa tombak ditangannya mengahampiri Michle, lalu meminta pemuda Asing itu menyerah.


Keduanya kembali diikat keduanya tangannya yqng menghadap kebelakang.


Beberapa pria suku begitu tergoda dengan lorenza yang kini berbalur dengan darah binatang liar tersebut.


Mereka seolah ingin melahab Lorenza, tanpa belas kasih terhadap kondisi sang gadis yang kini tak berdaya dan mengenaskan.


Seorang diantaranya menarik Lorenza, meminta temannya untuk memegangi tubuh sang gadis. Ia berniat merudal paksa Lorenza.


Michle yang melihat kekasihnya akan digilir, meronta untuk dilepasakn, namun tenaganya kalah dari orang suku tersebut, dan seorang diantaranya meninju perut Michle hingga pemuda itu meringis menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia hanya bisa menatap sang kekasih yang akan dijadikan bulan-bulanan para orang suku tersebut.


Namun belum sempat orang suku itu merasakan tubuh sang Gadis, sebuah tombak melayang dari arah belakang, dan menancap dipunggung kirinya hingga menembus kedada, lalu Ia ambruk seketika.


Melihat temannya roboh, orang-orang suku yang berjumlah 5 orang tersebut, menyerang seseorang yang tampak menghampiri mereka dikegelapan.


Sesaat terjadi pertarungan antara seorang pemuda yang tak lain adalah Edy. Pemuda itu baru saja melumpuhkan para orang suku yang menghadangnya didalam hutan, dan saat Ia menuju tepi pantai, ternyata Ia melihat Dua tawanan itu sedang disandera oleh orang-orang suku tersebut.


Maka dari itu, Edy melakukan penyerangan terhadap orang suku yang mencoba merudal paksa gadis tawanan.


Setelah berhasil melumpuhkan kelima orang suku itu, maka Edy menghampiri kedua tawanan, dan membuka pengikat ditangannya.


Kedua tawanan itu saling berpelukan, mereka seoalah berharap jika Edy dapat membantu mereka keluar dari pulau yang penuh bencana ini.


Edy menuju perahu motor, Ia mendorong dengan tenaga penuh sehingga perahu itu meluncur ketepi pantai. Edy meminta kedua tawanan itu agar segera mendekat dan naik keperahu. Kilatan cahaya dan petir menyambar bagaikan sebuah kemarahan yang membuat semakin suasana menakutkan.


Maka terdengar suara deru mesin perahu yang meraung-meraung dikegelapan malam. Kedua tawanan itu sudah naik keperahu, mereka tinggal berangkat saja, namun Edy tak juga berangkat, Ia masih menantikan seseorang. Ia menatap kearah tepi hutan, berharap gadis itu keluar dengan segera.


Sesuai kesepakatan, jika sampai batas waktu yang sudah ditetapkan gadis tak juga keluar dari dalam hutan, maka Edy harus kembali dan membawa pulang dua tawanan itu dengan selamat.


Lama mereka menunggu, batas waktu hampir habis, dan Asih juga belum tampak tanda-tanda kehadirannya.


"Mengapa Kita belum juga berangkat Mr?" tanya pemuda Asing dengan penasaran.


"Ada seseorang yang harus ditunggu dan ikut bersama" jawab Edy lirih.


Pandangan matanya terus menatap kearah tepi hutan.


Saat Ia ingin memacu mesin perahu motornya, tampak sebuah suluh bambu yang begitu banyak sedang menuju tepi pantai, sesaat jantung ketiganya berpacu lebih cepat. Terutama para Michle dan Lorenza yang tampak memucat karena membayangkan hal yang mengerikan.


Edy melihat Asih sedang dikepung oleh orang-orang suku yang merasa marah karena Asih telah membinasakan Tetuah suku mereka, bahkan membakar pohon beringin yang dianggap keramat oleh orang-orang suku itu.


Tampak asap mengepul dari tengah hutan, dan ternyata itu adalah pohon beringin keramat yang dibakar oleh Asih.


Edy meminta Pemuda Asing itu untuk menjaga perahu "Tetaplah disini, Aku ingin membantu gadis untuk keluar dari lingkaran orang-orang aneh tersebut.." ucap Edy, lalu Ia melompat ketepian dan berlari dengan cepa, lalu Ia mencabut tombak yang tertancap di punggung orang suku itu.


Lalu Ia berlari menuju kerumanan orang suku untuk membantu Asih.


Tampak Asih sedang bertarung melawan orang-orang suku tersebut.


Edy dengan cepat membantu sang Gadis menghadapi para orang-orang suku tersebut.


Dengan menggunakan tombak, Ia menghujani mereka satu persatu hingga roboh.


Saat Edy berhasil menghampir Asih, Ia kini merasa begitu lega, meskipun nyawanya dalam bahaya. "Sudah Ku katakan untuk pergi, mengapa Kau kembali ke sini" ucap Asih sembari memberikan serangan kepada orang suku tersebut dan merobohkannya satu persatu.


"Aku tidak mungkin meninggalka mu" jawab Edy sembari terus bertempur.


"Dasar keras kepala" ucap Asih, lalu menendang perut lawannya dan terkapar.


"Aku mencintaimu, bagaiamana mungkin Aku membiarkanmu menghadapi semua ini sendirian" jawab Edy, lalu menendang lawannya.


"Sebaiknya Kita segera mengecoh mereka, Kita harus segera keluar dari pulau ini" titah Asih, yang diikuti anggukan Edy.


Sesaat Asih menarik salah seoarang wanita suku yang juga bergabung dalam pasukan.


Asih menjadikan wanita itu untuk para orang suku lainnya memberi jalan.


Setelah dapat keluar dari kerumunan, Asih dan Edy membawa lari tawanan itu.


Ketika sampai dipertengahan jalan, mereka mendorong wanita suku itu hingga tersungkur dan mereka berlari menuju perahu motor.


Michle sudah menghidupkan mesin motor perahu tersebut, dan siap berlayar.


Bersamaan dengan itu, dikejauhan orang suku sudah kembali mengejar dan melempari mereka dengan tombak, sehingga Edy dan Asih harus bisa menghindari tombak-tombak tersebut.


Saat Asih dan Edy akan mencapai perahu, maka tanpa diduga, Asih membopong Edy dan melompat ringan naik keperahu, membuat dua orang Asing itu terperangah kebingungan.


Namun pemuda asing itu tersadar saat sebuah tombak tertancap tepat disisi perahu karena lemparan seorang dari orang-orang suku itu.


Dengan debaran yang kencang, pemuda Asing itu memacu laju perahu motornya menjauhi tepi pantai dipulau yang mematikan tersebut.