Buhul ghaib

Buhul ghaib
Draft lagi



Chakra kembali kedalam speedboart dan melihat kondisi Rere yang kini sangat memprihatinkan. Chakra tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong gadis itu, sepertinya gadis itu sudah terminum air asin. Chakra bingung untuk menolong sang gadis.


Disaat Ia dalam kebingungan, tiba-tiba saja buaya putih itu kembali naik kedalam speedboat, lalu menghampiri Rere yang terkulai lemah. Chakra menatapnya dengan bingung.


Sesaat kemudian buaya itu meletakkan kedua kaki depannya didada sang gadis, lalu menghentaknya dengan kuat, seketika gadis tomboy itu memuntahkan air dan terbatuk. Lalu buaya itu kembali turun kelaut, dan menyelam dikedalaman.


Rere terbatuk kembali, lalu mengerjapkan kedua matanya. Ia memandang sunset yang tegantung indah dilangit berhiaskan lembayung senja.


Chakra terperangah. Ia tidak menduga jika buaya putih itu begitu sangat tahu dalam hal memberikan pertolongan pertama.


Chakra menghampiri Rere. Ia menatap gadis tomboy yang kini masih terbaring lemah dilantai speedboat. "Apakah kamu sudah baikan..?" tanya Chakra dengan lembut. Lalu Rere menjulurkan tangannya, meminta Pemuda itu membantunya untuk duduk. Chakra menyambutnya, lalu membantu gadis itu duduk.


"Apakah kau membantuku membuat nafas buatan??" tanya Rere dengan lirih.." gadis itu menatap pemuda didepannya dengan sendu.


Chakra mengerutkan keningnya. "Apa itu nafas buatan..?" tanya Chakra kembali.


Rere menatap dengan bingung. "Lalu apa yang kau lakukan saat aku tenggelam dan tak sadarkan diri tadi..?" tanya gadis itu dengan selidik.


"Tidak ada..?" jawab Chakra sembari mengangkat kedua bahunya.


Rere semakin bingung. "Haah..? Jika bukan kamu yang menyelam kedalam laut untuk menolongku dan memberikan nafas buatan..lalu siapa..? Tidak mungkin aku bisa naik sendiri kepermukaan" tanya gadis itu dengan penasaran. Ia merasakan sangat kacau menghadapi pemuda didepannya.


"Buaya putih itu.." jawab Chakra santai.


Seketika Rere membeliakkan matanya." Haaah..? Buaya putih itu..? Bagaimana bisa..?" tanya Rere dengan mengeraskan sedikit suaranya.


"Mana ku tahu.." jawab Chakra sembari mengerutkan keningnya.


Rere mengacak rambutnya yang sama panjangnya dengan rambut pemuda itu. Ia masih bingung harus bagaimana bisa mencerna apa yang diungkapkan oleh pemuda itu. Bagaimana mungkin seekor buaya menyelamatkannya.? Bukankah buaya itu menyerang manusia. Bahkan Ia melihat bagaimana buaya itu melumpuhkan semua anak buah Wei.


Namun disisi lain, mengapa hanya mereka yang selamat..? Apakah buaya itu sangat pemilih terhadap orang yang ingin diserangnya..? Enatahlah.. Pertanyaan yang tak mampu dipecahkan ileh Rere untuk mendapatkan jawabannya.


"Sekarang kita berada dimana..?" tanya Rere, Ia memandang langit mulai tampak gelap.


"Aku juga tidak tahu.." jawabnya dengan santai.


Rere mendengus kesal. "Trus, apa sih yang kamu tahu..?" ucap Rere dengan kesal.


Chakra hanya diam mendengar omelan gadis itu.


Rere berusaha bangkit, meski masih lemah Ia mencoba mengingat dimana keberadaan mereka.


"Sepertinya didepan sana ada sebuah SPBU mini khusus untuk para nelayan, kita akan mengisi bahan bakar disana. Apakah kau mempunyai uang..?"tanya Rere sembari menaikkan satu alisnya.


Lalu Chakra mencoba mengambil sesuatu dari dalam tas sandangnya. Seketika Ia terperangah. Ia merasakan ada seauatu yang hilang. "Haaah.. Teman kecil.. Kemana teman kecil..? Mengapa Ia tidak ada didalam tasku..?" Chakra terlihat sangat panik. Ia mencoba mencari disetiap sudut speedboat, namun tak ditemukannya.


"Teman kecilku hilang.." jawab Chakra dengan cepat.


"Teman yang mana..? Tanya Rere penuh selidik.


"Ya kelinciku.. Yang biasa didalam tasku.."jawab Chakra dengan raut wajah sedih dan matanya terus mencari-cari keberadaan hewan tersebut.


Rere semakin bingung dengan pemuda itu. Bagaimana mungkin hanya seekor kelinci saja Ia seperti kehilangan seorang kekasih, sehingga membuatnya terlihat sangat frustasi.


"Hanya seekor kelinci membuatmu seperti frustasi..?" Rere mengernyitkan keningnya, sementara itu, speedboat mereka terus berlayar terombang ambing dilautan.


"Dia mungkin hanya seekor hewab, namun Ia sudah menemani perjalanan saya sampai kemari. Semua suka duka kami lewati bersama.."ungkap Chakra dengan mata seperti mendung.


Gadis itu merasa bersalah atas ucapannya. Karena selama ini Ia tidak menyukai hewan peliaharaan apapun, sehingga tidak dapat merasakan apa arti kehilangan.


"Maafkan aku.. Aku tidak tahu jika kalian sedekat itu. Nanti setelah kita selamat, kita akan mencoba mencarinya, mungkin saja Ia tertinggal mobil yang kita tumpangi terakhir di pelabuhan tikus kemarin." Rere berujar, mencoba menenangkan hati Chakra yang terlihat kalut.


Chakra mengangguk lemah, meski hatinya terasa berat, Ia sangat mengkhawatir kondisi hewan mungil itu. "Teman kecil, kamu dimana..? Datanglah padaku, aku mengkhawatirkannmu." Chakra berguman lirih dalam hatinya.


Speedboat mereka masih terombang ambing tanpa tujuan ditengah lautan. Mereka bingung harus bagaimana untuk menepikannya. Jika sebuah sampan mungkin bisa untuk didayung, namun tidak untuk speedboat ini.


Rere merasa putus asa bagaimana caranya agar dapat menepi ketepian tempat SPBU mini tersebut. Namun speed boat mereka semakin jauh ketengah lautan.


Ditengah kegalauannya, Ia merasakan jika ada sesuatu yang mendorong speed boat mereka. Sepertinya itu berasal dari sisi badan speed boat.


Keduanya terperangah dengan apa yang telah terjadi.


"Apa gerangan yang terjadi..? Mengapa speed boat ini seraca tidak logis telah sampai ditepian laut tempat SPBU berada..?" Rere beguman lirih sembari menatap Chakra yang juga tampak kebingunan.


Speed boat mereka telah menepi ditepian laut. Lalu Rere memberi kode kepada petugas tersebut untuk mengisi bahan bakar mereka. Lalu Rere menatap pada Chakra "Apakah kau memiliki uang..? Nanti akan aku ganti.." ucapnya menyakinkan.


Chakra kembali melongok kedalam tas sandang antiknya. Lalu menemuka uang 2 lembar seratusan ribu rupiah, sisa uang pemberian kakeknya waktu itu.


Chakra mengulurkan uang itu kepada Rere, dan Rere hanya mengambil selembarnya saja, lalu membayarkan kepada petugas itu. Setelah mendapatkan bahan bakar dan kembalian uangnya, Rere kembali memberikan uang tersebut kepada Chakra. Lalu Ia menghidupkan mesinnya dan segera menuju lokasi tempat mereka akan menginap.


Secara bersamaan, seekor kelinci melompat naik keatas speed boat. Kedua insan itu saling berpandangan. Bagaimana mungkin seekor kelinci dapat berada didalam laut dan tidak basah sedikitpun. Keduanya sungguh merasakan hal yang sangat aneh dan tidak masuk akal.


Namun Chakra tidak perduli apa yang menjadi kejanggalan tersebut, baginya kelinci itu kembali padanya sudah merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan. Chakra mendekapnya, seolah tak ingin lagi berpisah dari teman kecilnya.


"Kamu kemana saja..? Aku mengkhawatirkanmu.. jangan pernah lakukan hal itu lagi" ungkap Chakra dengan rasa khawatir dan tulus sembari membelai lembut bulu halus hewan tersebut.


Kelinci itu hanya mengerjapkan kedua matanya, seolah merasakan apa yang sedang kini dirasakan oleh pemuda itu.