Buhul ghaib

Buhul ghaib
Episode 185



Dina tidak percaya jika puterinya harus menikah dengan anak dari seorang pecundang yang pernah menghancurkan kehidupannya.


"Tapi Kanda.. Dia anak dari pria yang sudah membuatku hancur berkeping" ucap Dina tak rela dengan keputusan Bromo.


Bromo menatap pada istrinya "Dia anak dari ayah Chakra juga bukan? Jangan limpahkan kesalahan orang lain pada orang yang tidak tahu menahu dengan urusannya" ucap Bromo dengan setenang mungkin.


"Tetapi"ucapan Dina tercekat ditenggorokannya.


"Tidak perlu perdebatan, dan Kita tidak dapat menunggu lama, biarkan penyatuan tubuh mereka untuk mendapatkan kesaktian dari mustika itu" ucap Bromo menyela ucapan Dina.


Dina tak mampu lagi untuk mencari alasan. Bromo membawa seorang wali hakim yang Ia culik dengan kekuatan ghaibnya.


Seorang yang saleh tiba-tiba terperanjat karena sudah berada dirumah megah Dina.


Ia merasa bagaikan mimpi ketika melihat dirinya Ia tahu sedang duduk berdzikir diatas sajadah, tiba-tiba saja sudah berada ditempat berbeda.


"Dimana Aku? tempat apa ini? Tanyanya heran terhadap Dina yang saat ini tampak sudah bersiap akan menyambut pernikahan puterinya.


Bromo menyentuh ujung kaki Edy, lalu dengan tiba-tiba pemuda itu tersadar dan merasa bingung karena sudah berada dirumah Dina.


"Bangunlah.. Dan Kau akan menghadapi hari barumu untuk pernikahan dengan puteriku" ucap Bromo kepada Edy yang masih terlihat bengong.


Edy yang masih dalam keningungan lantas beranjak bangkit dari tidurnya karena mendengar akan dinikahkan oleh Asih.


Ia merasa jika Ia hanya bermimpi belaka. Namun ketika melihat tubuh Asih terbaring membiru disisinya, Ia meyakini jika ini bukan hanya sekedar mimpi.


"Apakah Kau menerima puteriku untuk menjadi istrimu?" tanya Bromo dengan tatapan tajam.


Edy menganggukkan kepalanya dengan cepat, Sebab Ia sudah lama menunggu hal tersebut terjadi.


Disisi lain, Ahnaf pria sholeh yang diculik oleh Bromo dengan cara ghaib tadi masih kondisi bingung dengan apa yang terjadi.


"Marilah, Pak Ahnaf.. Silahkan nikahkan puteri saya sekarang juga, waktu sudah tidak banyak lagi" ucap bromo dengan tegas.


Ahnaf melongo dengan ucapan Bromo, bagaimana mungkin pria yang tidak dikenalnya itu dapat mengenalnya, sedangkan mereka baru kali ini bertemu.


"Siapa kalian sebenarnya? Mengapa Aku sampai ditempat ini?" tanya Ahnaf dengan nada bingung "Jika ingin menikahkan mereka, maka harus ada saksi untuk dua orang saja sudah cukup" ucap Ahnaf menjelaskan.


Bromo tampak berfikir "Baiklah.. Akan saya bawa 2 orang saksi laki-laki kemari sekarang juga.


Tiba-tiba Chakra yang masih mengucek matanya sudah berada ditengah2 ruangan.


Belum sempat Chakra hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba Bromo menghadirkan dua orang laki-laki berusia 30-an tahun dan 20-an tahun sudah berada diruangan itu secara bersmaan.


Ahnaf semakin bingung sebab kedua orang laki-laki tersebut adalah puteranya.


"Aku sudah membawa dua orang saksi, dan tambahan satu perempuan serta satu anggota keluarga" ucap Bromo menatap pada Ahnaf.


Meskipun Ahnaf masih dalam kondisi bingung, akhirnya Ia menikahkan Edy dengan Asih yang tampak terbaring tak berkutik diatas ranjang.


Edy yang tampak tak sabar sudah menunggu lama akan hari ini.


Lalu dihadapan para saksi dan wali hakim Ia mengucapkan ijab qabulnya dengan menggenggam jemari Bromo yang kini sebagai ayah mertuanya.


Edy menyerahkan sebentuk cincin miliknya untuk menjadi mahar dipernikahannya dalam ijab qabul.


Sesaat wali hakim mengatakan kata 'Sah', dan para saksi juga ikut mengatakan kata Sah. sehingga pada Dini hari tersebut pernikahan dadakan itu terjadi begitu saja dan begitu cepat.


Setelah kata sah terucap dari semua pihak, maka sah-lah kini Asih dan juga Edy menjadi suami istri.


Dengan cepat Bromo mengembalikan wali hakim dan para saksi yang diculiknya secara ghaib dengan membekali sebutir batu berlian pada setiap orangnya sebagai ungkapan terimakasih dan mengembalikan mereka ketempat masing-masing.


"Cepatlah.. Sebelum racun itu menyebar kesekuruh tubuhnya!" titah Bromo kepada Edy.


Edy yang belum percaya pada pernikahannya, segera beranjak membopong tubuh Asih dan memasuki kamar gadis itu.


Dengan malu-malu yang dipandangi mertuanya, Ia membawa tubuh Asih kedalam kamar.


Saat didalam kamar, semua sudah terhias dengan sempurnah, entah sejak kapan semuanya didekorasi dengan begitu indah.


Edy membaringkan tubuh Asih yang sudah membiru dengan perlahan. Ia sudah lama memimpikan hari ini. Namun bukan seperti ini kondisinya.


Ia ingin Asih sadar dan mereka melakukannya dengan sangat manis.


Edy melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi, Ia harus cepat sebelum subuh datang.


Edy melucuti pakaian milik Asih, kulitnya yang biasanya terlihat putih halus dan dengan wajah ayu rupawan, namun kali ini Tampak membiru dan wajahnya tampak menyeramkan.


Benjolan kecil berisi cairan berwarna hijau dan tentunya akan berbau busuk jika sampai benjolan itu pecah.


Namun Cintanya terhadap wanita itu membuatnya tak memperdulikan kondisi Asih, Ia harus menyelamatkan wanita yang kini menjadi sah istrinya.


Asih hanya diam tak bergerak, namun nafasnya masih terdengar meski lemah.


Edy mengecup bibir tersebut, dingin tak ada reaksi, Ia bercinta dengan seseorang yang seperti mayat hidup.


"Bangunlah, Sayang.. Aku mencintaimu.. Jangan buat Aku menderita seperti ini dengan diammu.


Ia terus menstimulasi Asih dengan sentuhan-sentuhan yang berharap dapat membangunkan istrinya.


Waktu terus berputar, Edy harus segera cepat, dan sebelum semuanya terlambat.


Hingga akhrinya Ia merobek mahkota sang wanita, meski sulit dan membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar, akhirnya Ia berhasil juga.


Edy berusaha terus menggapai puncak surgawinya. Perlahan Ia merasakan sesuatu ingin meluncur dari juniornya disertai desiran-desiran yang terus memaksa untuk keluar.


Akhirnya Edy mencapai puncak surgawinya, Ia bermandikan keringat dan memeluk Asih.


Perlahan tubuh Asih mulai membaik, tubuhnya yang semula membiru kini mulai kembali putih halus seperti semula, dan benjolan ditubuhnya juga mulai menghilang.


Seketika rasa dingin yang dirasakan oleh juniornya yang masih bersarang didalam mahkota milik Asih, kini mulai terasa hangat.


Asih mengerjapkan matanya, Ia melihat sekeliling kamarnya yang didekorasi sedemikian rupa.


Ia melihat Edy tanpa sehelai benangpun berada diatas tubuhnya dan menindihnya.


Ia merasakan sesuatu mengganjal di area pangkal kakinya. Semakin Ia bergerak seamkin rasa aneh menjalar keseluruh tubuhnya.


Edy tersentak mendapati Asih sudah terbangun dengan tubuh indahnya seperti semula.


"Sayang.. Kamu sudah sadar?" teriak Edy dengan penuh kebahagiaan.


Ia mengecup lembut bibir Asih, dan menghujani seluruh wajah Asih dengan kecupannya yang begitu panas.


Asih merasakan tubuhnya terbakar hasrat, semakin lama tenaganya semakin pulih bersama hasratnya yang terbakar.


Dan tiba saatnya Ia tercengang juga bingung, saat Edy menghentakkan juniornya yang selama dianggapnya benda memantul yang dibuatnya mainan itu kini bersarang dimahkotanya yang sudah dibuka Edy saat Ia dalam kondisi mengenaskan.


Semakin lama Edy menghujamkannya, semakin Asih menyukainya, ternyata Ia sekaramg mengetahui apa fungsi dari benda milik Edy, hingga akhirnya Asih meraih puncak surgawinya untuk yang pertama kalinya.


Namun naas bagi Edy, sebab Asih memaksanya untuk memuaskannya hingga beberapa ronde, dan akhirnya Edy terkaapr tak berdaya.