Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 232



Akar pohon itu semakin lama semakin bergerak dan menghampiri Asih.


Seketika Asih meraih pedangnya, lalu memotong akar pohon tersebut hingga terlepas, dan berusaha berdiri saat ujung akar pohon itu semakin banyak dan mengepungnya.


Asih melihat sulur pohon tersebut, lalu melompat dan meraih sulur pohon yang terjuntai dan dengan cepat berayun dengan cepat menebas setiap akar pohon yang menjulur dengan panjang dan laksana anak panah menyerang Asih.


Asih terus berayun sembari terus menebas setiap akar pohon yang datang menyerangnya.


Asih berayun dengan cepat, lalu melompat dari sulur satu ke sulur lainnya dan menghampiri Arini yang terjerat akar pohon dan membebaskannya, lalu Arini menjelma menjadi seorang peri dan melayang meraih sulur untuk berlegangan untuk membantu Asih menebas akar pohon yang tampak tak pernah ada habisnya.


Saat Asih berayun dari satu sulur ke sulur lainnya, tanpa sengaja Asih melihat pohon itu memiliki wajah yang sangat menyeramkan.


Dimana kedua bola matanya itu tampak merah dengan mulut lebar dan seperti rongga yang bersiap untuk menelan Asih dan juga Arini.


Asih merasa Ia dalam ancaman jika terus berayun disulur pohon tersebut.


Untuk saat ini, Asih berhasil menebas akar pohon tersebut, namun tetap saja kembali bersatu.


Lalu Asih berfikir bagaiamana cara memusnakan pohon tersebut, yaitu mencari inti akar pohon yang menjadi sumber kehidupannya.


Sesaat satu akar pohon itu berhasil melilit Asih dan membuat Asih hampir sesak nafas, dan akar itu membawa Asih menuju rongga yang tampak seperti mulutnya dan akan memasukkan Asih kedalamnya sebagai bahan makanan dan nutrisi untuk sumber kekuatan pohon itu.


Asih meronta untuk dapat membebaskan dirinya dari akar pohon tersebut.


Sedang Arini masih terus menebas akar pohon lainnya yang mencoba ingin membelit Asih secara bersamaan.


Asih mengeluarkan seluruh tenaganya dan kini belitan akar itu semakin kuat dan Ia hampir saja masuk kedalam rongga mulut yang terdapat dibatang pohon tersebut.


Seketika Asib menggeretakkan gerahamnya dan mengeluarkan tenaga dalamnya, lalu dengan usahanya yang tanpa menyerah, Asih dapat menggerakkan kedua lengannya dan membuat akar-akar itu terlepas.


Dan hal itu membuat Asih terjatuh tepat dibawah pohon tersebut.


Asih segera berusaha bangkit, dan saat akan bangkit dari tempat itu, Ia melihat satu akar pohon yang tampak memiliki sebuah permata batu hitam.


Asih segera bergerak cepat untuk menuju akar tersebut, dan dengan berguling cepat dan dengan sigap menghunuskan ujung pedangnya kepada permata hitam tersebut yang diduga sebagai intisari dari pohon tersebut.


Saat ujung pedang beradu dengan permata hitam itu, seketika akar pohon tersebut berhenti bergerak dan seperti sebuah maghnet, mereka tertarik keasalnya dan segera tampak seperti normal.


Asih dan juga Arini tercengang. Lalu Asih mengambil batu permata tersebut dan menyimpannya.


Namun siapa sangaka, batu permata itu masuk kedalam kepala pedang milik Asih dan melekat disana.


Asih beranjak bangkit dan berdiri tegak, lalu merundukkan kepalanya kepada pohon tersebut, lalu melanjutkan perjalanannya kembali, dan diikuti oleh Arini sebagai penunjuk jalan.


Pohon itu memandang Asih, karena hanya Asih yang dapat mengambil batu permata tersebut, setelah banyak para makhluk ghaib menginginkannya.


Disisi lain, Chakra dan juga Rere kini dalam kondisi sedang ikut membantu para korban wabah yang terdampak racun misterius.


Dengan peralatan lengkap pelindung diri, mereka membantu instansi pemerintah dan juga pihak rumah sakit untuk menolong para korban wabah misterius.


Dalam sekejab, banyak pasien yang terus berdatangan juga tewas mengenaskan dengan kondisi sangat mengenaskan, tubuh membiru dan benjolan dipermukaan kulit dengan cairan yang terasa perih dan sangat menyakitkan.


Chakra ikut membantu pasien yang baru datang menggunakan ambulance, dan tanpa sengaja Ia melihat salah satu pasien tersebut ternyata itu Andre, sang Ayah biologisnya.


Chakra terperangah melihatnya, lalu memandang wajah pria itu dengan sangat ambigu.


Chakra meraih tubuh itu dan dan meletakkannya diatas troli ranjang pasien.


Ia mendorong ranjang itu dengan cepat dan membawanya ke tenda darurat, karena hanya tenda darurat yang masih bisa menampung pasien yang terus berdatangan.


Rere membantu memasang selang tabung oksigen untuk membantu pernafasannya yang tersengal.


Setelah alat bantu pernafasan itu terpasang, kini Ia mulai bernafas dengan normal.


Chakra menatapnya, melihat wajah pria yang pernah menghancurkan hati ibunya hingga menjadi serpihan luka yang teramat dalam.


Pria itu juga yang telah membuatnya terlahir kedunia, namun Ia tidak diinginkan dan sengaja membiarkan sang Ibu menanggung derita dan aib itu sendiri.


Pria itu juga, yang membuat sang ibu harus memgasingkan hidup ditengah hutan belantara dan tersisih dari kehidupan manusia normal.


Namun semua itu terbalut dengan hadirnya sang Romo yang mengasihi dan menyayanginya dengan penuh cinta kasih, sehingga Ia tidak pernah menduga, jika sang Romo yang Ia anggap sebagai ayah kandungnya tak lain adalah ayah sambungnya yang memberikan cinta dengan sepenuh hati.


Andre tampak mulai bernafas normal dan perawat datang untuk memberikan suntikan anti racun yang berfungsi menghambat penyebaran racun tersebut, namun tidak dapat menyembuhkannya.


Andre memandang wajah Chakra, namun sepertinya Ia tidak begitu mengenali wajah Chakra, karena hanya beberapa saat bertemu waktu itu dan Ia masuk kedalam jeruji besi.


Dalam kegalauan hatinya, Chakra ternyata tak tega juga melihat Pria itu mati dalam serangan racun misterius. Ia menyelipkan doa untuk sang ayah biologis agar diberikan umur panjang dan kesembuhan serta kesempatan untuk bertaubat memperbaiki segala kesalahannya.


Chakra menatap Rere yang masih sibuk dengan pasiennya yang terus berdatangan dan berusaha memberikan bantuan yang dibutuhkan.


Gadis tomboy itu dikirim oleb unit satuannya untuk bertugas membantu para medis yang kini kewalahan karena kekurangan tenaga dalam melayani dan merawat para pasien tersebut.


Chakra kemudian bergabung bersama Rere, setelah melihat Andre sedikit membaik setelah mendapatkan alat bantu oksigen.


Kemudian mereka terus memberikan bantuan kepada para pasien yang terus berdatangan.


Sementara itu, pasien yang telah meninggal akan dimakamkan secara massal karena ketersediaan lokasi yang terbatas.


Saat mereka menemukan waktu istirahat yang hanya terbatas, Chakra menghampiri Rere yang tampak kelelahan.


Lalu pria itu menyodorkan sebotol air mineral kepada sigadis tomboy.


"Jika wabah ini berakhir, apakah Kau mau menikah denganku?" tanya Chakra dengan penuh kesungguhan.


Sesaat Rere tersedak saat mendengar Pria disisi kanannya mengucapkan kata yang tak pernah terdengar olehnya dan sudah sangat lama Ia nantikan.


"Apakah Aku tidak salah mendengarnya?" tanya Rere kepada Chakra.


Pemuda menatap penuh keseriusan "Aku bersungguh" jawab Chakra cepat.


"Berdolah agar wabah ini segera berakhir.." ucap Rere dengan senyum tipis.


"Apakah itu artinya kau menerima lamaranku" cecar Chakra.


Gadis tomboy itu hanya menjawab dengan sebuah senyum manis yang terukir diwajahnya.


~ikuti sampai akhir ya.. Akan ada kejutan siapa jodoh Lee diakhir cerita🥰🥰~