
Edy kini bingung harus kemana. Jikapun kembali kerumah Papanya, mungkin itu hal yang tidak mungkin, karena tentu Papanya akan mengomelinya.
"Hei... Sekarang Kita harus kemana?" tanya Edy, sembari mengenakan celananya, saat selesai mandi. Mereka sudah membeli pakaian ditoko yang ada ditepi kota itu. Setidaknya Ia tak lagi menggunakan celana milik Asih.
"Aku ingin mencari batu permataku yang dicuri oleh pria sialan itu" ucap Asih, sembari memandangi pemuda itu dengan tatapan aneh.
Edy menganggukkan kepalanya, sembari memanyunkan bibirnya.
"Aku ikut denganmu" ucapnya sembari menghampiri sang gadis.
Asih menoleh kepada Edy. Namun sepertinya pemuda itu dapat diandalkan untuk membantunya dalam pencarian batu permata tersebut.
"Sebaiknya kau jual saja koin-koin emasmu itu, untuk bekal kita diperjalanan" Edy menyarankan.
Sesaat Asih meraih tas jorannya. Lalu membuka resletingnya.
"Sepertinya tidak perlu.. Aku punya dua kartu yang bisa digunakan.." ucapnya sembari memperlihatkan dua buah kartu keuangan, yaitu credit card dan kartu ATM.
Edy tercengang melihatnya. Lalu meraih kedua kartu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Kau mencuri kartu ini dari siapa" tanya Edy keceplosan.
Asih membolakan matanya, lalu merampas kedua kartu itu lagi dengan kasar.
"Enak saja, ini milikku" jawab Asih ketus.
Edy semakin terperangah dan tak percaya jika Asih pemiliknya. Bagaimana mungkin gadis hutan sepertinya dapat memiliki kartu-kartu tersebut.
"Bohong..!! Bagaimana mungkin Kau dapat memilikinya..? Sedangkan kartu penduduk saja mungkin Kau tak memilikinya" ucap Edy meremehkan.
Asih kemudian merogoh kembali tas jorannya. "Maksudmu yang ini?" tanya Asoh, sembari memperlihatkan kartu tanda pengenalnya.
Edy meraihnya, lalu membaca identitas tersebut dan yang membuat Edy semakin tak percaya, jika Ia menjadi penduduk dikota ini.
"Bagaimana mungkin Kau bisa mendapatkan semuanya?" tanya Edy bingung sekaligus penasaran.
Asih tersenyum sinis. Temanku yang mengurusnya.." jawab Asih dengan santai.
"Teman? Bagaimana Kau dapat memiliki teman dikota ini?" cecar Edy dengan penasaran.
"Aku mengenalnya secara tidak sengaja, saat menjual permata blue diamond dan koin emas." jawab Asih menjabarkannya.
Edy kembali mengernyitkan keningnya.. "Dia pria atau wanita?" tanya Edy semakin penasaran.
Asih memandang wajah pemuda itu, tampaknya ada gurat kecemburuan disana, yang terlihat begitu sangat jelas.
"Dia pemuda, sama sepertimu" jawab Asih santai.
Seketika wajah Edy memerah, dan rasa cemburu membakar hati dan telinganya.
Dengan nafas tersengal, Ia mencecar Asih dengan berbagai pertanyaan yang membuat Asih semakin bingung.
"Apa yang sudah Kau lakukan dengannya? Tidak mungkin Ia sebaik itu padamu jika tidak mendapatkan sesuatu.." Cecar Edy dengan nafas memburu.
Asih menatap pemuda disisinya yang tampak seperti tak sabar menanti jawabannya.
"Banyak hal yang telah Kami lakukan" jawab Asih santai, yang membuat hati Edy semakin terbakar api cemburu.
"Apaa?! Banyak hal? Apakah Kau juga pernah tidur dengannya?" cecar Edy semakin kalap.
Asih menganggukkan kepalanya. Ia mengingat dengan jelas jika Ia pernah tidur dengan Lee saat dihutan dan juga dikastil, dalam artian hanya tidur bersama, bukan melakukan hal-hal yang menjurus ke hal negatif.
Seketika Edy semakin kalap, sorot matanya tampak begitu sangat kesal.
"Sial, selama ini Aku selalu berusaha menahan gejolak hasratku hanya demi untuk menjaga kehormatannya, dan ternyata Ia sudah make in love dengan pria lain?" Edy berguman dalam hatinya.
"Pantas saja selama ini Kau selalu penasatan dengan rudalku, ternyata Kau sudah merasakan rudal pria lain.. Jadi Kau ingin mencoba milikku bukan?" ucap Edy sembari menerjang tubuh Asih yang terjengkang diatas kasur.
Ia menyesap bibir Asih dengan kasar dan merobek paksa pakaian Asih, hingga memperlihat dua buah bukit kembar yang berdiri menjulang.
Asih merasa bingung dengan kelakuan Edy yang lain dari biasanya. Edy terlihat kasar dan seperti kerasukan.
Namun Edy melupakan siapa Asih sebenarnya. Ia bukanlah gadis yang bertenaga lemah dan mudah ditaklukkan. Seketika Asih mendorong Edy yang tampak seperti bukan dirinya, lalu dengan satu dorongan, Edy kini terlempar dilantai hotel dan merasakan sakit pada bokong.
"Apa yang Kau lakukan?!" Hardik Asih sembari menutup pakaiannya yang robek.
"Ku kira Kau gadis lugu dan baik-baik, ternyata Kau tak ubah seperti gadis ****** yang bahkan sudah tidur dengan pria lain" ucap Edy dengan penuh amarah.
Asih mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan pemuda itu.
"Bukankah Kau juga tidur denganku?" Asih balik bertanya.
Edy yang kini merasa bingung dengan pertanyaan Asih.
"Tetapi hanya tidur saja, bukan melakukan itu" jawab Edy dengan nada mulai lemah.
Lalu Asih mendenguskan nafasnya dengan berat.
"Lalu apa bedanya Aku tidur dengannya, sama halnya Aku tidur denganmu" jawab Asih dengan kesal karena perbuatan Edy barusan.
Edy mengernyitkan keningnya, hingga membuat kedua alisnya bertaut.
"Apakah Ia tidak memasukkan senjatanya ke... Ke itu kamu" ucap Edy dengan terbata dan juga penasaran.
"Senjata apa?" tanya Asih bingung dan benada polos.
Edy beranjak bangkit. "Senjata ini.." ucap Edy geram, sembari mengeluarkan senjatanya yang tersarung dalam celananya.
Asih menatap dengan senyum nyengir, karena senjata milik Edy setengah bangun saat dikeluarkannya.
"Bahkan Aku tidak pernah melihatnya seperti apa, dan Aku baru pertama melihat benda itu didirimu" jawab Asih, sembari menaikkan kedua bahunya.
Seketika Edy buru-buru memasukkan senjatanya dibalik celananya. Ia merasa menyesal karena telah menuduh Asih yang bukan-bukan.
"Mengapa Kau tak mengatakannya sedari tadi? Hampir saja Ia bersarang di Anu mu" ucap Edy dengan nada penyesalan.
"Bagaimana Aku mengatakannya, sedangkan Kau tak memberiku kesempatan untuk mengatakannya.."jawab Asih santai.
Edy tersenyum tipis, dan menghela nafasnya.
"Maafkan, Aku.." ucap Edy dengan tulus.
Asih hanya menganggukkan kepalanya.
"Bajuku robek, dan Kau harus menggantinya" ucap Asih sembari memperlihat dua gundukakan benda kenyal itu.
Edy membeliakkan matanya, dan nafasnya memburu "Dasar, gadis gila..! Lama-lama bisa oleng Aku dibuatnya" Edy berguman dalam hatinya.
Ia teringat jika Ia semalam membeli dua buah pakaian, satu kaos yang Ia pakai, dan satu lagi kemeja yang masih Ia simpan.
Edy mengambilnya, dan melemparkannya pada gadis itu "Pakailah, buka pakaianmu yang robek itu, dan ganti dengan pakaianku.." titah Esy kepada Asih.
Asih lalu membuka pakaiannya, dihadapan pemuda itu, Membuat sang pemuda menepuk keningnya, karena bingung dengan kelakuan gadis itu.
"Hei... Gantilah pakaianmu dikamar mandi, mengapa harus disini?" ucap Edy yang semakin frustasi.
Asih tak menggubriskan ucapan pemuda itu yang terus mengomel.
Ia memakai pakaiannya, dan dengan santainya tanpa memperdulikan Pemuda itu yang menatapnya bagaikan orang setengah kehausan karena nafasnya yang tersengal menahan gejolak hasrat didiadanya yang memburu bagaikan gemuruh..