
Dina melihat luka tusuk dari senjata tajam yang lumayan dalam berada dipunggung Chakra.
Dina memejamkan kedua matanya, lalu mengambil air liurnya, dan menempelkannya diluka menganga Chakra.
Darah yang mengalir dari luka itu sangat banyak, hingga membasahi sprei. Dina merafalkan doa untuk menyembuhkan luka anak lelakinya.
"Sembuhlah" ucap Dina. Seketika luka itu perlahan merapat dan sembuh seketika.
Dina masih memejamkan matanya dan mencari siapa pelakunya yang telah melukai anak lelakinya.
Seketika Dina mengerjapkan kedua bola matanya, Ia menatap tajam lurus kedepan.
"Kau..?! Sungguh keterlaluan..!!" ucap Dina dengan penuh amarah.
Apakah kesabaranku masih harus kau uji? Kau mencampakkanku saat mengandungnya, dan setelah lahir, seenaknya Kau melukainya dan hampir membunuhnya" Dina berguman lirih dalam hatinya.
"Aku akan membuat perhitungan dengammu" guman Dina penuh amarah.
Sementara itu, Edy membantu Andre untuk bangkit dari lantai. Ia memapah tubuh papanya yang terluka masuk kedalam kamar.
Saat akan memasuki kamar, tampak terlihat jika suasana ruangan sangat berantakan. Beberapa irang bodyguard masih terkapar dan sebagian lain sudah sadar.
Edy tak menduga akan ada kekacauan yang sangat parah dikediamannya.
Edy membawa Papanya menuju ranjang dan memvmbaringkannya disana.
Ia mencoba mengobati beberapa luka yang terdapat dibeberapa bagian tubuh papanya menggunakan cairan antiseptik.
Sementara itu, Rere dan Lee telah berhasil melumpuhkan para pekerja yang tersisa dua orang saja.
Lalu mereka mengambil beberapa uang palsu unruk dijadikan bukti, merekam semuanya, lalu merusak alat tersebut dan memusnakan sisa uang palsu itu dengan cara mencincangnya hingga menjadi potongan kecil.
Setelah itu mereka meninggalkan lokasi markas tempat pembuatan uang palsu itu.
Mereka memasuki ruangan dimana mereka meninggalkan Chakra. Namun mereka tak menemukan keberadaan pemuda itu. Hanya beberapa bodyguard yang masih terkapar dan sisanya sepertinya sudah sadar.
"Kemana Chakra? Mengapa Ia menghilang?" tanya Rere kepada Lee, dengan nada khawatir.
Lee menggelengkan kepalanya, lalu mengedarkan kepalanya mencari petunjuk.
Lee melihat balkon. Tampak darah berceceran disana.
Lalu Lee melihat ceceran darah itu sampai ke halaman depan.
Seketika Lee berbalik dan menuruni anak tangga "Ayo.. ada yang tidak beres" ucap Lee kepada Rere, lalu Rere mengekorinya.
Setelah sampai dibawah, Lee memerintah Rere membawa semua bukti ke Markas cabang untuk diserahkan, sementara Lee akan mengikuti ceceran darah itu yang diyakini adalah milik Chakra.
"Pergilah ke markas cabang, dan bawa semua bukti ini kepada atasan" titas Lee kepada Rere.
Wanita itu mengangguk lemah. Ia ingin ikut bersama mencari keberadaan Chakra, pemuda yang sudah membuatnya nyaman.
"Bos.." ucap Rere dengan lirih, lalu Lee menoleh kearahnya.
"Ya.. "jawab Lee yang sudah bersiap akan bergerak.
"Temukan Dia.. Untukku" pinta Rere dengan nada penuh harapan.
Lalu Lee tersenyum dan mengerjapkan kedua matanya. "Pergilah, Aku janji akan menemukannya untukmu" jawab Lee, lalu berjalan menyusuri jalanan yang menjadikan ceceran darah itu sebagai petunjuknya.
Sementara itu, Rere mengemudikan mobilnya dan pergi meninggalkan Lee dan menuju markas cabang mereka.
Disisi lain, Asih merasa bersyukur jika akhirnya dapat bertemu dengan kakaknya kembali. Chakra mengerjapkan kedua matanya, lalu memandang sekitarnya yqng tampak begitu asing baginya. Saat matanya beradu pada seorang wanita uang tengah memandangnya, seketika Chakra tersentak melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Ibu.." ucapnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia bergegas bangkit dan mendekap erat tubuh mungil wanita dihadapannya. jika orang melihatnya, mereka hanya terlihat seperti kakak adik karena wajah Dina yang tampak muda dan tubuhnya yang ramping sehingga orang mengira jika Dina masih berusia 21 tahunan saja.
Chakra menolehkan wajahnya saat sebuah tangan memegang pundaknya. "Asih..." teriak Chakra saat melihat adik satu-satunya itu kini ada duhadapannya.
Chakra mencoba mengingat saat Ia pertama bertemu dirumah Andre sang mafia tersebut, yang tanpa diduga Mafia itu menusuk punggungnya dengan ujung pedang.
"Apakah Kau yang membawa kakak kemari?" tanya Chakra bingung, sebab bagaiamana mungkin tubuh mungil nan ramping itu dapat memanggul tubuhnya yang tinggi kekar berotot sendirian, itu adalah hal yang mustahil. Mungkin Chakra melupakan jika Asih adalah setengah siluman buaya.
Asih hanya menganggukkan kepalanya, dan Ia sangat senang dengan pertemuan ini.
"Bagaimana Kamu bisa terlibat dengan orang itu?" tanya Dina penasaran, dan orang yang dimaksudnya adalah Andre, ayah biologis dari Chakra sendiri.
Chakra mencoba mengingatnya, jika Ia tergabung dalam satuan sebuah inteligent dan sedang memburu mafia yang telah menyeludupkan senjatata api, narkoba dan juga pengedaran sekaligus pembuatan uang palsu.
Ia tidak tahu jika Mafia itu adalah pria yang sama yang pernah hampir membunuhnya dan juga rekannya Rere.
Disisi lain, Lee terus menyusuri jalanan itu, dan Ia melihat jika ceceran darah tersebut mengarah kesebuah rumah mewah. Lee menatap rumah itu, lalu memperhatikan sekitarnya.
Melihat tidak adanya security dirumah mewah itu, membuat Lee merasa bebas untuk memasukinya.
Lee terus mengikuti ceceran darah itu, dan Ia berhenti diujung didinding depan dan menuju balkon.
Lee melihat sepertinya Chakra dibawa keatas sesama, namun entah siapa yang membawanya.
Lee mencoba memanjat balkon menggunakan bantuan pipa saluran pembuangan air hujan dan akhirnya mencapai balkon meski dengan susah payah.
Lee mengikuti ceceran darah itu dan menuju sebuah kamar.
Lee mengendap-endap untuk mencapai kamar tersebut.
Dan tanpa sengaja, Ia menyenggol sebuah guci kecil yang diletakkan diatas meja hias, dan
Praaaaank...
Suara guci yang pecah berantakan dilantai ruang lantai dua.
Seketika ketiga orang tersebut terkejut dan saling pandang. Lalu ketiganya beranjak keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi.
Asih mencabut pedangnya, besiap dan bersiaga jika saja itu penyusup atau orang suruhan Andre, Papanya Edy.
Saat pintu kamar dibuka, pria itu sedang berjongkok karena kakinya terkena pecahan keramik.
Asih menodongkan senjatanya "Siapa?" tanya Asih dengan suara lancang dan nada mengancam.
Seektika Lee yang masih berusaha mencabut pecahan keramik yang tertancap ditapak sepatunya karena Ia tidak menggunakan sepatu safety, melainkan sepatu sport.
Lee mengenalin suara itu, suara gadis yang selalu dirindukannya, lalu Ia berhasil mencabut pecahan keramik, dan mengangkata kedua tangannya keatas pertanda menyerah.
Lalu Ia berdiri secara perlahan, dan memutar tubuhnya, lalu melihat kearah gadis yang mengancamnya dengan ujung pedangnya.
"Lee" ucap Asih tak percaya. "Mengapa Kau bisa berada disini"?
Tanya Asih tak percaya.
Seketika Chakra terperangah melihat Asih dan Lee dan saling mengenal.
"Lee.." ucap Chakra dengan senang, saat melihat siapa yang ada dihadapannya.
Mereka sepertinya sama-sama tampak bingung melihat kenyataan yang ada.
Asih yang kini menjadi pusing, sebab Chakra juga mengenal Lee.
Namun tiba-tiba Dina merasa bergetar, dimana Ia merasakan jika Sepertiga permata mirah delima yang Ia simpan dikeningnya ingin keluar..