Buhul ghaib

Buhul ghaib
Mencari Bara Sembrani



Asih mencoba mengingat dimana Ia pernah menemukan kuda kesayangannya. Ia juga mengingat keterangan dari orang yang memberikannya informasi.


Dengan kelincahannya, Asih mencoba menyelinap dari setiap bangunan untuk mencapai pacuan kuda.


Dari kejauhan, Asih mendengar suara ringkikian kuda yang Ia tau itu adalah suara dari Bara sembrani. Meskipun jarak mereka kiloan meter, namun Ia masih dapat merasakan suara ringkikan tersebut.


"Bara.! Tunggu Aku, Aku akan menyelamatkanmu." Asih berguman dalam hatinya.


Asih menyelinap dari satu bangunan kebangunan lainnya. Lalu berhasil memasuki sebuah markas yang diyakini milik orang yang telah mencuri Bara Sembrani.


Asih mengendap-mengendap dan tanpa sengaja memasuki sebuah ruangan yang sangat gelap.


Asih tak menyadari jika itu adalah sebuah kamar milik seseorang. Saat akan keluar dari kamar tersebut, Ia menyenggol seseuatu yang terdapat didekat pintu kamar.


Praaaaaaaank....


Suara pecahan dari benda yang tanpa sengaja tersenggol oleh lengan Asih. dan tanpa diduga saklar lampu menyala, lalu ruangan tampak terang benderang.


"Siapa disana..?" suara teriakan seorang pemuda mengangetkan Asih. Ia berusaha berlari menyelinap. Namun pemuda itu dengan sigap mengejarnya.


Hingga tanpa sadar, aksi kejar-kejaranpun terjadi. Hal yang tanpa diduga itu menimbulkan suara keributan, sehingga membuat beberapa bodyguard ikut terlibat dalam aksi kejar-kejaran tersebut.


Asih sudah mampu keluar dari markas tersebut, dan menuju sebuah tempat seperti lorong yang menghubungkan dengan tempat peternakan dan pacuan Kuda.


Namun, belum sempat Asih mencapai lorong tersebut, sebuah tangan meraih pundaknya. Lalu menariknya dan tampaklah wajahnya yang ayu rupawan meski tanpa Skincare mahal.


"Asih..." guman pemuda itu lirih, Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, Ia bagaikan bermimpi dapat bertemu kembali dengan gadis yang Ia fikir sudah tewas saat tertembak dijurang waktu itu.


Suara derap langkah dari para bodyguard yang mengukuti mereka sudah semakin dekat. Edy, sang pemuda anak dari mafia besar itu mencari cara untuk menyembunyikan sang gadis pujaannya.


Ia menarik lengan Asih dan melintasi lorong, lalu menyembunyikannya disebuah gudang yang biasa dijadikan tempat untuk eksekusi bagi pembangkang.


Setelah memasukkan Asih kedalam gudang tersebut, Edy keluar dan berpura-pura kebingungan mencari Asih yqng dianggap sebagai penyusup tersebut.


"Tuan Muda, apakah sudah menangkap penyusup tersebut...?" tanya Seorang bodyguard berbadan kekar itu.


"Tidak... Ia berhasil lolos dan kabur arah sebelah sana." tunjuk Edy dengan mengarahkan jemari telunjuknya kearah yang berlawanan.


"Baiklah, kami akan mencarinya kearah sana." jawab bodyguard itu, lalu mengajak rekannya untuk melakukan pengejaran.


Setelah memastikan para bodyguard itu pergi, Edy memasuki gudang, untuk mencari Asih. Ia membuka pintu gudang dengan amat pelan dqn menyelinap masuk agar tidak ada satupun yang mengetahuinya, lalu menutupnya kembali.


Baru saja dua langkah Ia memasuki gudang, sebuah sergapan dari arah atas langit-langit gudang yang kini mencengkram lehernya.


"Heeei.. Santailah, Ini aku." ucap Edy berusaha untuk menenangkan gadis itu.


Asih mengeratkan cengkramannya. "Dimana Bara?!" tanya Asih dengan nada penuh ancaman.


Bukannya takut, pemuda itu menikmati tiap cengkraman Asih. Ia merasakan seolah sedang didekap oleh gadis yang selama ini dirindukannya.


Asih semakin kesal. "Jawab.!" ucap Asih semakin geram.


Edy tersenyum geli. "Hei... Santailah. Bisakah kita bicarakan ini baik-baik." jawab pemuda itu mencoba menenagkan hati sang gadis.


Asih melepaskan cengkramannya, lalu mendorong tubuh pemuda itu hingga bergeser dua langkah.


Asih membenahi letak tas jorannya yang selalu Ia bawa kemanapun.


"Bagaimana Kau bisa sampai ketempat ini? Ini sangat berbahaya." ucap Edy sembari menatap lekat pada sang gadis.


Asih melirik dengan sorot mata yang tajam. "Bukan urusanmu, sekarang katakan dimana Bara, Kudaku?! Jangan bertele-tele" cecar Asih tak sabar.


Edy menarik nafasnya dengan berat." Ia telah dibeli oleh pemilik sirkus dengan harga tinggi" jawab Edy mencoba menjelaskan.


Seketika Asih menjadi berang. "Brengsek...!! Kemana mereka membawanya?" cecar Asih dengan sangat kesal.


"Keluar Kota." jawab Edy dengan tenang. Namun matanya tak lengah terus memandangi wajah ayu sang gadis.


Asih semakin geram. Ia mengepalkan tinjunya, dan menggeretakkan giginya. "Berikan aku alamatnya, aku akan mencarinya kesana." ucap Asih dengan tatapan tajam.


"Ini akan sangat berbahaya untukmu, banyak penjaga disana." jawab Edy mencoba memperingatkan.


"Aku tidak perduli! Katakan dimana alamatnya." ucap Asih memaksa.


Edy mencoba berfikir sejenak. "Aku akan membantumu, namun ada syaratnya." ucap Edy menawarkan.


"Aku tidak perlu syarat apapun darimu, katakan saja dimana alamatnya." sergah Asih semakin kesal.


"Jika begitu, carilah sendiri." ucap Edy beranjak pergi.


Melihat pemuda itu hendak meninggalkannya, dengan cepat Asih melompat dan menghadangnya. "Katakan, apa syaratnya.?" Asih mencoba mengalah.


Edy tersenyum menyeringai, berhasil mengelabui gadis itu. "Jadilah kekasihku, maka aku akan membantumu." ucap Edy merasa menang.


Asih mengernyitkan keningnya. "Apa itu kekasih..?" tanya Asih bingung.


Kini Edy yang balik kebingungan dengan pertanyaan Asih. "Apakah Kau tidak mengerti apa itu kekasih? Kekasih itu dua orang yang saling mencintai." Edy mencoba menjelaskan.


Asih mencoba mengingat perkataan Lee, tentang kata cinta yang pernah diucapkan Lee saat diuhutan bakau. Asih merasa berhadapan dengan Lee dan Edy sama rumitnya. Namun Ia menginginkan Bara kembali.


"Baiklah, Aku bersedia." jawab Asih cepat, meskipun Ia sendiri tidak memahami apa yang dimaksud oleh Edy.


Wajah pemuda itu terlihat cerah, senyum sumringah terpancar diwajahnya. "Benarkah? Oh my God." ucapnya tak percaya.


Ia menghampiri gadis itu, lalu dengan cepat mendekapnya, membuat Asih membulatkan matanya. "Aku mencintaimu Asih, lama aku mencarimu, ku kira Kau sudah tewas waktu itu." ucapnya sembari mengeratkan dekapannya pada tubuh gadis yang kini berdiri mematung.


Hingga saat Sang pemuda mengecup bibir gadis itu, lalu dengan gerakan cepat Asih mendorong tubuh Edy yang semakin liar gerakannya. Setelah berhasil lolos dari cengkraman sang pemuda, Asih mencoba mengatur nafasnya yang memburu.


"Kau jangan mencoba menipuku, dimana kudaku?" tanya Asih mulai jengah.


Edy menatap liar. "bukankah Kau bersedia menjadi kekasihku? Lalu mengapa kau menolak kecupanku.?" tanya Edy penuh selidik.


"Katakan saja dimana alamatnya, sebelum aku habis kesabaranku." ucap Asih dengan kesal.


Saat keduanya berdebat, pintu gudang terbuka. Lalu tampak berdiri seorang pria dewasa berwajah tampan sedang berdiri diambang pintu dengan 5 orang bodyguard disisi kiri dan kanannya.


"Papa..." ucap Edy panik saat melihat Andre berdiri tegak diambang pintu gudang.


Bukannya menjawab, mata Andre terperangah melihat batu permata yang tergantung dileher gadis itu.


"Pink diamond. Dimana Dia mendapatkannya?" Andre berguman dalam hatinya. "Apakah gadis ini salah satu sindikat penyeludupan barang mewah, atau Ia seorang perampok sepecial barang mewah." Andre mulai menduga-duga dalam hatinya.


Sementara itu, Edy tidak mengerti apa yang sedang difikirkan oleh Papanya. Ia tidak ingin jika sampai papanya melukai gadis itu.