
Aaaarrrrggh...
Teriak pria yang kini tertembak dibagian pahanya dan lehernya masih terjerat tali tas sandang milik pemuda yang merupakan penumpang teesebut.
Lalu Edy melompat dari tempat duduknya dan menuju koridor kabin dan menghampiri si pria yang sedang berusaha melepaskan jeratan dilehernya.
Edy menarik kedua tangan pria itu ke kelakang sandaran kursi, lalu memutuskan tali tas sandang pria dan menjadikannya sebagai pengikat kedua tangan pria pembajak itu dan membuat pria itu meronta-ronta ingin melepaskan ikatan tersebut.
Dengan gerakan cepat, Edy memukul pundaknya dan membuat pria itu tak sadarkan diri.
Sisa dua orang pembajak yang kini menyerang Asih, dan tanpa celah melakukan serangan secara bersamaan.
Asih menangkap kaki pria yang melakukan tendangan kepadanya, lalu dengan gerakan menggunting, Ia melayangkan kakinya dan meggunting kaki lawannya yang masih berdiri tegak membuat pria hampir terjerembab, namun Asih memutar tubuh lawannya dan menghujamkan siku tangannya telak diperut lawannya.
Pria itu memuntahkan darah segar dan ambruk kelantai kabin pesawat.
Sisa seorangnya telah berhadapan dengan Edy dan kini tinggal seorang pembajak yang berada didalam kabin operator dan menyandera seorang pilot yang memaksa memutar arah dari arah keberangkatan.
Asih meminta kepada seorang pramugari yang wajahnya memucat untuk membuka pintu kabin operator.
Lalu dengan cepat Ia menganggukkan kepalanya dan segera membuka pintu kabin olerator tempat dua orang pilot dan satu pilot dalam sanderaan.
Melihat pintu kabin terbuka, pria pembajak itu tidak menyadari jika seluruh temannya telah dilumpuhkan di kabin kursi penumpang.
"Mau apakah?" melihat Asih yang tampak banyak bercak darah, membuat pria pembajak itu bahwa telah terjadi seauatu dengan para rekannya.
Pria itu dengan cepat menembakkan senjata apinya dengan peluru yang meyasar ke arah Asih.
Namun di luar dugaan, Asih bukannya menghindar, semenjak memiliki batu mustika yang bersarang di tubuhnya, Ia hanya diam terpaku menatap peluru itu kearah kepalanya, dan cepat Ia menangkap peluru tersebut, lalu mendorong kembali peluru itu ke arah pria tersebut dan..
Wuuuusshh... Sssstt...
Peluru itu berbalik dan dengan kecepatan tinggi menembus dada kiri pria pembajak.
Aaaarrrgggh..
Peluru itu menembus dada sang pria dan suara pekikan yang sangat tertahan dan akhirnya pria itu ambruk membentur alat operator dan tergeletak dilantai bawah.
Semua orang terperangah memandang Asih, sesuatu yang tak biasa, dan Asih kembali ke kabin penumpang dengan suara riuh dan tepuk tangan dari para penumpang yang merasa lega karena akhirnya dapat terhindar dari para pembajakan.
Dan kini mereka menganggap Asih sebagai pahlawan baru bagi mereka.
Mereka mengambil kembali barang-barang mereka yang tadinya sempat mereka serahkan kepada para pembajak tersebut.
Tak berselang lama, bantuan datang dan ternyata satuan pasukan khusus datang untuk memberikan bantuan, namun sesampainya dikabin pesawat, mereka melihat keenam pembajak itu dilumpuhkan dan ditumpuk menjadi satu dengan kondisi tak berdaya.
Paraa kesatuan itu merasa bingung bagaiamana mungkin penumpang bisa melumpuhkan para penjahat kelas kakap yang selama ini sangat ditakuti dan juga sedang dalam incaran petugas, namun dengan mudahnya tak berdaya di tangan seorang wanita ramping yang tampak kalem namun ternyata bar- bar.
Beberapa penumpang mencuri foto Asih bahkan saat pertarungan tadi ada yang sempat memvedeokannya dan menyebarluaskannya melalui akun media sosial mereka.
Edy yang duduk disisi Asih tampak menggenggam jemari sang istri, Ia merasa lega karena akhirnya dapat mengatasi semuanya.
Seorang anggota kesatuan khusus itu menghampiri Asih, dan mengucapkan terimakasih atas apa yang dialkukan oleh wanita tersebut. Lalu seorang penumpang yang mengalami penembakan saat tadi mendapatkan pertolongan medis.
Sementara itu, para pembajak itu dipindahkan ke helikopter para satuan khusus dan dibawa kembali ke negara untuk melakukan tindakan dan pengadilan atas perbuatan mereka.
Pesawat akhirny kembali berputar arah menuju negara tujuan, meskipun mengalami insiden yang menegangkan, namun kini sudah kembali normal.
Tak henti-hentinya mereka memberikan pujian kepada Asih dan juga Edy serta seorang pemuda yang sudah berani membantu dengan sikap tanpa takutnya.
Pramugari mengumumkan kembali kepada seluruh penumpang agar tenang dan kembali mengenakan sabuk pengaman karena perjalanan akan segera dimulai setelah mengalami insiden yang mendebarkan.
Di tempat lain, seorang pemuda sedang melakukan pengintaian pada sebuah pelabuhan yang disinyalir akan menjadi tempat berlabuhnya kapal yang mengangkut para wanita yang menjadi korban perbudakan dan juga akan diperjual belikan.
Perkiraan kedatangan kapal itu akan tiba esok hari, namun saat ini Ia sedang mencoba mempelajari peta lokasi dan apa saja yang akan dilakukannya dalam pembebasan para tawanan nantinya.
Para pasukan yang diminta untuk datang membantu masih dalam perjalanan.
Pemuda yang tak lain adalah Lee merasakan sedikit kegelisahan, sebab kedatangan bala bantuan itu sepertinya akan mengalami keterlambatan karena ada masalah yang terjadi.
Setelah mengintai lokasi yang akan dijadikan tempat untuk penyergapan, maka Ia kembali ke kostnya.
Sesampainya didalam kost, Lee membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ia tampak terlihat lelah karena seharian terlihat mengisi waktu perkuliahan dan juga harus melakukan penyelidikan dalam mencari informasi yang dibutuhkannya.
Lee menatap langit-langit kamar kosnya. Dalam kesepiannya, Ia melihat bayangan sosok wajah yang mengusik hatinya.
"Asih.." gumannya lirih. Ia sudah membuang jauh bayangan wanita itu, bahkan Ia harus pergi menyeberang ke luar negara untuk melupakan sang wanita yang kini telah memilih pria lain untuk menjadi suaminya.
Namun semakin Ia menjauh, bayangan wanita itu terus saja mengikutinya kemanapun pergi.
"Mengapa begitu sulit melupakanmu? Apakah cintaku padamu terlalu dalam dan membuatku sulit untuk lari dari kenyataan yang menyakitkan ini" guman Lee lirih dan berusaha memejamkam matanya, mengusir bayangan wajah sang wanita, namun matanya begitu sangat sulit untuk diajak kompromi.
Lee mendenguskan nafasnya dengan berat. Kenangan semasa bersama dengan sang wanita terus saja menjejali otaknya, sehingga membuatnya sangat sulit untuk memejamkan matanya.
Sementara itu, pesawat yang ditumpangi Asih dan juga Edy akan mendarat di sesaat lagi, dan keduanya akhirnya tiba juga negara yang yang menganut kebebasan bagi setiap individunya.
Asih membeliakkan matanya melihat kota yang begitu luas dengan berbagai bangunan yang megah menjulang tinggi.
"Waah.. Sangat berbeda dengan kota yang tinggali ya?" ucap Asih yang celingukan kekanan dan ke kiri melihat kemegahan kota tersebut.
Edy menggandeng tangan Asih menuju keluar bandara dan mencari taksi untuk menuju hotel yang sudah mereka pesan melalui aplikasi travel.
"Esok malam Kita ke pelabuhan, sebab Romo akan mengirimkan semua persenjataan melalui siluman buaya yang bernama sulira melalui jalur laut" ucap Asih menjelaskan.
Edy menatap Asih "Kenapa tidak main sihir saja? " tanya Edy kepada Asih.
"Biar Sulira ada kerjaannya, jangan cuma jagain gerbang kerajaan doank" jawab Asih santai.
Edy memanyunkan bibirnya "Bisa Aja.." ucap Edy yang membawa Asih menaiki taksi yang dipesan oleh Edy.
"Kenapa tidak Aku gendong saja kamu biar cepat sampai" ucap Asih sembari memasuki taksi.
"Biar kamu bisa lihat kemegahan kota ini" jawab Edy sembari mengecup punggung tangan Asih, dan taksi membawa mereka menuju hotel tujuan.