
Edy menyambar tubuh Lee dan membawanya keluar dari lorong-lorong tersebut dan ledakan itu mengguncang dengan dahsyat merobohkan ruangan tersebut dan menimbun ular-ular berbisa yang berada didalamnya.
Dengan cepat Edy berlari dan diikuti oleh Lee dari arah belakngnya kerena ledakan itu juga tampak akan merobohkan lorong-lorong yang mereka lalui.
Lalu keduanya kini tiba disebuah terbesar, dan itu adalah ruangan dimana Wei sedang duduk disinggasananya dengan tatapan licik dan seringai.
Keduanya belum menyadari jika mereka berada dimana. Nafas keduanya tersengal dan mereka mencoba mengatur nafasnya yang sangat tidak terkontrol.
Belum sempat mereka bernafas lega, terdengar suara tepukan tangan yang sangat keras dari seseorang yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.
Pook..pook..pook..
Tepukan tangan itu mengema diruangan yang sangat luas tersebut.
Pria bertubuh kekar dengan dua bola manik hitam yang dan dari tubuhnya tampak cahaya hitam menyelimutinya.
Lalu sosok mengerikan berupa tengkorak dan juga sebagian tubuh ular dengan kepala manusia yang tak lain adalah Ristih tampak terlihat menyembul dibalik punggunggnya.
Edy dan juga Lee tersentak mendengar suara tepukan tangan dari pria yang berdiri didepan singgasana kebesarannya.
"Selamat datang para pecundang..!! Tidak ku sangka jika kalian dapat melewati semua pasukanku hingga sampai ketempat ini.." ucap pria yang tak lain adalah Wei.
Tatapannya penuh kelicikan dan senyum penuh kesinisan.
Tubuh Ristih yang tampak berada dibelakang punggungnya meliuk-liuk dengan gerakan yang mengerikan.
Ia sepertinya terus menatap Edy yang kini telah menguasai batu mirah delimanya sehingga membuat wanita iblis itu harus kehilangan sebagian kekuatannya, dan jika bukan karena Jahadi yang membantunya, mungkin Ia sudah lama tewas.
"Selamat datang dilembah kematian..! Dan nikmatilah apa yang akan terhidang dihadapan kalian..!" ucap Wei dengan suara yang menggema diruangan tersebut.
Dengan menjentikkan jemari jempolnya dan jari telunjuknya, seketika pasukan yang diinginkan oleh pria itu datang dalam wujud mutan dan juga pasukan bodyguard yang masih berjumlah cukup banyak.
Edy dan Lee saling memunggungi dan meraih persenjataan yang mereka miliki.
Edy dengan senjata khusaigamanya yang berupa bola besi dengan rantai besinya, sedangkan Lee menggunakan katananya.
Wei dengan gerakan isyarat memberikan perintah agar para bodyguard itu terlebih dahulu memberikan serangan kepada Edy dan Lee.
Lalu para bodyguard itu bergerak memberikan serangan, sedang Wei kembali duduk disinggasananya sembari melihat pertunjukan yang sedang disajikan.
Edy memutarkan senjata rantai besinya diatas kepalanya, sedangkan Lee bersiap dengan pedangnya yang menghunus dengan tajam.
Para bodyguard itu menyerang dan Edy mengayunkan bola besinya yang menghantam kepala lawannya dan dengan gerakan cepat serta beruntun.
Para bodyguard itu menggunakan pedang dan juga tongkat besi untuk menyerang Edy dan juga Lee dengan jumlah yang tidak seimbang.
Setelah mendapatkan penyaluran tenaga dalam murni dari pria yang tak lain adalah Bromo sang ayah mertuanya, Edy merasakan Ia memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menghadapi para lawannya
Sementara itu, Lee terus menggerakkan katananya hingga membuat suara dentingan benda logam yang saling beradu dan saling berusaha untuk melukai.
Tak jarang Lee harus menerima goresan dan sabetan dibagian tubuhnya karena jumlah lawan mereka yang cukup banyak dan menyerang secara brutal.
Seorang bodyguard yang menggunakan sebuat tongkat besi ingin menghantamkan Lee dari arah belakang, dan hal itu terlihat oleh Edy, lalu Ia menahan tongkat besi tersebut dengan tangan kirinya, dan lawan yang datang dari sisi kananya mencoba menyerangnya dengan sebuah pedang, dan Ia menangkap dengan tangan kananya, dan untungnya saja tangan kanan itu terbelit dengan rantai besi, sehinga tidak menembus kulitnya.
Edy mencoba menahan dua senjata yang kini berada digenggaman kedua tangannya.
Saat bersamaan, satu orang lainnya datang menyerang dari arah depan dan Edy melakukan tendangan kepada lawan didepannya hinnga membuat lawannya terpental.
Dan Edy kemudian menarik kedua senjata dari dua lawan yang berbeda dengan menggunakan kekuatan penuh, Ia menghentakkan kedua lawannya hingga mereka berbenturan satu sama lainnya dan senjata keduanya terlepas dari tangan keduanya dan kini berada dalam genggaman Edy dan Edy menghantamkan keduanya menggunakan tongkat besi hingga tewas.
Sementara itu, Lee mencoba terus membalas serangan lawannya yang terus mendesaknya hingga Ia harus menguras seluruh tenaganya.
Lee mempercepat gerakan tangannya saat setiap senjata dari para musuhnya menyerangnya. Sebuah tongkat besi datang menghantamnya dan membuat Ia tersentak dan mencoba menangkapnya, tentu saja itu sangat menyakitkan baginya.
Telapak tangannya membiru, namun mencoba mengabaikannya dan melakukan gerakan memutar dengan menghunuskan ujung pedangnya keperut lawannya hingga tertembus kepunggung lawannya, dan membuat lawan tersebut membelikkan matanya dan melepaskan tongkat besinya, lalu Lee mencabut pedangnya dan lawan tersebut ambruk bersimbah darah.
Lee merasakan telapakkan tangannya membengkak karena menahan tongkat besi lawannya, dan rasanya tentu sangat berdenyut.
Namun Ia mencoba menepiskan semua rasa sakit tersebut dan Ia memungut tongkat besi tersebut dan mencoba menggenggamnya dan kemudian kembali menyerang setiap musuh yang datang.
Edy terus memusnakan lawannya hingga tidak tersisa, dan membuat Ia harus memasuki area Lee yang masih terus berusaha menghabisi lawannya.
Edy dengan melemparkan tongkat besi ditangannya dan menggunakan rantai besinya menjerat leher salah seorang bodyguard yang ingin menebas Lee dari arah belakang.
Sedangkan Wei menonton pertunjukan itu sembari menyeruput kopi dan makan popcorn dengan sangat santuy.
Setelah menjerat leher lawannya, Edy menekannya dengan sangat kuat, lalu memberikan tendangan kepada seoran bodyguard yang mencoba menyerangnya dari sisi kiri.
Karena kuatnya tendangan itu, membuat lawan tersebut terpental hingga jatuh tepat dimeja singgasana Wei dan menumpahkan kopi serta popcornya hingga berhamburan dilantai.
Lalu lawan yang kini terjerat lehernya itu melemah karena kehabisan oksigen dan Edy menjatuhkannya begitu saja, dan membuat lawannya ambruk dan tak bergerak lagi.
Edy terus membantu memusnahkan bodyguard yang tersisa.
Sedangkan bodyguard yang mendarat diatas meja singgasana Wei dan dalam kondisi luka parah dengan mudahnya diangkat oleh Wei dengan menggunakan satu tangannya dan melemparkannya begitu saja kesudut dinding.
Kemudian Ia kembali menonton pertunjukan yang hampir melenyapkan seluruh bodyguard miliknya.
Sedangkan para mutan masih berkerumun di udara dan menunggu perintah dari Wei untuk menyerang kedua pria tersebut yang mana Lee kini sudah seperti kehabisan tenaganya untuk menerima serangan dari mutan siap untuk membinasakan dan mencabik tubuh keduanya.
Edy menyadari jika Lee sudah sangat kelelahan dan dengan cepat Edy mengakhiri para lawannya dengan tendangan yang mematikan.