
Asih menggeliatkan tubuhnya, ternyata Ia kesiangan bangun tidur, dan melihat Edy sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Baru bangun puteri tidur?" sapa Edy yang mendaratkan kecupan lembut dikening sang istri.
Asih membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya dileher Edy. Lalu menyesap bibir suaminya.
"Heii.. Mandilah.. Kau sangat sekali, Sayang" ledek Edy yang meloloskan dirinya dari serangan berbahaya sang Istri.
Asih memanyunkan bibirnya, lalu beranjak dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara itu, Edy kembali berkutat dengan layar laptopnya, mencoba meretas tentang system informasi yang terdapat didalam organisasi gelap para mafia.
Salah satunya terdapat pada sebuah oragnisasi Gangster yang dikepalai oleh Robert yang tak lain adalah pria yang menculiknya malam tadi.
Perjalanan bisnis ilegal mereka terkesan lebih mengerikan dibanding dengan Wei yang mana persaingan bisnis gelap mereka sungguh kejam dan keji.
Mereka tak segan-segan menghabisi nyawa bagi siapa saja yang mencoba untuk menghalangi jalan mereka.
Bahkan aparat kepolisian juga tidak ada yang berani menghalangi bisnis gelap mereka. Jika ada yang berani menghalangi, meskipun itu aparat kepolisian, maka mereka akan memculik aparat tersebut dan menyiksanya, lalu membunuhnya.
Bagi mereka, satu penghalang akan binasa dengan mudahnya ditangan mereka, dan tidak ada ampun ataupun belas kasih dalam system bisnis gelap yang mereka jalankan.
Edy memegang dagunya, mencoba mempelajari informasi yang Ia dapatkan. Ia merasa sedikit aneh mengapa orang yang paling ditakuti tersebut membiarkan mereka lolos malam tadi, ada sedikit kejanggalan yang Edy rasakan.
Saat bersamaan, Asih telah selesai dengan ritual mandinya, dengan hanya handuk yang melilit ditubuhnya, Ia bukannya menyalin pakaiannya, namun menghampiri suaminya, lalu dengan seenaknya duduk dipangkuan sang suami dengan saling berhadapan.
"Sayang.. Aku sedang sibuk, nanti Ya.. Aku menemukan informasi penting tentang orang yang menculik malam tadi. Ternyata Ia orang paling berbahaya dan sangat ditakuti dinegeri ini. Bahkan Aparat saja tidak berani mengusiknya" ucap Edy mencoba menerangkan kepada Asih yang terus saja mengganggunya dengan sentuhan manjanya.
"Sebahaya apa dia? Apakah lebih berbahaya dari Banaspati atau juga Ristih si siluman ular" bisik Asih ditelinga Edy yang dengan sengaja menggigit gemas ujung telinga Suaminya.
Mendengar ucapan Asih, Edy sedikit melongo. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Asih benar adanya, sedang siluman Ular dan juga iblis Banaspati saja dibuat lumpuh olehnya, lalu apalagi hanya seorang Gangster seperti Robert, mungkin tidak perlu menakuti moodnya, hanya sekedar tidak boleh meremehkan lawan dalam bentuk apapun danntetap wasapda.
Asih yang terus menggodanya membuat Edy semakin tak tahan, lalu menggendong sang Istria dan beranjak dari kursinya.
"Semakin lama kamu semakin nakal saja" ucap Edy yang membawa Asih ke atas ranjang dan menghempaskan tubuh ramping itu disana.
Sementra itu, Seorang pemuda sedang mondar mandir didalam kamar kostnya. Ia baru saja menerima kabar jika pasukan bantuan yang sedang dikirim oleh pemerintahan sedang mengalami gangguan dalan perjalanan.
Dimana kapal selam mereka tiba-tiba mendapatkan serangan dari musuh yang ternyata ada mata-mata atau penyusup yang memberitahu tentang rahasia tersebut.
Pemuda yang tak lain adalah Lee, menopang dagunya dengan menggunanakan jemari jempol tangan dan telunjuknya mendengar informasi tersebut.
Ini adalah hal besar yang harus dihadapinya. Bagaimana caranya Ia menggagalkan penyeludupan para gadis yang dibawah dari tanah air dan akan diperjual belikan sebagai pemenuh hasrat para pria yang akan membeli mereka nantinya.
Jika Ia melakukannya sendiri, tentu itu tidak mungkin, sebab ada banyak para penjaga disana, bahkan mereka sepertinya membayar beberapa aparat dalam memuluskan rencana mereka.
Namun jika tidak digagalkan, maka ini akan menjadi bencana dan bayangan buruk bagi kehidupan para gadis tersebut.
Lee merasa dilema akan apa yang harus dilakukannya.
Ia keluar dari kamar kostnya, lalu mencoba mencari sarapan disekitarnya. Ia memiliki prinsip jika ingin bekerja membutuhkan asupan energi agar tidak lemah saat menyerang musuhnya.
Dalam kegundahannya, Ia mencoba menikmati makanannya. Menatap keluar gerai makanan yang meyediakan sarapan dan makan siang.
Sebuah mobil mirip conteiner yang dirancang khusus untuk menjual makanan dengan berbagai olahan spaghetty dan juga burger.
Tiba-tiba saja bayangan wajah Asih melintas dibenaknya. Ia menghentikan sejenak suapannya. Ia merenungi nasibnya sangat tidak beruntung, sebab kemanapun Ia mencoba membuang kenangan bersama sang wanita, Ia tak juga dapat menghilangkannya.
"Asih.. Mengapa begitu sulit melupakanmu, hingga samudera dan benua Ku seberangi demi untuk melupakanmu, namun Kau tak jua hilang dari ingatanku" guman Lee lirih dalam hatinya.
Ia begitu tak mengerti mengapa rasa itu begitu dalam dan membelenggu hidupnya, hingga seorang gadis pirang bermata biru menyadarkannya dari lamunannya.
"Heei.. Mengapa anda makan sembari melamun?" sapa seorang gadis yang telah duduk dihadapannya dengan satu meja yang sama.
Lee tersentak dan menatap sang gadis yang telahmengagetkannya.
Lee membalas dengan senyum tipis, lalu melanjutkan suapannya, sedangkan sang gadis menikmati burger pesanannya.
Keduanya lalu teridiam dan menikmati pesanannnya masing-masing, larut dalam fikiran mereka yang tampak begitu sangat kacau.
Di sisi lain, Asih yang baru saja mandi, kini harus mandi kembali karena telah bermandikan keringat setelah menyerang Suaminya dengan jurus melumpuhkan pertahanan senjata nuklir.
Edy menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang seakan tak pernah ada bosannya melakukan kegiatan berkeringat setiap ada kesempatan.
Esy akhirnya mandi kembali dan membersihkannya dirinya.
Semenjak keduanya menikah, Ia menyadari jika harus mampu melayani sang istri yang memiliki kelebihan hasrat yang menggebu.
"Sayang.. Nanti malam kita mengambil senjata yang dijanjikan oleh panglima perang Romo.." ucap Edy mengingatkan sembari mengenakan pakainnya.
"Heeem.."jawab Asih yang kini sedang menyantab sarapannya.
Edy membukan pintu lemari es, mencari susu steril, lalu menuangkannya dalam gelas dan meneguknya, Ia kembali menuju laptopnya, menyalakan layarnya dan kembali meretas untuk menemukan informasi penting tentang jaringan organisasi yang dibangun oleh Robert.
Meskipun Asih tidak takut akan bahaya yang menimpanya, namun Ia tidak dapat meremehkan kekuatan lawannya, sebab Robert dan juga Wei menyewa para ninja bayaran untuk melenyapkan siapa saja yang mencoba mengahalangi jalan mereka.
"Sayang.. sarapannya enak.. Kamu beli dimana?" tanya Asih kepada Suaminya.
"Didepan Hotel, ada yang jual sapan spaghety dan aneka roti" jawab Edy yang tetap menatap layar monitornya.
"Emmm.. Aku mau beli lagi" ucap Asih, sembari beranjak dari duduknya.
Seketika Edy menoleh ke arah Asih "Tidak.. Bia Aku saja yang beli, kamu tetap disini" ucap Edy lalu beranjak turun dari kamar hotel, dan menuju tempat dimana Ia tadi membeli sarapannya.
Asih hanya mengerutkan keningnya melihat sikap Edy yang begitu terlihat sangat pencemburu padanya.