Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 208



Edy sudah semakin mahir menggunakan segala jurus dan juga senjata yang digunakan oleh Asih.


Hanya saja menggunakan shuriken dan khusarigama Ia belum sempat mempelajarainya, karena tidak mungkin dalam satu saat Ia harus mempelajari semuanya.


Waktu berganti. Malam mulai merayap dan suasana di gedung tersebut sangatlah gelap karena tanpa pencahayaan. Keduanya hanya mengandalkan sinar rembulan dan juga cahaya dari lampu jalan yang sangat jauh dari lokasi mereka berada.


Keduanya baru saja makan malam dan membeli disudut kota. Edy meraih phonselnya, dan menghidupkan senter phonselnya untuk menerangi ruangan tersebut.


"Matikan saja cahaya itu, sebab akan membuat musuh mencurigai kita" ucap Asih kepada suaminya.


"Tapi, Sayang.. Bagaimana kita dapat melihat sesuatu jika tidak ada cahaya?" jawab Edy mencoba protes.


"Maka gunakan inderamu yang lain. Musuh dapat menyusup dalam kegelapan, maka Kau harus dapat mendeteksi kehadirannya melalui angin dengan indera pendengarannmu dan juga indera perasa yaitu kulit" Asih mencoba memberikan pemahamannya kepada Edy.


"Indera penciuamanmu dapat kau jadikan sebagai alat untuk mencium aroma tubuh mereka" Asih kembali menimpali ucapannya.


Edy menganggukkan kepalanya, lalu mematikan senter phonselnya.


Setelah selesai memberikan pemahaman kepada Edy, kini Asih menanyakan rencana mereka selanjutnya dalam merebut kembali Blue Diamond yang kini berada ditangan Wei dan sudah disusupi oleh cahaya kegelapan.


Seaat Edy merasakan desiran angin yang sangat kencang. Dalam kegelapan Ia merasakan seperti adanya sosok yang berlari untuk mengawasi mereka.


"Sayang.. Sepertinya ada penyusup yang datang kemari" Bisik Edy kepada Asih yang kini sedang mencoba memejamkan matanya dan merasakan kehadiran musuh yang mencoba menyusup ke dalam gedung terbengkalai yang kini mereka tempati.


"Bersiaplah, mereka berjumlah 6 orang" titah Asih kepada Edy. Asih meyakini jika diirinya dan juga Edy sedang dikepung oleh penyusup.


Edy menarik katanya, dan berusaha fokus merasakan kehadiran musuh dalam kegelapan seperti yang diterangkan oleh Asih barusan.


Sebuah desingan angin mengarah kepada Edy, dan dengan jurus yang dipelajari Edy siang tadi saat menangkis peluru, maka dengan sigap Ia menggunakan Katana tersebut untuk menahan desingan angin yang menuju kearahnya, dan..


Traaaang...


Suara benturan benda logam saat beradu dengan pedangnya.


Edy tak tahu benda apa itu, namun Ia memastikan jika benda itu adalah senjata tajam.


Edy bersiaga dan fokus untuk memastikan keberadaan musuh


Ia mencium aroma tubuh Asih berada tak jauh darinya dan sepertinya Asih juga sedang bersiaga untuk mengadapi lawannya.


Dan benar saja, desingan angin yang datang secara serentak dan bertubi-tubi menuju kearahnya.


Maka jurus yang digunakan Esy adalah saat Asih melemparkan batu kerikil sebanya 5 butir sekaligus secara mendadak membuatnya dengan cepat menggerakkan pedangnya untuk menangkis semua serbuan senjata mematikan tersebut.


Begitu juga hal nya dengan Asih yang terus menangkis serangan lawan dalam kegelapan.


Sesaat kelebatan bayangan dan desiran angin yang terasa memutari Asih dan juga Edy.


Lalu Asih dan Edy saling menempelkan punggung mereka satu sama lain, dan terus fokus merasakan keberadaan lawannya, hingga akhirnya..


Wuuush.. Crrraaaat..


Suara ujung pedang Edy menembus daging manusia yang datang dari sisi kirinya.


Aarrrggh..


Suara pekikan tertahan dari manusia yang tak terlihat wunudnya dalam kegelapan, lalu Edy mencabut ujung pedangnya dan membuat tubuh tak terlihat itu ambruk dilantai berdebu.


Asih merasakan jika ada senjata dari musuh tersebut mengandung racun, maka dengan cepat Asih membawa Edy melesat keluar dari gedung tersebut dan menuju perkarangan gedung yang sedikit berpencahayaan.


Asih dengan cepat menahan serangan lawan, namun salah satunya mengenai punggung Edy dan..


Aaaargh..


ujung pisau itu dibubuhi racun oleh pemiliknya, da Edy ambruk, lalu dengan sigap Asih menangkapnya, dan Ia melemparkan bom molotov ke arah lawannya, dan ledakan yang dahsyat membuat Asih mengambil kesempatan untuk membawa Edy lari.


Asih membawa tubuh Edy menjauhi lokas sejauh mungkin. "Romo..." panggilnya lirih, berharap sang Romo mendengar panggilannya dan segera datang.


Edy tampak tak sadarkan diri karena racun yang sudah menyebar kealiran darahnya.


Sekelebat bayangan datang dan menghadang Asih.


Lalu Asih menghentikan pelariannya pada sebatang pohon yang tumbuh tinggi menjulang disebuah taman.


Satu sosok pria bertubuh kekar dengan berpakaian kerajaan datang menghampirinya dan meraih tubuh Edy


Lalu Sosok pria yang tak lain adalah Bromo membawa tubuh Edy dalam pangkuannya, lalu memberikan sebuah ramuan kedalam mulut Edy dan membiarkan ramuan itu masuk meresapa bersama aliran darah.


Edy tampak mengejangkan tubuhnya, lalu dalam hitungan menit, Ia memuntahkan darah hitam dan berasap. Racun itu begitu mematikan, namun Asih cepat memberikan pertolongan melalui Sang Romo sehingga membuat nyawa Edy terselamatkan.


Selain itu, Edy masih menyimpan sepertiga batu mirah delima, hingga mampu menahan racun tersebut menyerang jantungnya.


Jika saja itu manusia biasa yang terkena racun tersebut, maka dalam hitungan detik korbannya akan tewas.


Bromo menyerahkan tubuh Edy pada Asih, lalu sembari memegang pundak puterinya Bromo menghilang.


Asih membawa tubuh Edy melesat rimbunan dahan pohon dan mendekapnya penuh kehangatan.


Kini Ia merasa takut kehilangan pria tersebut. Meskipun terkadang Ia bersikapa acuh tak acuh terhadap Edy, namun sejatinya Ia mencintai pria itu.


Asih mencoba memberikan kehangatan pada Edy melalui dekapannya, Ia berharap esok pagi Esy telah sadar kembali.


Sementara itu, para musuh kehilangan jejal Asih dan Edy. Bahkan 2 diantara mereka tewas terkena bom molotov yang dilemparkan oleh Asih, dan sisanya mengalami luka-luka.


Mereka memutuskan untuk kembali ke markas dan akan melanjutka pencairan kembali esok hari.


Asih mulai ikut tertidur, sembari mendekap tubuh Edy di dahan pohon ditengah taman yang tampak sunyi dan juga sepi.


Sebab taman itu merupakan padang rumput yang luas untuk pacuan kuda.


Asih mendengar ringkikan kuda tak jauh dari temapt Ia berada. Sesaat Ia merindukan Bara sembrani, sang kuda Gagah yang Iantinggalkan ditengah hutan diatas tebing.


"Bara.. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu" bisiknya lirih yang hilang bersama hembusan angin.


Asih kini terlelap dalam tidurnya dan merajut mimpinya yang kini sedang tertunda.


Sementara Edy, yang tampak terlelap tidurnya karena proses pemurnian darahnya yang terkontaminasi racun mematikan.


Edy tampak tersengal nafasnya dan sesekali memuntahkan darah hitam kental dan mengeluarkan asap yang jatuh menetesi direrumputan.


Setiap binatang yang mencoba menghampiri darah hitam tersebut sebagai makannannya, maka hewan-hewan itu akan mati seketika.


Beberapa binatang yang menyukai darah tampak hitam seperti hangus saat menikmati darah- darah tersebut.


Hingga akhirnya racun itu kini benar-benar telah habis dari tubuh Edy dan ia dapat merasakan tidur nyenyak.