Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 229



Robert menghempaskan sebuah guci dengan sangat kasar. Ia tak menduga jika sesuatu yang sudah berada didepan matanya harus berakhir begitu saja.


Bayangkan, saat pasokan sabu itu sudah hampir didepan mata dapat dikuasainya, namun para kepolisian yang bekerja sama dengan angkatan udara dapat mengambilnya dengan mudah.


"Sepertinya ada mata-nata atau penyusup lain, Bos" ucap Informan tersebut.


Robert menggeram dengan menggeratkkan gigi-giginya.


"Bagaimana keadaan dua orang pria itu?" tanya Robert dengan penasaran.


"Mereka tidak terlihat, mungkin sudah tewas saat menghadapi pasukan Wei.." jawab informan.


Robert menggeretakkan gerahammnya. Namun Ia tidak yakin jika kedua orang itu telah tewas.


"Cari tau keberadaan mereka..!! jika mereka memiliki tujuan untuk menghancurkan Wei, maka kita manfaatkan mereka" titah Robert dengan perasaan yang sangat geram.


Pria itu mendorong kursi rodanya dan memasuki kamarnya "Carikan Aku gadis belia" titahnya sebelum menutup pintu kamarnya.


Lalu para bodyguard yang berada ditempat itu segera bergerak mencarikan gadis yang diminta oleh Bos mereka.


Sementara itu, Wei terus menciptakan mutan baru dalam jumlah besar-besaran. Pasokan sabunya yang dibawa oleh pihak kepolisian tidak akan dilepaskannya begitu saja.


Ia akan mengirimkan pasukan mutannya untuk menyerang kantor kepolisian.


Wei juga akan membangun pembuatan serum yang baru dan merekrut para Mutan tersebut segera mengirimkannya kepada para pemesannya dari seluruh negara-negara didunia.


Pria yang kini menjelma menjadi setengah iblis itu menjadikan batu permata tersebut sebagai sumber kekuatan yang membuatnya menjadi sombong dan angkuh.


Namun sebelum Ia menyerang kelpolisian, Ia akan mengirimkan pasukannya terlebih dahulu kepada Robert, karena gengster itu selalu mencoba menghalangi usahanya.


Maka tidak akan ada lagi sosok yang selalu menjadi batu sandungan untuknya, dan hanya akan ada satu gengster satu saja.


Robert menyalakan sebatang rokok, lalu menghi-sapnya dengan sangat dalam. Ia menghembuskan asapnya diruangan kamarnya. Meskipun tidak dibenarkan merokok didalam ruangan ber-AC, namun Ia tak perduli akan hal itu, baginya aturan adalah Ia yang membuatnya.


Pintu kamarnya diketuk, tampak seorang bodyguard membawa gadis belia pesanannya dipaksa masuk ke dalam kamar.


Mereka akan menculik gadis belia dari sekolah menengah dengan sangat mudahnya.


Seorang siswi tingkat SMA tersungkur dilantai saat bodyguard itu memaksanya masuk kedalam ruangan kamar.


Dengan wajah ketakutan dan memucat Ia masih merundukkan kepalanya. Gadis itu diculik saat jam istirahanya dengan cara yang begith cepat dan dengan sekejab saja sudah berada dikamar yang sangat menakutkan.


Pintu kembali ditutup, dan gadis itu masih merunduk dengan isak tangisnya.


"Kemarilah, jangan menangis dihadapanku, atau Aku akan membunuhmu" ucap Robert dengan nada penuh ancaman.


Sesaat gadis itu menghentikan tangisnya, lalu terdiam saat mendengar ancaman dari Robert.


"Kemari atau tembak kepalamu?!" Hardik pria yang tak memiliki belas kasih tersebut.


Sang gadis beringsut dari lantai, mencoba berdiri untuk menghampiri Robert yang saat ini sedang memegang pucuk senjata api untuk dijadikan alat ancaman.


Setelah jarak mereka begitu dekat, Ia meminta gadis itu bersimpuh padanya, dan tak ada pilihan lainnya, Ia harus mengikuti semua perintah Robert.


Sesaat gadis itu menengadahkan wajahnya. Sesaat tampak Robert melihatnya jika itu adalah wajah Asih.


Ia tak tahu mengapa wajah Asih slealu membayanginya, sedangkan Ia juga belum tahu nama wanita itu.


Robert merasa ambigu, Ia seperti sudah terhipnotis oleh kecantikan Asih.


Sedangkan gadis belia itu dipaksa untuk melayaninya, meskipun harus berulang kali mengalami penyiksaan.


Saat itu, pasukan mutan yang dikrim oleh Wei datang menyerbu dengan kecepatan bagaikan lebah.


Para bodyguard yang menjaga mansion milik Robert mengalami kewalahan dan sebagian dari mereka sudah habis tercabik dengan tubih membiru dan ceceran darah dimana-mana.


Lukas yang mengetahui hal itu, mengambil senjata apinya, lalu menembakkan pelurunya yang menyasar kepada kepala para mutan yang menyerang dengan sangat ganas.


Sementara itu, Robert belum menyadari apa yang terjadi diluar kamarnya.


Ia masih sibuk dengan gadis belia tersebut dan mengkhayalkan Asih sebagai imajinasi bercintanya.


Lukas kehabisan pelurunya, Ia berlari mencari pemantik api yang pernah disimpan dalam jumlah yang cukup banyak.


Saat Ia berlari, mutan itu mengejarnya dengan sangat cepat.


Lukas berusaha membuka brankas penyimpanan pemantik api, namun Mutan itu sudah semakin dekat dan Lukas masih berusaha untuk membuka pintu brankas.


Saat bersamaan, seorang bodyguard menembakkan senjata apinya tepat dikepala mutan tersebut dan hancur menjadi serpihan.


Lukas bernafas lega, lalu Ia mengeluarkan pemantik api tersebut untuk menjadi senjatanya.


Sedangkan bodyguard yang saat tadi menolongnya, kini sudah habis tercabik dengan puluhan mutan yang masih hidup dan tubuh sang bodyguard mengejang saat mutan itu mencabik-cabik dengan gigi taring mereka.


Kini para mutan itu melihat ke arah Lukas yang mana masih berdiri dengan pemantik api tersebut.


Seketika puluhan mutan itu menyerang Lukas dengan cepat bagaikan ratusan lebah yang mengeluarkan suara desingan yang berasal dari sayapnya.


Lukas menghidupkan pemantik api dikedua tangannya, saat para mutan itu datang menyerangnya Ia dengan cepat kembali menyerang balik dengan membakar kepala mutan tersebut dan membuat mutan itu hancur menjadi serpihan.


Satu mutan menyerang dari arah belakang, dan berhasil melukai Lukas, namun Lukas berhasil membakar mutan tersebut, lalu hancur dan menjadi serpihan.


Lukas yang terkena cabikan dari kuku dan gigi mutan itu tampak membiru, dan kini Lukas terkena racun dari nutan tersebut.


Tubuhnya mulai membiru, dan Ia mengalami sesak nafas.


Lukas mencoba bertahan dan berjalan menuju kamar Robert yang saat ini belum menyadari jika mansion mereka sudah diserang dan banyak para bodyguard yang tewas, sedangkan Robert masih sibuk dengan wanitanya.


Lukas berjalan tertatih dan juga sempoyongan, kadang Ia terjatuh, namun berusaha untuk bengkit kembali dengan tubuh yang semakin membiru.


Lukas sudah hampir didepan pintu kamar Robert, Ia mencoba untuk menggapai pintu kamar kakaknya.


Namun Ia tak dapat meraihnya, Ia ambruk didepan pintu kamar Robert, lalu berusaha mengetuk ujung bawah pintu kamar dengan jemarinya.


Ia ingin memanggil nama kakanya, namun suaranya sudah tercekat ditenggorokannya, racun sudah menyebar ke seluruh aliran darahnya, benjolan berair dengan tubuh membiru dan nafas yang mulai tersengal tak lagi mampu membuatnya bertahan.


Lalu Ia meregang nyawa dengan sangat mengenaskan, dan jemarinya menyentuh ujung pintu bagian bawah dan menimbulkan bunyi yang terdengar begitu sangat lemah.


Robert menghentikan aksi bercintanya, Ia memandang gadis tersebut, yang ternyata bukan Asih. Ia dengan cepata menyingkirkan gadis itu dari atas tubuhnya, lalu meraih kursi rida dan mengayuh kursi rodanya.


Ia yang merasa penasaran dengan seseorang didepan pintu, lalu membuka pintu, dan..


Ia tersentak saat melihat Lukas telah tewas dalam luka yang sangat mengenaskan.