
Dina membawa telur ayam itu masuk kedalam rumah. Orang-orang sudah menantikannya dengan was-was. "siapa yang menghalau ular tersebut? Apakah itu Ristih yang mengejarku?" Dina berguman dalam hatinya.
Lalu Ia memilih untuk segera bergegas masuk kedalam rumah.
Setelah melihat Dina masuk kedalam rumah, mereka semua tampak lega. Dina melangkah membawa sebutir telur dihadapannya.
Dina menghampiri wanita yang tergigit ular tersebut.
Wajah wanita itu sudah memucat. Rasa sakit sangat menggerogoti tubuhnya. Ia sudah sangat sulit untuk bernafas.
Dina duduk besila, lalu menggenggam telur tersebut, dan merafalkan doa kepada sang Maha Kuasa agar orang tersebut diberi kesembuhan.
Salaamun ‘alaa nuuhin fil ‘aalaminn. Innaa kadzaalika najzil muhsiniin. Innahuu min ‘ibaadinal mu’miniin,’
Dina merafalkan doa Nabi nuh dan shalawat Nabi, lalu meletakkan air liurnya didaerah yang terkena sengatan ular. Setelah itu Ia menggulirkan telur ayam tersebut ke daerah yang terkena sengatan.
Dalam waktu beberapa menit, dengan izin Yang Maha Kuasa, wanita itu sembuh, dan dapat bergerak lagi.
Seketika orang menjadi takjub, memandang Dina dengan kagum. Mereka tidak menyangka jika Dina akan berubah sehebat itu, setelah puluhan tahun menghilang.
Semua orang mengucapkan syukur atas kesembuhan wanita itu. Lalu mulailah desas desus tentang Dina memiliki ilmu yang luar biasa.
Orang-orang berpulangan, lalu mengucapkan terimakasih yang begitu banyak kepada Dina. Kini Dina menjelma menjadi seorang wanita muda yang memiliki kekuatan magic.
Warga disekitar mulai menghormatinya. Umi Lastri merasa bingung. Bagaimana mungkin anak perempuannya yang dulu begitu biasa-biasa saja, kini menjelma menjadi seorang paranormal. "apa yang disembunyikan oleh Dina dari kami? Tidak mungkin Ia dapat sehebat itu.?" begitu banyak pertanyaan yang bersarang didada Umi Lastri.
Setelah para tamu berpulangan, mereka tidak lagi melanjutkan makan malamnya. Karena sudah kenyang dengan sebdirinya menghadapi permasalahan tadi.
Abah merasakan apa yang dirasakan oleh Umi, mereka. keduanya juga merasakan hal aneh pada puterinya itu. Mereka sangat senang jika Dina telah kembali kerumah. Namun, hal-hal yang aneh tersebut membuat keduanya bertanya-tanya.
Dina membereskan makan malam mereka yang tertunda, karena sudah tidak ada lagi selera untuk makan.
setelah selesai membereskan seluruhnya, Dina memilih melakukan shalat Isya, dan pergi ke sungai untuk berwudhu.
Sesampainya disungai, Ia mengambil wudhunya.
"Dinda.. Dinda.. Kemarilah.." suara lembut nan tenang memanggilnya.
"Kanda.. Itu kah kau..?" balas Dina sembari menoleh kearah belakangnya.
Dina melihat seekor buaya putih sedang menampakkan diri kepadanya.
Ia lalu menceburkan dirinya kedalam sungai.
"Kanda.. Kemana saja kau.? Mengapa menghilang..? Tidakkah kau merindukanku.. Aku hampa tanpamu.." ucap Dina sembari meletakkan pipinya dimoncong buaya itu.
"Maafkan Kanda Dinda, jika membuatmu lama menunggu. Istana sedang dalam masalah besar. Pasukan Ristih menyerang, karena Asih telah melukai Rekso, anaknya. Lalu Ia berusaha untuk membalas dendam. Bahkan Ia mengancam akan mengirimkan ular-ular lainnya kekampung ini, untuk menyerang warga desa. Kamu harus kuat dan sabar ya..?" jawab Bromo mencoba menjelaskan keadaan yang sedang dihadapannya.
"tetapi Dinda hampa tanpa kehadiranmu Kanda." ucap Dina merengek.
"jika masalahnya sudah kondusif, Kanda berjanji akan menemuimu.. Kanda yakin kamu daptat mengatasi semuanya." ucap Bromo menguatkan hati Dina.
"beri aku cintamu malam ini, jika tidak, aku akan marah." ucap Dina mengancam.
Dina tersenyum sumringah. "beneran ya.. Janji.." ucap Dina meyakinkan hatinya.
Bromo menganggukkan moncongnya, pertanda menyetujui.
Dina memeluk erat moncong buaya tersebut "aku merindukanmu, jangan sering menghilang dariku.. Aku tak sanggup hidup tanpamu" ucapnya dengan kepiluan hati dan rasa rindu yang membuncah, sembari mengecup moncong sang buaya.
Dina melepaskan pelukannya. "Baiklah.. Dinda berwudhu dulu." ucap Dina sembari melepaskan pelukannya.
Bromo mengnggukkan moncongnya. Lalu Dina segera berwudhu. Setelah Ia selesai berwudhu Ia menoleh ke arah Bromo. "tidakkah kita shalat berjamaah kanda..?" ucapnya dengan penuh harap.
Kanda sudah sedari tadi shalat Dinda, sejak kamu mengobati pasien yang dirumah itu." ucap Bromo tenang.
Dina menganggukkan kepalanya. "baiklah.. Dinda masuk kerumah dulu.. Jangan pergi lagi, tunggu Dinda selesai shalat." ucap Dina penuh penekanan.
Bromo menganggukkan moncongnya.
Dina beranjak dari sungai. Pakaiannya habis basah karena Ia menceburkan dirinya kedalam sungai.
Lalu melangkah masuk kedalam dapur.
Saat Ini umi baru saja, dari dapur untu lk mengambil air minum.
"ya ampun Din.. Ngapain kamu sampai basah kuyup seperti ini? Gak baik mandi malam-malam, nanti kamu kena rheumatik. "cecar Umi Lastri dengan nada penekannan.
"iya ui, tadi terpeleset saat mau berwudu, ini mau Dina ganti. " jawab Dina setenang mungkin.
"ya sudah sana, jangan lama-lama, nanti kamu masuk angin." jawab Umi, sembari membawa segelas air untuk diberikan kepada Abah.
Dina segera memasuki kamarnya, menyalin pakaiannya dan melajukan shalat Isya.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊
"Bah.. Apakah Abah tidak merasakan hak yang aneh pada Dina..? Mengapa Ia tiba-tiba memiliki kesaktian yang luar biasa seperti itu? Darimana Ia mendapatkannya?" Ucap Lastri merasa bingung.
Abahnterdiam menghayati setiap ucapan Istrinya. Karena Ia juga mersakan hal yang sangat janggal.
"apakah suaminya belum juga pulang?" tanya Abah kepada Umi.
Lastri menggelengkan kepalanya. "Belum Bah.. Kemana suaminya itu pergi..? Mengapa sampai sekarang belum juga kembali.? Apakah Ia memiliki istri lain selain Dina? Sepertinya Puteri kita sedang menutup-nutupi tentang hal suaminya." ucap Lastri dengan rasa penasaran yang tinggi.
"iya.. Abah juga merasakan hal itu. Perasaan orang tua tidak mungkin dapat dibohongi." jawab Abah menatap nanar. Ia meneguk air minumnya, lalu memberikan gelas itu kepad Umi setelah menghabiskan airnya.
Umi meraihnya, lalu meletakkannya pada sebuah meja kecil yang ada didekat ranjang kayu mereka.
Abah membaringkan tubuhnya ditepian ranjang, Ia menatap langit-langit kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu. "Mi.. pesanan untuk besok apakah sudah umi siapkan? pesanan semakin bertambah semenjak Dina pulang kemari. Kita harus mencari rumpun bambu kedalam hutan yang lebih dalam. Karena rumpun bambu yang yang disebelah selatan sudah hampir habis." ucap Abah lirih.
"Iya Bah.. Besok pagi kita kesebelah Barat, disana masih banyak hutan yang menyediakan rumpun bambu." jawab Lastri. Sembari ikut membaringkan tubuhnya diranjang. Usia yang sudah semakin menua diantara keduanya, namun tetap saling mendukung dan mencintai satu sama lainnya.
lastri memiringkan tubuhnya, memeluk erat sang kekasih belahan jiwanya. merajut cinta hingga dimakan usia.
"kita tidur Bah, besok harus pagi-pagi sudah berangkat ke hutan. Pukul 6 nanti si Robi datang menjemput pesanan untuk dibawa ke kota. " Lastri mengingatkan Abah, sembari memejamkan matanya yang sudah sangat berat. Laku teridur dengan mendekap tubuh renta sang keksihnya.