
Asih terbangun dari tidurnya, Ia menggeliatkan tubuhnya, lalu merentangkan kedua tangannya.
Rasa rindu akan kamarnya membuatnya tertidur pulas. Ia bergegas turun dari ranjangnya, lalu memeriksa kamar Ibunya, namun tak juga dapat ditemukannya.
"Mengapa Ibu belum juga kembali?" Ia berguman lirih dalam hatinya.
Lalu Ia kembali kedalam kamarnya. Ia kembali melakukan ritual memanggil Romonya.
Sesaat panggilan terjawab " Romo... Dengarkan Aku. Apakah Romo melihat keberadaan Ibu?" tanya Asih dengan panggilan ghaibnya.
"Puteriku sayang... Ternyata Kamu sudah kembali kerumah, Sayang. Jangan khawatirkan Ibumu, Ia bersama dengan Romo" jawab Bromo dengan nada tenang.
"Baiklah, Romo. Aku merasa lega" ucap Asih dengan perasaan senang.
"Tunggu, Puteriku. Dengarkan apa yang ingin Romo sampaikan. Harap Kamu bersikap hati-hati, karena akan ada tamu yang banyak mengunjungimu. Untuk sementara waktu, biarkan Ibumu bersama Roko, hingga ada waktunya nanti Ia Romo kembalikan" ucap Bromo mencoba mengingatkan puterinya.
"Baik, Romo. Saya akan mendengarkan seluruh nasehat dari Romo." Asih mendengarkan nasehat Romonya.
Setelah itu, panggilan berakhir. Namun Asih teringat akan Kakaknya, Chakra. Saat Ia akan menghubunginya kembali, namun sepertinya Romonya itu tak lagi dapat melakukan panggilan ghaib. Asih menuduga jika Romonya sedang bersenang-senang dengan ibunya.
Asih tersentak dengan suara ringkikan dua ekor kuda yang tampak saling beradu.
Seketika Ia beranjak dari ranjangnya, menuju pintu luar goa, lalu Ia terperangah melihat seekor kuda jantan yang sangat gagah milik Kakaknya Chakra.
Namun Ia tidak melihat keberadaan kakanya.
"Kemana, Kak Chakra? Mengapa tidak terlihat dan hanya kudanya saja" Asih berguman lirih. Lalu menghampiri kuda berwarna hitam yang kini tampak sedang melepas rindu dengan Bara.
Kedua Kuda itu saling ringkik untuk mengungkapkan segala kerinduan mereka karena sudah sangat lama tidak bertemu.
Asih membelai lembut hidung kuda tersebut. "Kemana Kak Chakra? Mengapa kamu pulang sendirian?" tanya Asih dengan lirih.
Kuda itu menggesekkan kepalanya ke lengan Asih, sembari menatap sendu.
"Kamu bersama Ibu? Dan Romo menculik Ibu dipertengahan jalan?" tanya Asih kepada Kuda itu.
Hewan gagah berbulu hitam itu hanya menganggukkan kepalanya.
Seketika Asih mendenguskan nafasnya berat. Namun sepertinya Romonya tidak mengkhawatirkan Kakaknya itu, apakah itu berarti jika kondisi kakaknya itu baik-baik saja.
"Kalian berdua carialah makan, agar memiliki tenaga. Kemungkinan akan dibutuhkan tenaga kalian berdua" titah Asih kepada kedua ekor kuda tersebut.
Lalu keduanya mengangguk dan pergi merumput disekitar tak jauh dari goa.
Sementara itu, Asih kembali kedalam goa, Ia melihat pemuda itu masih tertidur lelap dengan dibarengi mendengkur.
Asih menggelengkan kepalanya, namun Ia merasa sedikit simpati, dimana pemuda itu tidak berminat dengan semua batu permata yang terdapat didalam goa tersebut.
Jika saja Edy mau, mungkin Ia sudah menyembunyikan pinggan giok asli tersebut untuk dirinya sendiri.
Namun asih masih melihat pinggan itu tetap berada ditempatnya dengan beberapa sisir pisang rebus yang masih tersisa.
Asih mengmbil keranjang bambu. Ia berniat ingin memetik beberapa sayuran dan juga singkong. Dihutan Ia tidak perlu membeli apapun, Ia tinggal memetiknya dikebun, dan jika ingin daging, Ia tinggal berburu saja.
Bahkan Asih masih menyimpan kartu ATM dan Credit Cardnya yang didalamnya berjumlah uang dengan jumlah yang sangat fantastis. Namun dihutan, Ia tak membutuhkan semua kartu tersebut.
Asih beranjak keluar dari goa. Ia menuju kebun untuk memetik sayuran dan umbi singkong beserta beberapa ketela rambat.
Sementara itu, Edy sudah terjaga dari tidurnya. Ia tak mendapati Asih disekitar goa.
"Kemana Asih? Mengapa tidak nampak batang hidungnya" gumannya sembari menguap.
Pemuda itu menyusuri lorong goa dan menuju ceruk yang ada didalam goa tersebut. Edy mencoba memastikan melongok kedalam goa, dan tak satupun orang didalamnya, lalu Ia melucuti pakaiannya dan menceburkan diri didalam ceruk.
*******
"Mari Kita bergerak. Hari sudah semakin siang, kita harus segera sampai dipuncak sebelum malam tiba" titah sang Big Bos kepada para bawahannya.
Jack dan Black yang sudah mulai tampak pulih, mencoba untuk mengikuti titah Bos mereka.
Kemudia mereka mulai melakukan perjalanan yang tidak terlalu terburu-buru, karena mereka juga harus mempertimbangkan kondisi Jack dan Black yang masih dalam pemulihan.
Keduanya dibekali sebilah batang kayu untuk menjadi tongkat yang membantu keduanya berjalan dan menjaga keseimbangan.
Dengan terus menyusuri bekas tapak kaki kuda miliki Dina, mereka menjadikannya sebagai petunjuk menuju goa.
Pria tampan dengan ambisi yang sangat liar untuk mendapatkan sesuatu yang diincarnya itu begitu tampak terpancar diwajahnya.
Disisi lain, Asih sudah selesai dengan semua kebutuhan yang diinginkannya.
Ia membawa keranjang berisi sayuran dan juga singkong sebagai bahan untuk mengganjal perut mereka.
Sesampainya didalam goa, Asih tak menemukan keberadaan Edy. Ia mencoba mengedarkan pandangannya kearah sekeliling goa, namun tak menemukan sang pemuda.
Asih mencoba mengabaikannya, Ia kemudian mencuci singkong dan juga sayuran yang sudah dibersihkannya, lalu Ia merebus singkong dan dan sayuran ditempat yang terpisah.
Asih menghidupkan perapian, lalu memasak masakannya.
Setelah selesai, Ia menyajikan di sebuah tempayan yang juga terbuat dari batu giok tersebut.
Setelah menghidangkannya, Ia juga tak melihat pemuda itu. Rasa penasaran membuatnya untuk mencari sang pemuda.
Nalurinya membawa gadis itu kedalam ceruk, dan benar saja...
Pemuda itu baru saja beranjak dari ceruk dan menuju tepian tanpa sehelai benangpun.
Aaaaaagggh...
Asih berteriak histeris. Lalu menutup matanya dengan menggunakan kedua tangannya.
Hal tersebut juga membuat pemuda tersentak kaget, terlebih lagi Asih sudah melihat onderdilnya. Kemudian Ia menutup senjatanya yang menciut terkena dingginya air ceruk.
"Heeii... Berpalinglah.!" teriak Edy kepada gadis itu.
Seketika Asih berbalik, lalu beranjak pergi meninggalkan pemuda itu dan menuju keruang dapur.
Nafas Asih memburu, dan tersengal. Ia bingung melihat benda aneh hang tergantung dikedua pangkal kaki Edy. Jelas saja itu berbeda dengan miliknya.
Asih mencomot singkong dipinggan, lalu mengkunyahnya dengan sangat cepat. Hal itu Ia lakukan untuk mengurangi rasa kegugupannya.
Tak berselang lama, Edy sudah selesai menyalin pakaiannya. Lalu Ia menghampiri Asih yang sepertinya banyak menghabiskan makanan.
Edy ikut mencomot singkong rebus dan juga sayur rebus yang tersedia. Keduanya makan tanpa saling berbicara satu sama lainnya.
Seketika Asih merasa penasaran " Mengapa bentuk milikmu sangat lucu? Mirip dengan belalai gajah" ucap Asih dengan polosnya.
Seketika Edy tersedak karena kaget dengan pertanyaan Asih yang dianggapnya sangat konyol. Apakah seumur hidupnya gadis itu tidak pernah melihat onderdil milik seorang pria, sehingga Ia merasa sangat aneh seperti itu.
Edy meraih cawan yang terbuat dari perunggu dihadapannya, lalu menenggak airnya dengan sangat dahaga.
Berpalinglah,