
Saat sopir dan kenek yang merupakan dari bagian mafia tersebut berada diatas atap counteiner, Asih sudah bersiap dengan seringai liciknya.
Kedua pria itu terpesona oleh kecantikan sang gadis, dan kilauan batu permata yang tergantung dilehernya itu membuat silau mata mereka, sehingga mereka menyipitkan matanya dan menghindari cahaya tersebut.
Dengan mengambil kesempatan itu, Asih menggerakkan ujung kakinya, lalu menyapu kaki pria itu dengan gerakan seperti menebas.
Kedua pria yang tak awas tersebut langsung terkejut dan terjerambab jatuh diatas atap counteiner.
Buuuugh.... Baaaam...
Keduanya meringis menahan sakit. Lalu memegangi bokong mereka yang sakit.
Dengan gerakan cepat, Asih melentingkan tubuhnya, dan berdiri tegak memandangi kedua pria tersebut.
Jalanan yang mulai dilintasi beberapa pengemudi merasa heran dengan apa yang terjadi. Sedangkan Andre tersenyum menyeringai menjadi penonton.
Saat bodyguard itu menghampirinya, Ia menahan mereka untuk menembak Asih. Edy yang memperhatikan gerak-gerik Andre sang papa merasa sangat curiga. Ia memastikan jika papanya memiliki rencana buruk terhadap Asih.
Saat ini, kedua pria itu, berusaha bangkit dan berdiri tegak, gadis dihadapan mereka sungguh cantik, namun sangat berbahaya. Mereka mulai waspada, memasang kuda-kuda pertahanan.
Asih bersiap menyambut keduanya, lalu pertarungan terjadi. Edy yang menjadi penonton dibawah sana hanya bengong dan terperangah melihat kelihaian Asih dalam melumpuhkan kedua pria bertubuh kekar tersebut.
Tanpa menunggu lama, kedua pria itu berhasil Ia lumpuhkan, dan terguling jatuh kebawah.
Asih lalu melompat turun kebawah, menyingkirkan tubuh kedua pria itu kesemak-semak, lalu bergegas membuka pintu counteiner.
Alangkah terkejutnya Asih, saat melihat Bara yang terkurung dalam kandang kerangkeng besi, namun bukan hanya Ia saja, ada dua kerangkeng disana, dua ekor lainnya adalah harimau yang tampak begitu sangat lapar.
Bara meringkik dan menghempaskan kakinya dengan penuh kerinduan. Asih menaiki bak counteiner, lalu mencoba membelai kepala Bara dengan lembut. "tenanglah... Kita akan kembali hutan secepatnya" ucap Asih mencoba menenangkan Bara yang tampak tak sabar.
Asih diam dan berfikir sejenak, Ia mencoba menyelamatkan hewan buas itu juga, Namun, jika sampai dilepas disekitar sini akan membahayakan penduduk.
Asih menghampiri Edy, Ia yakin jika pemuda tak berniat jahat untuknya "Aku meminta bantuanmu" ucap Asih dengan selembut mungkin.
Kata-kata itu begitu indah terdengar ditelinga Edy, dengan cepat Ia menganggukkan kepalanya.
"Katakankanlah, apapun itu" jawab Edy cepat.
"Bantu Aku membawa hewan-hewan ini ke hutan Ku" pinta Asih.
Tanpa berfikir panjang, Edy menyanggupi permintaan Asih, baginya kembali ke hutan tak masalah jika itu bersama dengan sang gadis pujaan.
Sementara itu, Andre menelefon seseorang, Ia sedang merencanakan sesuatu yang mana tentunya Edy tidak akan mengetahuinya.
Dengan cepat Edy turun dari mobilnya, lalu menaiki mobil pembawa counteiner tersebut. Asih menutup kembali pintu counteiner, lalu menaiki mobil tersebut, dan duduk disisi sopir yang kini dikemudikan oleh Edy.
Degub jantung sang pemuda begitu tak beraturan. Ia tak menyangka pertemuannya dengan sang gadis begitu sangat tak terduga.
"Apakah kita Akan membawa mereka ketepi hutan?" Tanya Edy membuka keheningan, saat Ia berhasil memutar mobil counteiner tersebut dengan berbalik arah. Asih hanya menganggukkan kepalanya.
Disisi lain, Andre tersenyum dengan sangat licik, Ia membiarkan mobil counteiner tersebut berbalik arah, kini tujuannya bukanlah Kuda itu lagi, melainkan batu permata tersebut.
Dengan cepat para bodyguard itu memasuki mobil mereka dan melakukan pengejaran dengan menjaga jarak.
Disisi lain, sopir yang tadi berhasil dilumpuhkan oleh Asih, dengan kondisi yang luka parah, mencoba meraih phonsel pintarnya, lalu menekan nomor seseorang dan menyampaikan pesan singkat.
Lalu setelah itu Ia terkulai tak berdaya dengam phonsel yang berada ditangannya.
*****
Hari semakin gelap, Asih merasa lapar. Perutnya sudah sangat keroncongan, dan terdengar suara cacing diperutnya bernyanyi meminta untuk diisi.
Edy yang mendengar suara keroncongan dari perut Asih merasa iba. Ia mengemudi sembari memperhatikan jalanan jika ada penjual makanan yang mangkal dipinggir jalan.
Setelah melihat penjual makanan, Ia menepikan mobilnya, lalu ingin turun. "Tetaplah disini, aku akan mengisi bahan bakar dan juga membeli makanan" titah Edy.
Asih menganggukkan kepalanya, menyetujui titah Edy.
Pemuda itu turun dari mobilnya, lalu memesan 4 porsi makanan, dan juga bahan bakar yang dijual juga oleh penjual makanan tersebut.
Asih yang sedang menunggu didalam mobil, melihat sebuah gelagat mencurigakan dari mobil yang sedari tadi mengikuti mereka dengan jarak cukup jauh. Saat mobil yang ditumpanginya berhenti, mereka juga ikut berhenti dan menepi.
Asih merasa jika penguntit tersebut memiliki rencana yang buruk untuknya.
Setelah pesanan selesai, Edy membayar makanan tersebut. Selama ini Ia tak pernah membeli makanan dipinggir jalan, dan kali ini Ia lakukan demi sang gadis ayu rupawan yang kini berada disisi kemudinya.
Ia menaiki mobil tersebut dan duduk dikemudi "Makanlah, pasti kamu sangat lapar" ucapnya dengan lembut, lalu menyerah dua porsi mie goreng kepada Asih beserta 2 botol air mineral, dan dua porsi lagi untuknya.
Asih mengambilnya, karena Ia sangat lapar. Edy tersenyum melihat gadis itu makan dengan sangat lahabnya.
Edy kemudian mengemudikan mobil tersebut menuju hutan yang dipinta oleh Asih. Ia mengemudi sembari sesekali menyomot mie gorengnya.
Asih sudah selesai menyantap mie gorengnya. Ia meneguk air mineral yang diberikan pemuda itu kepadanya, Edy yang melihat itu semua, merasa jika pesona gadis itu sungguh meruntuhkan imannya.
Edy kemudian mengemudikan mobil counteiner tersebut dengan menambah kecepatannya, Ia melihat hari mulai gelap dan perjalanan mereka masih panjang.
Melihat pemuda itu kesulitan memakan makanannya, Asih merasa iba, Ia mengambil wadah mie goreng dalam bahan serefon itu. Karena menggunakan sumpit, Ia tak dapat menggunakannya, lalu menggunkan jemarinya, Ia menyuapkan mie tersebut kedalam mulut pemuda yang sedang menyetir tersebut.
Perlakuan Asih yang untuk pertama kalinya, membuat Edy bagaikan melayang. Ia langsung membuka mulutnya, dan merasakan jemari itu masuk kedalam mulutnya untuk menyuapkan mie goreng tersebut.
Kulit lembut dari jemari yang tak sengaja tersentuh bibirnya, membuatnya salah tingkah. Desiran-desiran indah menjalar dialiran darahnya, sehingga membuatnya sangat gelisah.
Asih terus menyuapinya, hingga suapan terakhir, dan saat itu, pemuda itu memberikan gigitan lembut diujung jemari telunjuk sang gadis saat menyuapkan makanan terakhirnya.
Hal tersebut membuat Asih sedikit terkejut, namun Ia merasakan sesuatu yang lain, tetapi Ia hanya menutupinya.
Ia mengakui jika Edy memiliki garis ketampanan dari sang ayahnya. Namun watak mereka sangat berbeda, mungkin watak Edy mewarisi ibunya.
Asih mendadak diam, perlakuan Edy barusan membuat darahnya seakan mengalir lebih cepat. Ia terbayang akan Lee, pemuda yang pernah memberikan kecupan pertamanya.
Edy semakin bersemangat dalam mengemudi, hingga malam semakin larut, mereka masih dalam perjalanan.