
Asih mulai mengayuh batang bambu untuk mendorong rakit agar berlayar diatas air.
Edy sementara ini menjadi penumpang yang sedang menikmati keindahan alam dan juga asyiknya mengarungi sungai dengan begitu syahdunya.
Air sungai tampak berwarna hijau. Menandakan tingkat kedalaman yang cukup dalam.
Ia menatap kiri dan kanan sisi sungai, yang tampak hutan membentang sepanjang perjalanan.
Asih masih tetap fokus mengayuh batang bambu dan rakit berlayar dengan sangat baik.
Saat sedang asyik menikmati pemandangan nan indah. Edy merasa sangat curiga dengan sesuatu yang mengikuti rakit mereka.
Riak air yang tampak melebar dan terus bergerak mengikuti kearah mereka.
Rasa penasaran begitu sangat besar, membuatnya semakin tergerak untuk melongok kedalam air, dan..
Aaaaaaaaakh..
Edy berteriak ketakutan, karena saat itu Ia melihat rambut yang tampak membentang lebar dan seperti memiliki dua bola mata yang mengerjap dan memperlihatkan gigi taring yang sangat mengejutkannya.
Seketika Asih memutar tubuhnya, melihat apa yang sedang terjadi pada pemuda itu.
Sesaat Ia melihat Edy yang sedang berada diujung rakit tertarik sesuatu, dan..
Byuuuuuur...
Aaaaaaaagggh...
Asih terperangah, lalu secepat kilat Ia berlari diatas rakit dan melompat kedalam sungai.
Asih masuk menyelami sungai, berenanng menyelam mengejar makhluk bernama Sane yang membawa Edy dan hendak menggulungnya.
Tanpa sadar Asih telah menjelma menjadi setengah buaya putih. Ekornya memperlaju gerak menyelamnya. Ia menghununuskan ujung pedangnya, lalu merobek gulungan yang masih tersisa.
Saat itu mata Edy masih sempat melihat ekor Asih yang meliuk liuk menyelam kedalam sungai, sebelum akhirnya hantu Sane menggulungnya.
Saat ujung pedang itu merobek gulungan, hantu itu dengan cepat membukanya, lalu mengeluarkan Edy dari gulungannya.
Edy yang masih tersadar, berusaha, untuk berenang dan menghindari hantu yang tak pernah dilihatnya seumur hidupnya.
Sesaat mata Asih dan Edy beradu, lalu pemuda berenang menghindari dua makhluk yang mulai saling serang.
Edy sekuat tenaga berenang keepermukaan, mencoba mengejar rakit mereka yang hanyut terbawa arus sungai, sedangkan Asih masih berjuang berperang melawan hantu air tersebut, hingga akhirnya Asih mampu merobek hantu tersebut menjadi kepingan-kepingan kecil.
Edy tampak kelelahan mengejar rakit yang semakin menjauh.
Lalu sebuah tangan menopangnya, dan membawanya diatas pundaknya, lalu berenang dengan cepat mengejar rakit tersebut.
Edy yang sekarang berada dipundak seorang gadis, dengan kepala menghadap belakang, dapat dengan jelas melihat ekor sang gadis yang terus berenag dan mencapai rakit.
Edy terbatuk-terbatuk mengeluarkan air yang sempat terminumnya saat diseret hantu air tadi.
Kini Ia merasakan nafasnya terasa longgar.
Kini mereka sudah mencapai ujung rakit. Lalu Asih mengangkat tubuh Edy, dan meletakkannya keatas rakit, kemudian Ia meletakkan pedangnya dan juga naik keatas rakit.
Saat diatas rakit, Asih merasakan jika terasa lebih pendek dari biasanya.
Sedangkan pemuda yang sedang berbaring itu masih menatapnya dengan nanar.
Sesaat Asih melihat bayangannya diatas rakit, bukanlah Asih yang normal, melainkan setengah wujud buaya putih.
Seketika Asih terperangah, kedua matanya membola. Ia sangat-sangat malu saat mengetahui dirinya telah menjelma menjadi setengah siluman.
Ia tampak panik. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat. Apa jadinya jika pemuda itu mengetahui dirinya yang sebenarnya.
Ia berjalan mundur dan hendak melompat lagi kedalam air. Ia begitu terlihat sangat kacau.
Dengan cepat Edh berlari diatas sungai, lalu menerkamnya hingga hingga membuat mereka terjatuh terjerambab diatas rakit.
"Jangan pergi... Jika Kau pergi, bawa Aku bersamamu" ucap Edy yang kini berada diatas tubuh sang gadis.
Asih terdiam menatap wajah pemuda itu. "Kita berbeda, kita tidak sama. Aku bukanlah manusia normal seutuhnya sepertimu" ucap Asih dengan tersedu, dan tak mampu menahan air matanya.
Selama ini Ia selalu ingin menjaga dan mengontrol emosinya, jangan sampai ada yang mengetahui jika dirinya setengah siluman. Sehingga Lee sampai sekarang beljm mengetahui siapa Asih sebenarnya.
"Aku sudah melihat wujudmu saat didalam goa kemarin. Saat kamu mandi didalam ceruk" ucap Edy, yang terus menimpa sang gadis, terbaring dengan setengah tubuhnya dengan ekor yang sangat panjang.
Asih terperangah mendengarnya. Ia tidak mengetahui jika ternyata Edy telah mengetahui siapa dirinya sejak didalam goa.
"Lalu mengapa Kau tidak lari meninggalkanku, ataupun takut?" tanya Asih dengan bola mata yang sendu.
"Karena Aku menyadari, jika Aku mencintaimu, dan terjerat dalam perangkap pesonamu" ucap Edy meyakinkan.
Asih yang mendengar ucapan Edy masih tak percaya mendengar semua gombalan pemuda itu. Bagaimana mungkin dengan mudahnya seorang pemuda tampan sepertinya dapat menerima kondisinya yang tidak normal.
Edy melihat raut keraguan dibola mata indah itu.
"Percaya padaku, Aku mencintaimu. Andai Aku bertemu kedua orang tuamu, Aku siap melamar dan menikahimu" ucap Edy bersungguh.
"Menikah.. Seketika Asih teringat akan pemuda bernama Lee. Ia juga pernah mengatakan itu padanya, dan mereka sudah lama bertemu.
Asih mencoba mendorong tubuh pemuda itu agar menyingkir dari tubuhnya. Namun Edy semakin menekan tubuh sang gadis.
"Katakan sejujurnya padaku, Apakah Kau mencintaiku? Merasakan perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan..?" tanya Edy dengan memaksa.
"Aku tidak tahu" jawab Asih dengan cepat. Mencoba menyingkirkan sang pemuda dari atas tubuhnya.
Edy terlihat kalap, Ia tidak tahu dengan perasaannya.
"Jangan pernah meninggalkanku. Aku mencintaimu. Bawa Aku pergi bersamamu." ucap Edy mencoba meyakinkan gadis itu sekali lagi.
Namun Asih masih bingung dan mencoba mencari jawaban apa yang tepat untuk pemuda itu.
Namun Edy merasa tak sabar, Ia menyerang bibir sang gadis. Lalu menyesapnya dengan rakus, membuat gadis itu kebingungan.
Edy berpindah menuruni leher jenjang sang gadis sehingga membuat tubuh Asih menggelinjang menahan gelenyar aneh yang mengalir dari tubuhnya.
Bahkan tangan Edy sudah liar mencari dua buah bukit kenyal disana.
Saat bersamaan, Asih yang hampir terlena dan terbuai, tiba-tiba melihat seekor kepala buaya putih dengan sorot mata tajam menyembul diatas rakit.
Lalu dengan cepat Ia medorong tubuh Edy menjauh dari atas tubuhnya, lalu berguling dan mencoba untuk bangkit.
Ia membenahi pakainnya yang acak-acakan. Kini tubuhnya sudah berwujud kembali normal.
Lalu Ia memungut batang bambu sebagai pendayung rakit, dan memulai perjalanan mereka.
Edy yang terjerembab diatas lantai rakit. Memandang langit biru. Ia merasa dirinya sudah gila. Bagaimana mungkin Ia bisa mencintai gadis setengah wujud siluman tersebut.
Ia melihat Asih masih terus mengayuh rakit yang mereka tumpangi.
Gadis itu benar-benar memiliki tenaga tangguh dan juga kecantikan yang luar biasa.
Ia tau, jika mungkin Asih sedang marah kepadanya, saat Ia merasa kalap sesaat.
Ia memejamkan matanya, mencoba tidak ingin menganggangu gadis itu lagi. Ia mengantuk dan mencoba untuk memejamkan matanya.
Ia berharap, jika suatu saat nanti Asih mengerti dan memahaminya, jika cintanya begitu tulus untuk gadis itu.
Akhirnya Edy tertidur, merajut mimpi yang bersama gadis yang dicintainya.