
Disarankan untuk membaca ulang bab sebelumnya ya. Karena ada revisi dan penambahan jumlah kata, agar ceritanya tersambung..🙏🙏
--------❤❤❤❤--------
"siapa yang menyajikan pisang bakar ini untukku..?" Chakra celingukan mencari orang yang sudah menyediakannya makanan sebagai pengganjal perutnya, namun tak sesiapun yang ditemuinya.
antara mengantuk dan lapar yang menjadi satu, membuatnya mengambil pisang tersebut, mengupas kulitnya dan mengunyahnya sembari memejamkan matanya. Baru beberpa kunyahan Ia tertidur kembali.
Dipertengahan malam, Chakra mulai meringkuk kaedinginan. Arini memberikan sihir berwarna ungu, untuk melindunginya dari rasa dingin dan serangan musuh tak terlihat.
Arini mendekati kuda milik Chakra. Lalu mengobati lukanya. "kembalilah ke goa, katakan pada Prabu Sadewo aku akan menjaga Ia dalam perjalanannya menemukan Asih." bisik Arini kepada Kuda itu.
Lukanya sudah sembuh, lalu Ia mematuhi Arini dan beranjak pergi.
Suara derap langkah kaki kuda memecah keheningan malam. Chakra yang tertidur pulas tidak menyadari jika Kudanya telah pergi.
------♡♡♡♡♡------
Chakra menggeliatkan tubuhnya. Ia menguap menahan sisa kantuk yang menderanya.
Sesaat Ia tercengang , Ia tidak melihat kudanya berada ditempat.
"kemana Morgan..? Mengapa Ia tidak terlihat? Apakah ada orang yang mengambilnya..? Chakra beranjak dari tidurnya. Lalu mengedarkan matanya keseluruh penjuru hutan.
Sesaat matanya melihat jalanan setapak menuju kearah puncak bukit, yaitu ke goa.
Chakra memperhatikan bekas tapak kuda yang menungarak ke puncak bukit. "oh.. Syukurlah, dia memilih pulang ke goa.. Tetapi mengapa Ia tak berpamitan kepadaku.? Aku akan merindukan morgan.." ucapnya lirih..
Arini yang masih meringkuk didalam tas sandang milik Chakra, terlihat sangat menggemaskan. "heii.. Teman kecilku.. Kita akan melanjutkan perjalanan pagi ini. kau akan menjadi temanku didalam perjalanan ini." ucap Chakra.
Ia melihat sisa pisang bakar yang beralaskan daun jati masih banyak tersisa. "mungkin aku akan membawanya untuk pengganjal perut selama diperjalanan." Ucap Chakra. Ia memunguti sisa pisang bakar tersebut, dan membungkusnya dengan daun jati, lalu memasukkan kedalam tas selempangnya yang kini sarat muatan.
---------♡♡♡♡-------
Morgan berlari dengan kencang.. Meski berat berpisah dengan Chakra, namun Ia juga ingin memberi kabar kepada Dina, jika Chakra pergi mencari dirinya dan Asih.
Kiiiiik... kiiiiikkk
Suara derap langkah kaki morgan dan ringikannya membuyarkarkan lamunan Dina.
Ia bergegas menuju pintu goa. "Morgan." ucap Dina kepada kuda jantan itu.
Dina menghampirinya, lalu mendekatkan wajahnya kepada kuda itu. Dina memegang hidung kuda tersebut, lalu memejamkan matanya. Tampak siluet wajah Chakra yang sedang berjalan menyusuri jalanan setapak menuju kaki bukit.
"Chakara.. Kembalilah.. Ibu sudah dipuncak bukit, kamu tidak perlu melanjutkan perjalananmu.." suara bisikan bathin Dina, mencoba menyentuh hati Chakra.
"Dinda.." sapa Bromo lembut sembari memegang pundak Dina.
"kanda.. Chakra tetap melangkah pergi, Ia tidak mengindahkan panggilan bathinku.." ucap Dina cemas.
"biarkanlah dia pergi Dinda, sudah waktunya Ia melangkah, ada sesuatu yang harus diselesaikannya. " ucap Bromo kepada Dina dengan lembut.
Dina mengernyitkan keningnya. "maksud Kanda apa.?" ucap Dina dengan persaan penuh penasaran.
"apalagi itu Kanda..?" tanya Dina dengan perasan tak sabar.
Akan ada tamu yang meminta pertolonganmu. Bersiaplah untuk menyambut mereka." ucap Bromo menegaskan.
-------♡♡♡♡♡------
Chakra berjalan menyusuri jalanan setapak, rasa haus dan lapar mulai mendera. " heiii teman kecil.. Apakah kau tidak merasa lapar.?" tanya Chakra kepada Arini yang masih bersembunyi didalam tas kulit sandang milik Chakra.
Chakra melihat sebuah anak sungai yang berair jernih. Ia merasa ingin mandi agar tubuhnya merasa gerah, serta ingin mengambil air untuk persediaan air minumnya dalam perjalanannya nanti.
Chakra membuka pakaiannya, Ia masuk kedalam sungai tersebut. Ia membenamkan tubuhnya kedalam sungai itu. Ia merasakan tubuhnya kembali segar dan bugar. Arini yang sedari tadi memperhatikan Chakra, meraaakan perasaan yang tak biasa. Sepertinya Ia mulai menyukai pemuda itu. Kebersamaan yang mereka lalui membuat benih cinta di hatinya mulai tumbuh.
Arini melihat air disungai sebelah seberang tampak beriak dan bergerak menuju kearah Chakra yang sedang Asyik berendam. Dengan cepat Arini keluar dari tas selempang. lalu dengan menggunakan jemarinya, Arini menjentikkan dengan jemarimya.
Seketika seekor buaya raksasa terkejut dengan jatuhnya kayu itu.. Buaya Itu menangkap kayu tersebut dan memberikan gerakan serta menimbulkan gelombang air dan membawanya ke tempat lain.
Chakra tersentak dari mandinya, Ia menoleh kearah yang terdengar berisik. Tampak olehnya seekor buaya raksasa sedang berenang dibawah permukaan air.
Chakra menyudahi mandinya dan buru-buru naik keatas. Ia tidak ingin menjadi santapan para buaya. Chakra menyakin pakaiannya. Namun Ia merasakan ada sesuatu yang kurang.
Chakra tidak melihat keberadaan Arini. "kemana dia..? Mengapa dia menghilang? Apakah sudah diterkam buaya tadi.?" Chakra mulai merasa was.. was.
"teman kecil, dimana kamu..?" Chakra mencari keberadaan kelinci itu.
Ia tidak mungkin meninggalkan kelinci itu. Chakra mencoba mencarinya disekitar aliran sungai. seketika binatang menggemaskan itu sudah berada dikaki kanan Chakra.
Chakra terlonjak karena merasa kaget sesuatu menyentuh kakinya. " hei teman kecil, kamu sudah membuatku kaget. Kita makan dulu ya? buat tambah tenaga, agar kuat berjalan." celoteh chakra.
Arini hanya menatap Chakra penuh makna. Chakra mengisi seruas batang bambu untuk tempat air minumnya. Lalu ia mengambil 3 buah pisang bakar tadi malam. Ia memberikannya satu kepada Arini. Kelinci itu meraihnya, lalu memakannya.
Setelah merasa cukup untuk mengganjal perutnya, Chakra melanjutkan perjalanannya. Ia memasukkan Arini kedalam tas selempangnya.
--------♡♡♡♡♡--------
Seekor kupu-kupu masuk kedalam rumah abah Kasim. "sepertinya akan ada tamu yang berkunjung kerumah kita bu.." ucap abah Kasim kepada Lastri istrinya.
" mengapa bapak katakan itu..?" tanya Lastri penasaran.
"lihatlah kupu-kupu berwarna coklat itu, Ia masuk dan menempel didinding rumah kita, dan burung perendjak sudah seminggu ini bernyanyi disamping rumah kita . " ucap Abah Kasim, sembari matanya melirik ke arah kupu-kupu tersebut.
"kira-kira siapa ya pak.?" tanya Lastri. Sembari tangannya tak berhenti menganyam keranjang bambu.
"entahlah bu.. Sepertinya tamu dari jauh. Cobalah untuk memasak nasi dan lauk, sepertinya tamu itu akan menginap dirumah ini." titah Abah Kasim kepada Istrinya.
Lastri menghentikan anyaman bambunya. Lalu pergi kedapur, memasang perapian dengan menggunakan kayu bakar. Ia mulai menanak nasi dan memasak lauk sayur gulai lemak rebung bambu yang dibawa abah Kasim saat mencari bambu dihutan tadi.
"pak, ambilkan 5 butir telur ayam dari kandang, biar ibu buat telur dadar." pinta Lastri dengan lembut.
"baik bu, bapak turun sebentar. " jawab abah Kasim dengan semangat. Ia menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati, menuju tempat ayam- ayam peliharaannya.