Buhul ghaib

Buhul ghaib
Mencari



Asih memacu kudanya dengan sangat kencang. Sebentar lagi mereka akan sampai di puncak bukit, di goa tempat Ia dulu bersama keluarganya. Dimana tempat penuh dengan ketenangan.


Safak dilangit menggantung dengan indahnya. Keremangan mulai tampak mengahalngi pandangan mata. Asih semakin terus memacu Bara agar terus berlari kencang untuk sampai segera di puncak bukit.


Edy mengeratkan pegangannya dipinggang ramping sang gadis, Ia tak ingin terjatuh karena Asih tampak menggila dalam memacu Bara.


Setelah hampir gelap, akhirnya mereka sampai dipuncak bukit, Asih memperlambat laju lari Bara, dan kini berjalan dengan sedikit santai.


Mereka sudah berada didepan pintu goa. Asih meminta Edy agar turun dari punggung Bara. Lalu Edy melompat turun, dan diikuti oleh Asih.


Goa tampak sepi. Tak ada tanda-tanda orang didalamnya. Bahkan Ia tidak melihat kuda milik kakaknya Chakra terparkir didepan goa.


"Kemana Kak Chakra dan Ibu? Mengapa terlihat sangat sepi?" Asih berguman lirih.


Asih berjalan sembari mengedarkan pandangannya kesekeliling, benar-benar tidak ada tanda-tanda orang berada didalamnya.


Asih masuk kedalam goa, lalu Edy mencoba mengekorinya dari arah belakang. Tampak sangat gelap didalam goa.


Asih mendekati suluh bambu yang biasa dijadikan penerang. Lalu Ia menghidupkan suluh tersebut, maka tampak teranglah goa itu.


"Kemana mereka semua? Mengapa tidak ada satupun yang tampak" Asih semakin gelisah mencari keberadaan keluarganya. Kepulangannya dikira akan disambut dengan suka cita, namun Ia merasa kecewa karena tak menemukan siapapun.


"Apakah Kamu sudah lama tinggal digoa ini? Mengapa harus hidup mengasingkan diri dari penduduk?" tanya Edy dengan penasaran.


Namun Asih tak menggubris pertanyaan Edy, Ia masih fokus mencari Kakak, dan Ibunya. Jika Romonya Ia selalu tau jika sedari dulu jarang berada di goa.


Asih mengambil suluh bambu yang lain, lalu menyulutkannya dengan menggunakan suluh bambu yang berpijar.


Asih menyusuri lorong goa, melihat ruangan tempat tidurnya, tampak seperti biasa, dan terlihat terawat.


Kemudian Ia menyusuri ruangan tidur kakaknya Chakra, tampak kosong, Ia terlihat bingung.


Lalu Ia kembali ke ruangan utama, melihat ruangan Ibunya, juga tampak kosong.


Asih sangat sedih, kerinduannya yang selama ini Ia simpan dan ingin diluahkan, harus menelan kekecewaan karena tak menemukan siapapun.


Edy yang mengikuti Asih sedari tadi tampak sangat penasaran dengan kehidupan Asih dan keluarganya. Jika dilihat dari perabotannya, semuanya terlihat sangat mahal.


Tempat minim perunggu, ornamen di goa yang terbuat dari emas murni dan terbilang sangat tua dan langka, menandakan jika mereka seorang milyader.


Bahkan yang lebih mengagumkan, tampak batu-batu permata yang bernilai milyaran rupiah terpampang didinding goa yang menampilkan kilauannya saat tertepa cahaya suluh bambu.


Edy menggelengkan kepalanya melihat semua yang ada didalam goa tersebut.


Bahkan matanya terbeliak saat melihat ranjang tidur kedua orangtua Asih yang bertahta berlian disetiap sisisnya.


Lalu dikepala ranjang itu, banyak terdapat batu permata sebagai hiasannya.


Edy sangat bingung dengan kehidupan keluarga Asih, yang meremehkan batu-batu permata tersebut.


Namun yang menarik perhatian Edy adalah,sebuah batu permata yang terdapat dilangit-langit goa yang berada diruangan utama, sebuah batu permata yang hampir sama dengan apa yang dikenakan oleh Asih, hanya saja batu permata dilangit-langit goa itu tampak lebih besar sepuluh kali lipat. Edy memperkirakan sekitar sebesar tempayan.


Edy masih terperangah memandangi seluruh oranmen yang ada disetiap ruangan goa. Sementara itu, Asih duduk ditepian ranjang milik kedua orangtuanya dengan perasaan yang galau.


Sesaat Ia beranjak dari tempatnya. Menuju dapur, untuk melihat apakah ada bahan yang masih bisa dimasaknya untuk makan malam ini.


Ia mulai merebus bahan makanan tersebut. 3 buah tungkul jangung dan satu sisir pisang yang sudah mengkal.


Setelah semuanya matang, Asih menghidangkan kepada tamunya itu "Makanlah, Aku ingin mandi" ucap Asih datar.


Edy meraih nampan yang terbuat dari batu giok itu.


Edy melongo, bagaimana mungkin batu semahal itu dijadikan pinggan untuk sebuah hidangan, bahkan hanya pisang dan jagung rebus.


Saat Asih sudah menghilang dibalik didinding goa, Edy mengangkat pinggan yang terbuat dari batu giok tersebut "Apakah mereka tidak mengetahui barapa harga dari batu permata ini?" Edy berguman lirih, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Edy memperkirakan jika batu giok itu asli berasal dari negaranya ditiongkok sana. Namun bagaimana keluarga Asih dapat memilikinya merupakan pertanyaan yang sangat sulit.


Setelah menghabiskan satu tungkul jagung, Edy merasa bosan, karena Asih tak juga kunjung muncul dari balik dinding goa.


"Kemana gadis itu? Mengapa Ia sangat lama sekali mandi? Apakah Ia sudah menjadi putri duyung yang terus hidup diair" Edy berguman sendiri.


Ia beranjak bangkit dari duduknya. karena Ia juga merasa penasaran dimana gadis itu mandi, karena Ia belum melihat sumber air sedari tadi.


Edy mencoba menyusuri lorong goa, mencari keberadaan dimana sang gadis berada.


Seketika Ia mendengar suara gemericik air. Pemuda itu berhenti sejenak, lalu melongok kearah sebuah pintu yang menghadirkan suara gemericik air tersebut.


Sesaat Ia melihat sebuah rembesan air yang jatuh dari langit-langit goa dan juga menetes kedalam ceruk.


Edy merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Namun Ia tidak melihat siapapun disana.


Rasa gatal ditubuhnya karena beberapa hari tak menyentuh air.


Tanpa melihat situasi, Ia melucuti pakaiannya dan menceburka diri dengan cara melompat.


Namun Ia terpekik, karena ternyata Ia menyentuh seseorang yang tak lain adalah Asih yang sedang membenamkan dirinya.


Seketika kedua terpekik bersamaan. "Apa yang Kau lakukan? Pergi naik..!!" teriak Asih yang mencoba membelakangi pemuda itu.


Edy terpaksa menydahi mandinya, lalu naik kepermukaan dan memunguti pakaiannya.


Lalu Ia mengenakannya kembali dan keluar dari ruangan tersebut.


Asih mendengus kesal dengan kecerobohan pemuda itu, Ia segera menyudahi ritual mandinya.


Setelah selesai menyalin pakaiannya, Ia merias dirinya seadanya, lalu Ia menuju tempat Edy menyantap hidangan makan malamnya.


Saat Ia berada disana, Asih mendapati Edy sudah tertidur pulas, Ia bernafas lega, setidaknya pemuda itu tidak merepotkannya.


Asih kembali kekamarnya, melakukan sebuah ritual untuk memanggil Romonya. Setelah melakukan ritual yang sempurnah, namun Ia tak juga dapat menghubungi Romonya.


Asih memperkirakan jika Romonya sedang dalam sesuatu yang genting, sehingga tidak dapat menerima panggilan ghaibnya.


Sementara itu, Ia tampak sangat gelisah. Ia memikirkan kakak lelakinya yang juga belum kembali.


"Apakah Kak Chakra juga ikut ke kaki bukit. Mungkin mereka menjenguk kakek dan nenek. Sebaiknya aku beristirahat saja sejenak untuk memulihkan tenagaku." gumannya dalam hati, lalu mencoba memejamkan matanya, dan menjemput mimpinya.


Saat itu,