
"Kanda, sudah terlalu lama Dinda tinggal disini, kasihan Abah dan umi pasti mencari keberadaan Dinda" Dina mencoba mengungkapkan perasaannya kepada Bromo.
Pria tampan itu hanya menatap dengan penuh seksama "Tenanglah, Sayang. Keberadaanmu di sana tidak terlalu aman, lebih baik Kamu tetap disini" jawab Bromo dengan tenang.
Namun Dina merasa tidak nyaman jika jika membuat kedua hati orangtuanya gelisah memikirkan keberadaannya.
Ia harus memberitahu keduanya.
"Ijinkan Dinda untuk memberitahu Umi dan Abah jika Dinda sudah kembali ke goa lagi" rayu Dina kepada suaminya agar dapat memberinya ijin untuk kembali ke desa.
Bromo menghela nafasnya dengan berat "Baiklah, namun jangan berlama-lama, karena Kita akan kedatangan tamu yang sangat ramai" ucap Bromo menjelaskan.
Seketika Dina mengernyitkan keningnya, merasa penasaran dengan ucapan Suaminya "Tamu? Tamu apa Kanda?" Dina semakin penasaran dengan ucapan Bromo.
"Tamu kejutan buat Kamu sayang" ucap Bromo sembari mengecup lembut kening istrinya "Bergeraklah sekarang, dan berhatil-hatilah dijalan" ucap Bromo kepada sang istri.
Dina merasa senang mendapat ijin dari sang suami. Ia kemudian berpamitan untuk pulang kekaki gunung menemui Abah dan Umi karena sudah terlalu lama meninggalkan desa dan tak memberi kabar.
Dina menaiki punggung Kuda, lalu Bromo membawakan sekarung buah tangan untuk diberikan kepada mertuanya "Titip salam kepada Abah dan Umi, sampaikan maaf Kanda karena menculikmu tanpa memberitahu mereka" ucap Bromo dengan senyum termanisnya.
Dina menganggukkan keplanya "Terimakasih, Kanda. Hari sudah beranjak siang, Dinda berangkat sekarang" ucapnya sembari menarik tali kekang Kudanya.
Bromo menganggukkan kepalanya, lalu memandangi kepergian sang istri. Sebelum memasuki goa, Ia memandang arah yang berlawanan dari kepergian sang istri, jauh menerawang ke ujung jalanan "Akan ada tamu manusia-manusia serakah" ucap Bromo dengan senyum misteriusnya, Lalu Ia menghilang dalam sekejap mata.
Sementara itu, Dina memacu kudanya melewati jalanan semak belukar dan penuh dengan kecepatan tinggi kudanya berlari mengikuti gerakan dan perintah Tuannya.
Setelah perperangannya melawan Ristih, Ia terluka parah dan Bromo membawanya kembali ke goa untuk menjalani perobatan. Namun Ia tak juga kembali ke desa, yang membuat kedua orangtuanya sangat kebingungan dengan hilangnya Dina.
Hari sudah semakin siang dan hampir mendekati tengah hari. Dina menghentikan perjalanannya, untuk beristirahat sejenak melepas lelah dan memberi minum pada kudanya.
Dina membuka karung berisi sayur mayur dan buah-buahan serta bahan pokok lainnya. Ia mencomot beberapa buah pisang dan memakannya, untuk menunda rasa laparnya, dan membiarkan Kuda milik Chakra merumput disekitar tempat mereka berteduh.
Setelah merasa cukup memulihkan tenaganya, Dina kembali melanjutkan perjalanannya, Ia memacu kudanya dengan sangat cepat agar segera sampai dikaki bukit sebelum senja.
Saat Kuda itu berlari dengan kencang, tiba-tiba saja Ia mendapat sebuah serangan mendadak yang tidak diduga sama sekali.
Wuuuuuushh…
Sebuah senjata berbentuk tongkat berkepala tengkorak melayang tepat diatas kepalanya. Andai saja Ia tidak cepat merundukkan kepalanya, maka kepalanya dipastikan sudah terluka akibat hantaman tongkat tersebut.
Sesaat Dina menghentikan lari kudanya, dan suara ringkikan dari kuda itu saat berhenti berlari begitu terdengar jelas.
Tepat dihadapannya, berdiri seorang pria yang menatapanya dengan penuh misterius.
Seketika tongkatnya yang tadi terbang melayang menyerang Dina kini sudwh kembali lagi ketangannya.
Seorang pemuda berdiri dengan tatapan ****** dan juga kebencian.
"Kau..!! Sungguh tidak tahu malu memakai tubuh seseorang untuk menjadikan tamengmu" ucap Dina mencibir saat mengetahui siapa yang berada dihadapannya.
Pria itu tertawa dengan sangat menjijikkan "Apa kabarmu nona cantik? Aku bersusah payah mencari keberadaanmu, dan akhirnya Kita bertemu juga" ucapnya dengan senyum mesum.
Sorot matanya tak henti-henti memandangi wanita didepannya, Ia masih mengingat jelas bagaimana wanita itu memberikan tendangan bebas di buah jeruknya hingga membengkak.
Dina masih tetap berada diatas punggung Kudanya, Ia terus waspada terhadap pria dihadapannya.
"Apakah kematianmu saat itu tak memberi efek jera untukmu?" Tanya Dina dengan nada sinis.
Tanpa menunggu lama, Ia melemparkan tongkatnya kepada wanita itu, dan dengan cepat Dina menghindarinya dengan kembali merundukkan kepalanya dan segera melompat turun dari punggung kudanya lalu mencabut busur panahnya sebagai alat untuk menangkis serangan lawan.
Tongkat itu kembali lagi ketangan pemiliknya.
"Wooow..kemampuanmu semakin meningkat cantik, Aku menyukai kelincahanmu" ucap Pria itu yang tak lain adalah Jahadi yang kini merasuki tubuh Jhony sebagai tamengnya.
Dina menyimpan kembali busur panahnya di pundaknya yang melingkar melalui dadanya. Lalu Ia mencabut pedangnya. Ia bersiap untuk menghadapi lawannya.
Jahadi tersenyum dengan meremehkan "Mari Kita bersenang-senang sayang" ucapnya dengan nada mengejek, lalu menjulurkan tongkatnya tepat kehadapan Dina dengan sangat cepat.
Dina menahan serangan itu menggunakan ujung pedangnya, lalu terdengar suara dentingan saat kedua senjata itu beradu.
Pertempuran terus terjadi, pria itu tanpa ampun memberikan serangan kepada Dina secara bertubi-tubi.
Hingga saatnya Dina berhasil menggores bahu kiri lawannya.
Kreeees…
Suara sabetan dari pedang Dina dan melukai lawannya. Darah mengucur dari luka bekas sabetan wanita itu. Dina tersenyum sinis.
Sedangkan lawannya hanya tersenyum mengejek, Ia menyapu darah yang keluar dari lukanya menggunakan jemarinya dan menyesap darahnya tanpa jijik.
Dina semakin eneg melihat kelakuan lawannya "Enyahlah Kau..!" Teriak Dina sembari memberikan serangan mendadak dan sebuah tendangan telak diperut lawan.
Aaaaaaghhh...
Suara erangan kesakitan dari mulut Jahadi yang tampak kesakitan, Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Jahadi tersungkur dan terjerambab ditanah berlumpur yang terkena hujan.
Pria itu berusaha bangkit dengan menggunakan bantuan tongkatnya. Seketika Ia merafalkan mantra dengan lirih, lalu dari kedua bola mata tengkorak yang ada ditongkatnya mengeluarkan cahaya berwana ungu, dan Dina mengeluarkan ajian Bayu bajrahnya, terbang melayang diudara, dan...
Setelah berhasil menghindari lalu Ia menyerang balik dengan ajian tapak geninya dan mengahantamkan kepada lawannya hingga terkapar tak berdaya.
Tampak keluar asap dari dada sebelah kirinya dan pakainnya tampak hangus, dimana Dina meyakini jika dada lawannya meninggal bekas hitam atau hangus karena terkena ajian tapak geninya.
Melihat lawannya sudah terkapar, Ia segera menaiki punggung kudanya, lalu meninggalkan lawannya yang dalam pesakitan, Ia harus sampai dikaki bukit sebelum senja. Pertempurannya dengan Jahadi membuatnya terhalang untuk segera sampai di desa.
Dengan cepat Ia memacu kudanya hingga kecepatan tinggi agar segera sampai didesa.
Saat senja tiba, Dina sudah sampai di tepi desa, Ia menghentikan laju kudanya, lalu melompat dari punggung kudanya.
"Kamu tinggallah disini sejenak, esok Aku akan menemui lagi dan kita kembali ke goa. Aku hanya sebentar saja, memberi kabar pada Abah dan Umi jika Aku kembali ke goa" titah Dina kepada kuda tersebut.
Seperti mengetahui ucapan Dina, Kuda itu menganggukkan kepalanya.
Lalu Dina berjalan menuju desa sembari memanggul karung berisi buah tangan yang akan diberikan kepada kedua orang tuanya.
Tampak orang-orang desa yang masih berkeliaran diluar saat senja itu berkasak kusuk mengghibahkan dirinya yang tiba-tiba menghilang. Namun mereka tak berani untuk menegurnya, karena pernah menyaksikannya bertarung melawan orang asing saat kejadian tempo hari.
Sesampainya dirumah Abah, Dina mengetuk pintu dengan lembut, dan mengucapkan salam.
"Assalammualikum..." ucap Dina dengan lembut, lalu terdengar jawaban lembut dan suara paraundari dalam rumah.
Seketika pintu dibuka, Seorang pria berusia senja tampak berdiri diambang pintu dengan tatatpan terkejut "Dina" ucapnya lirih, dan tak mampu menahan jatuh air matanya, lalu Ia merentangkan tangannya untuk meraih tubuh puteri yang dirindukannya.