
Jahadi berjalan dengan tertatih menyusuri jalanan sepi ditepi hutan.
Ia memegangi kepala dan juga dadanya yang terasa sakit.
Daerah sensitifnya yang membesar juga membuat Ia sedikit kesulitan berjalan.
"brengsek kau..!!" maki Jahadi dengan geram, kepada seseorang yang kini sedang berada diingatannya.
Ia memegang Daerah sensitifnya yang terasa ngilu dan berdenyut, semua itu karena kutukan dari seorang wanita yang ingin Ia gagahi.
Jahadi berjalan sembari memaki dalam hatinya, Ia tidak dapat menerima kondisinya yang sangat memprihatikan seperti saat ini.
Sebagai orang sudah memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi, Ia merasa terhina karena dapat dikalahkan oleh seorang wanita saja.
Apalagi wanita itu masih tergolong sangat muda.
Jahadi akhirnya mencapai pintu rumah yang sudah tua.
Rumah gubuk reot itu menjadi tempat Ia untuk beristirahat. Meskipun jkka hujan tiba, Ia harus kedinginan, karena hujan menembusnya.
Kreeeeeek...
Suara derit pintu dibuka, terdengar seperti sangat menyeramkan. suaranya laksana alunan musik yang sedang menyenandungkan mantra pemujaan kepada para jiwa-jiwa yang tersesat.
Jahadi masuk kedalam gubuk tersebut. Ia menutup pintu itu kembali dengan menimbulkan suara deritan yang sama seperti semula.
Jahadi tertatih menuju lantai tanah yang lembab. Lantai itu beralaskan tumpukan jerami kering.
Jahadi menggunakan tongkatnya sebagai alat yang membantu untuk menopang tubuhnya.
Setelah mencapai tumpukan jerami tersebut, Ia mencoba untuk duduk meski terasa sangat sakit disekujur tubuhnya.
"aaaargh.."
Saat Ia meletakkan bokongnya diatas jerami itu, rasa sakit begitu menderanya. buah jeruk yang bergantung itu terasa semakin berdenyut.
Wajah Jahadi terlihat sangat begitu menyakitkan. Ia menggeretakan rahang giginya, untuk membantu meredakan rasa yang begitu amat menyiksanya.
Keringat keluar mengucur dari seluruh tubuhnya.
Jahadi membuka pakakannya, tampak otot-otot kekar ditubuhnya yang sangat menonjol.
Jahadi menyusuri dadanya yang terasa sangat berdenyut. Ia mencoba melihatnya, menekan sedikit luka tersebut. Tampak membiru, legam dan lebam.
Pukulan ajian waringin sungsang yang diberikan oleh Dina sebagai hadiah perlawanannya, membuat Jahadi semakin geram dan dendam.
Jahadi duduk bersila, lalu membuat gerakan seperti orang sedang bertapa.
Baru beberapa saat Ia mencoba berkonsentrasi, Ia kembali membuka matanya.
"aaaaarrrrggghhh.."
Jahadi menggeram dan mengacak rambut ikalnya. Fikirannya kacau. tak puas dengan semuanya, Jahadi melemparkan sebongkah batu kecil secara asal, sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.
Ia mencoba untuk berkonsentrasi menyembuhkan luka dalamnya. Namun wajah Ayu Dina mengusiknya. Membuyarkan semua konsentrasinya.
"Sialan kau..!! Mengapa kau begitu sangat cantik dan mempesonaku..?!!". Teriak Jahadi dengan geram.
Ia mengepalkan tinjunya, lalu meninju lantai tanah beberapa kali untuk melepasakan semua kegundahannya.
Wajah cantik itu begitu sangat menganggunya. Ia tidak dapat memungkiri perasaannya.
Namun, Dina bukanlah wanita yang dapat begitu mudah Ia taklukkan. Rasa penasaran dihatinya semakin kuat. Ia ingin memiliki wanita itu.
Jahadi kembali memejamkan matanya, mencoba berkonsentrasi, menemukan kembali tenaga dalam murninya.
Namun Ia tak juga mampu mencapainya. Bayangan wajah Dina terlalu mengusiknya. Jahadi menghela nafas beratnya. Ia menatap kejam dengan fikiran melayang sembari menekan lembut luka lebam itu.
Jahadi meringis menahan sakitnya. Ia kembali mencoba berkonsentrasi untuk kembali memulihkan tenaga dalam murninya. Namun semuanya gagal dan gagal lagi.
Jahadi memilih untuk membaringkan tubuhnya diatas tumpukan jerami.
Ia memejamkan matanya, lalu mencoba untuk tertidur.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊
Suara kokok ayam membangunkan seorang pria yang sedang tertidur pulas.
Ia memaksa dirinya untuk bangkit, namun saat Ia berhasil untuk duduk, tiba-tiba saja...
Huuuuueegh...
Ia memuntahkan darah kental dari mulutnya.
Huuuueegh...
Kali ini darah itu berbentuk gumpalan-gumpalan. Pria itu membulatkan matanya, menatap nanar pada darah yang mengental dan berbentuk gumpalan diatas telapak tangannya.
Nafasnya tersengal, terasa sesak dijalan pernafasannya, sesuatu telah menyumbat jalan darahnya.
Ia mencoba melihat luka didadanya yang terkena hantaman ajian waringin sungsang oleh wanita cantik yang dilancarkan tepat mengenai didadanya.
Wajahnya semakin memuacat. Ia berusahan dengan bersusah payah, meraih tongkatnya, lalu lalu memaksa bangkit dan keluar dari rumah.
Suasana alam masih dengan kegelapan. Kabut Embun yang bertebaran, menambah dinginnya pagi ini.
Jahadi tak ingin menembus kabut embun, karena ini akan sangat berbahaya bagi paru-parunya dan menambah darah beku didalam tubuhnya.
Nafas Jahadi mulai tersengal..
ngik...ngik...ngik...
Suara nafasnya yang terasa tampak berat keluar dari mulutnya.
Jahadi semakin kesulitan bernafas. Pandangannya kian berkunang, terasa berat, mendadak semua gelap, dan..
Buuuuugh...
Ia tersungkur ditanah. Lalu roboh.
Bersamaan dengan robohnya tubuh Jahadi, darah mengalir dari mulutnya. lantai tanah lembab itu kini digenangi darah yang terus meluncur keluar dengan deras
Kini rambut dan wajah Jahadi telah berlumuran darah. Darah pekat yang keluar karena pecahnya pembuluh darah.
Sesaat Jiwa Rahadi keluar dari jasadnya. jiwa melihat tubuhnya tersungkur tak berdaya. Ia merutuki hal itu. Ia belum ingin mati sebelum Ia dapat membalaskan rasa sakit hati dan dendamnya kepada Dina.
Jiwanya meronta memjnta penagguhan agar kembali ke jasadny. namun seprtinya tidak dapat diubah apa yang sudah menjadi keputusan Alam.
Jahadi sangat marah.. Ia belum ingin kembali ke alam keabadian. Ia masih ingin hidup lagi.
Jiwanya yang marah, lalu mencoba menghempas apa saja yang ada dihadapanya, namun tak mampu Ia sentuh.
Jaahadi merasa Frustasi. Ia mencari cara aga menemukan jasad baru sebagai persinggahan jiwanya.
Jahadi memandang tongkat, Ia menuju tongkat teesebut. Lalu Ia mencoba menyatu dengan tongkat tersebut. Berharap jika kelak akan ada orang yag mengambil tongkat berkepala manusia itu untuk bersemayam sementara waktu, sembari menunggu seseorang datang dan menjadi tempat bersemayamnya.
Tongkat itu tiba-tiba mengeluarkan asap hitam, lalu bergerak berdiri, dan didalam rongga matanya yang berlubang tampak keluar cahaya berwarna ungu.
Seketika ruangan gubuk itu berubah menjadi terang berwarna ungu.
Lalu tongkat itu kembali tergelatak diatas tanah.
Sementara itu, jasad Jahadi yang telah ditinggal oleh jasadnya, kian bermandikan darah.
Aroma amis yang sangat menyengat begitu sangat kentara.
Beberapa hewan karnivora menajamkan indra penciumannya. Seekor harimau lapar yang sudah beberapa hari tidak mendapatkan asupan makanan berjalan mondar-mandir mengelilingi gubuk reot tersebut.
Aroma anyir darah yang menggenangi dapur itu menarik perhatiannya.
Ia mencoba mencari celah agar dapat menerobos masuk kedalam gubuk itu.
Ia menemukan sebuah celah didinding bagian dapur yang tampak berlubang.
Dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan sudah melapuk itu, dengan mudah diterobos begitu saja oleh sang harimau lapar.
Aroma darah segar itu membuatnya sangat bersemangat, dengan langkah cepat Ia mendekati jasad Jahadi yang sudah tampak dingin.
Ia memulai mencabik-cabik daging itu dengan sangat rakus dan dahaga lapar yang menderanya.
Bersambung..