
Asih beranjak dari tempatnya berdiri, Ia tersenyum-senyum sendiri, sepertinya hatinya sedang berbunga.
Saat Ia memasuki rumahnya, Lee menarik tangannya, lalu menekan tubuh gadis itu hingga merapat ke dinding.
"Mengapa Kau begitu pandai membuatku cemburu? Apakah Kau sengaja melakukannya?" tanya Lee yang dengan perasaan yang terbakar api cemburu.
Asih menatap pemuda itu, lalu mendorong pemuda itu agar menjauh darinya.
Namun Lee tak mau kalah, Ia kembali menekan tubuh gadis itu "Jawab pertanyaanku.. Apakah sudah hilang rasa cintamu padaku?" tanya Lee dengan penuh rasa penasaran.
"Aku tidak tahu" jawab Asih santai.
"Heei.. Jangan mempermainkanku?" ucap Lee dengan kesal.
"Jangan memaksaku mengatakan itu sekarang" jawab Asih dengan nada yang tenang.
Lee meninjukan tangannya kedinding. Ia inginkan jawaban itu, namun Asih selalu mengelak.
"Aku ini lelaki, jangan mempermainkan perasaanku" ucap Lee dengan kesal.
Asih hanya diam saja menatap pemuda yang mulai tampak kalut.
"Oke.. Aku akui Aku salah. Saat itu Aku hanya syok dan semuanya begitu sangat mengejutkanku, dan Aku butuh waktu" ucap Lee dengan nada penuh penyesalan.
Asih menatap pemuda itu dengan lekat.. "Edy juga melihatnya waktu itu, bahkan Ia melihatnya tanpa sengaja. Ia juga syok, dan bahkan berlari meninggalkanku, namun hanya beberapa langkah saja, Ia langsung kembali menemuiku"ucap Asih dengan mata berkaca-kaca.
"Bahkan Ia menyembunyikan jika Ia melihatku dalam kondisi seperti itu. Sedangkan Kamu? Kamu berlari terlalu jauh, Aku masih menunggumu beberapa saat, Aku berharap Kamu datang malam itu juga, namun Kamu memilih pergi" Ucap Asih dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Lee terhenyak mendengarnya. "A..apa..? Edy sudah melihatmu dalam wujud seperti itu?" tanya Lee seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh gadis tersebut.
"Ya.. Dia mengetahuinya, dan Ia lebih dulu tahu daripada Kamu" ucap Asih dengan nada menegaskan.
Lee merasa sebegitu penakutkah dirinya dalam menghadapi kenyataan tersebut.
"Tetapi tidakkah Kau dapat memahami keadaanku? Dan berikan Aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" pinta Lee memohon kepada gadis itu.
Asih mendorong keras tubuh Lee, lalu berusaha menghindari Lee dan beranjak pergi. Namun Lee dengan cepat menangkap pergelangan tangan gadis itu.. "Jangan siksa Aku dengan perasaan ini, apakah Kau tak mengetahui jika hatiku begitu hampa saat Kau pergi" ucap Lee memohon.
Asih terdiam dalam hening, tak tahu harus mengatakan apa.
Asih menepiskan cengkraman tangan Lee "Berikan Aku juga waktu, untuk memikirkannya, dab jangan memaksa" jawab Asih dengan lirih.
Lee melepaskan cengkramannya, lalu Asih beranjak pergi menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Lee menatapi kepergian gadis itu yang tak menoleh sedikitpun kepadanya.
Sementara itu, tanpa sengaja Chakra melihat semuanya. Ia merasa bingung dengan apa yang dilihatnya. Mengapa pemuda yang disapa Bos oleh Rere dan juga dirinya itu tampak begitu fustasi menghadapi Asih, Adiknya.
"Apakah Bos Lee sudah mengenal Asih jauh sebelum Aku menemukan Asih? Namun mengapa Ia tak memberitahuku selama pencairanku? Lalu apa hubungan keduanya?" guman Chakra dalam hatinya.
Lee beranjak pergi dari tempatnya, mencari Dina dan berpamitan untuk pergi.
Sementara itu, Dina masih dalam suasana yang sangat kacau, sedangkan Chakra juga masih belum dapat menerima kenyataan yang ada, yang mana adalah anak dari pria penjahat tersebut.
Bahkan Chakra lebih memilih jika Ia adalah anak Bromo daripada anak pria bernama Andre tersebut.
Lee akhirnya pergi tanpa memberitahukan kepada keduanya jika Ia kembali ke markas.
Ia tak menduga jika Asih sedekat itu dengan anak seorang mafia. Bahkan mafia itu adalah pria yang sangat dicari karena tindak kejahatannya.
Hal yang membingungkan lagi jika Andre juga Ayah dari Chakra yang selama ini membantunya menangkap pria tersebut.
Asih masuk kedalam kamarnya, menghempaskan dirinya diatas ranjang yang sangat empuk dan juga nyaman.
Asih menatap nanar pada langit-langit kamarnya yang tampak begitu kelabu.
Ia tidak tahu untuk menentukan hatinya. Namun untuk saat ini Ia lebih cenderung kepada pemuda bernama Edy, meski Ia sendiri tidak dapat melupakan pemuda bernama Lee.
Disatu sisi, Andre dibawa keruang tahanan. Sebelum diperiksa oleh penyidik, Ia ditempatkan diruang terpisah bersama dengan Dori.
Andre masih merasa terkejut dengan pengakuan wanita itu. Ternyata tebakannya selama ini benar adanya, Yaitu Dina adalah wanita yang sama yang pernah dicintainya dan masih melekat hingga kini.
Bahkan pemuda yang hampir beberapa kali ingin dilenyapkannya itu adalah anak pertamanya saat Ia bersama wanita itu.
Bagaimana mungkin Ia tak memiliki perasaan dan getaran kepada anak biologisnya. Andre sungguh merasa sangat merasa jika dirinya begitu sangatlah bodoh.
Bahkan Ia melukai dua orang wanita sekaligus yang telah memberikan masing-masing satu orang putera yang tampan dan juga perkasa.
Andre terpuruk dalam penyesalan, namun apakah Ia akan mendapatkan maaf dari kedua wanita itu? Andre hanya dapat meratapi nasibnya yang malang.
Andre meringkuk dilantai dingin penjara. Ia berharap setidak Edy mengunjunginya dan melihat keadaannya, bagaimanapun juga Edy adalah harapan satu-satunya.
Tak berselang lama, petugas membawakan sebuah kasur tipis yang masih baru dan beberapa makanan. Meskipun petugas tidak memberitahu siapa pengirimnya, namun Ia tahu jika itu adalah Edy.
Andre membentangkan kasur tipis tersebut diatas lantai. Lalu duduk diatasnya.
Bayangan wajah Dina menari dipelupuk matanya.
kisah cinta kasih yang mereka rangkai saat masih berada dikaki bukit dengan cinta yang begitu sangat indah.
Manja manis gadis lugu itu begitu membuatnya terbuai. Namun sesaat Andre terhenyak, saat menyadari Dina yang sekarang.
Bagaimana mungkin Dina dapat berubah menjadi seoarang wanita tangguh yang tak terkalahkan.
Andre masih mengingat saat Dina menghajar para ketiga preman yang menghadangnya saat pulang dari minimarket.
Bahkan saat Andre berusaha untuk menculiknya, sepuluh orang bodyguard dengan mudah begitu saja dilumpuhkan oleh wanita bernama Dina.
Andre bingung mengapa seorang gadis polos dan lugu dapat bertranformasi menjadi setangguh itu.
Bahkan cara Dina memainkan pedang saat ingin menghajarnya dan bahkan menendangnya hingga tersungkur dipojokan.
Andre tidakn pernah menduga jika gadis polos dan lugu yang dulunya pernah Ia tipu, kini justru berubah menjadi wanita tak terkalahkan.
Bahkan Andre yang berniat untuk berlindung dirumah itu justru membawanya masuk kedalam jeruji besi.
"Apakah ini karma dari semua yang pernah ku perbuat?" Andre berguman lirih dalam hatinya.
Andre mendekap kedua lututnya dan meletakkan dagunya diatas kedua lutut itu.
"Siapa suami Dina sekarang? Bahkan kini Ia sudah memiliki seorang puteri dari pernikahan keduanya. Apakah Ia sudah menjanda atau masih bersuami? Jika Ia sudah menjanda, apakah Ia masih menerimaku? Jika Ia bersuami, siapa suaminya?" Andre mulai menerka-nerka.