Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 249



Asih kembali melanjutkan perjalanannya menuju lembah Nirwana dan Arini yang kini menemaninya.


Dalam beberapa waktu lagi, bunga-bunga itu akan mekar dan tepat pada tengah malam tentunya.


Asih harus segera sampai sebelum bunga wijayakusuma itu kembali mengatupkan dirinya.


Asih dan Arini menyusuri hutan larangan untuk sampai mencapai lembah Nirwana. Keduanya melesat dengan cepat mengikuti jalur yang telah diberikan oleh Ibundanya.


Hingga akhirnya mereka sampai ditepi sebuah sungai yang sangat luas dan membentang didepannya.


Asih dan juga Arini harus dapat menyeberangi jembatan gantung yang tampak sangat berbahaya tersebut.


Jembatan itu terbuat dari dua utas tali yang saling berseberangan satu diatas dan satu dibawah.


Maka tali bagian atas untuk berpegangan, dan tali bagian bawah untuk meniti jembatan.


Asih menarik nafasnya, lalu mulai meniti jembatan tersebut, dan dimana didasar sungai ada sosok penjaga yang sedang bertapa dengan sebutan Buto ijo.


Sosok mengerikan yang hampir mirip dengan genderuwo dan hanya bedanya Ia bertubuh besar dengan warna hijau dan kedua mata yang selalu memandang dengan tatapan membeliak.


Asih memulai menapaki jembatan itu dan meniti dengan perlahan, begitu halnya dengan Arini yang juga ikut meniti diseutas tali tersebut.


Saat tiba dipertengahan sungai, tiba-tiba tali itu mulai berayun dengan perlahan karena tiupan angin yang kencang dan semakin lama semakin kencang hingga membuat keduanya harus berpegangan dengan erat dan...


Traaaaak..


Tali itu putus dan membuat keduanya terlempar kedalam sungai dan tenggelam kedasar sungai.


Asih berubah wujud menjadi setengah siluman buaya dan terdampar disebuah kerajaan dasar sungai yang dihuni oleh Buto Ijo.


Saat bersamaan, sosok Buto Ijo itu merasa terganggu dan Asih sudah lancang memasuki wilayahnya.


Sosok itu membuka matanya, lalu dengan cepat melihat siapa yang datang dan menggeram.


Sosok itu membawa sebuah tombak, lalu menyembul kepermukaan air karean tubuhnya yang sangat besar dan juga tinggi.


Sesaat Ia menombakkan tongkatnya kepada Asih yang masih berada didasar sungai, dan dengan cepat Asih menghindar dan membawa Arini serta naik kepermukaan.


Keduanya kini telah berada dipermukaan, dan sosok sang Buto Ijo sudah dengan penuh amarahnya menyerang Asih dengan tombaknya yang tampak dengan kemarahan.


Asih mencoba menahan serangan tersebut dengan pedang ditangannya.


Arini membantu dengan tongkat sihirnya yang membuat pendaran cahaya keperakan dan tampaknya Iblis berjenis Buto Ijo itu tak ingin kalah.


Ia menutarkan tombaknya diatas kepala dan tombak itu mengeluarkan cahaya berwarna hijau dan saling berbenturan dengan cahaya tongkat yang dimiliki oleh Arini, sehingga kedua cahaya yang saling berbentur itu menimbulkan suara ledakan yang sangat dahsyat dan membuat Arini bahkan Buto ijo itu terpental hingga jauh.


Lalu sosok Buto Ijo yang kini berubah menjadi raksasa tersebut berusaha untuk bangkit, sedangkan Arini terbang melayang menyerang kepada sang Buto Ijo, sementara Asih mencoba melibaskan ekornya kepada tubuh sang raksasa.


Lalu bagian ekor dibagian yang bergerigi itu mengenai kaki Buto Ijo dan membuat luka menganga.


Jeeeb..


Ujung pedang Asih mengenai bola mata sang Iblis dan membuat iblis itu mengerang dengan sangat keras.


Aaaarrrrggh..


Suara erangan itu begitu terdengar menggema dan Asih mencoba mencabut pedangnya dan sang Iblis itu memegangi bola matanya yang terkena tusukan ujung pedang Asih dan mengeluarkan cairan berwarna hijau dan mengeluarkan aroma sangat busuk dan membuat air sungai terontaminasi oleh cairan yang sangat bau tersebut.


Asih merubah wunudnya menjadi manusia normal, sedang Arini masih dalam wujud peri dan mengeluarkan sihirnya untuk menetralkan air sungai yang sudah sudah tercemar cairan beraroma busuk tersebut.


Buto Ijo itu mengayunkan tombaknya dan mencoba membinasakan kedua lawannya. Sosok Iblis berwarna hijau itu menyerang dengan membabi buta dan tidak dapat mengontrol dirinya.


Rasa sakit yang diciptakan oleh Asih membuat Ia kehilangan pandangannya sebelah.


Asih tak ingin berlama bermain dengan sang Buto Ijo, Ia melayang dan melintasi tombak yang diayunkan oleh Buto Ijo, lalu naik diatas pundak sang raksasa dan dengan ujung pedangnya, Ia menancapkan ujung pedangnya tepat di bola mata satunya dan hal tersebut membuat Sang Iblis kembali meraung kesakitan.


Arini tak ingin ketinggalan, lalu Ia menggunakan tongkatnya dan memutarkannya lalu menghantam sang Buto Ijo yang saat ini sedang dalam posisi kesakitan.


Dan saat yang bersamaan, Asih juga ikut melayangkan tendangannya secara bersamaan dengan Arini dan membuat sang Iblis terpental hingga jauh.


Namun Sang Iblis tak ingin menyerah. Ia kembali bangkit dan menyerang Asih dan juga Arini yang sudah menganganggunya dan juga membuatnya dalam kesakitan.


Asih yang kini sudah waspada, mencoba mencari cara untuk melumpuhkan sang Iblis secepatnya.


Buto Ijo kembali menyerang dengan tombak ditangannya dan tentunya pandangannya kini tak lagi dapat Ia gunakan Karena sudah dibutakan keduanya oleh Asih.


Iblis itu menggunakan kepekaan suara lawannya untuk mengetahui dimana datangnya arah musuhnya.


Sementara itu, Arini dan Asih membuat arah berpencar untuk mengecoh sang Iblis.


Asih mencoba melemparkan sebuah benda dari sisi kanan, dan saat itu iblis tersebut mencoba menahan serangan benda itu, dan saat bersamaan Arini menyerang dari arah yang berbeda dan membuat sang Iblis merasa terkecoh dengan taktik lawannya.


Asih teringat akan batu permata berwarna hitam yang Ia dapat saat menaklukkan pohon hidup yang menyerangnya beberapa saat yang lalu.


Asih menggosokkan batu permata hitam itu pada mata pedangnya dan membuat pedang itu mengeluarkan cahaya hitam.


Setelah itu Asih menyimpannya kembali, dan Ia terbang melayang diudara, lalu Arini menyerang dari arah yang berbeda dan saat itu juga, Asih menancapkan ujung pedangnya diujung kepala sang iblis hingga membuat iblis itu semakin mengerang kesakitan, dan Arini menghantamkan tongkatnya dengan cepat dibagian dada sang iblis yang Kini sedang merasa kesakitan karena Asih menekan kuat pedangnya hingga tertembus kelehernya.


Iblis Buto Ijo itu terpental melayang hingga ketepian dan membuatnya kesakitan, lalu tak dapat lagi untuk dapat mengejar dan Ia terbujur dengan luka yang cukup parah.


Asih menghampirnya, dan mencoba prihatin kepada makluk raksasa terbut.


Namun sang buto Ijo tidak memberikan orang lain merasa mengasihaninya.


Sosok Iblis itu mencoba menggerakka n jemarinya dan ingin memberikan balasan kepada sang wanita tersebut.


Namun Asih yang menyadari jika sang iblis tak perlu adalanya belas kasih, maka dengan cepat Asih menghunuskan pedangnya dan menancapkan didada sang iblis, lalu beberapa saat kemudian membuat Iblis itu hancur menjadi serpihan.