
Asih melihat luka melepuh yang berada diujung kakinya, lalu Ia menyapu lembut dengan menggunakan air liurnya, dan luka itu kembali sembuh tanpa bekas apapun.
Sepertinya Asih telah mewarisi kekuatan Ibundanya Dina, dan dapat menyembuhkan luka dengan mudahnya.
Asih memandang Edy yang tampak sibuk mengurusi berbagai alat dan senjata yang akan dibawanya untuk memburu Wei ke negeri bagian barat.
Setelah selesai Ia menghampiri Asih yang masih berbaring di sofa. "Sayang.. Bagaimana lukamu?" tanyanya yang dengan cepat memeriksa sekujur tubuh Asih, namun tak menemukan lecet sedikitpun.
"Apakah kamu tidak mengalami luka bakar?" tanya Edy dengan cepat.
Asih menggelengkan kepalanya, dan bwrnafas lega.
Saat ini terdengar diluar suara sirene mobil pemadam kebakaran yang berlalu lalang dengan yang menuju ke rumah Andre untuk meamdamkan kobaran api agar tak merembet kemanapun.
"Mengapa suara itu sangat berisik?" tanya Asih yang masih menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"Itu mobil pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api yang membakar rumah papa" ucap Edy santai sembari tampak membersihkan sebuah senjata api dengan menggunakan kain serbet.
"Papamu bisa ngamuk jika tahu rumahnya terbakar dan semua itu karena ulahmu" ucap Asih sembari menghela nafasnya.
"Paling di coret dari daftar penerima warisan" jawab Edy yang tampak seolah tak perduli dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Asih menatap pria yang kini sudah menjadi suaminya tersebut.
"Nanti setelah pemadam itu pergi dan selesai memadamkan api, Aku akan pergi ke rumah sebentar, untuk mengambil anak panahmu yang tertinggal disana saat membunuh makhluk itu dan juga serpihan bom molotov, yang mana nantinya akan dapat menimbulkan kecurigaan polisi dan sebagai barang bukti jika itu barang seludupan" ucap Edy menjelaskan.
"Aku ikut" jawab Asih cepat.
"Sudahlah.. Kamu dirumah saja, nanti akan membahayakanmu" ucap Edy mencoba menyarankan.
"Tidak.. Aku ikut, aku ingin memastikan iblis itu sudah hancur atau belum" ucap Asih sembari membenahi posisi duduknya.
Edy menatap wanitanya "Dasar, keras kepala" ucap Edy dengan lirih.
Asih tak perduli dengan omelan Edy yang memaksanya untuk tetap dirumah. Ia tidak ingin Edy mengalami celaka karena bisa saja tiba-tiba makhluk itu hidup kembali atau belum musnah seutuhnya.
Setalah satu jam lamanya, suara sirine mobil kebakaran sudah tidak terdengar lagi, dan Edy ingin segera beranjak dari tempatnya, namun Asih mendahuluinya, dan tanpa di duga oleh Edy Ia membopong tubuh Edy dan melesat dengan cepat mencapai titik lokasi kebakaran.
Sesampainya ditempat itu, Edy mendenguslak nafasnya "Sungguh terlalu dirimu, Sayang. Bisa-bisanya Kau yang menggendongku, betapa turunnya harga diriku sebagai seorang pria" ucap Edy sembari mengomel, namun Asih dengan cepat membekap mulut Edy dan segera bersembunyi dibalik dinding yang masih utuh.
Tampak sesuatu bergerak dari reruntuhan bangunan yang terbakar.
Seaaat mereka menyaksikan sebuah bola berwarna hitam legam tanpa kobaran Api sedang menggelinding dilantai dan mencoba mengumpulkan kekuatan baru yang ingin membawanya menghilang dari tempat Ia berada saat ini.
Tanpa menunggu lama, Asih mencabut Dwi sulanya dan menancapkannya kepada bola api yang sedang berusaha mengumpulkkan kekuatannya dar berbagai hawa negatif manusia yang saat ini masih berada di sekitar lokasi untuk melihat bekas sisa kebakaran.
Asih melesat dengan cepat, lalu menancapkan ujung dwi sulanya tepat di atas bola hitam legam itu, dan membuat bola api tersebut menjadi sangat panik dan ingin menyerang Asih secara brutal.
Namun Asih semakin menekankan ujung senjata Dwi sulanya hingga membuat bola hitam legam itu pecah berhamburan.
Sementara itu, Edy memunguti anak panah dan juga beberapa serpihan bom molotov yang Ia gunakan sebagai peledak.
"Apakah sudah selesai?" tanya Asih kepada Edy.
Edy menganggukkan kepalanya, lalu Asih mengajaknya pergi dan meninggalkan lokasi kejadian sembari membawa palu besi milik Sang Banaspati.
Keduanya kembali kerumah Dina dan menuju kamarnya.
"Mengapa rumah ini tampak sepi? Kemana Ibu.?" tanya Edy penasaran.
"Sudah pergi" jawab Asih cepat.
"Kemana?" tanya Edy penasaran.
"Di culik" jawab Asih santai.
"Apa..? Di culik?! Siapa yang menculiknya? ayo kita segera selamatkan Ibu" ucap Edy panik.
Asih tak menjawab ucapan Edy yang tampak panik, justru Ia menarik suaminya itu kedalam kamar "Sudahlah, kita tidur saja. Lagipula kamu juga tidak akan menemukan penculiknya dan jikapun menemukannya kamu tidak akan dapat melawan kekuatannya" ucap Asih dengan cepat.
Edy terperangah mendengarnya dan belum sempat Ia bertanya, Asih sudah mendorongnya ke atas ranjang hingga terjerambab.
*****
Dilain sisi lain, Lee sedang menata hatinya yang patah karena wanita yang dinginkannya telah memilih hidup bersama orang lain. Penantiannya yang teramat panjang harus berakhir dengan kepedihan.
Jika ada yang mengatakan seorang pria itu tidak pernah patah hati dan kecewa karena cinta yang tak sampai, maka itu adalah salah.
Sebab pria juga sama halnya dengan wanita yang merasakan patah hati dan kecewa karena cinta tak sampai.
Lee telah sampai disebuah negeri bagian barat yang mana Ia menempuh pendidikannya sebagai detektif ternama sekaligus diberi emban untuk menangkap Wei yang telah menyeludupkan barang-barang berharga dan juga perdagangan manusia yang para wanita dijadikannya sebagai untuk eksploitas pekerja hasrat.
Lee memasuki sebuah ruangan kost yang akan dijadikannya sebagai tempat untuk berteduh selama menjalani masa pendidikan dan juga penyelidikannya.
Lee mendapatkan informasi Jika Wei dalam beberapa bulan ini akan mengadakan sebuah pameran untuk melelang barang seludupan dan juga para wanita yang akan diperdagangkannya.
Tanpa Lee sadari, jika barang yang diseludupkan itu salah satunya adalah batu mustika blue diamond yang telah disusupi oleh kekuatan kegelapan dan nantinya akan membawa malapetaka yang sangat besar.
Lee sudah membuat rancangan dari mana Ia akan memulai pekerjaannya. Ia akan berusaha mencari dimana kapal yang membawa para wanita itu akan berlabuh.
Setelah mendapatkan informasi yang akurat, Lee akan bergerak untuk menggagalkannya.
Namun Ia tak bisa menghadapi ini sendirian, dan Ia membutuhkan bantuan tambahan dari pusat untuk mengirimkan orang-orangnya.
Setelah menghubungi pusat, Ia mendapatkan respon dan akan segera mengirimkan bantuan untuknya.
Sementara itu, Asih dan juga Edy akan melakukan perjalanan mereka.
Keduanya melakukan perjalanan legal dengan melengkapai semua persyaratan untuk berangkat ke luar negara, sedangkan segala persenjataan akan dikirimkan oleh Bromo melalui lautan yang tidak akan terdeteksi oleh manusia dan alat canggih sekalipun.
Semua telah tersedia, dan kini mereka akan melakukan perjalanan pada esok hari dengan berbagai perlengakpan lainnya dan hanya membawa beberapa helai pakaian saja.