Buhul ghaib

Buhul ghaib
Identitas dan Penculikan



Asih menyantap makanannnya. Selama didalam goa, Ia tidak pernah namanya yang memakan sesuatu dengan cara digoreng.


Tetapi dikota, Semua jenis masakan dapat Ia rasakan dengan berbagai cita rasa yang berbeda.


"bagaimana rasanya? Enak..? " Tanya Lee kepada Asih. Ia melihat, jika sigadis begitu menikmati pesanan mereka.


Amyra menganggukkan kepalanya ". Ya.. Enak." jawab Asih tanpa menoleh kepada Lee.


"apakah sudah buka..?" tanya Asih sembari menyendokkan suapannya.


"buka apanya?" Lee menghabiskan sarapannya.


"ya itu, yang mengurus keperluan untuk identitas.."


"sedikit lagi, sabarlah dikit kenapa..? Kamu ini gak sabaran ya, pengennya pakai cepat mulu" Lee menyindir Asih. Hal ini membuat Asih membulatkan matanya, lalu kaki kirinya menginjak kaki kanan Lee dengan sangat kuat.


"awwwww... Sakit.." rengek Lee kesakitan.


"mengapa kau ini sangat agresif sekali? " tatap Lee.


Asih memalingkan wajah sembari memanyunkan bibirnya, meski tak terliahat, karena Ia memakai cadar.


Seketika Lee terkekeh, karena berhasil mengerjai Asih.


Asih semakin kesal dengan sikap Lee. Andai saja Ia tak membutuhkan bantuan pria itu, mungkin Ia sudah menendangnya hingga terpental.


"ayo. Kita kekantor capil sekarang..!!" ajak Lee. Ia berjalan sedikit terpincang karena Asih tadi sudah menginjak punggung tapak kakinya.


Asih menaruh iba padanya, dan menyesal telah berlaku kasar pada pria itu.


------------♡♡♡♡♡♡♡♡---------


Lee memarkirkan mobilnya dipelataran sebuah kantor instansi pemerintahan. "ayo masuk, tadi saya sudah telefon orangnya, karena masih pagi tidak perlu antrian." Lee menggandeng tangan Asih masuk kedalam ruangan kantor, dan mencari seseorang.


Setelah menemukan orang yang dicari, seorang pria berpakaian dinas sipil menyambut mereka. "gadis ini maksud kamu?" tanya pria itu. Sebuah kartu nama tertera di saku bajunya. 'Bambang'.


"iya.. Benar sekali..." ucap Lee sembari tersenyum.


"mari, ikuti saya" sembari melangkah menuju sebuah ruangan. Asih didata dan sebagainya. Atas saran Lee, Asih harus menyembunyikan identitasnya, dengan mengubah tempat kelahirannya. Semua itu demi keamanan Asih.


Setelah melalui proses perekaman data dan sebagainya, akhirnya Asih mendapatkan identitasnya. Lalu Asih memberi sejumlah uang, demi kelancaran suatu proses tertentu.


"terimakasih ya Ko, atas semuanya.." ucap Asih lembut, dan baru kali ini Lee mendengarnya.


"apaa..? Saya tidak mendengarnya?" Lee menggoda Asih. Membuat Asih kikuk, dan tersenyum manis dibalik Cadarnya.


--------♡♡♡♡♡-------


Sekarang kita pergi ke bank. Uang yang kamu miliki kamu transfer saja. Kamu hanya membawa sebuah kartu kecil yang akan mempermudahkanmu kemanapun." Lee menyarankannya.


Asih mengangguk mengerti. Saat mereka berada diperjalanan, Sebuah mobil limousine mewah berwarna hitam datang memepet dan menghadang mereka. Lee melakukan pengereman mendadak. Sehingga membuat Asih terguncang ke depan.


Seketika muncul 4 orang berpakaian preman. Tubuh kekar mereka akan membuat takut orang yang melihat mereka.


Lee seketika kertakutan. Ia merasa gugup dan khawatir. wajahnya pucat pasi ketakutan.


Mereka menggedor pintu mobil, Asih mencoba tenang. Ia membuka kaca mobil, dan pria itu memodongkan senjata api kepada mereka.


"keluar..!!" perintah pria itu sembari menghardik. Dengan ancaman sebuah senjata api, akhirnya Asih keluar dari mobil. Keempat pria itu menggiringya memasuki mobil hitam tersebut.


Asih didorong masuk kedalam mobil limousine tersebut.



Saat Asih didorong masuk secara paksa oleh para penyanderanya. Yang membuat Asih tercengang adalah pria yang berada didalam mobil itu.


"tuan Wei..?" gerutu Asih dalam hatinya. Ia merasa bingung dengan cara apa Wei menemukany..?" belum sempat Ia menjawab pertanyaannya sendiri, Wei menariknya paksa tubuh Asi merapat kesisinya.


Asih membuang wajahnya. Ia merasakan sangat geram terhadap Wei.


Setelah mobil berjalan menjauh, Asih mengambiil kesempatan untuk meloloskan diri. Asih mencoba menyikut perut Wei, namun Wei menahannya, hingga terjadi perperangan tangan antara Ia dan wei.


Hingga akhirnya, seorang diantara mereka menotokkan aliran darahnya tepat dibagian lehernya. Asih mendadak tak sadarkan diri.


-------♡♡♡------


Asih terbangun dar tidurnya, Ia melihat telah berasa disebuah ruangan kosong. Asih mencoba mengingat kejadian semalam. Ia sangat menggerutu dengan apa yang terjadi dan baru saja menyadari Ia sedang dalam sebuah ruang penyekapan.


Saat Asih masih belum sempat menjawab pertanyaannya, Seseorang tiba-tiba masuk dari balik pintu.


Pria itu berjalan menghampiri Asih. Ia mengahampirinya. Lalu mengambil sebuah kursi kosong dan duduk menyilangkan salah satu kakinya dan menghadap Asih.


Asih beranjak bangkit dari tidurnya. Lalu memandang dengan tatapan penuh amarah. Asih turun dari ranjangnya, lalu berdirih kokoh.."kau.. ?! Apa yang kau inginkan dariku?! " tanya Asih dengan sedikit lantang.


Wei hanya tersenyum datar menanggapi celoteh Asih. "berikan padaku apa yang kau miliki.." ucapnya dengan santai.


"apa maksudmu?" tanya Asih waspada.


Tanpa Asih sadari, ternyata cadarnya telah terbuka. Memperlihatkan keindahan wajahnya. Hampir saja Wei merasa goyah.


"jangan bertele-tele, sebutkan saja apa yang kau inginkan..?!" Asih mulai menaikkan tinggi suaranya satu oktaf.


Wei terkekeh dan sengaja mempermainkan Asih. Merasa jengkel, Asih menerjang Wei. Dengan cekatan Wei menangkap pergelangan kali Asih, lalu Asih berputar dan menendang kaki kursi milik Wei, hingga Ia terjungkal dilantai.


Dengan cekatan, Wei kembali bangkit dengan menekan ujung tumit kakinya lalu melayang ringan dan berdiri tegak.


Asih menyerangnya dengan gerakan cepat dan sebuah tendangan yang menyasar pada pergelangan kaki Wei. Membuat Wei limbung dan terpental. Wei mengerang kesakitan, namun sesaat Ia tertawa mengejek.


Asih berjalan menghampiri Wei. lalu Asih mencabut pedang yang terselip dipingganganya,


"jangan mempermainkaku, atau mempersulitku, aku tidak memiliki urusan denganmu. Sembari Menghunusakan ujung pedangnya kepada Wei.


tanpa diduga Asih, Wei membuka kemejanya, yang membuat Asih terkejut. Dengan kemeja itu, Ia munutup ujung pedang Asih, lalu memutarnya. Menyebabkan Asih tidak mampu mempertahankan pedangnya, hingga pedang itu berada di tangan Wei.


Wei bangkit dengan ringan, lalu berbalik menyerang Asih. beberapa kali Ia menggunakan jurus menghidar. Hingga akhirnya Ia terpojok disudut ruangan. Wei menguncinya, menatap dengan hasrat. Saat Wei ingin menyentuh bibirnya, Asih mendaratkan lututnya tepat diadik kecil milik Wei, yang membuat pria itu meringis menahan sakit. Asih kembali ingin merebut pedangnya, namun Ia tak berhasil.


Meski dalam posisi kesakitan, Wei menghunuskan ujung pedang dileher Asih." katakan padaku, dimana kau menemukan pink diamond.." matanya penuh hasrat dan amarah.


"apa yang kau sebut itu..? Aku tidak mengerti..!!" Asih menjawab bengis.


"permata indah yang menggatung dilehermu itu!!, berikan padaku, dan kamu akan aku bebaskan." Wei memberikan pilihan.


"Tidak, aku tidak akan mengatakannya..! Dan kau tidak akan pernah mendapatkannya. saat Wei ingin merampas paksa bundul permata yang menggantung dileher Asih, Saat itu juga Wei terpental jauh. Sebuah kekeuatan ghaib telah melindungi Asih,


Dada Wei seperti terkena hantaman benda tumpul yang sangat dahsyat dan menyebakan rasa nyeri yang luar biasa.


Asih bangkit memungut pedangnya, lalu menyelinap keluar.