Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 216



Wei tertawa dengan puas. Ia akan menguasai dunia dalam genggamannya, semua itu karena batu mustika yang akan membawa pada kehancuran.


"Lihatlah.. Kemenangan akan berada didepan mataku. Semua dunia akan tunduk padaku.. Aku Wei... Penguasa kegelapan.. Hahhahaaha..." ucap Wei dengan nada yang sangat mengerikan.


Tubuh pria itu diselimuti asap hitam dengan sebuah motif ular kobra hitam yang meliuk-liuk hingga diatas ubun-ubunnya.


Bola matanya menghitam dengan pandangan yang mengerikan.kedua tangannya direntangkan, dengan kuku runcing menghitam, serta kepala yang dibuat menengada.


"Akan ku ciptakan penawar racun itu dengan segera. Maka dunia akan membelinya kepadaku.. Dan tidak ada yang mampu menciptakan penawarnya selain aku.." ucap Wei dengan lantang.


Seekita ruangan hening, yang terdengar hanyalah suara Wei yang penuh dengan ambisi yang sangat menakutkan.


Sang Mutan yang berubah menjadi bodyguard itu kembali melesat ke negara Asia. Ia menyebarkan racun tersebut ke berbagai negara Asia melalui tempat-tempat umum dan hal ini mempermudah penyebarannya.


Racun itu terus menyebar dan menyerang manusia yang saat itu masih berkeliaran ditempat umum dan banyaknya manusia yang bertumbangan setelah menghirup asap tersebut.


Kembali kepanikan terjadi dan mmebuat berita ini begitu menggemparkan.


Seketika seluruh negara membahas tentang racun aneh yang belum diketahui penyebabnya apa.


Banyak negara melakukan isolasi kepada warganya. Negara membayar kompensasi kepada warganya dan untuk menyediakan stok pangan didalam rumah dan dilarang berpergian.


Seketika negara-negara bagaikan kota mati yang tak berpenghuni dan membuat perekonomian terpuruk.


Dimana roda perekonomian berhenti, dan jika sampai dilakukan dalam waktu yang sangat lama, maka authomatis dunia-dunia akan mengalami kebangkrutan.


Wei semakin menyukai hal ini. Ia akan semakin senang dengan apa yang terjadi.


"Aku akan mengumumkan kepada dunia tentang penemuan penawarnya, dan akan mengadakan pertemuan untuk membahas obat penawar dan juga harga yang akan aku tawarkan" Wei merasa sangat penuh kemenangan.


Dihampir seluruh negara, banyak korban berjatuhan, baik meninggal dunia maupun kritis. Bagi yang berada didaerah pedesaan, mereka masih banyak yang selamat karena tidak begitu terdampak dari racun tersebut.


Namun bagi yang tinggal diperkotaan, maka akan mudah terkena dampaknya, dan yang membuat sangat aneh ialah, dampak dari racun itu kulit membiru dan adanya benjolan-benjolan disekita kulit dan mengeluarkan cairan yang terasa panas dan juga perih jika sudah pecah.


Asih dan juga Edy merasakan sesuatu yang aneh. Udara begitu sangat terasa menyesakkan.


Asih melihat gumpalan asap hitam dalam bentuk ular cobra yang meliuk diudara dan seketika menyebar keseluruh udara.


Seketika Asih membolakan matanya dan merobek pakain Edy untuk dijadikan sebagai masker, lalu dengan cepat menutup hidung Edy dan juga hidungnya.


"Berhati-hatilah, ada racun yang sedang menyebar dan sengaja disebarkan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab" ucap Asih dengan pandangan waspada.


Edy beranjak dari dahan dan mencoba berdiri untuk melihat apa yang terjadi.


"Aku tidak melihatnya" ucap Edy, sembari terus mengamati udara yang tampak biasa saja.


"Kau tidak melihatnya, dan ini sangat bahaya"Asih menjelaskan.


Edy terdiam sejenak "Aku akan melihatnya melalui laptopku, tapi sayangnya tertinggal dikursi taman dan pastinya sudah ada yang mengambilnya" keluh Edy dengan nada lemah.


Aku akan keluar sebentar, dan kamu tetaplah disini, jangan kemana-mana" titah Asih kepada Edy.


"Aku ikut.." ucap Edy.


Asih menatap Edy "Baiklah.. Ayo bergerak" jawab Asih yang melompat dari dahan pohon dan diikuti oleh Edy.


Namun baru saja mereka mendarat diatas rerumputan, sebuah serangan peluru bertubi-tubi menyerang mereka.


Asih dengan cepat melindungi Edy dengan menariknya kebalik batang pohon.


Asih mencabut pedangnya, lalu Katana yang kemudian Ia berikan kepada Edy "Ingatlah apa yang aku ajarkan, cara menangkis peluru yang datang" ucap Asih kepada Edy, lalu pria itu menganggukkan kepalanya.


"Siap..??!" tanya Asih.


Edy menganggukkan kepalanya "Siap..!!" jawab Edy.


Lalu Asih mengambil 5 buah shuriken, melempakan dengan cepat kepada sekelompok orang yang mengepung mereka.


Wuuussh..ssst..


Tiga orang terkena shuriken, lalu mengerang kesakitan.


Mereka kembali menyerang dan memberondongkan peluru kearah Asih dan Edy. Lalu keduanya berjibaku mengahalau peluru tersebut dengan cepat menggunakan pedang mereka.


Hingga akhirnya merekan kehabisan peluru, lalu seorang diantaranya melemparkan senjata tajam berupa pisau kecil dengan dengan ujung runcingnya.


Lalu dengan cepat Asih menanngkapnya dan mengemabilkan pisau itu dengan lemparan yang sangat cepat.


"Aaaaarrggh..." teriak pemilik pisau tersebut menggema diudara saat ujung pisau menancap tepat dijantungnya.


Darah merembes keluar dari luka pisau yang tertancap didada kirinya, lalu ambruk diatas rerumputan.


Seketika ke enam orang sisanya mengejang tanpa sebab, senjata mereka berjatuhan dari tangan dan tubuh mereka bergetar.


Asih dan juga Edy saling pandang. Sebab mereka belum melakukan penyerangan balasan, namun lawannya tampak seperti orang terkena penyakit ayan.


Buih keluar dari tubuh mereka dan benjola-benjolan keluar dari kulit tubuh mereka yang kemudian pecah dan mengeluarkan cairan berwarna bening namun sangat sakit dan perih.


Mereka ambruk diatas rerumputan, dan mengejang bagaikan ayam disembelih dengan erangan yang sangat memilukan.


Seketika mereka meregang nyawa dan tak berkutik lagi.


Asih dan juga Edy tampak bingung dengan apa yang terjadi. Mereka saling pandang dan akhirnya mengahampiri para lawan mereka yang tewas tanpa serangan dari keduanya.


Asih memeriksa satu orang pria yang telah tewas dengan mata terbeliak, buih keluar dari mulut dan juga hidungnya, serta benjolan dihampir seluruh permukaan kulitnya dengan cairan bening yang sangat panas dan perih.


"Jangan sentuuh..!!" sergah Asih saat Edy ingin menyentuh salah satu korban tewas yang sangat misterius tersebut.


Edy segera menjauh karena sergahan Asih.


"Ini racun yang sangat berbahaya. Wei menciptakan racun dari bisa ular yang hanya dimiliki oleh Ristih siluman ular" ucap Asih kepada Edy.


Edy menatap sang istri dengan penuh makna "Apakah racun ini sudah menyebar keseluruh kota?" Edy mencoba menerka.


Asih menatap Edy dan seketika terperangah "Gawat.. Jika itu benar terjadi, maka sudah banyak korban yang berjatuhan dan sekarang warga dalam bahaya" Asih memandang dengan penuh kecemasan.


Sebaiknya kita mencari tau, harus ada penawar yang dapat menyelamatkan para warga, dan penawar ini tidak dapat diciptakan oleh manusia awam" Asih mencoba menganalisanya.


"Kalau begitu kita bergerak sekarang, siapa yang dapat menciptakan penawar racun tersebut?" tanya Esy dengan cepat.


"Ibu.. Hanya Ibu yang dapat menciptakan penawarnya, sebab Ibu memiliki air liur yang dapat menyembuhkan segala penyakit" jawab Asih.


Edy mencoba termenung "Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah menemui Ibumu meminta ramuan tersebut atau menolong para warga terlebih dahulu?" tanya Edy meminta saran.


"Aku akan menemui ibu, dan kamu cari orang yang menyebarkan racun tersebut, lalu binasakan Ia dengan cepat untuk memutus penyebaran yamg lebih banyak" titah Asih, lalu Ia memberikan busur dan anak panah kepada Edy "Bawa ini untuk melindungi diri" ucap Asih, lalu mengecup kening Edy dan melesat pergi.