Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 231



mDina menatap puterinya "Baiklah.. Kalau begitu pergilah ke arah timur, disana ada lembah Nirwana, maka disana kau akan menemukan bunga wijayakusuma. Diantara ratusan bunga wijayakusuma itu, ada terdapat beberapa warna, namun kau harus mendaptkan yang berwarna putih, yang mana bunga itu akan dapat membuat ramuan untuk penawar racun tersebut" titah Sang Ibunda.


Asih menganggukkan kepalanya "Namun Kau harus mengambilnya saat tengah malam, dimana bunga itu baru akan merekah, dan bawa bunga itu sebelum Ia layu kembali" Dina mengingatkannya.


Asih segera berpamitan setelah meminta restu dari sang ibunda.


Lalu dengan mengingat semua pesan tersebut, Asih melakukan perjalanan menuju arah timur dimana tempat lembah Nirwana yang terdapat banyak tumbuh bunga wijayakusuma.


Asih melesat mencari jalan dimana tempat lembah itu dikatakan oleh ibunya.


Ditengah perjalanan, seekor kelinci melompat menghampirinya, lalu mengikuti perjalanannya.


"Arini" sapa Asih, Ia mengetahui kelinci itu milik ibunya, dan pernah menjadi teman perjalanan Chakra sang kakak saat mencarinya ke kota.


Kelinci itu hanya menganggukkan kepalanya dan berlari mengikuti Asih.


"Apakah Kau tau dimana lembah itu?" tanya Asih kepada Arini yang kini melompat kedalam pelukan Asih.


Kelinci itu hanya menganggukkan kepalanya dan melompat dari pelukan Asih lalu berlari lebih dahulu didepan Asih.


Lalu Asih ikut mengejarnya, mereka berlari disebuah hutan yang terbilang lebat. Banyak terdengar kicauan burung yang seolah menyambut kedatangan mereka.


Lalu menyeberangi anak sungai yang berair jernih dan jika diminum akan terasa sangat menyegarkan tenggorokannya.


Asih menyesap air yang berasal dari anak sungai tersebut melalui telapak tangannya. Rasanya begitu sangat menyegarkan.


Saat Ia sedang menatap air tersebut, tampak air itu beriak dan dan semakin lama semakin banyak riakannya.


Asih mendengar suara derap langkah yang sangat kuat. Semakin lama semakin dekat dan saat Asih menoleh kearah belakang, ia tersentak karena dikejutkan oleh sosok raksasa dalam wujud kepala gorilla.


Jika dibanding dengan Asih, Ia hanya sebesar jari kelingkingnya saja.


Asih menengadahkan kepalanya melihat raksasa tersebut. Tampak ibarat bagaikan seekor belalang dengan seekor induk gajah yang saling berhadapan.


Raksasa itu menggeram karena ada makhluk asing yang memasuki wilayahnya tanpa permisi.


Asih meminta maaf dan memohon ijin agar dapat melintasi wilayah sang raksasa, namun ternyata itu sangat terlambat dan sudah terlanjur membuat sang Raksasa marah.


Raksasa berkepala gorilla itu mencabut sebatang pohon, lalu mengayunkannya kepada Asih dan bersiap melemparkannya.


Dengan cepat Asih bersiaga dan melompat menghindar saat raksasa itu melemparkan batang pohon yang sangat besar tersebut.


Arini ikut melompat dan menghindari lemparan batang pohon tersebut.


raksasa itu semakin marah dan bengis, Ia menggerakkan tanganngannya untuk menangkap Asih, dan Asih berlari berputar mengelilingi tubuh raksasa tersebut sehingga membuat makhluk itu semakin kesal.


Setiap apa saja yang terkena jemari sang raksasa, akan hancur remuk, karena tenaga dan kekuatan yang dimiliki oleh Raksasa itu sangat kuat.


Asih mencabut pedangnya, lalu bersiap menyerang makhluk yang sangat besar itu.


Asih bersembunyi diantara kedua kaki raksasa itu, hingga membuat makhluk tersebut kebingungan mencari keberadaan Asih.


Asih melesat, lalu menggores organ inti milik sang raksasa yang bergelantungan tanpa penutup tersebut.


Makhluk itu semakin marah dan melompat kesakitan hingga membuat alam bergetar bagaikan terkena gempa bumi yang dahsyat.


Asih segera menghindar dari bawah kaki makhluk tersebut, dan hampir saja Ia terinjak telapak kaki makhluk tersebut.


Arini mencoba membantu dengan sihirnya, namun sang raksasa menangkap Arini, lalu melemparkan kelinci tersebut hingga membentur batang pohon.


Raksasa itu masih memegangi senjata pamungkasnya yang sakit akibat ulah Asih.


Lalu Asih melesat naik ke atas pundak sang raksasa, lalu menuju telinganya, dan Ia memasuki telinga tersebut, yang membuat raksasa itu bertambah marah dan memukul-mukul telingan sendiri, bahkan Ia dengan geram menarik daun telinganya sendiri hingga terlepas.


Asih semakin jauh masuk kedalam telinga raksasa tersebut, menyentil gendang telinganya, dan membuat telinga makhluk itu berdengung.


Sang raksasa semakin kebingungan. Ia melompat-lompat dengan keras, dan membuat penghuni alam ghaib merasa terganggu dengan hentakannya yang seolah ingin merobohkan tempat tingal mereka.


Asih Lalu Asih menusukkan ujung pedangnya tepat digendang telinga Raksasa tersebut yang semakin membuat sang raksasa melompat-lompat dengan keras dan membuat alam semakin berguncang hebat.


Asih lalu keluar dari telinga sang raksasa dan melompat dengan cepat karena raksasa itu akan tumbang.


Lalu suara dentuman itu sangat begitu keras, saat sang raksasa ambruk akibat rasa sakit yang dideritanya.


Lalu Asih menghampiri raksasa tersebut dan berdiri tepat disebelah mata makhluk "Aku memilliki ramuan penghilang rasa sakitnya, namun mau kah kau mengijinkanku untuk melintasi wilayah kekuasaanmu? Aku ada keperluan untuk mengambil bunga Nirwana, untuk menyembuhkan penduduk bumi yang terkena wabah" ucap Asih dengan tenang dan penuh harap.


Bola mata sang raksasa itu mengerjap dan Mencoba mengangguk lemah.


Lalu Asih mengambil ramuan yang dimilikinya, dan membuka tutupnya, lalu memasukkan kemulut raksasa itu melalui bibirnya yang memiliki lebar dua meter.


Setelah meminum ramuan tersebut, raksasa itu menelannya, lalu dengan perlahan rasa sakitnya berkurang, dan mulai menghilang.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Asih lembut, lalu membelai hidung raksasa tersebut.


Raksasa itu mengerjapkan matanya, lalu Asih tersenyum sembari membelai mata tersebut.


"Sekarang Aku boleh melintas?" tanya Asih lagi.


Raksasa itu mengangguk lemah, dan mencoba menyunggingkan senyumnya "Terimakasih, sebentar lagi kau akan kembali seperti semula, maafkan Aku yang telah berbuat lancang, dan Aku harus segera pergi" ucap Asih berpamitan, lalu beranjak dari tubuh raksasa tersebut dan menghampiri Arini yang masih berdiri mematung menatap Asih yang telah menaklukkan penjaga hutan larangan tersebut.


"Ayo.." ajak Asih kepada Arini yang masih mematung, dan tersentak kaget, lalu dengan cepat berlari untuk menunjukkan arah dimana lembah nirwana itu berada.


Sepeninggalan Asih, raksasa itu perlahan mendapatkan kekuatannya kembali lalu memandang arah tempat Asih berlari membelah hutan larangan.


Ia kembali berdiri tegak, dan membuktikan jika ucapan Asih benar, jika Ia kembali dapat berdiri tegak dan rasa sakitnya sudah menghilang.


Sementara itu, Asih dan juga Arini terus melesat mencari lembah Nirwana yang diperintahkan oleh ibunya.


Hutan yang mereka lintasi begitu sangat lebat dan banyak terdapat akar-akar pohon yang berukuran besar melintang menghalangi jalan mereka.


Bahkan salah satu akar pohon itu tampak hidup dan bergerak, lalu salah satunya mengait kaki Asih hingga membuat Asih terjerembab, karena akar itu membelit kaki Asih dengan cepat dan membuat Asih membolakan matanya.


Arini juga tak luput dari akar yang membelitnya dan kini tergantung diatas dahan pohon yang tampak hidup tersebut.