
Chakra menghentikan langkahnya, lalu Ia bersembunyi dibalik didinding goa. Ia sangat penasaran dengan hewan menggemaskan tersebut. Tampak Ia terus melompat memasuki lorong goa. Karena penasaran, Chakra terus mengikutinya, sembari berjingkit-jingkit. Tiba-tiba saja tampak sebuah pintu yang menuju alam bebas. Namun chakra tak pernah mengetahuinya selama ini.
kelinci itu menghilang dibalik pintu goa itu. Chakra mempercepat langkahnya, menyusul kelinci tersebut.
Hampir saja Ia tergelincir dan jatuh dari ketinggian 700 meter lalu disambut batuan cadas. Jantung Chakra hampir saja terhenti saat melihat kenyataan ini. Tampak sungai mengalir dibawah sana. Gemericik air terjun terdengar olehnya, tampak menakjubkan pemandangan yang saat ini dilihatnya, namun juga extrem.
Seketika nyali Chakra menciut, membayangkan jika sampai saja Ia tergelincir kebawah sana, maka akan dipastikan tubuhnya tak berbentuk.
"tadi aku melihat kelinci itu berlari ke arah sini.. tetapi mengapa begitu cepat Ia menghilang? Apakah Ia terjatuh kedalam jurang. Jika benar, ibu pasti memarahiku.." Chakra berguman lirih.
Chakra kembali berbalik menyusuri lorong goa. Saat hampir diruang utama yang merangkap dengan dapur, Chakra mencium kembali aroma masakan yang sangat lezat. "Dia.." ucap Chakra lirih. Ia mempercepat langkahnya, Ia ingin memergoki gadis cantik itu lagi.
Chakra sedikit terlambat, gadis itu telah menuju pintu goa. Chakra mengejarnya, dan sigadis memepercepat langkahnya.
semakin Chakra mempercepat langkahnya, semakin jauh sigadis berlari. Chakra terus mengikutinya, hingga tanpa sadar, Chakra memasuki hutan.
Sinar rembulan menjadi satu-satunya cahaya yang menuntun jalannya. Hingga saatnya, Si gadis berhenti pada sebuah padang rumput yang terhampar luas. Chakra memandangnya Takjub, tampak sangat indah. Biasan cahaya rembulan, menambah kesyahduan malam ini.
Ketika jarak mereka begitu dekat, gadis itu memutar tubuhnya menghadap Chakra. Chakra terperangah. selama ini Ia mengira, jika Dina, Ibunya dan Asih adalah wanita paling cantik, namun ada wanita cantik lainnya yang Ia lihat.
Gadis ini sama seperti yang Ia lihat saat memasak dan mandi disungai. "siapa kau..? Dan darimana kamu berasal.? Tanya Chakra penasaran.
Gadis itu hanya menatap diam. Tatapannya begitu memesona, Membuat Chakra tergoyahkan. Chakra datang menghampirinya. Menatap lekat pada mata indah Arini.
Mereka dalam kebisuan. Tanpa kata. Seolah ada yang mereka sembunyikan. Hanya debaran dihati mereka yang tak mampu disembunyikan.
Saat mereka merasakan perasaan yang begitu aneh, namun indah, serta menghanyutkan.
Desiran angin malam dan dinginnya tak lagi chakra rasakan. Semua terasa tampak hangat.
Sesaat Chakra mendengar suara mendesis yang amat Ia kenal mendekati ke arah mereka. Suasana indah kemudian berubah menjadi ketegangan. Seekor ular berkepala manusia mendekati kearah mereka. "Rekso..?!" guman Chakra lirih.
Saat ini, Chajra tidak membawa senjata apapun. Siluman itu sudah berada dekat dibelakangnya. Saat ular itu ingin menyerangnya, Ia sudah sangat pasrah jika harus mati malam ini.
Chakra memejamkan matanya, siap menyambut serangan Rekso. tanpa terduga, sebuah cahaya jingga berkelabat menyerang Rekso. Cahaya itu membawa sebuah pedang bercahaya ungu yang seketika membuat area sekitar padang rumput tampak terang dengan biasan cahayanya.
Chakra mencoba melihat apa yang sedang terjadi, namun matanya begitu silau akan cahaya tersebut.
Rekso semakin berang dengan sosok yang sudah mencoba ikut campur dengan urusannya. "dasar, kelinci sialan..!! Terlalu ikut campur saja kau dengan urusanku." Rekso breang.
Rekso ingin membalas dendam kepada Chakra, karena pernah memanah lengannya saat malam itunIa ingin mendekati Asih.
Melihat kehadiran Chakara berada ditengah padang rumput dengan tanpa senjata, membuatnya merasa mengambil sebuah kesempatan.
Namun, lagi-lagi Ia harus kesal dengan kelinci ini, yang sudah berusaha menolongnya.
Ujung pedang Arini siap merobek kepala botak milik Rekso. Suara bunyi benda besi baradu..
"tiiiiiiiiinnngg..
Suara itu terus menimbulkan bunyi nyarin saat beradu. Ternyata Rekso menggunakan topeng besi untuk melindungi kepala botaknya.
"siapa gadis itu..? Mengapa Ia memiliki ilmu yang begitu tinggi?" Chakra bertanya-tanya salm hatinya.
Rambut panjang si gadis melambai-lambai saat Ia menghindari serangan siluman ular tersebut. "Cantik sekali Dia.." saat mengagumi Arini, Chakra tidak menyadari jika ekor milik Rekso yang sama juga memliki racun dan kekeuatan itu meliuk dan hampir saja melibas mengenai tubuh Chakra, namun tiba-tiba seseorang datang menyelamatkan, lalu membawanya ke goa.
Belum sempat Chakra hilang rasa bingungnya, Sosok itu telah menghilang.
Sosok itu Ialah Bromo, Ia kembali kepadang rumput. Lalu memberikan serangan tak terduga. Bromo meraih ujung ekor ular tersebut. Karena sejatinya ujung ekor itu letak kelemahan mereka.
Bromo memuntir ujung ekor ular tersebut. Membuat Rekso seketika berteriak kesakitan dan menghentikan serangannya kepada Arini.
Suara pekikannya membahana, terdengar hingga ke dimensi lain. Suara pekikan kesakitan Rekso, membuat Ristih bergetar. Dengan secepat kilat Ia ingin menyelamatkan puteranya.
Merasakan sebuah serangan mendadak tiba, Bromo mengayunkan dan memutar Rekso keudara, lalu melemparkannya kearah serangan yang akan datang tersebut.
Buuuuummm...
Suara ledakan yang sangat dahsyat terdenagr sangat kuat, saat tubuh Rekso beradu dengan cahaya berwarna biru yang ditujukan kepada Bromo.
"aaaaaaarrrrrggghhh..."
"tidaaaaaak.." teriak Ristih membahana memecahkan keheningan malam. Rekso tampak terluka parah karena terkena sambaran serangan ibunya sendiri.
Risti menatap penuh amarah.."Sadewo.. Tunggu pembalasanku.." teriak Ristih dengan penuh ancaman. Suaranya menggelegar, ada kemarahan disana.
Ristih membawa tubuh Rekso yang terluka untuk kesekian kalinya. Ia menghilang secepat cahaya. Ia tidak dapat menerima atas semua perbuatan keluarga Bromo Sadewo.
Bromo hanya bersikap tenang menghadapi ancaman Ristih.
Setelah kepergian Ristih Bromo menatap Arini yang kini sedang tertunduk malu.
"mengapa kau membawanya hingga ke hutan ini dtengah malam? Ia baru saja dalam proses penyembuhan. Apakah kau tahu konsekuensinya jika Ia sampai terluka lagi atas kecerobohanmu? " Bromo terlihat tampak marah pada Arini.
"maafkan aku baginda.." jawab Arini lemah. Ia hanya berniat membawa Chakra berjalan- jalan malam ini, menikmati cahaya rembulan malam yang saat ini sedang posisi purnama.
"apa kamu menyukainya.?" tanya Bromo dengan selidik, meski Ia sendiri sudah tau dengan apa yang disembunyikan Arini dalam hatinya.
Arini tampak malu, wajahnya bersemu merah menahan malu. Hanya senyuman dan anggukan yang Ia lakukan sebagai jawabannya.
Bromo menghela nafasnya. Menatap Arini. "kalau begitu, saya titipkan senenak Ia padamu, karena saya masih ada urusan degan ibunya." Bromo memberi peruntah kepada Arini.
Belum sempat Arini menjawab, Bromo sudah terlebih dahulu menghilang. Meninggalkan Arjn seorang diri.
Dengan kekuatannya, Arini kini berada dihalaman goa. Ia merubah wujudnnya kembali menjadi seekor kelinci imut nan menggemaskan.
--------♡♡♡♡♡♡-----
Bromo tiba di istana ghaibnya. Ia kembali kekamarnya. Saat ini Dina baru saja sedang membersihkan dirinya. Ia mengenakan pakaian tidur berbahan satin nan lembut. Ia menyisir rambut basahnya yang tergerai panjang.
Bromo menghampirinya, mendekapnya dari arah belakang, lalu melingkarkan tangannya dipinggang ramping milik Dina.
"kamu cantik sekali sayang.." bisik lembut Bromo ditelinga istrinya.
"gombal deh.." jawab Dina.
Dengan nakal, Ia menggigit kecil telinga itu, membuat Dina menggeliatkan tubuhnya, karena merasakan sensasi geli. "sudahlah kanda, jangan nakal." Dina mengingatkan Bromo, karena baru saja mereka melakukannya.
"kanda dari mana tadi..? Dinda cari tapi tidak ketemu." tanya Dina dengan menyelidik.
Bromo terdiam sejenak, Ia tidak ingin membuat Dina merasa khawatir, lalu memaksa ingin pulang.
"emmm.. Tadi ada urusan sebentar." jawab Bromo lirih. Lalu ikut mematut dirinya didepan cermin. Ia melihat, jika Dina kini tampak awet muda, dengan mustika pink Diamond tersebut.
Bromo semakin mengeratkan dekapannya.
-----------♡♡♡♡♡---------
Arini si kelinci imut memasuki goa. Ia melihat Chakra yang masih keningungan dengan apa yang baru saja dialaminya.
"siapa yang membawaku kemari? Tetapi, seperti Romo. tapi apa mungkin? Atau jangan-jangan Romo yang sudah menculik Ibu..? Orang dewasa sulit dimengerti.." Chakra menggertu.
Sesaat kelinci imut menghampirinya.. "heeeei.. Kamu ternyata selamat? Tetapi bagaimana caranya? Bukankah sore tadi aku melihatmu jatuh terperosok kedalam tebing di ujung goa..?" tanya Chakra pada Arini.
Arini hanya menatap Chakra, dengan mulut yangbtak hentinya bergerak-gwtak seperti orang sedang mengunyah.
"kamu sangat menggemaskan. Syukurlah kamu selamat." Chakra meraih kelinci imut itu, meletakkannya diatas pangkuannya. Ia membelai lembut bulu-bulu halus milik Arini.
"kamu jangan pergi kemana-mana, temani aku disini, aku kesepian.." ucap Chakra sembari tersenyum menatap Arini dalam wujud kelincinya
-------♡♡♡♡♡♡------
Kanda.. aku harus pulang.. kasihan Chakra, Ia pasti kebingungan mencariku, dan juga Asih." Dina mencoba merayu Bromo.
"Tapi Kanda masih ingin berlama-lama denganmu Dinda." Bromo mencoba Menghalangi Dina yang ingin kembali ke alamnya.
"Kamu bisa kapan saja menemuiku Kanda. Tetapi Chakra, Ia akan merasa kehilangan, dan jika sampai Ia nekad turun bukit mencariku, bukankah hal yang akan merepotkan?" Dina mencoba memberi pengertian kepada Bromo.
Setelah melalui dialog yang alot, akhirnya Dina diperbolehkan juga kembali ke goa oleh Bromo.