
"Dina..itukah kau..?" ucap Abah Kasim dengan lirih. Ia masih tak mempercayai dengan apa yang dilihatnya.!
"iya Bah, ini Dina" jawab Dina dengan hati penuh kerinduan. Air matanya mengalir tanpa dapat dicegah.
"mengapa kamu menghilang selama ini? Dan mengapa kamu tidak kembali..?" ucap Abah Kasim dengan perasaan yang hancur dan juga bahagia. Ia hancur karena Dina tak pernah berniat kembali, namun juga bahagia karena Dina masih hidup.
"maafin Dina Abah. Bukan maksud Dina membuat abah dan umi menderita." jawab Dina lirih sembari merundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah.
Asih datang dengan membawa jagung dan singkong rebus. Sedangkan Chakra sibuk memanggang daging rusa.
Asih menyuguhkan makanan sederhana itu kepada Abah Kasim dan Lastri.
"ka..kamu..? Bukankah kamu yang menolong saya waktu diserang banaspati di hutan tempo hari?" ucap Kasim dengan terperangah.
Asih hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Apa hubunganmu dengan Dina, anakku?" ucap Kasim dengan heran.
"Dia.. Cucu Abah dan Umi, begitu juga dengan pemuda itu." ucap Dina lirih.
"a..aapa..? Dia cucuku.? Siapa namanya.?" tanya Kasim tak sabar.
"Asih.." jawab Asih sopan sembari menyalim tangan Kasim dan Lastri.
Asih memeluk Kasim dan Lastri bergantian.
Lalu Chakra ikit menghampiri dan menyalim keduanya secara bergantian.
"Tidak Abah sangka, setelah lama berpisah, kiji Abah sudah memiliki cucu yang cantik dan tampan." ucapnya sembari menyeka air matanya.
"Umi sangat bahagia, memiliki cucu yang cantik dan tampan." jawab Lastri dengan sumringah.
"Asih juga bahagia, ternyata memiliki kakek dan nenek.." jawab Asih tulus.
Namun Kasim merasa janggal. Ia tidak melihat suami Dina sedari tadi.
"kemana suamimu Din? Sedari tadi Abah dan Umi tidak melihatnya." ucap Abah Kasim dengan penasaran.
Seketika Dina membulatkan matanya. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Abah dan Umi siapa suaminya. Haruska Ia mengatakan jika suaminya adalah seekor siluman buaya. Dan Chakra adalah anak dari Andre yang mengaku dokter saat KKN didesanya waktu itu.
Seketika Dina terdiam tak bergeming. Ia sedang berfikir untuk menyusun kata, agar Abah dan Uminya tidak curiga, serta tidak menyakiti kedua anaknya.
"Din..mengapa kamu diam saja.? Siapa suamimu? Dan apa pekerjaannya.?" ucap Umi dengan lembut.
Dina masih terdiam seribu bahasa. Membuat kedua orang tuanya merasa heran.
Tiba-tiba saja, dari arah luar goa terdengar suara derap langkah kaki yang seseorang masuk kedalam goa.
seorang pria tampan memasuki goa. Pria itu memanggul seekor kancil dan singkong.
"waah..ada tamu rupanya?" sapa Bromo dengan ramah. Lalu Ia menyalim keduanya dengan sangat sopan.
"Kanda, ini Abah dan Umi, Dina?" ucap Dina memperkenalkan kedua orang tuanya.
Tentu saja Bromo telah mengenal mertuanya. Ia melihatnya saat pencarian Dina waktu pertama kali menghilang.
"dan kedua anak itu adalah anak saya, tentunya cucu Abah dan Umi" ucap Bromo sembari tersenyum.
Deeeeeegh..
Seketika hati Dina menjadi lega, Ia tak perlu lagi menjelaskan dengan rangkaian kata yang belum tersusun dibenaknya. Namun Bromo datang menyelesaikannya dalam sekejap saja.
"jika kamu suaminya..? Mengapa kamu tidak membawa Dina menemui kami? Apakah kamu tahu jika kami selama ini kebingungan mencarinya selama puluhan tahun." Kasim mencecar Bromo.
"maafkan saya Abah, Umi. Jika saya membuat Abah dan Umi menjadi kalang kabut mencari Dina. Namun saat itu saya menemukan Dina dalam kondisi pingsan dan hilang ingatan. Maka saya tidak tau harus mencari Siapa identitas Dina" jawab Bromo berbohong.
Abah Kasim dan Umi Lastri mulai mempercayai ucapan Bromo. Mereka seperti tersihir dengan pesona dan sopannya Bromo
"ooh... Begitu ceritanya. Maafkan Abah dan Umi yang sudah berprasangka buruk terhadap kamu" ucap Abah Kasim merasa bersalah.
"saya yang meminta maaf kepada Abah dan Umi. Karena telah membuat kesedihan selama puluhan tahun" jawab Bromo dengan santun.
Abah menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya.
"Ya sudahlah, yang penting Dina selamat dan bahkan sudah memberikan kami cucu yang tampan dan cantik.
"sekarang, apakah kamu mau kembali bersama Abah dan Umi kembali ke desa..?" pinta Abah Kasim kepada Dina.
Dina terdiam, Ia bingung harus memutuskan apa. Apakah Ia akan tetap didalam goa menemani Bromo, atau ikut pulang ke kaki bukit bersama kedua orangtuanya.
"Dina belum bisa memastikan Abah. Tetapi kini Dina sudah bersuami, dan Dina akan meminta keputusan pada Kanda Bromo. Karena telah menilah, maka sekarang Dina adalah hak nya kanda Bromo." jawab Dina dengam merundukkan kepalanya. Ia tak mampu memandang mata kedua orangtuanya.
Kasim memandang Bromo, meminta jawaban dari menantu laki-lakinya itu.
Bromk tersenyum sahaja. "Saya mengijinkan jika Dina ingin ikut bersama Abah dan Umi, namun saya juga tidak memaksanya jika Ia ingin tetap tinggal disini." Jawab Bromo dengan tenang.
Dina menatap Bromo dengan tatapan berterimakasih. Ia tidak menyangka jika suaminya adalah orang yang bijaksana. Ia tidak menyesali jika harus menikahi seorang siluman buaya putih.
Dina menarik nafasnya dengan dalam. Lalu menghelanya dengan berat. "Dina memutuskan tetap tinggal didalam goa, maafkan jika keputusan Dina menyakiti hati Abah dan Umi. Namun Dina sudah merasa nyaman tinggal disini. Jika Abah dan Umi merasa rindu kepada Dina, maka saya akan meminta Asih untuk menjemput Abah dan Umi keatas bukit." ucap Dina memberikan keputusan yang sangat sulit.
Abah Kasim dan Umi Lastri saling pandang. berat rasanya jika harus berpisah dengan Dina kembali. Namun mereka juga tidak dapat memaksa kehendak mereka.
"Silahkan dinikmati hidangannya kek, nek.." ucap Asih mencairkan suasana yang terlihat rumit.
Kasim memandang Asih dengan tersenyum sahaja. "terima kasih cucuku." ucapnya lembut, sembari mengambil sepotong jagung rebus yang sangat manis.
Laku mereka menikmati hidangan itu bersama-sama. Terasa kebahagiaan yang begitu mendalam.
Atas permintaan Dina, Abah Kasim dan Umi Lastri menginap semalam didalam goa. Mereka ingin saling mencurahkan rindu yang selama ini terpendam.
Bromo yang selama ini datang dan pergi sesuka hatinya, malam ini Ia juga menginap didalam goa. Semua itu Ia lakukan untuk menjaga marwah Dina dihadapan kedua orang tuanya.
Malam semakin larut, rasa dingin menyelimuti ruangan goa. Mereka tertidur dengan lelap.
Bromo memberi perisai ghaib dipintu goa.Ia tidak ingin ada ganguan apapun selama mertuanya menginap didalam goa tempat tinggalnya.
Diluar goa, Banaspati yang pernah dikalahkan Asih pada malam itu berputar-putar didepan goa.
Bromo menyadari kehadiran makhluk itu, namun Ia tak memperdulikannya. Ia akan melakukan perlawanan jika Banaspati itu melakukan penyerangan dan mengganggu kenyamanan mereka. Bromo hanya mengamati apa saja yang dilakukan oleh Banaspati itu.