Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 209



Lee terbangun dari tidurnya. Ia tampak sangat lelap sekali dan beranjak dari kasurnya.


Ia membersihkan dirinya dikamar, mandi. Sembari menggosok tubuhnya dengan sabun, seketika Ia teringat akan pekerjaanya yang mengharuskannya segera menemukan Wei, Lee segera mempercepat ritual mandinya dan menyalin pakaiannya.


Lee membuat sarapan seadanya, roti panggang dengan selai coklat seadanya, serta segelas susu panas.


Tiba-tiba Ia teringat akan Rebecca, ia tahu jika gadis itu masih dalam kondisi terluka parah akibat cambukan yang didapat dari Robert.


Lee mencoba berbaik hati dengan tetangganya tersebut. Ia membuat roti panggang lainnya, dan juga segelas susu hangat.


Setelah menghabiskan sarapannya, Ia keluar dan mengetuk rumah kos Rebecca.


Tok..tok..tok..


"Masuk" ucap Rebecca dari dalam rumah kos.


Lee memasuki rumah kos dengan membawa nampan bersi 4 keping roti selai coklat dan segelas susu hangat.


Tampak Rebecca sedang mengoleskan salep pada luka sabetan dari ikat pinggang yang masih membekas tersebut.


"Aku buatkan sarapan untukmu" ucap Lee, sembari meletakkan nampan tersebut diatas meja nakas.


"Terima kasih" ucap Rebecca lirih.


"Ya.." bagaimana dengan lukamu?" tanya Lee mencoba memberi perhatian.


Gadis itu mengankat kedua bahunya dengan pasrah.


"Mar,i Aku bantu untuk mengoleskan dibagian punggungmu" Lee menawarkan dirinya.


Rebecca tak menjawab, lalu berbalik membelakangi Lee dan menyerahkan salep itu.


Lee beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri sang gadis yang hanya menggumakan handuk sebagai penutup tubuhnya.


Tampak ada banyak luka dibagian punggung sang gadis. Lalu Lee mencoba membantu mengoleskannya.


"Apa tujuanmu ke kota ini?" tanya Lee.


"Hanya liburan.."


"Mengapa bisa sampai terlibat dengan Robert?" tanya Lee dengan hati-hati.


Rebecca kembali mengangkat kedua pundaknya" tidak tahu.. Bukankah Ia suka menangkapi para gadis untuk dijadikan pelampiasan hasratnya" jawab Rebecca.


"Bagaimana Kau bisa tahu?" tanya Lee penuh selidik.


Rebecca menghela nafasnya dengan berat. "Ya.. Buktinya saat aku menjadi korban penculikannya, Ia juga menyekap gadis tangguh itu, dan tampaknya mereka membiusnya terlebih dahulu dalam kondisi tertidur sebelum menculiknya" Ujar Rebecca mengenang saat malam itu.


Lee membolakan matanya "Apakah Robert berhasil menyentuhnya" cecar Lee tak sabar.


Rebecca menggelengkan kepalanya "Tidak, bahkan gadis itu memberikan tendangan yang menyakitkan di organ vitalnya, sehingga membuat pria hampir pingsan, dan hal itu yang kami ambil kesempatan untuk meloloskan diri" jawab Rebecca menjelaskan.


Lee bernafas lega, setidaknya Asih tidak disentuh sembarang pria.


"Mengapa Kau begitu ingin tahu tentang gadis itu? Apakah Kau mengenalnya "tanya Rebecca penuh selidik.


"Tidak.. Aku tidak mengenalnya" jawab Lee cepat "Ini salepnya, sudah seelsai Aku oleskan" ucap Lee, lalu memberikan salep tersebut kepada sang gadis.


Rebecca meraihnya "Terimakasih" ucap sang gadis lirih.


"Ya.."


Lalu Lee beranjak dari ranjang dan duduk di sofa dengan meyandarkan kepalanya disandaran sofa.


******


Robert uring-uringan. Ia merasa kesal karena Lato-latonya yang membengkak itu masih terasa ngilu..


Sang Bodyguard yang melihat kondisi Bos nya itu merasa serba salah, haruskah Ia tertawa atau ikut merasa iba. Sebab ini sangat aneh dan belum pernah terjadi, karena siapapun yang menjadi teman bercinta Robert akan berakhir penyiksaan atau sebaliknya membawa uang yang banyak sesuai seberapa mampu lawab bercintanya itu memberikan service kepada Robert.


Namun kali ini, justru Robert yang mendapatkan siksaan dan membuat senjata andalannya harus menahan sakit selama beberaoa hari ini.


"Carikan dokter yang handal untukku" titah Robert dengan nada perintah.


Seketika sang Bodyguard tersentak dan segera menganggukkan kepalanya lalu bergegas pergi keluar dari kamar itu sebelum mendapatkan amukan yang lebih besar.


Robert mengoleskan salep pereda nyeri dan juga obat yang membantu menghilangkan rasa nyeri dibagian lato-latonya.


Antara kesal, dan benci. Namun entah mengapa, saat membayangkan wajah wanita, Ia menjadi luluh dengan sendirinya, Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Siall..!! Mengapa Aku jadi memikirkannya.. Banyak gadis cantik yang sudah menjadi teman tidurku, dan Aku tidak perlu tertarik padanya" Maki Robert pada dirinya sendiri.


Lalu Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang dan mencoba ingin melupakan bayangan wanita yang sudah membuatnya gunda gulana.


Sementara itu, Lee melihat Rebecca telah menyalin pakaiannya dan ikut duduk di sofa, lalu meminum susu yang hampir dingin dan mengunyah sekeping roti dengan lahabnya.


"Kamu sendiri, apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Rebecca sembari mengunyah makanannya.


Lee menarik nafasnya dengan berat "Sedang melanjutkan kuliah" jawab Lee.


"Oh.. Begitu"


Lalu Rebecca menghabiskan rotinya dan meneguk habis susu tersebut.


"Terimakasih atas sarapannya" ucap Rebecca.


"Ya.." jawab Lee singkat.


Lee melirik pada gadis pirang itu, tampak cantik, dan kali ini juga memoles wajah dengan sedikit make up, namun tak mengalahkan kecantikan Asih yang alami.


"Aaaargghh.. Asih.." gumannya kesal.. Lalu mengacak rambutnya.


Rebecca yang melihat hal tersebut membuatnya merasa sangat bingung "Asih..? Siapa dia?" tanya Rebecca dengan penuh penasaran.


Lee tak menjawabnya, Ia mengabil sebungkus rokok yang berada disaku celananya, Ia menyulutnya dengan pemantik api, lalu menghiSapnya dengan dalam, dan menghembuskan asap pembawa penyakit tersebut.


Rebecca menghampirinya, lalu mengambil sebatang rokok milik Lee, dan melakukan hal yang sama.


"Sepertinya Kau begitu dalam mencintai gadis bersama Asih.. Secantik apa dia? Sehingga membuatmu begitu frustasi?" tanya Grace dengan hati-hati tetapi penuh dengan penekanan.


Lee menatap nanar, pandangannya begitu sangat mengenaskan yang tergambar jelas pada sinar matanya.


"Dia sudah menikah dan memilih orang lain" jawab Lee.. Entah mengapa kali ini Ia tak mampu menahannya.


Rebecca tersenyum tipis "Berarti Ia lebih mencintai pria itu dibanding dirimu, maka lupakanlah" ucap Rebecca sembari menghembuskan asap rokok yang mengepul diruangan tersebut.


"Tak semudah itu.. Ia sangat berbeda, dan juga teristimewah" jawab Lee, lalu menekan puntung rokoknya hingga mati pada asbak yang tersedia.


"Kau akan melupakannya jika menemukan tambatan hatimu yang lain" ucap Rebecca sembari melirik pada pria patah hati tersebut.


Lee menanggapi lirikan Rebecca yang menyiratkan sebuaj makna tersembunyi.


Gadis itu tampaknya terlalu agresif. Ia mengikiskan jarak diantara mereka "Aku juga wanita patah hati.. Kekasihku mengkhinatiku saat kami telah bertunangan, dan Ia lebih memilih wanita itu dibanding dengaku.


Waktu yang kami habiskan bukan hanya sebentar, namun 3 tahun lamanya dan itu sempat membuatku hampir gila memikirkannya" Rebecca mendekatkan wajahnya pada Lee.


"Namun Aku tak ingin terlalu lama dalam kesedihan. Aku mencoba membangun hatiku yang rapuh untuk tetap tegar dan berdiri. Menghapus segala kenangan indah bersamanya dan mengingat semua tentang keburukannya, maka aku dapat terlepas darinya" Rebecca semakin mendekat.


"tetapi tak ada kenangan buruk tentangnya" jawab Lee.


"Pasti ada.. Cobalah untuk mengingatnya" ucap Rebecca, yang kini dengan berani menyesap bibir pemuda patah hati itu dengan rakusnya.


Lee yang tersentak dengan perlakuan sang gadis berusaha untuk menolaknya, namun Rebecca tampak lapar bagaikan kucing liar.