Buhul ghaib

Buhul ghaib
Serangan



Dina merapaikan ranjangnya. Ia menantikan Bromo untuk hadir malam ini. Namun tak jua tampak tanda-tanda kehadirannya.


"apakah suamimu belum pulang juga Din..? Umi perhatikan sudah hampir 2 minggu Dia tidak pernah pulang. Apa dia benar-benar bekerja..?" cecar Umi Lastri yang merasakan ada kejanggalan pada menantunya itu.


"emm.. Katanya Malam ini pasti pulang koq Mi.." jawab Dina dengan hati was-was..


Ia beranjak dari kamarnya dan menuju sajian makan malam.


Abah baru saja selesai melaksanakan shalat Isya. Ia tampak ingin menghadap makan malamnya.


Baru saja Abah akan mengambil piringnya, terdengar suara teriakan seseorang dari arah luar dengan sangat memilukan.


Seketika Abah menghentikan kegiatannya. Abah, umi dan Dina saling pandang, Ia kembali meletakkan piringnya, dan bergegas menuju pintu depan. Lalu mengintainya dari celah jendela.


Tampak diluar sana seorang pemuda berusia 20 tahun sedang berdiri terpaku dijalanan, menatap satu sosok yang sedang melayang diudara.


Satu bola api sedang menuju pada pemuda tersebut. Namun tak ada satupun warga yang keluar rumah untuk menolongnya.


Dina membuka pintu rumahnya. "tunggu..!! jangan keluar. Banaspati itu berbahaya dan dapat membunuhmu..!!" cegah Abah kepada Dina.


Namun Dina tidak mengindahkan peringatan Abah. Ia bergegas menuruni anak tangga dan menuju perlataran, mengambil sebilah bambu jenis bambu tali yang akan digunakan umi untuk membuat anyaman keranjang.


Bambu sepanjang 2 meter setengah itu Ia jadikan senjata untuk mengusir makhluk yang sedang menyerap energi negatif dari si bocah yang sedang menatap ketakutan.


Dina berlari kencang menghampiri sang Banaspati, lalu dengan gerakan menjejakkan batang bambu ke tanah, Dina mengangkat tubuhnya dengan ringan dan melayang diudara.


Dengan gerakan cepat Ia melayangkan tendangannya kepada Banaspati tersebut. Hingga membuat Banaspati itu terpental jauh dan meninggalkan suara lengkingan yang sangat kuat.


Dina mendaratkan tubuhnya dengan ringan di atas tanah. Lalu dengan gerakan cepat Ia membawa pemuda itu naik keatas rumah.


Abah turut membantu menaikkan pemudah keatas rumah. Sesaat dari kejauhan terdengar suara desingan bola berputar diudara mengarah kepada Dina untuk membalas sebuah serangan.


"abaah..tutup pintunya..!!" perintah Dina kepada Abah Kasim.


Abah Kasim mematuhinya, lalu menutup pintu rumah dengan sangat cepat.


Dina memasang kuda-kuda pertahanan, lalu dengan menggunakan sebatang bambu yang dipegangnya, Ia memukulkan Banaspati itu layaknya sebuah bola kasti.


Banaspati itu melayang diudara, lalu kembali menyerang Dina, dengan tiba-tiba, dari arah lain tampak Banaspati lainnya datang dengan menderu-deru berputar bagaikan gasing menyerang Dina secara bersamaan.


disaat genting seperti ini, Dina teringat akan Bromo. "Kanda, bantu aku..".. Bisik Dina dalam hatinya.


seketika muncul secarik cahaya, lalu menghantam ke empat Banaspati itu. Sosok cahaya itu berbalik menyerang keempat Banaspati, dengan sebuah anak panah yang ujungnya mengandung api. Lalu kemudian Anak panah itu dilepas membidik pada Banaspati yang bergerak dan mendesing.


Wuuuuuuissshh...ssssthh.....


Anak panah lepas dari busurnya. Dengan cepat melesat mengenai Banaspati secara bersamaan.


Aaaarrrgghh..


Suara erangan kesakitan tampak begitu mengenaskan, melengking memecah kesunyian.


Dalam sekejap, anak panah itu menghabisi keempat banaspati itu.


Dina bernafas lega.. Ia melemparkan bambunya begitu saja dihalaman rumah.


"Kanda.. Itu kah kau..?" ucap Dina kepada cahaya yang sudah membantunya berperang melawan para Bamaspati itu.


saat Dina mencari secercah cahaya yang sudah membantunya itu, Ia tak lagi menemukannya.


Sesaat Dina teringat akan pemuda itu. Ia bergegas naik keatas rumah. Ia melihat pemuda itu terluka parah dan sangat meprihatinkan.


Warga yang semula bersembunyi, kini mulai berani keluar satu persatu dari rumah.


Dina memegang keningnya..terasa sangat panas dan tampak membiru di bagian tubuhnya.


Dina meminta segelas air kepada umi, dan Ia mulai membaca mantra dan doa yang pernah diajarkan Bromo kepadanya. Sesaat Ia meniupkannya kedalam gelas berisi air.


Dina memercikkan air tersebut keseluruh tubuh sipemuda. Seketika si pemuda mengerjapkan matanya, melihat kesekeliling. Ia bingung karena orang-orang berkerumun memandangnya.


"haaah.. A..ada apa..? Mengapan kalian melihatku seperti itu?


Lalu datanglah sepasang suami istri membelah kerumnan. Mereka tampak panik dan segera meihat pemuda itu yang tak lain adalah anaknya.


"kamu tidak apa-apakan sayang..? terlihat sangat panik. Sembari memeluk pemuda itu.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya. wanita itu membelai rambut sang pemuda.


"terimakasih telah membantu menyembuhkan anak saya." ucap wanita itu sembari memandang Dina.


Dina menganggukkan kepalanya. Lalu wanita itu memberikan beberapa lembar uang sebagai ungkapan terimakasih kepada Dina.


"emmm..tidak usah bu, saya ikhlas membantunya. " tolak Dina dengan halus.


Wanita itu tetap menyodorkan uang tersebut "ambillah, sebagai ungkapan rasa terimakasih saya. Sebenarnya anak saya ini menderita linglung, lalu berkeliaran dimalam hari. Kami sudah mencarinya kemana-mana beberapa hari ini. Namun tidak ada kabar. Hingga akhirnyankami mendengar kabar jika Ia sedang berada didesa tetangga dan sedang mendapatkan serangan dari Banaspati." ucap Wanita itu.


Dina hanya tersenyum kikuk. Ia tidak menyadari jika aksinya tadi ditonton oleh warga. Karena Ia melakukan semuanya dengan refleks saja.


Lalu mereka mengajak pemuda itu pulang. Saat pemuda itu beranjak dari duduknya, Ia menatap kepada Dina, sembari tersenyum penuh arti.


setelah kepergian pemuda dan kedua orangtuanya, maka warga mulai membubarkan diri satu persatu. Mereka membawa banyak pertanyaaan yang tak dapat dijelaskan olehbakal. Dimana mereka menyaksikan Dina melawan Banaspati itu dengan keberanian yang tidak biasa. Saat Dina masih remaja, Mereka mengenal Dina adalah seorang gadis rapuh dan manja. Namun setelah sekian lama menghilang Ia berubah drastis menjadi wanita tangguh.


Abah dan umi juga merasa bingung dengan perubahan yang terjadi pada Dina. Mereka tidak menduga, jika selama menghilang, membuat Dina menjadi wanita hebat. Bahkan Dina terlihat awet muda, ia yang sudah berumur 39 tahun, namun masih tampak seperti usia 20 tahun saja.


--------♡♡♡----------


desas- desus kehebatan Dina dalam menyembuhkan sihir santet itu telah merebak kesekuruh Desa hinggah merambah kekota.


Dimana kabar itu sampai menyampai sehingga mengembangkan rumor yang tak biasa.


-----------♡♡♡♡-------


Hari menjelang siang. Dina menanak nasi dan lauknya. namun Ia dikejutkan oleh suara salam dari luar rumah.


Dina menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu ingin melihat siapa yang datang.


Saat Ia membuka pintu rumah, Ia melihat seirang pemuda tampan telah berdiri diambang pintu. Ia memastikan jika Pemuda itu adalah pemuda yang ditolongnya malam tadi.


Ia tampak tersenyum manis, sembari membawa beberapa makanan untuk buah tangan.


"hai.. Ini untuk kamu, terimaksasih sudah menolongku." ucap pemuda itu, sembari menyodorkan bauah tangan yang dibawanya.


Dina meraihnya. "terima kasih.." ucap Dina datar.


pemuda itu mengangguk. "boleh saya bertamu.?" tanya pemuda itu.


Dina membulatkan matanya ."wah.. Tidak bisa, soalnya Abah dan Umi sedang tidak ada dirumah. Lain kali saja ya.?" tolak Dina halus.


Pemuda seperti tampak kecewa. "ya sudah.. Nanti malam saya akan datang berkunjung" ucap Pemuda itu, dengan senyum sumringah.


Dina merasa kikuk. "emmm..ya sudah, saya mau memasak dulu." ucap Dina, seilah ingin cepat menghilang dari pandangan pemuda itu.


"baiklah. Selamat memasak, nanti malam aku akan datang lagi" ucapnya sembari menuruni anak tangga, dan beranjak pergi.


Dina buru-buru menutup pintu rumahnya, lalu melihat masakannya yang sudah tercium aroma gosong karena kelamaan melayani pemuda itu berbicara.