Buhul ghaib

Buhul ghaib
Memutar Arah



Kasim dan Lastri tak mampu menahan air matanya. Setelah sekian purnama, akhirnya Dina kembali lagi kepangkuan mereka "Kamu kemana saja, Din?" isak Kasim, yang menuntun masuk puterinya. "Kamu sudah membuat Abah dan Umi cemas" Isak Lastri sembari memeluk erat Dina.


"Maafkan Dina, Abah dan Umi, sudah membuat kalian cemas. Dina kembali ke atas bukit untuk melakukan perobatan. Dan kunjungan Dina kemari untuk memberitahu, jika Dina akan menetap di atas bukit." ucap Dina mencoba menjelaskan.


Abah dan Umi saling berpandangan, namun Ia juga tak dapat melarang puterinya, karena puterinya sudah memilih pilihan hidupnya.


"Tapi bermalam disini barang sejenak" pinta Abah, yang sudah bersiap-siap akan melaksanakan ibadah shalat maghrib.


Dina menganggukkan kepalanya, lalu menenteng karung berisi berbagai buah tangan yang diberikan Bromo kepadanya. "Ini olrh-oleh dari menantu Abah, Ia menitip salam kepada Abah dan Umi" ucap Dina, lalu membawa karung itu ke dapur.


"Ucapkan padanya terimakasih.." jawab Abah, lalu memulai ibadah shalat maghribnya.


"Ya.." ucap Dina, yang sudah berada didapur.


Dina beranjak ke kamar mandi yang telah dibuat oleh Abah. Hal itu dilakukan agar Umi tidak lagi jauh kebelakang dan was-was jika kondisi licin dan tergelincir.


Dina membersihkan dirinya, lalu kekamarnya yang berada berbatasan dengan dapur, masih sama seperti semula.


Setelah mereka selesai menunaikan Ibadah shalat maghrib, lalu mereka melqnjutkan makan malam seadanya, dqn bercengkrama melepas rindu.


*****


Hari tampak beranjak malam. Sekelompok orang yang sedang melakukan pengejaran menghentikan pengejaran mereka karena terhalang oleh kegelapan malam.


Setelah mendapatkan tempat yang cocok untuk berteduh, mereka memasang api unngun untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya hawa perbukitan.


Kali ini Rocky yang bertugas untuk berjaga malam. Setelah yang lainnya mulai tertidur, Rocky mulai mencoba mengganjal matanya dengan memakan sisa makan siang mereka agar tak mengantuk.


Sesaat Ia melihat sebuah bola Api terbang melayang melintasi mereka. Ia mengira jika ada seseorang yang sedang mengintai mereka menggunakan obor.


Bola Api itu tampak terbang melayang mengitari mereka. Rocky merasa aneh dengan hal umyang dilihatnya. Dalam dunia mafia, Ia sudah terbiasa menghadapi hal yang bertentangan dengan tindak kejahatan, membunuh dan sebagainya.


Namun dalam hal ghaib, Ia menganggapnya hanyalah sebuah ilusi belaka.


Karena rasa penasaran yang begitu sangat besar. Rocky mencoba untuk memeriksanya.


Bola api itu berhenti tak jauh dari tempat mereka beristirahat.


Rocky mengernyitkan keningnya, dan mencoba melihatnya lebih dekat. Sesaat matanya terbeliak saat melihat bola api terbang itu adalah Sesosok makhluk yang sangat mengerikan.


Dalam suasana yang ketakutan, makhluk itu mengeluarkan seringainya yang membuat Rocky semakin ketakutan dan menggigil.


Rasa takut yang berlebihan yang dihadapi oleh Ricky,do manfaatkan oleh makhluk mengerikan yang tak lain adalah banaspati tersebut.


Seketika Banaspati tersebut menghisap energi negatif milik Rocky, lalu menyerapnya dengan sempurnah.


Sesaat kemudian, Rocky bergetar hebat. Matanya terbeliak karena merasakan takut berlebihan dan juga melemah karena energinya terserap oleh makhkuk tersebut.


Setelah puas mendapatkan energi negatif pria itu, sosok bola api tersebut seketika menghilang entah kemana, meninggalkan Rocky yang dalam kondisi lemah dan linglung.


Saat mentari pagi menjelang, seluruh orang yang tertidur dalam lingkaran kelompok itu terbangun.


Mereka mengerjapkan matanya, mencoba melihat dunia yang dipenuhi hutan belantara.


Sani yang tak melihat Rocky disisi mereka, langsung celingukan mencari keberadaan rekannya itu.


Ia melihat dari kejauhan, jika sahabatnya itu duduk termangu seorang diri dalam tatapan kosong.


Sani mencoba menegurnya "Hei.. Bang, ngapain melamun disini?" ucap Sani mencoba menyapa rekannya.


Namun Rokcy tampak diam tak bergeming. Lalu Sani mencoba menepuk lembut pundak Rocky, sehingga membuat rekannnya itu tersentak.


Lalu tanpa menjawab pertanyaan Sani, Ia beranjak bangkit dan berkumpul bersama yang lainnya. Namun Ia berbeda dari hari sebelumnya, Rocky tampak linglung dan juga lemah.


Rekan-rekan lainnya melihat perubahan yang sangat drastis dari Rocky, mereka mengira jika Rocky sedang kelelahan karena berjaga, lalu membiarkan pria itu untuk beristirahat.


Tanpa diperintah lagi, dua orang yang lainnya segera beranjak untuk berburu, untuk makan pagi mereka, sedangkan yang lainnya bertugas mengambil air didekat sungai yang tak jauh dari tempat mereka beristirahat.


******


Dina sudah berkemas untuk kembali pulang ke puncak bukit. Meskipun Abah dan Umi mencoba menahannya, namun Ia merasa sudah nyaman jika tinggal disana, tanpa ada beban.


Dengan berat hati Abah dan Umi melepaskan kepergian Dina yang tak dapat dicegah.


Lalu Dina berpamitan untuk pulang, dan berjalan menyusuri jalanan desa, hingga menuju tepi hutan.


Dalam perjalanan menuju hutan, tampak pandangan mata para tetangga yang menatapnya dengan tatapan bingung. Beberapa waktu yang lalu, Dina sempat menyelamatkan mereka dari gangguan ular misterius dan orang asing yang menuduhnya sebagai penyebab bencana.


Mereka seperti antara ragu dan juga curiga, jika Dina membawa kesialan didesanya. Namun sebagian lagi mencoba mempercayainya.


Dina telah memutuskan untuk hidup menjauh dari para tetangganya dan mengasingkan diri diatas bukit.


setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Ia sampai juga ditepi hutan, tempat Ia menambatkan kuda milik Chakra.


Saat Dina bersiul memanggilnya, Kuda itu keluar dari persembunyiannya dan menemui Dina sedang memanggilnya.


Dina mengusap lembut leher kuda itu dengan lembut. "Kita akan kembali kehutan, apakah Kau sudah siap?" tanya Dina dengan lembut.


Kuda itu meringkik, menyatakan kesiapannya. Lalu Dina melompat keatas punggung kuda tersebut.


Dina menarik tali kekangnya, lalu kuda itu mulai berlari dan meninggalkan desa memasuki hutan.


Dina memutar arah dari perjalanannya kemarin, sedikit memakan waktu perjalanan, namun untuk menghindari pria Jahadi yang kemarin dilumpuhkannya.


Dina terus memacu kudanya dengan sangat kencang, hingga tengah hari tiba, Ia mencoba beristirahat dqn memberi malan kudanya.


Ia mencoba mencari pohon kayu yang rindang dan duduk bersandar disana. Ia mengambil botol air mineralnya yang dibawa dari rumah abah, dwn membuka bekal yang disiapkan oleh umi.


Saat sedang asyik menyantap makan siangnya. Ia merasakan jika Ia sedang diawasi oleh sekelompok orang yang sedang bersembunyi dibalik rimbunan semak.


Dina mulai waspada, Ia mempesiapkan pedangnya dan mempercepat makan siangnya. Saat ini Ia terperanjat, saat melihat satu tengkorak manusia yang sepertinya diperkirakan dua hari yang lalu sedang diterkam oleh harimau dan menjadi santapannya.


Diusia Dina yang menginjak 39 tahun, namun kemolekan tubuhnya masih sama dengan remaja lainnya. Ia masih sesintal masa remaja dulu.


Wajah Ayunya yang tampak begitu alami tanpa polesan skincare dan make up, membuat pengintai itu menelan salivanya berulang kali.


"Gila, Bos..! Ditengah hutan seperti ini ada santapan bagus" ucap seorang bawahan kepada Bos nya yang memiliki tubuh kekar, dengan sorot mata tajam dan penuh keserakahan.


"Aku menginginkannya, bawakan Ia untukku" titah pria bertubuh kekar itu dengan tatapan ******.