
Asih merasa gelisah. Suasana yang indah namun tak membuatnya merasa nyaman. Ia merindukan dunianya.
"Romo.. Aku ingin kembali.." ucap Asih dengan perasaan sepinya.
Seketika Bromo datang menjelma dihadapannya..
"Kau ingin kembali?" tanya Bromo dengan tenang.
Asih menganggukkan kepalanya. Ia merasa kesepian ditempat ini. Meskipun tempat ini tampak begitu indah, namun tak dapat membuat hatinya tenang.
"Baiklah.. Romo akan membawa kembali" ucap Bromo, lalu memegang pergelangan tangan puterinya, dan dalam sekejap mata sudah berada dikediaman Dina.
Tampak Dina sedang meracik sayuran. Melihat kehadiran puteri serta suaminya, Dina menghentikan pekerjaannya.
"Sudah kembali?" tanya Dina? Lalu memeluk puterinya, dan berganti memeluk Suaminya.
Asih meninggalkan keduanya, lalu beranjak kekamarnya. Saat ini Ia berpapasan dengan Chakra.
"Heei.. Kemana saja Kau? Mengapa menghilang dengan tiba-tiba?" tanya Chakra yang terkejut dengan kehadiran Asih.
Tak menyahuti ucapan Chakra. Ia berjalan dengan langkah kasar dan menuju kamarnya. Namun Chakra mengekorinya dari arah belakang dan ikut masuk kedalam kamar.
Asih menghempaskan tubuhnya ditepian ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan nanar.
"Apa yang terjadi padamu? Kita sudah lama tidak bertemu. Tidakkah Kau merindukanku?" tanya Chakra dengan penasaran.
"Aku mencarimu kesana-kemari hingga tak tahu arah tujuan, namun baru saja bertemu Kau sudah menghilang saja" Chakra terus mengomel.
Namun Asih masih diam tak bergeming. "Kak.. Mengapa Kau tak memiliki ekor sepertiku?" tanya Asih dengan nada penasaran.
Seketika Chakra terdiam dengan pertanyaan Asih. Ia juga tidak mengetahui apa penyebabnya.
"Apakah kita memiliki romo yang berbeda?" tanya Asih kembali.
Chakra membolakan matanya. Lalu menatap pada Asih. "Apa yang Kau katakan? Kita memiliki Ibu dan Ayah yang sama, itu pertanyaan konyol yang pernah Kau tanyakan" ucap Chakra menanggapi ucapan Asih.
Gadis itu melirik kearah Chakra "Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Ibu dari Kita" ucap Asih dengan yakin.
"Adikku Sayang... janganlah berfikiran buruk seperti itu.. Tidak mungkin Ibu merahasiakam sesuatu dari Kita" ucap Chakra meyakinkan adiknya.
Asih kemudian memuyar pandangannya, menatap kembali pada langit-langit kamarnya.
Ia merasakan sesuatu yang benar-benar disembunyikan oleh Ibunya.
Chakra melihat Asih hanya berdiam diri, lalu Ia berpamitan dan keluar dari kamar Asih. Ia ingin memberi waktu sendiri untuk Asih.
Asih masih berdiam diri didalam kamarnya, meratapi nasibnya yang tak biasa.
Sementara itu, Lee memacu mobilnya, mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Ia kngin meminta maaf kepada gadis itu.
Lee sudah berusaha melupakan Asih, namun tetap saja bayangan dan rasa rindu tak dapat hilang dari dalam dirinya.
Lee telah sampai didepan pagar rumah Asih. Ia menatap balkon, berharap gadis itu, berada disana.
Seperti sebuah keterikatan, hati Asih merasa bergetar dan ingin keluar dari dalam kamarnya. Langkah kakinya menuju balkon, Ia memegang pagar balkon, lalu memandang kesekelilingnya.
Saat itu tatapan mata mereka beradu. Asih menatap pemuda itu, tatapannya begitu nanar. Tak berselang lama, Ia memutar tubuhnya dan memilih untuk masuk kedalam dan menuju kamarnya. Ia mengurung diri didalam kamar.
Lee memandangi gadis itu yang pergi begitu saja meninggalkannya. Pemuda itu menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya dengan kasar.
"Apakah masih marah denganku?" guman Lee dengan lirih. Ia tidak tahu caranya menghadapi wanita jika sedang merajuk. Sebab Ia belum pernah jatuh cinta dan juga baru pertama kalinya.
Lee bingung bagaimana caranya menghadapi Asih. Ia tidak tau caranya bagaimana merayu gadis itu.
Saat Ia masih kacau dengan fikirannya, Chakra keluar dari rumah, sepertinya Ia sedang ada keperluan.
Melihat mobil Lee terparkir didepan pagar, Chakra beregegas menghampirinya.
"Heei.. Bos. Apa kabar? Apakah ingin menjemputku?" tanya Chakra kepada Lee.
Entah mengapa Ia menjadi sungkan terjadap pemuda itu. Selama ini Ia hanya menhanggapnya biasa saja.
"Ayolah masuk, sudah sampai disini tetapi mematung diluar, tidak enak dilihat orang" ucap Chakra memaksa.
Karena merasa kepalang tanggung, Lee akhirnya menuruti permintaan Chakra, lalu mengemudikan mobilnya hingga kehalaman rumah.
Sementara itu, Bromo berpamitan kepada Dina, Ia tak dapat berlama-lama.
Dina kembali melanjutkan memasaknya.
Lee mengikuti Chakra masuk kedalam rumah. Lalu pemuda itu mempersilahkan Lee untuk duduk disofa. Sementara itu Chakra pergi kedapur untuk membuatkan minuman.
"Masak apa, Bu?" tanya Chakra, sembari mengambil dua buah gelas dan mengisinya dengan air limun dingin.
"Masak sup. Apakah ada tamu?" tanya Dina dengan santai.
"Ya.. Bu.Teman Chakra yang waktu itu." jawab Chakra sembari mengambil nampan dan membawa gelas berisi air limun tersebut.
Dina hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan memasaknya.
Chakra menghidangkan minuman itu kepada Lee dan juga untuk dirinya. Dari atas lantai dua, seekor kelinci menuruni anak tangga dengan melompat lincah, dan naik kepangkuan Chakra.
Tak berselang lama, Asih juga turun dari lantai dua.
Saat melihat Lee berada diruang tamu, Ia ingin memutar tubuhnya dan kembali lagi naik keatas. Namun Chakra mencegahnya.
"Dik.. Kenalkan ini teman kakak. Beliau yang menolong kakak selama mencari kamu dikota ini. Sini kenalan" ucap Chakra dengan bersemangat.
Asih memutar bola matanya dengan malas. Lalu Dina juga muncul dari dapur, Ia mengajak Asih untuk makan siang bersama dan juga Lee.
"Asih.. Bantu Ibu menyiapkan makan siang, Sayang" ucap Dina dengan tenang.
Asih kembali melangkahkan kakinya dan menuruni anak tangga.
"Ayo, Chakra, bawa temanmu untuk makan siang bersama" ucap Dina kepada Chakra.
"Baik, Bu.." jawab Chakra.
Sementara itu Asih melintasi kedua pemuda itu dengan begitu Acuh tak acuh.
Chakra bingung dengan sikap Asih yang tak biasa.
Namun Ia memaksa Lee untuk makan bersama. Sehingga Lee tak dapat menolaknya.
Asih membantu Dina menata makan siang mereka dimeja makan.
Hal yang tak pernah dilakukannya sama sekali.
Ia melihat masakan Ibunya yang sangat berbeda dari saat didalam goa. Berbagai hidangan yang tak pernah disajikan Ibunya saat disana. Sebab semuanya hanya dibakar dan direbus saja.
Lee dan Chakra sudah duduk dikursi makan dan Asih diminta untuk memberikan piring kepada Lee dan Chakra.
Saat memberikan piring kepada Lee, Asih dengan sengaja meletakkan piring itu dengan suara dentingan yang sangat keras, sehingga membuat semuanya tersentak kaget.
"Asih.. Anak gadis tidak baik bersikap seperti itu" ucap Dina menasehati puterinya.
Lalu Asih mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Lee.
Dina mempersilahkan untuk anak dan tamunya makan siang dengan sangat ramah.
Lalu mereka mengambil makanan mereka masing-masing.
Saat Lee hendak menyuapkan makanannya kedalam mulutnya, tanpa sengaja Ia melirik kearah Asih.
Saat itu Asih sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan mata yang membola, sehingga membuat Lee tersedak saat akan menelan makanannya.