
Rere menghela nafasnya, Ia merasakan jantungnya satu hari ini begitu sangat berolahraga.
Ia memilih untuk masuk kembali kekamar Lee, dan melemparkan satu stelan pakaian untuk Chakra diatas lantai.
Ia mencoba menepis semua fikirian kotornya tentang pemuda itu.
Ia memeriksa pintu lemari yang tampak rusak parah. "Apa sebenarnya yang terjadi disini..? mengapa begitu amat berantakan..?" Rere berguman lirih dan mencoba mencari jejak dari segala peristiwa yang terjadi.
Tanpa sengaja Ia melihat tumpukan kapas yang diatas sebuah mangkuk stainles stell. Kapas itu penuh noda darah yang mengering. "Apa ini semua..? Siapa yang terluka..?" Rere merasakan ini adalah sebuah teka-teki yang harus Ia pecahkan.
Sesaat Ia melihat sebuah tanktop yang berlumuran darah. Ia mengangkatnya, lalu memperhatikannya dengan seksama.
"Apakah Kak Lee sedang menyelamatkan seorang gadis..? Tetapi sejak kapan Ia perduli dengan itu semua..?" ujarnya dengan lirih.
Disisi lain, Ia juga sedang menelisik berbagai alat medis yang digunakan untuk membedah.
"Sepertinya gadis itu terluka parah..? Namun mengapa bisa..? Apakah Ia juga merupakan seorang agen rahasia..?" Rere semakin penasaran.
Ia memegang dagunya dengan lembut, dan tangan kirinya berdekap didadanya.
"Sepertinya Kak Lee sedang jatuh cinta pada gadis itu.. Aku jadi penasaran secantik apa Dia.. Sehingga mampu meluluhkan hatinya yang dingin." ujar Rere dengan penasaran.
Saat itu, Ia mendengar derap langkah memasuki kamar Lee, sejenak Rere memalingkan wajahnya kearah suara langkah kaki tersebut.
Saat Ia melihat siapa yang berada diambang pintu, Ia terperangah dengan ketampanan pemuda itu. Ditambah lagi dengan pakaian yang digunakannya, menambah auranya yang begitu sangat mempesona.
"Astaga.. Mengapa dia tampan sekali..?" ujar Rere dengan begitu lancarnya.
Namun sesaat Ia memalingkan wajahnya, mencoba memindai fikirannya yang mulai oleng.
Chakra mencoba memasuki kamar tersebut. Namun langkahnya terhenti. "Stop.. Kamu tetap diluar saja! Dan ingat, jangan lagi mandi dengan pintu terbuka.!" terang Rere dengan nada kesal.
Chakra menatap bingung. Selama ini Ia mandi disungai, dan tidak ada pintu yang untuk menutupnya. Lalu mengapa gadis itu marah..?" Chakra mencoba berfikir tentang apa yang diucapkan oleh gadis itu.
Seketika perut Rere merasa lapar. Bukankah Ia tadi berniat memasak untuk makan siang mereka..? Tetapi karena Chakra yang begitu sembrono, membuatnya menunda untuk memasak.
Ia melangkah keluar, melalui pintu yang mana Chakra berdiri tegak disana.
Dengan kesal Rere menepis ujung bahu Chkara dengan menggunakan ujung bahunya, agar Pemuda itu menepi dan Ia dapat melewati jalannya.
Chakra semakin bingung dengan sikap gadis itu yang tampak ketus.
"Apa salahku padanya.?" Chakra mengerutkan keningnya.
Lalu tampak gadis itu sedang memasak spaghetti dengan saus bolognese.
Chakra mencoba menghampirinya, dan melihat apa yang sedang dimasak oleh sigadis tomboy tersebut.
Arini yang saat itu sedang mencium aroma harum masakan itu menjadi ikut lapar.
Ia melompat dari tas sandang milik chakra yang terbuat dari kulit rusa tersebut.
Kelinci imut itu melompat menaiki meja makan dan ikut menunggu hidangan disana.
Chakra bingung dengan menu apa yang dimasak oleh Rere. Ia melihatnya seperti seekor cacing tanah berwarna putih.
"Mengapa kamu memasak Cacing..? Saya selama tinggal dihutan tidak pernah memakannya. Lebih enak ular sanca daripada memakan cacing." ujarnya polos.
"Haah..? Kau memakan daging ular..?!" seru Rere terperangah.
"Iya..! Bahkan daging kuda juga pernah saya makan, saat itu kuda tersebut sedang terluka parah, daripada mati sia-sia, lebih baik saya sembelih dan dipanggang." jawabnya polos.
Rere membeliakkan matanya, Ia merasa bergidik dengan apa yang diucapkan oleh pemuda disampingnya.
"Mungkin manusia saja yang belum pernah kau makan.!" ucap Rere ketus. Lalu meneruskan ritual memasaknya.
Ia sudah selesai dengan memasaknya. Lalu membagi menjadi 2 porsi, satu untuknya dan satu lagi untuk Chakra.
Rere menghidangkannya diatas meja makan, mengambil air mineral dingin didalam lemari es.
"Makanlah.. Jangan sampai kau mati kelaparan.." ucap Rere dengan datar.
Chakra memandangi hidangan itu dengan tatapan aneh.
Rere merasa tersinggung dengan dengan prilaku Chakra.
"Makanlah..! Itu bukan cacing tanah seperti yang kau fikirkan.!" ucapnya kesal.
Chakra memandang Rere sembari nyengir kuda..
"Untung saja wajahnya cakep, meski bloon. Kalau tidak sudah ketendang Ia sampai tidak bisa bangun lagi." Rere menggerutu dengan kesal.
Dengan terpaksa Chakra mulai menyantap makanannya. Tak luput dari itu, kelinci itu juga ikut mencomot spaghetti tersebut dan makan dalam satu wadah yang sama dengan Chakara.
Rere terperangah hingga mulutnya membentuk huruf O. Bahaimana mungkin pemuda itu bisa makan dalam satu piring bersama hewan peliharanya.
Rere hanya menggelengkan kepalanya, menggagap pemyda itu terlalu berlebihan.
"Wah..ternyata cacing masakanmu enak.." ujar Chakra, setelah melahab habis hidangannya.
"Spaghetti.. Bukan cacing tanah." sergah Rere kesal. Lalu dengan cepat menghabiskan hidangannya. Setelah itu Ia membersihkan sisa piring kotor tersebut.
Entah apa tujuannya membelikan pemuda itu phonsel, apalagi dengan tujuan agar memudahkan mereka berkomunukasi. Apakah ada rasa takut jika suatu saat mereka berpisah dan harus terputus kebersamaanya.? Akh.. Hamya gadis itu yang tau tujuannya.
"Apa itu phonsel.?" tanya Chakra bingung.
"Jangan banyak tanya, bersiap sajalah.. Nanti disana akan kuberi tahu.." jawab Rere dengan ketus.
Chakra hanya memanggut-manggutkan kepalanya, mengikuti semua perintah sang gadis.
"Disini dulu, aku ingin mandi, dan ingat, awas saja jika kau sampai mengintipku mandi..! Ucapnya dengan nada ancaman.
"Mengintip..? Apa itu mengintip..?" tanya chakra lagi.
Rere mendengus kesal. Lalu menepuk jidatnya. Ia sudah kehabisan kata-kata menghadapi pemuda itu. "Yaelah.. kamu itu bloon atau polos sih.." ucap Rere dengan kesal sembari melangkah pergi masuk kekamar Lee, lalu membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemdian, Rere sudah selesai dengan mandinya. Ia tampak sudah rapi dan juga wangi.
Rere bersiap akan pergi, lalu melihat Chakra yang masih termangu ditempatnya. Kelinci itu sudah masuk kedalam tas sandangnya yang tampak unik tersebut.
"Heeey.. Ayo buruan..!" ujarnya dengan kesal, yang ditujukan kepada Chakra.
Seketika Chakra terperanjat dan beranjak dari duduknya, lalu mengekori gadis tomboy tersebut.
Mereka menyusuri koridor, lalu tiba di lift. Chakra masih trauma dengan alat ini. Rasa hentakan saat alat itu melaju turun kebawah membuat jantungnya seakan terhenti.
Rere menekan tombol dasar. Chakra memegang erat lengan Rere, saat benda itu meluncur turun kebawah dengan cepat.
Seketika Rere merasa iba juga sekaligus geli melihat rona wajah Chakra yang ketakutan saat Lift meluncur. Bahkan cengkramannya begitu sangat kuat.
Saat mereka sudah berada dilantai dasar, Chakra belum juga melepaskan cengkramannya.
Rere membiarkan pemuda itu mengatur detak jantungnya agar normal, dan benar saja, setelah itu Ia melepaskan cengkramanya.
Rere menuju lahan parkir yang disediakan oleh pihak apertemen. Ia mengambil sebuah mobil lalu meminta Chakra segera naik kedalam mobil.
setelah itu, Rere mengemudikan mobil dan membelah jalanan kota yang tampak hiruk pikuk dengan segala aktifitasnya.
Setelah lama mengemudi, mereka menemukan sebuah toko phonsel, lalu mereka mampir ditoko itu.
Keduanya berjalan melenggang kearah Toko. Namun..
Wuuuuussh... Buuuughh..
Sebuah pukulan dari arah belakang hampir saja mengenai leher Rere, dan hal itu sangat fatal jika sampai terjadi.
Namun dengan cekatan, Chakra menangkap pergelangan tangan sipenyerang. Lalu dengan cepat menekuk pergelangan tanngan si penyerang.
Aaarghhh..
Teriak sang penyerang, dengan wajah merah padam menahan sakit.
Lalu tak sampai disitu saja, Chakra dengan cepat menyikutkan sikunya didada sebelah kanan Pria penyerang, lalu mengait kaki kanan lawannya, hingga pria itu jatuh terjerembab dihalaman toko.
Semua orang menonton pertikaian itu. Ternyata pria itu tidak sendirian, tetapi ada 2 rekan lainnya.
Kedua rekan itu lalu membantu menyerang Chakra yang dianggap sebagai batu sandungan bagi mereka.
Rere terperangah dengan kecekatan atas keahlian bela diri hang dimiliki oleh Chakra. Ternyata dibalik sikap polos dan bloonnya, Ia memiliki kelebihan tersembunyi.
Melihat kedua orang itu menyerang Chakra, Rere mencoba membantunya. Chakra membuat Rere terkejut bukan main, saat pemuda itu memegang pinggangnya laku mengangkat membujur dan menjadikannya senjata, untuk menendang para pria itu. Namun mengerti maksud Chakra, Rerepun melepaskan tendangannya.
Tak lama terdengar suara sirene mobil polisi. Kedua pria itu memilih kabur dengan tubuh penuh luka, lalu meninggalkan temannya yang sekarat.
Rere juga memilih untuk kabur, dan menarik tangan Chakra untuk segera meninggalkan tempat itu. Mereka memilih gang sempit dan gelap untuk menghindari kejaran polisi.
Mereka menaiki dinding rumah penduduk dengan cara parkur.
Lalu mereka sampai di atas atap rumah penduduk yang berbahan cor. Mereka bersembunyi disana.
"Siapa mereka..?" tanya Chakra penasaran meski nafasnya masih tersengal.
"Mereka anak buah Andre.." jawab Rere dengan nafas yang masih memburu.
Deeeegh..
Ada perasaan lain dihati Chakra, saat mendengar kata 'Andre' tersebut. Entah perasaan apa yang sedang merasuk relung hatinya.
"Siapa dia.?" tanya Chakra kembali
"Seorang bos mafia kejam, penyeludup narkoba dan perdagangan manusia." jawab Rere.
Chakra diam termangu. Ia hanya bisa mencerna kata 'kejam' yang dianggapnya sangatlah begitu sadis.
Lalu Ia terdiam, dalam kebisuan. Nama itu masih melekat diingatannya, Ia sangat ingin bertemu dengan pria kejam itu.
Bersambung..
😴😴😴