Buhul ghaib

Buhul ghaib
eoisode 244



Edy menggunakan kartu pembuka kunci markas tersebut dan dengan mudah pintu itu terbuka.


Edy melangkah dengan sangat hati dan juga berusaha tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


tampak dikiri dan kanan sebuah penjara yang menawan ratusan pemuda dan juga wanita. Ternyata selama ini Wei menyimpan para tawananan didalam penjara yang berada dimarkasnya.


Wanita-wanita itu akan diperjual belikan sebagai pemuas hasrat yang didapat dari berbagai negara belahan dunia saat sebelum wabah menyerang.


Kondisi mereka sangat mengenaskan karena berada dalam satu ruangan yang melebihi kapasitas dan seolah-seolah mereka sedang berebut oksigen untuk bernafas.


Jika diantara mereka tidak ada yang membeli dalam waktu yang lama, maka Wei akan memperjualbelikan organ tubuh para tawanan kepada rumah sakit-rumah sakit diseluruh di dunia yang membutuhkan organ tubuh untuk dicangkokkan dan tentunya Wei memperkejakan dokter yang dapat melihat kesamaan jenis dan golongan darah bagi pasien yang membutuhkan donor organ tubuh tersebut.


Para pemuda akan direkrut menjadi para bodyguard dan juga pekerja paksa, dan untuk saat ini akan dijadikan mutan yang akan mematuhi segala perintahnya.


Edy memandang miria pada seluruh tawanan yang tampak begitu mengenaskan.


Namu Ia tak memiliki waktu untuk itu. Ia akan membebaskan mereka jika Ia sudah mendapatkan batu permata tersebut. Sebab jika Ia membebaskan tawanan saat ini akan membuat masalah semakin besar, dan bisa saja tawanan terbunuh karena Wei tentu akan mencurigainya.


Edy terus berjalan menyusuri lorong yang mana dikanan kirinya terdapat berbagai tabung kaca yang tampaknya seperti lemari pendingin yang mana berisi mayat-mayat yang tampaknya akan diawetkan.


Dan alangkah terkejutnya Edy saat melihat salah satu jasad tubuh yang berada dipeti es tersebut salah satunya adalah jasad Rebecca, dan Edy tercengang.


Jika itu jasad Rebecca, lalu siapa yang musnahkan disana, saat berada dijalanan menuju ke arah sini?


Edy menggelengkan kepalanya, Ia tak menduga jika Wei begitu sangat licik dan juga serakah akan kekuasaan.


Disisi lain, Wei tertawa dengan seringai. Ia mencium aroma tubuh Edy yang tentunya karena batu mirah delima yang ada didalam tubuh pria itu.


Tatapannya begitu penuh kebencian dan juga balas dendam.


Lalu sosok wanita iblis yang tak lain adalah Ristih keluar dari tubuh Wei dan hanya bagian kepalanya saja begitu juga dengan Jahadi yang kini dalam rupa makhluk tengkorak dengan mata merah menyala.


"Tumbal itu telah datang menyerahkan dirinya, dan kini batu mirah delima itu akan kembali padaku, dan Aku menginginkan kekuatanku kembali" suara Ristih kembali menggema setelah lama Ia bersemayam didalam tubuh pria itu"


Wei tampak begitu sangat mengerikan dengan kehadiran kedua sosok tersebut yang membuatnya begitu sangat terlihat mengerikan.


Pria itu kemudian berjalan turun dari singgasananya dan menggerakkan jemarinya lalu meminta para bodyguard menegeluarkan tawanan pemuda yang saat ini sedang dalam tahanan jeruji besi.


Edy mendengar suara derap langkah kaki yang menuju arah ruang tempatnya sekarang berdiri.


Edy bersembunyi dibalik sebuah dinding penghubung dan Ia melihat 4 orang bodyguard sedang menuju keruang tahanan.


Edy melihat jika ini adalah sebuah petaka, sebab mereka tampaknya akan mengeluarkan para tahanan yang mana akan digiring untuk dijadikan mutan dan menyerangnya.


Edy mendengar percakapan para bodyguard tersebut, dan Ia tidak ingin terjadi.


Dengan cepat Edy menembakkannya kepunggung kiri para bodyguard tersebut hingga menembus jantung mereka. Lalu Edy menembakkan peluru terakhir dibodyguard yang masih tersisa tepat dileher bodyguard itu sehingga membuat keempatnya terkapar dilantai.


Edy meraih kunci sel tahanan dan senjata api yang ada pada keempat orang tersebut, lalu melemparkannya kedalam jeruji besi, dan memberikan isyrat kepada mereka, jika situasi kondusif, mereka bileh keluar dan menyelamatkan diri.


Edy juga meraih kunci pembuka pintu khusus untuk para mereka yang diberikan keparcayaan khusus oleh Wei.


Setelah memberikan arahan tersebut, Edy mendengar suara derap langkah kaki yang sangat ramai, dan dipastikan itu berasal dari para bodyguard Wei yang mendengar suara tembakan saat tadi.


Dan benar saja, suara tembakan itu mengundang rasa penasaran dari para penjaga lainnya dan membuat mereka memeriksa lokas dimana suara tembakan itu berasal.


Saat mereka menuju ruang tahanan, mereka menemukan ke empat orang rekan mereka mati tertembak dan mengenaskan.


Maka mereka memastikan jika ada penyusup diruangan ini.


Para tawanan tampak terdiam dan seolah-olah tidak ada yang melihat kejadian tersebut.


Para bodyguard yang berjumlah sepuluh orang tersebut mencoba memeriksa sekitar ruangan, namun tak menemukan sosok yang mereka cari, sehingga tanpa diduga, Edy menjatuhkan tubuhnya dari atas langit-langit ruangan yang terdapat pipa besi-besi yang dipasang melintang untuk menyalurkan energi kegelapan yang menyatu kedalam lemari kaca yang berfungsi sebagai lemari Es.


Edy mendarat disalah satu pundak para bodyguard itu dan memutar leher lawannya sembari menembakkan sejata apinya kepada para lawannya dan menembakkan kepala lawannya yang kini sedang Ia tunggangi.


Dengan cepat para bodyguard tersisa memberikan serangan balasan, dan Edy melompat dari pundak lawannya dan kini menjadikan tubuh pria yang sudah tewas itu menjadi tameng untuk dirinya menghindari peluru yang dilancarkan kepadanya.


Tubuh pria yang sudah tewas itu kini menjadi sarang peluru dari rekan mereka sendiri yang berusaha membunuh Edy, namun selalu terkecoh.


Dan saat peluru mereka habis, Edy masih memiliki pasokan senjata api yang diambilnya dari para lawannya yang sudah Ia lumpuhkan dan kini Ia menembaki para lawannya yang masih tersisa.


Wei menatap Edy yang memusnahkan para bodyguardnya melalui layar monitor yang terpampang dihadapannya.


Ia menatap dengan seringai kelicikan dan mengumpulkan para mutan yang dimilikinya untuk menyerang Edy yang kini tampak menuju keruangan utama.


Edy melangkahi tubuh-tubuh yang tak bernyawa dengan melompat kecil. Ia menapaki anak tangga menuju ruangan yang membawanya entah kemana. Hingga Ia melihat sebuah ruang penghubung dan Ia bingung harus mengambil arah jalur yang mana akan Ia ambil.


Dan saat bersamaan, jalur itu kini tertutup oleh ratusan mutan yang kini menghadangnya dan siap menyerangnya dengan secara berasamaan.


Edy melihat hal tersebut sangatlah merepotkan baginya.


Edy beranjak mundur kebelakang mencoba mencari cara memusnahkan mutan yang kini sudah berkerumun diudara dan bagaikan ratusan lebah yang siap menyengat


Edy menyadari jika Ia masih memilik pemantik api, dan Ia mengambil katananya, lalu meraih kain berwarna hitam yang digunakan untuk menutup jasad yang tampak sudah lama dibedah dan hampir membusuk.


Edy membakar kain tersebut dan membuat obor siap untuk membakar para mutan itu.