
Edy bersandar didinding Goa. Kakinya gemetar menahan degub jantung didadanya. Tubuhnya bagaikan tak bertulang.
Ia mencoba mengintip sekali lagi, membenarkan apa yang dilihatnya adalah salah. Namun lagi-lagi Ia harus mencubit pipinya, jika yang dilihatnya itu benar adanya.
Sesaat Ia mendengar suara derap langkah kaki Asih menuju kearahnya, dengan cepat Ia berjinjit-jinjit menuju pembaringan dan berpura-pura tidur.
Ia dapat mendengar langkah kaki Asih menghampirinya, lalu duduk disisinya.
"Apakah kamu belum sadar juga dari pingsanmu?" Tanya Asih lirih. Ia menyentuh wajah Edy dengan jemarinya yang masih basah karena baru saja beranjak dalam kolam yang terdapat didalam goa.
Asih menurunkan jemarinya, menyingkap pakaian Edy, lalu mencari bekas luka tembakan itu.
Asih menyentuhnya, sesaat Edy terbatuk, lalu berpura-pura tidur lagi.
Asih beranjak dari ranjang Edy, lalu mengambil botol berisi bubuk untuk mempercepat pemulihan luka Edy yang mulai tampak mengering dan mengatup lukanya.
Asih kembali menghampiri Edy, lalu menaburkan bubuk tersebut kedalam luka pemuda itu. Sesaat Edy merasakan hangat dilukanya. Ia merasakan seolah-olah luka itu mengatup rapat, dan sesaat rasa perih dilukanya menghilang.
Edy merasa penasaran ingin melihat lukanya, namun Ia belum berani membuka matanya.
Setelah merasakan Asih beranjak darinya dan suara derap langkah kaki Asih menuju ruang sebelah yang terdapat kolam berair jernih, lalu suara derap langkahnya menghilang bersama dengan suara ceburan seseorang kedalam kolam, dan Edy memastikan itu adalah Asih.
Edy mengerjapkan matanya. Ia memeriksa lukanya, dan benar saja, luka itu tidak ada lagi, dan Ia benar-benar sembuh.
Edy berniat hendak pergi dari goa itu secepatnya, Ia tidak dapat menerima dengan akalnya apa yang baru saja dilihatnya.
Bagaimana mungkin seorang gadis cantik yang Ia kagumi ternyata memiliki ekor yang sangat mengerikan.
Edy beringsut dari ranjangnya. Ia berjinjit untuk segera keluar dari goa dan kabur secepatnya meninggalkan gadis itu.
Ia menyusuri lorong goa, dan berlari secepatnya.
Namun sesaat Ia menghentikan langkahnya, dan bersembunyi dibalik didnding goa.
Ia mendengar suara 3 orang pria sedang bercakap-cakap dan menuju kearahnya.
Ketika Edy berhasil mengintainya, Ia melihat Wei disana.
Seketika Ia terperangah "Bagaimana mereka bisa sampai ketempat ini?" Edy merasa cemas.
"Dan, Papa? Apakah mereka masih baik-baik saja" Edy masih terus berperang dengan fikirannya.
Seketika Ia membolakan matanya "Batu permata... Apakah Wei mengincar batu permata yang tergantung dileher Asi?" seketika Edy mengingat gadis itu.
"Siaalll..!!" Ia mengepalkan tinjunya. Namun bagaiamanapun, Ia tidak ingin gadis itu terluka.
Edy merasa dilema, antara cinta dan juga kengerian.
Edy kembali memutar tubuhnya, lalu bergegas masuk kedalam ruangan tempat Asih menyembuhkannya.
Edy mencari keberadaan Asih, ternyata gadis itu masih didalam ruangan yang terdapat kolam dan sedang bersalin pakaian, namun kini Ia sudah berubah menjadi normal kembali.
Edy menghampiri sang gadis yang belum selesai bersalin pakaian, Ia menarik pergelangan tangan sang gadis yang masih belum menggunakan penutup atasnya.
"Hei, aku belum memakai penyanggah buah melonku, bersabarlah, ada apa?" cecar Asih dengan sedikit bingung.
"Buruan pakai" ucap Edy ketus. lalu melepaskan cengkraman tangannya.
Namun Ia sesekali melirik gadis itu yang sedang menyelesaikan menyalin pakaiannya.
"Siaaal.. Mengapa gadis secantik harus... Ah.. Gila" Ia seperti sedang frustasi memikirnkannya.
Asih sudah menyelesaikan menyalin pakaiannya.
"Ada apa? Dan mengapa terburu-buru?" tanya Asih dengan penasaran.
"Ada penyusup lain ke goa ini, dan mereka sepertinya mengincar batu permata yang ada dilehermu" ucap Edy mencoba menjelaskan.
Seketika Edy menelan salivanya "Ah.. Mengapa, Dia harus..." Edy kembali menghentikan gumananya Ia seperti bingung menghadapi Asih, Ia mengacak rambutnya kasar.
"Apakah disini ada jalan keluar lain?" tanya Edy penasaran.
"Ada, tetapi Kau harus melompat dari tebing jurang setinggi 300 meter. Karena ada lubang goa menuju dinding tebing dengan air sungai deras dibawanya" jawab Asih seenaknya.
"Dan jika Aku melompatinya, maka Aku akan mati terbentur batuan sungai, begitukan?" jawab Edy ketus.
"Bisa jadi seperti itu" jawab Asih dengan santai.
Edy menatap gadis itu, tak ada raut ketakutan diwajahnya sedikitpun mendengar penyusup yang datang.
"Lalu Kita harus berbuat apa?" Tanya Edy meminta saran.
"Ya hadapi mereka" jawab Asih santai, lalu beranjak memungut tas jorannya yang tak pernah Ia tingalkan, lalu memakainya dipunggungnya dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Mereka membawa persenjataan lengkap" ucap Edy mencoba mengingatkan gadis keras kepala itu.
"Namun Asih tak memperdulikannya, Ia terus melangkah dan berjalan menuju tempat dimana Edy Menemukan para penyusup tersebut.
Tak berselang lama, Asih mendengar suara derap langkah kaki menuju kearahnya, Ia memastikan berjumlah 3 orang.
Lalu Asih bersembunyi dibalik dinding goa, dan ketika melihat bayangan sosok pria bertubuh kekar itu mendekat, Asih bersiap untuk melakukan penyerangan.
Dan..
Triiiiiiiing...
Asih menghunuskan ujung Katanya, menyentuh senjata api yang di gunakan oleh pria itu dengan sikap siaga. lalu Ia menjatuhkan senjata api itu kelantai goa, dan meluncur tepat dibawah kaki Edy yang baru saja tiba di ujung pintu penghubung lorong.
Edy mengambil kesempatan dan memungutnya.
Seketika ketiga wajah pria bertubuh kekar itu tersentak kaget melihat Asih sudah berhasil mengambil satu senjata mereka dengan sersngan tak terduga.
"Wooow.. Akhirnya Kita bertemu lagi disini gadis kecil" ucap Wei sembari menepukkan tangannya sebanyak tiga kali.
"Ternyata nyalimu besar juga, aku sangat terkesan" ucap Wei, dengan sangat angkuhnya.
"Apa tujuan sampai datang kemari?" tanya Asih dengan penuh selidik.
"Aku ingin Kau menyerahkan batu permata itu sekarang juga, Jika Kau bersikap koperatif, Aku akan melepaskanmu" ucap Wei, sembari menunjukkan jemari tangannya ke leher Asih.
"Jika Aku tidak Mau?" tanya Asih dengan tatapan menantang.
"Maka terimalah ini" jawab Wei, lalu memberikan serangan yang tak terduga.
Ketiganya lalu menembakkan senjata api kepada Asih.
Dengan menggunakan Katananya, Ia menjadi samurai yang lihai, dan menangkis semua peluru yang ditembakkan kepadanya.
Lalu Ia mengambil kesempatan menendang salah satu bawahan Wei yang sepertinya sudah kehabisan peluru.
Pria itu tersungkur dilantai, dan terkena lantai goa yang terbuat dari batuan cadas yang kasar.
Kepanya membentur salah satu batuan yang menyembul di lantai goa, lalu menimbulkan luka.
Pria itu mengerang kesakitan dan merintih.
Saat pria itu mencoba untuk bangkit, Edy menembakkan senjata apinya dibetis pria tersebut, sehingga membuat pria itu kembali mengerang kesakitan dan tak mampu untuk berdiri, lalu kembali terkapar dilantai.
Sedangkan Wei dan sisa satu rekannya masih terus melakukan penyerangan kepada Asih dengan bertubi-tubi tanpa jedah sedkitpun.
Setelah kehabisan peluru, sedangkan Asih tidak terluka, Maka wei mencabut Katana yang ada dipinggang bawahannya. Ia mengeluarkan Katana itu dari sarungnya.
Dengan tatapan menyeringai dan penuh dendam, Ia memasang kuda-kuda pertahanan dan bersiap akan menyerang Asih.