
Para bodyguard itu berteriak kesakitan dan mata mereka seolah bagaikan terkena sepihan kaca yang membutakan mata mereka dan semakin mereka menyentuhnya maka serpihan kaca yang berasal dari sebuah batu permata itu semakin masuk kedalam manik mata mereka, sehingga membuat para bodyguard itu mengerang kesakitan karena rasa sakit yang luar biasa.
Mereka mencoba mengayunkan senjata mereka untuk melumpuhkan Edy dan tanpa sadar mereka ternyata saling membunuh satu sama lainnya dan akhirnya tewas mengenaskan ditangan rekannya sendiri, lalu ambruk dilantai dengan bersimbah darah.
Seaat pendaran cahaya itu kembali masuk kedalam tubuh Edy. Didepannya berdiri sosok pria dengan pakaian seorang pangeran kerajaan dengan tubuh gagah dan juga bersahaja.
Ia mengahampiri tubuh Edy dengan berdiri tegak dan menggerakkan kedua pergelangan tangannya diudara, dan mengangkat tubuh Edy tanpa menyentuhnya, mengalirkan sebuah tenaga dalam murni, lalu mencoba mengobati luka dalam yang dideritanya dan sebuah cahaya keperakan tampak menyelimuti tubuh tak berdaya itu.
Kemudian tubuh Edy kembali diturunkan dilantai, dan pria dengan sosok gagah nan tampan rupawan itu menghilang begitu saja.
Sesaat Edy terbatuk dan memuntahkan cairan darah kental dari mulutnya.
Ia membuka mengerjapkan kedua matanya, lalu melihat sekelilingnya, dan Ia terperangah karena melihat para bodyguard itu telah tewas mengenaskan dengan kondisi tubuh yang bersimbah darah seolah mereka saling membunuh satu sama lainnya.
Lalu Ia mencoba untuk bangkit dari berbaringnya dan berusaha untuk duduk.
Edy melihat dengan rasa tak percaya, karena dari seluruh bidyguard itu mereka mengalami luka dibagian bola matanya dengan darah yang cukup banyak dan membuat lantai itu penuh dengan genangan darah.
Sesaat Edy merasakan tubuhnya sangat begitu berbeda, Ia tak lagi merasakan sakit ditubuhnya, bahkan luka dibagian tubuh luarnya tampak menghilang dan kini Ia merasa begitu bertenaga.
Ia mencoba bangkit dan memandangi jasad-jasad tak bernyawa yang berserakan itu.
Lalu Ia melangkahi jasad-jasad tersebut dan beranjak melangkah menuju arah pintu yang yang berada tepat didepannya.
Berbagai persenjataan berada ditubuhnya, dan Ia berjalan penuh dengan kewaspadaan.
Sementara itu, Lee kini berada disebuah lorong yang minim pencahayaan. Dilorong-lorong itu tampak pintu-pintu disisi kiri dan kanannya.
Lalu Ia melihat kelebatan bayangan yang tampak berulang kali berkelebat dibelakang dan terkadang berada dibelakangnya seolah-olah kelebatan bayangan itu dapat menembus dinding tembok melalui pintu-pintu yang ada.
Lee berjalan dengan penuh kewaspadaan, Ia merasakan jika disetiap pintu yang Ia lewati ada tatapan mengawasi yang siap menyerangnya kapan saja.
Sssssshhhhhsss...
Terdengar seperti suara desisan ular berbisa dan tentunya itu sangat mematikan.
Lee merasakan bulu kuduknya meremang dan ini sangat tak biasa.
Setiap lorong dan pintu yang dilewatinya tampak sangat gelap Ia tak dapat melihat apa yang berada didalam pintu-pintu yang sepertinya sebuah ruangan.
Aroma pengap begitu sangat tercium dari setiap kali Lee melintasinya.
Sesaat Lee mendengar suara desisan yang sangat jelas dan seeprtinya sangat dekat sekali.
Lee memutar tubuh ke arah belakang, dan Ia tersentak kaget saat melihat ratusan ular berbisa merayap mendekatinya dan keluar dari pintu-pintu yang ada dilorong yang telah Ia lewati.
Ular-ular berwarna hitam itu tampak terus merayap ke arahnya dengan sangat cepat.
Lee memberondongkan senjata apinya dan mengenai sebagian ular-ular tersebut.
Namun suara tembakan itu membuat ular-ular yang berada dipintu lainnya terganggu dan ikut keluar untuk mengerumuni Lee.
Dengan cepat pemuda itu berari sekencangnya menyusuri lorong yang Ia tidak tahu kemana penghujungnya.
Ular-ular itu ikut merayap kencang dan mengejar Lee dengan kecepatan yang tak biasa.
Lee semakin mempercepat larinya hingga Ia sampai dipenghujung lorong dan masuk kesebuah ruangangan yang mana didalamnya terdapat sebuang lubang besar layaknyanya kolam lebar dan juga besar tanpa air dengan berisi ribuan ular kobra hitam didalamnya.
sedangkan dibelakangnya Ia melihat ular-ular yang tadi mengejarnya sudah semakin dekat dan siap mengahabisinya.
Lee menembaki ular-ular yang berada mengejar dibelakangnya hingga musnah.
Namun ribuan ular didalam kolam merayap naik untuk mencapai tepian kolam.
Ular-ular berbisa berjenis king kobra itu kemudian merayap menaiki tepian kolam dengan jumlah yang begitu banyaknya.
Lee melihat ular-ular itu terus saja merayap dan akan menyerang Lee yang kini sedang dalam kondisi terjebak.
"Siaaal..!!" maki Lee dengan menggerutu.
Ia berjalan mundur kebelakang, namun Ia tahu jika dibekannya juga masih ada ular-ular yang juga pastinya akan menjadi buah simalakama baginya.
Lee menembaki ular-ular yang sudah merayap dilantai dengan jumlah yang cukup banyak dan sebagian telah tewas.
Kepala ular itu tegak dengan ketinggian hampir mencapai dua meter dan mereka terlihat sangat terancam dan juga terganggu.
Lee terus berusaha menembaki ular-ular tersebut, namun dengan jumlah yang begitu banyak akan membuatnya kehabisan peluru.
Lee melihat sebuah kain berwrna hitam yang terbentang disebuah meja seperti altar.
Iya menarik kain tersebut, dan ternyata itu sebuah akuarium yang dipenuhi telur-telur ular yang sepertinya siap menetas.
Lee menembak akuarium itu hingga pecah berantankan dan membuat telur-telur berisi zigot ular itu pecah dan bergelinding menuju ke arah ular yang siap menyerangnya.
Sesaat ular-ular itu teralihkan perhatiannya dan sibuk memakan zigot-zigot dari telur ular tersebut.
Kondisi itu dimanfaatkan oleh Lee untuk membuat obor buatan dengan menggunakan kain hitam yang diambilnya dari penutup akuarium.
Ia membuat pola kain itu menjadi bola kain, lalu membakarkanga dan melemparkannya kepada gerombolan ular-ular tersebut didalam kolam, lalu memberondongkan senjata apinya dan menembaki ular-ular itu hingga tewas.
Namun tidak semua pelurunya dapat menjangkau ribuan ular itu. Sedangkan bola api yang dilemparkannya hanya sedikit membantu saja.
Mengetahui Ia kehabisan peluru, Lee meraih katananya, lalu kembali bergerak mundur karena sebagian ular yang tersisa masih terus berusaha merayap untuk menyerangnya.
Pemuda itu mengayunkan katananya, menebas setiap ular yang datang menyerangnya, dan sebagian ular itu terpenggal menjadi dua setiap kali terkena tebasan dari katananya.
Semakin lama, ular- ular itu semakin berkerumun mengelilinginya kini Lee terjebak dalam lingkaran kematian.
Ular-ular itu menegakkan tubuhnya dan siap mematuknya dengan meninggalkan bisa mematikan.
Dengan gerakan cepat, ular itu menyerang Lee yang kini sudah pasrah dengan kematiannya, dan...
Dreeet...dreeet..dreedeedeeet..
Suara rentetan peluru memusnakan ular-ular tersebut dan membuat Lee terselamatkan.
Tamlak dibelakangnya seorang pria yang tak lain adalah Edy dengan bertelan-Jang dada menembaki ular-ular itu.
Edy memberikan Isyarat agar Lee segera bangkit dan menjauhi tempat tersebut, lalu lee beranjak bangkit dan dengan cepat Edy melemparkan bom molotov kedalam kolam ular tersebut, dan...
Booom..
Suara ledakan dahsyat mengguncang ruangan dan memporak porandakan kolam ular itu.