Buhul ghaib

Buhul ghaib
Tersentak



Lee dan Chakra berjalan sempoyongan, sebab menahan rasa bau dan juga gatal-gatal.dikulit mereka. Bahkan rasa pengap yang luar biasa.


Setelah terbebas dari rasa pengap tersebut keduanya melihat jika ada jejak kaki meski dalam kondisi remang-remang.


Lee mengikuti jejak tersebut dan menuju ke toilet umum. Mereka melihat ada dua buah pakaiannya yang tergeletak begitu saja diatas lantai lorong buntu tersebut.


Kedua pemuda itu bergantian memasuki toilet dan membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian mereka yang basah.


Lee memperhatikan kesekelilingnya, lalu Ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Sepertinya mereka melompati pagar pembatas ini" ucap Lee dengan yakin.


Chakra memperhatikan rumah berlantai dua dibalik tembok pembatas tersebut.


"Bukannya itu rumah Ibu?" tanya Chakra dengan lirih.


Lee menoleh kepada Pemuda itu, lalu menatapnya. "Jika benar, maka mereka bersembunyi disana. Ayoo, Kita sergap mereka" titah Lee kepada Chakra"


Mereka memilih menyusuri lorong ketimbang memanjat tembok pembatas.


Sementara itu, Andre dan juga Dori merasakan jika nyamuk mulai menyerang mereka, dan juga rasa lapar yang kian mendera.


"Bos, Saya lapar" bisik Dori kepada Andre.


Seketika Andre memiliki ide. Sebab gudang berhadapan dengan dapur, dan tentunya ada makanan didapur.


Kedua pria itu mendengar suara derap langkah kaki menuju dapur. Andre berjalan mengendap dan mengintai dari balik lubang kunci pintu tersebut.


Tampak olehnya wanita muda nan ayu rupawan sedang memasak sesuatu. Rambutnya yang diikat kucir ekor kuda, tampak begitu menampilkan leher jenjang milik sang wanita.


Tubuh ramping dengan lekukan sempurna yang membuat Andre menelan salivanya.


"Mengapa Kau begitu mirip sekali dengan Dina? Namun jika Kamu Dina, tidak mungkin Kau tidak mengenaliku" guman Andre dalam hatinya.


Wanita itu sepertinya memasak mie instan. Aroma bumbunya yang menggoda selera membuat perut Andre dan juga Dori bernyanyi nyaring.


Dina memasukkan mie instan itu kedalam mangkuk keramik dan meletakkannya diatas meja.


Dina menyeruput kuah dan memakan mienya dengan begitu sangat penuh penghayatan, hingga membuat Andre semakin lapar.


Bulir-bulir keringat yang mengalir di pelipis dan wajahnya menambah kilauan kulit wanita itu. Andre semakin gila jika terus melihatnya.


Dori mencoba bergantian mengintip apa yang sedang dilihat Bosnya, sehingga sedari tadi juga tak berkesudahan.


Saat Dori ingin berganti mengintip, Andre menepiskan kepala pria itu berulang kali agar segera menjauh.


Sesaat Dina merasakan ada suara keberisikan didalam gudang. Ia mencoba menghampiri gudang dan ingin membukanya. Namun saat itu Asih muncul dari arah ruang tengah.


"Bu.. Mau ngapain?" tanya Asih kepada Dina yang telah memegang handle pintu.


Dina menoleh kearah suara Asih yang tampak menyapanya. "Sepertinya ada sesuatu yang berada didalam gudang" ucap Dina kepada Asih.


Sementara itu Andre dan Dory saling berpandangan. Jika saja sampai Dina membuka pintu tersebut, keduanya berencana akan menyergap Dina dengan menjadikan tawanan dengan menggunakan senjata api yang mereka bawa.


Asih lalu tercenung dan mencoba mencari alasan.."Paling juga tikus, Bu" jawab Asih mengalihkan, dan belum sempat Dina menjawab, Asih merengek meminta dimasakan mie instan juga, dan hal itu tentu membuay Dina tak mampu menolaknya. Lalu Ia kembali memasak mie instan dengan senang hati untuk puterinya.


Seketika Andre merasa bernafas lega. Sebab Dina tidak jadi membuka pintu tersebut.


Namun suara gadis itu membuat Andre merasa penasaran. Ia kembali mengintip siapa pemilik suara itu. Andre terkejut, karena orang yang memanggil Ibu kepada wanita muda itu adalah gadis yang selalu bersama Edy, bahkan gadis itu yang membuat matanya sebelah kiri saat digoa.


Kini Andre semakin bingung, sebab Ia mengira wanita muda itu single dan belum memiliki pasangan apalagi anak.


Saat Dina sedang memasak mie instan, tiba-tiba Lee dan Chakra muncul dari luar menuju dapur.


"Bu.. Apakah ibu melihat ada orang yang menyelinap kemari?" tanya Chakra dengan nafas tersengal.


Dina terdiam sejenak, dan mematikan kompor gasnya, lalu menatap pada Chakra.


"Orang menyelinap bagaimana?" tanya Dina penasaran. Lalu menuangkan mie instan kedalam mangkuk dan menyerahkannya pada Asih.


Sebelum Chakra menjawab,Dina memprotes kondisi Chakra yang basah kuyup bersama temannya itu "Itu pakaian Kamu kenapa bisa basah kuyup gitu, mana bau lagi.." ucap Dina sembari menutup hidungnya.


"Kamu juga!" Dina melihat kepada Lee. Seketika Dina melirik kepada Lee, yang membuat pemuda itu menciut.


"Ganti.. Sana!!" titah Dina dengan nada perintah.


Lalu keduanya ngacir untuk mengganti pakaian dan beranjaka naik kelantai dua kamar milik Chakra.


Sementara itu, Andre semakin bingung, mengapa Chakra juga memanggilnya Ibu, maka jelas wanita muda itu sudah menikah dengan memiliki 2 orang anak.


"Bahkan Lee juga ada disini? Siall.. Niat ingin mencari aman malah masuk kedalam perangkap harimau." Guman Andre dengan perasaan yang semakin was-was.


"Bagaimana ini, Bos? Bukan aman malah seperti menyerahkan diri Kita kerumah ini" bisik Dori dengan nada kalut.


"Diamlah, Kita akan keluar dari sini setelah tengah malam" Ucap Andre sangat pelan dengan berusaha bersikap tenang.


Dina mencoba mengingat perkataan Chakra tentang sipenyelinap yang masuk kerumahnya.


Ia menghampiri pintu dapur, tampak terkunci. Sebab Andre tadi menguncinya agar tidak mencurigakan.


Asih masih dengan lahabnya menyantab mie instannya, sesekali matanya melirik kelantai dua, sebab Ia menyembunyikan Edy disana.


Disisi lain, perut Andre dan juga Dori sudah sangat keroncongan dan sangat lapar.


Kini keduanya juga harus berperang melawan nyamuk-nyamuk yang mulai menyerang keduanya.


Sesaat Lee dan juga Chakra sudah berada didalam dapur, rasa lapar membuat mereka melupakan sejenak tentang Andre. Chakra juga meminta untuk dimasakkan mie instan yang sama seperti Asih.


Sesaat Asih merasakan firasat jika ada seseorang didalam gudang. Namun Ia masih tetap diam. Ia mencoba memenuhi janjinya kepada Edy.


Lee mencuri-curi pandang kepada gadis itu. Namun Asih mencoba mengacuhkannya. Ia masih kesal terhadap pemuda itu.


Terkadang Lee merasa ngeri saat membayangkan Asih yang merubah wujudnya menjadi setengah buaya dari pinggang ke kaki.


Namun jika dalam keadaan normal, gadis itu sungguhlah sangat molek dan juga aduhai.


Asih menangkap apa yang difikirkan oleh Lee, lalu Ia memandang kepada pemuda itu, dan beranjak pergi untuk menemui Edy dikamarnya.


Dina masih memasakkan mie instan untuk kedua pemuda itu. Sedangkan Asih membawa mangkuk Mienya yang masih tersisa untuk dibawa keatas. Melihat Ibunya sudah selesai memasak, Asih mencomot beberapa sendok lagi mie tersebut dan beranjak pergi.


"Mau kemana, Sayang" tanya Dina kepada Asih.


"Kekamar, Bu" jawabnya cuek dan melangkah pergi.


"Makannya banyak banget, tapi tetap saja langsing" guman Lee dalam hatinya. Sesaat Asih menghentikan langkah kakinya yang sudah berada diambang pintu penghubung. Lalu membolakan matanya kepada Lee.


Seketika Lee merundukkan kepalanya, karena ketahuan sedang menghibah dalam hatinya.


Lalu Asih melangkah menuju kamarnya dengan hati yang sangat kesal.