Buhul ghaib

Buhul ghaib
Persembahan-2



Tubuh Ristih yang terlempar kelantai ruang persembahan penuh dengan luka. Para pemujanya memberi ruang kepada Ristih untuk beranjak bangkit.


Sesaat Risti mulai beranjak untuk bangkit, dengan posisi bagaikan orang sedang merayap, Ristih menengadakan kepelanya melihat keatas Altar.


Tingginya limas dengan bentuk segi empat diujungnya, mencapai ketinggian 25 meter.


Sementara itu, Asih memberikan pedangnya kepada Edy.. "Peganglah, dan gunakan untuk melindungi dirimu" titah kepada pemuda itu, sembari mengulurkan pedangnya.


Edy meraihnya. Meskipun hanya amatiran, setidaknya Ia bisa mempertahankan dirinya.


Asih menyiapkan busur dan anak panahnya. Tampak dibawah sana Ristih sudah bergerak dengan gerakan tubuh yang bergetar hebat.


Saat ini, aura kecantikannya tiba-tiba berubah sangat menyeramkan. Dimana tubuh wanita iblis berubah menjadi seekor ular raksasa yang begitu sangat besar dan panjang.


Tubuh ular itu menengadah hingga melewati tingginya altar.


Edy melongo melihat penampakan yang mengerikan tersebut. besar tubuh ular itu sebesar batang kelapa. seketika tubuh Edy bergetar ketakutan.


Sementara itu, Rekso diam-diam ingin melakukan serangan secara licik.


Namjn Asih memutar tubuhnya, dan...


Wuuuuuusssh....


Sssssstttt....


Anak panah melesat dengan cepat menngenai pundak Rekso dan menembus hingga menancap ke kursi singgasana.


Aaaaarrh....


Rekso menggelepar kesakitan, Ia tertahan tak dapat bergerak, karena anak panah itu menancap dikursi singgasana menyatu dengan tubuhnya.


Haaaaaaaarrrg..


Ssssssssstttttssss...


Suara geraman dan desisan Ristih saat melihat Asih melukai anaknya.


Sementara itu, para pemuja Ristih yang berada dilantai bawah ruang pemujaan, menatap Ratu mereka yang kini berubah menjadi siluman sesungguhnya.


Mulut Risti menganga, menampakkan taringnya yang mencuat keluar.


Ristih tampak sangat marah, dimana Asih telah mengacaukan segalanya, sedangkan gadis itu juga sudah melukai anaknya.


"Dasar Kau, gadis sialan..!! Apa urusanmu ikut campur urusanku?!!" suara Risti menggema diruangan itu.


"Tentu saja Aku ikut campur. Kau sudah mengambil mainanku" jawab Asih polos, sembari menantang wanita siluman itu dengan tanpa rasa takut.


Edy melongo mendengar jawaban Asih, sebenarnya yang dimaksud Asih mainan itu apa, otaknya belum bisa mencerna saat ini, sebab Ia masih dalam posisi ketakutan.


Namun cintanya semakin kuat kepada sang gadis, karena Asih sudah berusaha menyelamatkannya.


Ssssssssttttsss..


Suara desisan itu kembali terdengar. Ia tidak suka jika Asih menggagalkan rencananya. Sebab ini malam bulan purnama, Ia harus segera menyelesaikan ritualnya.


Ular jelmaan itu meliukkan tubuhnya, lalu mengangakan mulutnya, Dengan cepat membelit tubuh Edy yang terlihat kecil baginya.


Edy merasakan sesak nafas, untungnya saat Ristih akan membelitnya, Edy mengangkat tangan kananya.


Ia berusaha menggerakkan tangannya untuk menusukkan pedang yang digenggamnya ketubuh Ristih, namun Ia semakin terasa sesak.


Asih membidikkan anak panahnya, lalu melepaskannya... Dan anak panah melesat cepat mengenai kepala Ristih.


Siluman itu semakin menggeram, dan melonggarkan belitannya.


Asih kembali mengambil anak panahnya, dan membidikkannya tepat dibatu permata mirah delima yang berada ditengah ujung kepalanya.


Setelah merasa bidikannya tepat, Asih melepaskannnya, dan...


Wuuuuush...


Anak panah itu mengenai batu mirah delima dan terbelah menjadi tiga.


Tanpa sadar, pecahan dari batu mirah delima milik Ristih, tertelan oleh Edy yang saat itu sedang melongo melihat ketangguhan Asih, lalu..


Jleeeeeeb...


Satu pecahannya lagi melayang menuju altar. Asih melompat ringan diudara dan menangkapnya sembari berputar, lalu menelannya.


Satu pecahannya lagi masih berada dikepala Ristih.


Tidaaaaaaaaak....


Teriak Ristih menggelegar.


Ia tidak rela jika kesaktiannya harus berkurang. Seketika Edy merasakan seperti memiliki sebuah kekuatan yang berbeda.


Ia menggerakkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan pedang Asih, Ia menusukkannya tepat tubuh siluman ular yang sedang membelitnya.


Ristih sangat marah, memperrat belitannya, para pemuja Ristih saling berguman Riau. Sebab ini akan menjadi petaka bagi mereka, karena batu permata mirah delima tidak lagi utuh.


Sedangkan pemuda itu memiliki sepertiganya. Mereka bingung apakah harus berbuat jahat atau juga mematuhi perintah pemuda tersebut. Sebab hanya pemilik batu mirah delima yang memiliki kekuasaan untuk memerintah.


Sedangkan Ristih kini hanya memmiliki sepertiganya. Maka mereka bingung, titah siapa yang akan didengarkan.


Asih menyimpan busurnya, lalu meraih senjata Dwi sulanya, dengan cepat Ia melompat dan melayang diudara, menghujam kepala Asih yang saat ini masih mengerang kesakitan.


"Aaaaaaahhhhgh..."


Ristih kembali menggelepar kesakitan, lalu Asih meraih tubuh Edy, membawanya menjauh dari tempat itu. Sementara para pemuja Ristih tampak diam tak bergeming saat Edy dan Asih mencoba melarikan diiri.


Sebuah cahaya putih keperakan tampak dikejauhan, lalu keduanya tampak mempercepat laju lari mereka, Asih meraih pergelangan tangan Edy, lalu membawanya melayang bersama melintasi alam dimensi dan masuk kedalam cahaya tersebut.


Bersamaan dengan melompatnya kedua anak manusia berbeda jenis tersebut, maka cahaya itupun menghilang.


*****


Edy mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat sinar mentari begitu hangat menerpa kulit wajahnya.


Sesaat Ia membuka matanya. Ia tersentak saat melihat Asih sudah menatapnya dengan pandangan Aneh.


Haaaaah...


Edy tersentak kaget, saat melihat dirinya tanpa menggunakan kain penutup sehelaipun.


Edy beranjak bangkit, lalu menutup rudalnya yang berdiri tegak menggunakan kedua telapak tangannya.


"Kita sedang berada dimana?" tanyanya bingung.


Asih menatap Edy dengan senyum nakal.. "Dimana saja"


Edy Menggelengkan kepalanya. Ia menduga pasti Asih sudah memainkan rudalnya saat Ia tertidur tadi.


"Aku ingin pakaian" ucap Edy kepada Asih, sembari terus menutup rudalnya.


Asih mendenguskan nafasnya. Lalu membuka tas jorannya, dan mengeluarkan sehelai celana miliknya, lalu melemparkannya kepada Edy.


"Heeeei.. Ini celana perempuan, masa iya Aku harus memakainya?" protes Edy dengan cepat.


Kalau begitu biar Aku simpan lagi, dan apakah Kau ingin keluar dengan kondisi seperti ini?" tanya Asih. Meskipun sebenarnya Ia tak rela nika ada orang lain yang melihat mainan barunya.


Dengan terpaksa Edy mengenakan celana panjang milik Asih.. Meskipun terlihat aneh, namun itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


Edy melihat sekitar lokasi tempat mereka terdampar. Ia mencoba mengingat semua peristiwa saat sebelum mereka terdampar ditempat yang Asing.


"Mengapa tempat ini begitu asing bagiku?" tanya Edy dengan bingung.


Asih mengangkat kedua bahunya, lalu menyimpan semua senjata seperti pedang, dan dan juga Dwi Sulanya yang tergelatak diatas tanah tempat mereka terdampar.


"Mengapa Ini seperti sebuah pulau? Ada seauatu yang berbeda" guman Edy masih dalam kebingungan.


Asih sudah menyelesaikan semuanya, Kini mereka harus mencari cara agar dapat keluar dari pulau tersebut. Sebuah pulau tak berpenghuni dengan segala kemisteriusannya.


Sebatang pohon kelapa tumbuh didekat mereka. Asih memanjatnya dengan sangat cepat dan menajtuhkan beberapa buah kelapa. Lalu kembali turun.


Setelah itu Ia mengupas ujungnya, membuat lubang untk mengambil air dan dagingnya buahnya.


Asih meneguknya, begitu sangat menyegarkan. Lalu Ia dengan cepat mengambil daging buahnya dan memakannya.


Setelah