
Asih menatap wajah Edy yang tampak kelelahan.
Ia membelai lembut wajah itu, wajah yang selalu menemaninya kemanapun dan menerima kekurangannya.
Asih mengecup lembut kening pemuda itu, lalu pergi kembali meninggalkannya.
Asih berjalan menyusuri jalanan sunyi. hingga tiba-tiba sebuah bayangan menghalangi jalannya, dan..
Wuuusssh..
Sebuah tendangan yang tiba-tiba saja mengenai punggungnya hingga Ia tersungkur dijalanan sepi.
Sesosok ular berkepala tiga sedang menghadangnya, dengan tatapan penuh amarah.
"Kau..?!" uvap Asih, sembari menyeka darah yang mengucur diujung bibirnya.
Asih berusaha bangkit, namun ekor ular berkepla manusia yang memiliki 3 kepala itu melibas ketubuh Asih, sehingga Asih kembali terpental.
"Siaaal..!!" maki Asih, lalu mencabut pedangnya dan bersalto hingga akhirnya dapat menguasai dirinya.
Asih berdiri tegak menantang siluman didepannya, luka sabetan ekor Siluman ular yang tak lain adalah Rekso, membekas dilengan dan juga perutnya.
Asih melirik luka itu dan tersenyum sinis.
"Dimana permata mirah Delima milik Ibuku? Kembalikan kepadaku, atau Ku hancurkan dirimu?" ucap Rekso dengan penuh amarah. Ia membutuhkan batu mirah delima itu untuk menyembuhkan Ibunya, Ristih.
"Jika Kau sanggup, ambillah.." ucap Asih, sembari mengacungkan pedangnya.
Rekso berputar dan kembali melibaskan ekornya yang mana Asih tentu sudah waspada.
Asih menyabetkan pedangnya, yang mengenai ujung ekor Rekso, sehingga mengeluarkan cairan berwarna hijau.
Sesaat Rekso meringis dan Ia berdiri terdiam sejenak, lalu memejamkan kedua matanya, mencium aroma manusia yang mana Ia merasakan getaran batu Mirah Delima tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sesaat Rekso tersenyum menyeringai menatap Asih, lalu menghilang.
Seketika Asih tersentak mendapati Rekso menghilang.
Asih membolakan matanya "Mirah Delima?" ucap Asih lirih.
"Siaaal..!!" maki Asih, lalu memutar tubuhnya kembali ketempat Edy.
Sementara itu, siluman ular itu semakin mempertajam indra penciumannya, dan melihat sebuah rumah yang terpencil dari keramaian.
Aroma mirah Delima semakin dekat, Ia menghilang menembus kegelapan malam dan kini muncul didalam sebuah kamar.
Benar seperti dugaanya. Tampak pemuda yang sedang tertidur pulas itu terpancar cahaya mirah Delima dari dalam tubuhnya, tepatnya dibagian dada pemuda itu.
Rekso menatap penuh kebencian dan mengarahkan jari jemarinya yang memiliki kuku runcing dan juga beracun kearah dada pemuda yang sedang tertidur pulas itu.
Saat ujung jemari itu akan bersiap merobek kulit dada Edy, sebuah tendangan yang sangat kuat menerjang tubuh siluman ular itu.
Rekso terjungkal hingga ke sudut dinding. Ia seketika mengubah dirinya menjadi sosok manusia normal dengan rupa yang bersisik.
"Jangan mencoba untuk menyentuhnya" Hardik Asih sembari merentangkan pedangnya ditengah dadanya.
Rekso menyeringai lalu menyerang Asih dengan menggunkan cakarnya yang tajam.
Asih kembali membalas menyerang dengan menggunakan pedangnya, sehingga terjadi pertarungan yang sengit diantara keduanya.
Edy merasakan jika ada kekacauan didalam kamar. Ia mengerjapkan kedua matanya dan melihat Asih sedang bertarung melawan sosok manusia bersisik.
Rekso yang melihat Edy terjaga dari tidurnya, lalu menyerang dengan menggunkan kukunya yang runcing.
Edy yang masih bingung langsung menggulingkan tubuhnya kesisi kiri, hingga kuku Rekso menembus busa kasur tersebut.
Asih yang merasa geram menyerang Rekso dengan menghujamkan ujung pedangnya kedada Rekso, namun Siluman itu menangkap ujung pedang Asih, lalu memutar tubuhnya dan memberikan tendangan kepada Asih, hingga membuat Asih terpental.
Edy yang melihat Asih terpental, langsung bangkit berdiri dan mencoba menyerang Rekso.
Namun kekuatan yang tidak seimbang, membuat Rekso dengan mudahnya melumpuhkan Edy dan mencengkram leher Edy, lalu menekannya dan menaikkannya keatas, sehingga membuat Edy kesulitan bernafas.
Kukunya yang runcing sudah menempel didada Edy, sembari menekan dengan kuat.
Sesaat Rekso menambah kekuatannya untuk menembus dada milik pemuda itu.
Saat itu...
Wuuuuush...
Sebuah anak panah menembus punggung tangan Rekso yang sedang mencekik leher Edy.
Aaaaaaarrrgh...
Seketika Rekso terpekik dan menjatuhkan Edy kelantai. Lalu Ia mencabut anak panah tersbut, dan Belum sempat Ia mencabutnya, Asih sudah lebih dulu menendangnya hingga terpental ke sudut kamar.
Asih meraih tangan Edy, lalu membawanya keluar dari kamar.
"Ayo.. Kita harus menemukan Lee" ucap Asih dengan nada perintah.
Edy menyambut tangan Asih, lalu meraih kunci mobil yang terletak diatas ranjang tidur.
Keduanya keluar menuju mobil. Lalu Edy menyalakan mesin mobil meski sedikit kesulitan.
Setelah dengan bersusah payah, akhirnya mesin mobil itu menyala dan Edy mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Kita harus mencari pemuda itu kemana?" tanya Edy bingung.
"Mustika ini akan memberikan petunjuk.."jawab Asih dengan berusaha tenang.
Sementara itu, Lee sedang terbaring diranjangnya, sikap Asih yang tampak mengacukannya membuatnya gelisah tak menentu. Ia belum pernah merasakan patah hati, namun perbuatan Asih padanya membuatnya seakan patah hati.
"Asih... Mengapa Kau begitu tega menyiksa perasaanku.." guman Lee dalam hatinya.
Disisi lain, Edy terus mengemudikan mobilnya mengikuti arahan dari Asih.
Sedangkan Rekso mengejar keduanya dengan kecepatan yang sama, lalu tiba-tiba berada didepan kaca mobil sehingga menyulitkan pandangan Edy dalam menyetir.
Edy mengemudikan dengan cara dimiring kekiri dan kanan sehingga membuat mobil oleng dan Rekso terlempar dan terljndas oleh mobil yang dikemudikan oleh Edy.
Namun dalam sekejap Ia bangkit kembali dan terbang melayang mengejar mobil itu.
Sementara itu, Lee masih larut dalam alam fikirannya dan melihat bagaimana Asih saat mendekap Edy yang tampak begitu dengan mesranya.
Hati pemuda itu teramat sakit dan juga terbakar api cemburu. Ternyata Ia menyadari, jika jatuh cinta itu tak selamanya indah.
Disisi lain, Rekso kembali naik didalam bak mobil yang terbuka sedikit.
Lalu jemari tangannya yang runcing, menembus kaca mobil hingga sampai ke jok depan. Edy tersentak kaget melihat itu semua.
Lalu Asih mencabut pedangnya dan menebas jemari tangan itu hingga terputus dan dengan cepat jari jemari itu kembali menyatu dan yang membuat Edy semakin panik.
Asih tak kehabisan akal, Ia mencabut senjata Dwi sulanya dan berusaha menancapkan senjata itu kpunggung telapak tangan Rekso, yang membuat siluman ular itu terpekik menahan sakit yang sangat luar biasa.
Sebab senjata Dwi Sula itu adalah senjata warisan leluhur Romonya yang berasal dari alam Nirwana.
Setelah menancapkan senjata Dwi Sulanya, Asih menggoresnya dengan cepat, hingga membuat telapak tangan itu terlepas hingga terlempar kelantai mobil.
"Ini ada perempatan jalan, Aku harus mengambil yang mana?" tanya Edy yang terus mengemudi dengan hati yang penuh dag dig dug.
Sementara itu, Rekso mengerang kesakitan dubak mobil bagian belakang.
"Kiri.." jawab Asih, Lalu memungut telapak tangan milik Rekso. Kemudian Asih memasukkan tangannya kedalam saku celana Edy dan mencari sesuatu.
"Heei.. Apa yang Kau cari, jangan sentuh senjataku, Aku sedang menyetir.."ucap Edy yang merasa geli dengan tindakan Asih.
Sementara itu, sang gadis tak memeperdulikan ocehan dari Edy, hingga Ia menemukan pemantik Api, lalu menariknya keluar dari saku celana Edy, yang membuat pemuda itu merasa lega, sebab hampir saja senjatanya bangun dalam situasi darurat.
Asih menghidupkan pemantiknya, lalu membakarnya hingga hangus, sehingga membuat Rekso mengerang kesakitan, dqn terlempar keluar dari bak mobil.