
Robert bangkit dari duduknya. Ia menuruni tiga biah anak tangga yang menjadika kursi kebesarannya tampak agung.
Ia melepaskan pakaiannya dan membuangnya begitu saja, lalu memamerkan otot-otot tubuhnya dan juga pertu sixpacknya.
Ia berjalan dengan tampak begitu gagah dan juga menakutkan.
Penjaga yang masih selamat membawa Lukas menjauh dari tempat itu dan Robert meraih pedang yang tergantung di dinding ruangan.
Ia memutar-memutarkan pedangnya dan dengan gerakan menghunus menantang Asih.
Asih melirik ke arah Edy yang masih tergantung ditiang penyanggah ruangan.
Dengan gerakan tak terlihat Ia melemparkan sebuah shuriken atau yang biasa dikenal pisau berbentuk bintang ke arah ikatan tali yang menggantung Edy ditiang, dan membuat tubuh pria terjatuh, lalu dengan gerakan cepat Asih menangkap tubuh Edy dan meletakkannya dilantai.
Sementara itu Robert menyerang Asih dengan jurus pedangnya seolah sedang membelah api.
Asih menyingkir dari posisinya dan kembali berbalik menyerang Robert yang tampak begitu bersemangat mendapat sebuah lawan tandingnya.
suara dentingan dari kedua pedang itu terdengar nyaring dan membuat bulu keduk merinding dan terasa ngilu.
Sementara Itu, Edy berusaha meraih shuriken yang tergeletak dilantai dan jngi menggunakan pisau berbentuk bintang itu untuk melepaskan ikatannya.
Sedangkan Asih dan Robert masih bertarung dengan dengan sangat sengit.
Hingga tanpa terduga, Robert berhasil menarik cadar yang digunakan oleh Asih.
Alangkah terkejutnya Robert melihat wajah dibalik cadar itu, sesuatu yang membuat terperangah dan tak mampu menyembunyikan kekagumannya akan kecantikan dan pesona yang dimiliki oleh sang wanita tangguh yang kini menjadi lawannya.
Melihat lawannya bengong, Asih mengambil kesempatan dengan melayangkan sebuah tendangan tenaga dalamnya kepada Robert yang membuat pria itu terpental mengahntam dinding ruangan.
Lalu dengan secepat kilat, Asih meraih tubuh Edy yang masih beringsut ingin mencapai shuriken yang hampir saja didapatnya.
Tanpa menyadari apa yang terjadi, Asih sudah membopong tubuh Edy di pundaknya dan membawanya keluar dari tempat tersebut, menembus kegelapan malam, dan tiba didalam kamar hotel.
Sesampainya dikamar hotel, Asih meletakkan tubuh Edy diatas ranjang dengan sembarangan, lalu membuka ikatan talinya.
Edy meringis saat Asih menghempasnya diranjang "Aaww.. Pelan sedikitlah" omel Edy yang baru terbebas dari ikatan tali ditubuhnya.
"Berisik..!" jawab Asih yang saat ini menyimpan pedang didalam tas jorannya.
"Lain kali kalau mau gendong Aku jangan didepan orang banyak apalagi para gangster seperti mereka, kan pamorku sebagai cowok jadi turun" ucap Edy sedikit gemas.
Asih hanya mencibirkan bibirnya, lalu Ia mengganti pakaiannya.
"Mengapa Kamu bisa sampai terlibat pertarungan dengan mereka saat digerai makan?" tanya Edy sembari beranjak dari ranjang.
"Botol airku?" tiba-tiba Ia teringag akan botol air minumya.
Asih mengambil botol air yang disebut oleh Edy dan melemparkannya pada suaminya.
"Huuup.." Edy menangkapnya, dan membuka botolnya lalu meminumnya.
"Mereka berci-uman didepanku dan memegang pangkal kakiku, jadi Aku marah dan menghajarnya" Jawab Asi santai.
"Uuuuurrrggh.." Edy tersedak saat mendengar para bajingan itu menjamah istrinya.
"Brengsek..!! Akan ku patahkan lengannya jika sampai bertemu mereka lagi" ucap Edy dengan nada marah.
"Ya.. Dan jangan sampai mereka mengikat kamu lagi" jawab Asih dengan santai.
Lalu Edy nyengir kuda mendengar ucapan Asih yang terkesan meledeknya.
"Kau sudah membuatku kesulitan malam ini, dan kau harus memijatku sebagai gantinya" ucap Asih dengan tatapan yang membuat Edy terpedaya.
Dengan cepat Edy mendekap tubuh sang istri lalu merubah posisi dengan Asih dibawah kendalinya.
Sementara itu, Robert berusaha bangkit dari lantai dengan luka lebam dibagian dada kirinya.
para penjaga memanggil dokter dan membantu membawa Robert ke ruangan kamarnya.
Tak berselang lama, dokter datang memeriksa kondisi Robert yang mengalami luka lebam dan segera melakukan pemeriksaan dan pengobatan.
Setelah menjalani pengobatan, rasa nyeri itu mulai berkurang.
Robert meminta para pengawalnya untuk segera meninggalkannya sendirian didalam kamarnya, dan para pengawal itu segera meninggalkannya.
Pria mera-ba luka lebam yang ditingalkan oleh Asih. Entah mengapa Ia mengulas senyum tipis saat mengingat dirinya berhasil membuka cadar milik wanita itu.
Begitu bodohnya Ia hingga lengah hanya karena terpedaya oleh pesona dan kecantikan wanita itu.
Bukankah selama ini Ia terbiasa dengan wanita cantik yang selalu menemani malamnya diatas ranjang, namun mengapa hanya seorang wanita seperti Asih yang membuatnya sampai terperangah.
"Fu-ck..!" mengapa Aku harus memikirkan wanita sialaan itu?!" Maki Robert pada dirinya sendiri.
Ia menghempas phonselnya ke dinding kamar hingga hancur berderai.
Bukankah Ia seharusnya menangkap wanita itu dan memberikan perhitungan atas apa yang sudah dilakukannya, namun mengapa kini Ia terperangkap oleh perasaannya sendiri? Ia sangat membenci hal tersebut.
Sementara itu, Asih masih memadu kasih bersama Suaminya, yang mana Edy harus bekerja ekstra memberikan pelayanan yang membuat Asih merasa terpu-askan.
Kini Asih terkulai dalam dekapan Edy, dan memberikan kecupan termanisnya kepada sang suami, meskipun baru saja telah merepotkannya.
Edy yang melihat istrinya merasa puas akan pelayanannya merasa lega sekaligus bangga, meskipun tadi sang istri sempat meremehkannya saat tertangkap oleh para gangster mafia tersebut.
"Sayang" ucap Edy dengan lirih.
"Heeemm" jawab Asih dengan sebuah dehemen.
"Esok Malam kita pelabuhan, untuk menjemput senjata yang dijanjikan akan diantarkan esok.
Namun Edy gak mendengar suara sahutan dari Asih dan ternyata istrinya itu sudah tertidur dengan lelapnya.
Edy kemudian melepaskan dekapannya, membersihkan tubuh Asih menggunakan kain basah lalu memakaikan pakaian yang tadi dikenakan istrinya, dan menyelimutinya.
Sementara itu, Edy membersihkan dirinya dikamar mandi hotel dengan menggunakan air hangat.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Edy mengambil sebuah laptop yang Ia bawa dari tanah air didalam tas ranselnya.
Lalu Ia berseluncur didunia maya, mencari informasi tentang beberapa jaringan mafia yang terkuat dinegara itu.
Ia juga sedang menggali informasi tentang keberadaan Wei yang telah mencuri batu Mustika yang kabarnya telah disusupi kekuatan hitam.
Baginyan Asih adalah segalanya, Ia akan mengorbankan apapun untuk wanitanya, bahkan jikapun nyawa itu harus menjadi taruhannya.
Edy membobol pusat informasi tentang kegiatan organisasi Wei, yang mana akan ada pengiriman para gadis yang dibawa dari tanah air dan akan diperjualbelikan oleh para kelompok mafia sebagai pekerja pemu-as hasrat.
Edy mengerutkan keningnya, yang mana pelabuhan yang akan dijadikan tempat berlabuh adalah pelabuhan dimana Ia akan mendapatkan senjata yang akan dikirimkan melalui jalur laut oleh pengawal istana mertuanya.
Edy menyimpan informasi tersebut dalam sebuah file yang terdapat didalam memory card dan menyembunyikannya disuatu tempat, lalu Ia menghapus jejak pencariannya.
Setelah selesai, Ia menuju ranjang, dan mengecup lembut kening sang istri yang sudah tertidur pulas dan sedang merajut mimpi sebelum Ia beranjak tidur.