
Keempat tamu tak diundang itu memasuki goa dengan mata yang tak mampu berkedip. Bahkan mereka memasukinya dengan lancang tanpa memberi salam kepada yang empunya tempat.
Tatapan serakah dan ketamakan tergambar jelas diwajah dan sorot mata mereka.
Mereka tampak seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Gila... Bagaiamana mungkin batu-batu semahal ini bertebaran didinding dan dihampir semua tempat" oceh Dori yang menatap tak berkedip.
Mereka terlihat sangat bingung, senang, dan juga takjub. Bahkan mereka berfikir bagaimana caranya untuk membawa semua benda-benda tersebut.
Sesaat sebuah signal masuk kedalam phonsel pintar milik sang Big Bos mereka. Lalu Ia tampak sibuk mengetik sesuatu dan mengirimkan pesannya.
Sementara itu, Edy masih sibuk dengan ritual mandinya didalam ceruk, sedangkan Asih berada didalam kamarnya dan sedang menualjn pakaian.
Keduanya tak menyadari jika ada tamu yang tak diundang datang nyelonong masuk kedalam goa.
Disisi lain, Sani melihat beberapa potong rebusan ubi jalar dan juga jagung yang diletakkan diatas pinggan yang terbuat daei batu giok murni yang bernilai dengan harga fantastis.
"Gila..! batu semahal ini digunakan untuk wadah meletakkan makanan murahan seperti ini" ucap Sani sembari mencomot ubi jalar tersebut, dan mengkunyahnya.
Hal tersebut sangat membingungkan bagi mereka. Bagaimana mungkin penghuni goa itu dapat menggunakan batuan permata bernilai fantastis tersebut dengan sangat sepelenya.
Asih yang baru saja selesai menyalin pakaiananya, merasa curiga dengan suara derap langkah kaki yang terdengar sangat banyak diruangan utama Goa. Ia mencoba memeriksanya.
Saat masih beeada didalam lorong, Ia tidak sengaja mendengar suara-suara orang sedang bercakap-cakap.
Asih merasa jika itu bukan suara Edy. Karena Ia yakin jika pemuda itu sedang mandi didalam ceruk.
Saat sudah berada dilorong goa, Ia melihat ada banyak bayangan laki-laki yang terpendar oleh cahaya suluh bambu. Seketika Ia membekap mulutnya.
Kini Ia menyadari jika goanya telah kedatangan tamu yang tidak diundang dan tentunya yampak memiliki aura jahat.
Asih berjalan mengendap, mencoba melihat lebih dekat siapa saja para penyusup yang telah masuk kerumahnya tanpa permisi terlebih dahulu.
Setelah berhasil bersembunyi dibalik dinding goa, Asih melihat dalam pandangan yang menuju sosok seseorang bertubuh kekar dengan pakaian yang sedikit berbeda dari yang lainnya.
"Sialan.. Ternyata Dia membuntutiku sampai kemari" guman Asih dalam hatinya.
Lalu Ia melihat seorang pria yang sedang mengkunyah ubi jalar yang baru saja selesai direbusnya. Pria itu mengkunyah seakan kelaparan dan tampak begitu rakus.
Kedua pria lainnya tampak berusaha mencungkil batu permata yang berada didinding goa mennggunakan golok yang mereka pegang.
Asih dapat menebak jika tujuan mereka membuntutinya adalah untuk mengambil batu permata yang berada dilehernya. Namun mereka dikejutkan oleh banyaknya batu permata yang bertebaran didinding goa dan juga ornamen yang melekat disetiap perabotan.
Mereka tampak bingung harus mengambil yang mana lebih dahulu karena sangat banyaknya.
Sesaat Edy sudah selesai dengan mandinya. Ia beranjak keluar dengan santainya dan melihat Asih sedang dalam posisi seperti orang yang sedang mengintai.
Lalu Ia menepuk pundak gadis itu hingga tersentak kaget.
Asih melayangkan cubitan dipinggang pemuda itu hang membuatnya hampir berteriak karrna sakit. Nmun Asih dengan cepat membekap mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Mata Asih membola dan mendorong pemuda itu mundur kebelakang hingga sampai diruangan tidurnya.
Ia menatap tajam pada Pemuda itu dengan tatapan imtimidasi.
"Mengapa mereka membuntutiku hingga kemari? Apakah Kau sengaja menggiring mereka?" cecar Asih dengan tatapan tajam
Edy yang mendapat cecaran dari Asih mengernyitkan keningnya karena merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Asih.
"Apa dn siapa yang maksudkan?" tanya Edy dengan bingung.
Asih semakin jengkel dengan pernyataan Edy yang dianggapnya hanya berpura-pura saja dan mencoba mengelabuinya.
"Kau jangan berpura-pura untuk membohongiku, karena Aku tidak suka dibohongi" ucap Asih dengan nada kesal.
Seketika Edy semakin bingung dengan ucapan Asih yang dianggapnya mengada-ngada.
Saat keduanya sedang berdebat. Seketika mereka mendengar suara dentingan dari benda logam yang saling beradu.
Saat hampir sampai, Ia dikejutkan dengan sosok yang sedang dilihatnya. Edy dengan cepat menyandarkan tubuhnya didinding.
Dadanya bergemuruh, bahkan denyut jantungnya berdetak lebih kencang berbeda dari biasanya.
Edy menjadi bingung sekarang, bagaimana Ia harus memilih salah satu diantara keduanya.
Asih kini berjalan menghampirinya, masih dengan tatapan curiga.
Saat keduanya saling berdebat dalam bathin, seorang diantara mereka yang bernama Sani masuk kedalam lorong dan sedang berhadapan.
Seketika Sani terperangah "Bosss.. Ini Edy" teriaknya dengan lantang, sehingga membuat kedua belah pihak saling pandang.
Pria yang dipanggil Bos tersebut bergegas menghampiri panggilan Sani.
"Bos, lihatlah Dia?" acap Sani sembari menunjukkan jemari telunjukkanny kearah dua orang yang sedang beradu argumen tersebut.
Seketika Pria yang dipanggil bos tersebut melihat kearah Jemari telunjuk itu.
Seketika raut wajahnya berubah. Ia laksana orang yang melihat sesuatu yang sangat mengejutkannya.
"Kau?! Dasar anak sialan" ucapnya dengan berang.
Wajah Edy mendadak berubah. Pria itu menatapanya dengan tatapan intimidasi.
"Tangkap Anak sialan itu.!!" ucap si Bos yang tak lain adalah Andre.
Sani memanggil Jodi dan juga Dori untuk membantunya menangkap pemuda itu.
Edy melangkah mundur, mencoba mengindari ketigaanya. Bahkan ketiga pria itu sudah mempercepat langkahnya.
Edy menggemgam pergelangan tangaan Asih, mencoba melindungi sang gadisnya.
"Tidak, jangan sakiti Dia, atau kalian akan menyesalinya" ancam Edy kepada ketiga pria yang sedang berjalan dihadapannnya.
Ketiganya tidak memperdulikan ucapan Edy. Mereka terus melangkah dan ingin segera menangkapnya. ketiganya bergerak cepat dan berhasil menyergapnya.
Edy meronta meminta agar segera dilepaskan.
"Hei... Bersikap manislah, atau Papamu akan menghukumu" ucap pria itu dengan nada mengejek.
Asih yang menyaksikan Edy meronta-ronta karena gak ingin berpisah dari Asih.
Lalu ketiganya menyeret paksa pemuda itu atas perintah bos mereka.
P
Sesampainya diruangan utama. Edy dipaksa untuk mencungkil batu permata itu.
Asih yang melihat Edy meronta-ronta tampak begitu frustasi..
Saat mereka memaksa Edy untuk mengambil salah satu batu permata yang menempel disetiap dinding, Asih segera memberikan tendangan kepada pria pembawa golok yang tak lain adalah Dori.
Pertarungan akhirmya belaku. Asih memberikan tendangan dan tangkisan dari ketiga lawannya.
Mereka saling serang dan terus saling melumpuhkan.
Melihat kondisi yang diyakini Andre akan mengalami kekalahan, maka pria itu mengambil senjata apinya,dan berniat menembak Asih.
Pria itu membidik Asih dan bersiap menarik pelatuknya.
Lalu*****
Dooor..
Terdengar suara tembakan yang sangat keras dan lengkingam seseorang yang sangat memilukan.
Seketika pertarungan berhenti sejenak, saat melihat Edy terkapar karena tertembak dibagian pundaknya demi untuk melindungi gadisnya.