
Setelah puas menikmati sari dari proses pembusukan itu. Tetuah tersebut atau ketua suku itu kembali beranjak dan melakukan pemujaan lalu mantra-mantra aneh.
Dan hal yang paling membuat Edy sangat mual, Ia melihat tetuah itu mengerat daging jasad yang tergantung itu dan memakannya.
Melihat hal tersebut, Edy merangkak perlahan menuju keluar kepantai. Setelah merasa sangat jauh dari para suku yang melakukan ritual gila itu, Ia memuntahkan segalah isi perutnya.
Rasa mual membayangkan semua yang dilihatnya.
Ia bergidik dengan membayangkan apa yang sedang terjadi dipulau ini.
"Ini gila.." memutar tubuhnya menatap Asih yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya.
"Kita harus segera keluar dari pulau ini. Kita harus mencari cara untuk kembali" ucap Edy dengan perasaan kalut.
Asih hanya terdiam dan mencoba mencerna ucapan Edy. Tampak pemuda itu benar-benar sangat ketakutan.
Sesaat mereka melihat sebuah perahu motor sedang menuju kearah pantai. Asih menarik Edy untuk bersembunyi, padahal Edy ingin berteriak untuk memanggil pengemudi perahu itu untuk meminta bantuan.
Namun Asih membekap mulut Edy dan membuat pemuda terpaksa mengikuti perintah sang gadis.
Sesaat tampak 3 orang turun dari perahu motor dan membawa 2 orang tawanan.
Dipastikan dua orang tawanan itu seperti seorang turis yang mereka bawa dari luar pulau.
Mereka mengikat kedua tawanan itu, lalu memereteli semua barang berharga dan mengambilnya.
Setelah merampas semua barang-barang berharga tersebut, maka mereka membunyikan sebuah peluit yang sepertinya sebuah tanda dalam berkomunikasi.
Benar saja, tak berapa lama, tampak dua orang lelaki dari suku tersebut datang menghampiri ketiga orang bertubuh tegap tersebut dan sedang melakukan tawar menawar dengan sesuatu. Lalu tampak kedua pria utusan dari suku itu memberikan sesuatu dan mereka menyepakati sesuatu.
Lalu kedua pria utusan suku itu membawa kedua tawanan dan masuk kedalam hutan. Sedangkan ketiga pria berwajah yang hampir mirip dengan suku tersebut itu tampak membagi-bagi hasil dari harta rampasan dan juga pemberian utusan kedua pria itu.
Lalu mereka menghisap rokok sembari bercakap-cakap tak jelas dan akan beranjak pergi.
"Tataplah disini, dan jangan keluar sebelum Aku menyuruhmu" titah Asih kepada Edy.
Pemuda itu hanya mengangguk, dan sepertinya Asih memiliki sebuah rencana yang tanpa Ia ketahui apa.
Asih keluar dari persembunyian. Ia tampak berjalan melenggang seolah-olah tak menyadari ketiga pria berwajah menjijikkan itu.
Seketika ketiga pria itu terperangah melihat seorang gadis cantik berjalan seorang diri ditepi pantai.
Mereka memastikan jika mereka tak pernah membawa tawanan seperti Asih, lalu mengapa tiba-tiba ada gadis cantik terdampar di pulau yang jarang diketahui oleh manusia tersebut.
Ketiganya bagaikan meleleh air liurnya melihat Asih yang tampak sengaja menggoda mereka.
Melihat kecantikan Asih, ketiganya hilang akal dan perduli dari mana asal gadis itu.
Ketiga setengah berlari menghampiri Asih, lalu seolah berebut ingin menjamah gadis cantik molek tersebut.
Dan saat salah satu dari mereka mencoba mencolek bokong Asih, Edy yang sedari tadi mengintai membeliakkan matanya, namun Asih mengedipkan matanya kepada pemuda itu, pertanda untuk bersabar.
Lalu tanpa diketahui ketiganya, Asih menangkap pergelangan pria itu, dengan senyum seringai, Asih memutar tangan sang pria, dan..
Aaaaarrgh...
Pria itu mengerang kesakitan dan tersentak kaget memandang Asih dengan wajah kesakitan.
Pria itu terlempar dan tersungkur ditanah. Lalu kedua pria lainnya merasa sangat kesal dan mencoba menyerang Asih.
Dengan senyum manis namun mematikan, Asih menahan serangan keduanya, memberikan pukulan dan tendangan yang telak membuat keduanya kewalahan menghadapi satu orang gadis saja.
Saat seorang pria bertampang menjijikkan itu mencoba melayangkan tinjunya kewajah Asih, gadis itu menangkap dengan tangan mungilnya, lalu memutar tubuhnya, dan mendaratkan sikunya di dada pria itu, dan masih tetap memegang tinju lawannya, Asih memberikan tendangan disenjata lawannya.
Aaaargh...
Pria itu muntah darah dan ambruk dipasir pantai yang tampak mulai merah bercampur darah pria tersebut.
Lalu pria yang masih bengong menonton mulai bergerak, Ia membuang rokoknya dengan kasar, lalu menyerang Asih.
Ia memberikan tendangan demi tendangan kepada Asih. Saat tendangan berikutnya, Asih menangkap pergelangan kaki sang pria, lalu dengan memiringkan telapak tangannya membentuk seperti sedang ingin memotong, Asih memukulkannya dengan menggunakan tenaga dalam tepat ditulang kering lawannya.
Lalu melepaskan cengkramannya, dengan gerakan melayang dan berputar Ia memberikan tendangan didagu sang pria, kembali percikan darah segar keluar dari mulutnya.
Pria itu tersungkur menyusul temannya.
Sesaat pria pertama yang dihajar Asih tadi berusaha bangkit untuk menyerang Asih dari arah belakang. Namun Asih dapat melihatnya dari bayang pria tersebut yang terpendar cahaya mentari.
Asih bergerak cepat meraih pasir putih dipantai dan melemparkannya kewajah pria itu.
Seketika pria itu kebingungan karena rasa sakit yang luar biasa dikedua matanya.
Lalu tanpa memberi ampun, Asih melumpuhkan pria itu dengan mematahkan tulang rusuknya menggunakan sikunya.
Seketika pria itu ambruk.
Asih kemudian memanggil Edy untuk keluar dari semak belukar dan menghampiri Asih yang tampak masih tetap santai setelah berhasil melumpuhkan ketiga pria tersebut.
Asih membisikkan sesuatu kepada Asih, yang membuat Edy membeliakkan matanya.
Lalu Asih meminta Edy untuk menyembunyikan ketiga pria tersebut.
Sementara itu, Asih menarik perahu motor kedaratan dan menyembunyikannya di balik semak belukar. Jika seorang gadis normal, tidaklah mungkin tenaga gadis dapat menarik perahu motor seorang diri.
Setelah menyelesaikan semuanya. Mereka menguruk darah yang berceceran dipasir pantai tersebut, lalu memunguti kelapa muda yang saat pagi tadi mereka ambil.
Lalu keduanya kembali bersembunyi ke semak, menunggu hari gelap.
Mereka bukannya tidak ingin pergi saat ini juga, namun mereka juga harus membawa kedua tawanan itu dengan hidup-hidup.
Asih dan Edy hanya dapat memakan daging buah kelapa dan meminum airnya untuk saat ini.
Lalu keduanya mulai menyusun rencana untuk menyelamatkan kedua turis yang sedang ditawan tersebut.
Keduanya terpaksa beristirahat disemak-semak, agar mereka tidak diketahui oleh para suku yang menganut ritual aneh tersebut.
Sementara itu, dua tawanan yang terdiri dari sepasang kekasih itu dijebak oleh ketiga pria tersebut. Dengan iming-iming berlibur kepulau indah dan fasilitas mewah.
Ketiga pria itu menjebak para korbannya dengan menunjukkan brosur penginapan dan harga murah untuk menginap dan menikmati dipulau yang indah. Namun, itu adalah awal dari bencana yang mereka hadapi.
Kini kedua sepasang kekasih itu di letakkan di sebuah kurungan yang terbuat dari batang-batang kayu sebesar lengan orang dewasa.
Wajah-wajah mereka tampak ketakutan dan sangat berharap ada seseorang yang dapat menyelamatkan mereka.