
Andre sudah selesai dengan mandinya. Ia menggunakan pakaian olahraga, sebuah celana setinggi lutut dengan kaos training serta menggunakan sepatu olah raga dengan harga yang pastinya sangat mahal.
Ia keluar dari rumahnya, mencoba menikmati udara pagi ini.
Disisi lain, Dina masih merasa canggung untuk beradaptasi tinggal ditengah perkotaan.
"Kanda kembali dulu, nanti malam Kanda akan datang menjengukmu, dinda berdandanlah yang cantik" ucap Bromo, semabri mengecup lembut ujung kepala Istrinya.
Dina hanya menganggukkan kepalanya, meski berat harus ditinggal oeh suaminya, namun Ia harus terbiasa hidup ditengah kota, hal yang masih terasa asing baginya.
"Dikamar Kanda ada meninggalkan uang, pakailah untuk membeli kebutuhan dan keperluan Dinda" ucap Bromo, lalu berpamitan dan menghilang.
Dina menghela nafasnya, dan mencoba memberanikan dirinya untuk tinggal ditempat yang asing ini.
Dina mreasakan sangat lapar. Ia mencoba pergi kedapur dan memeriksa bahan apa saja yang tersedia disana.
Ia melihat lemari pendingin dengan ukuran yang cukup besar. Ia membukanya, dan tak menemukan apapun disana.
Ternyata Bromo hanya meninggalkan uang saja, tanpa bahan makannan. Maka Dina harus berbelanja sendiri.
Ia teringat akan uang yang dikatakan oleh Bromo untuknya. Ia menuju kamarnya, mencoba mencari uang yang dikatakan oleh suami silumannya.
Saat membuka pintu, Ia tercengang dengan kondisi kamar yang mewah. Dina menghampiri lemari pakaian, banyak terdapat pakaian yang indah dan mahal, juga mengikuti perkembangan zaman.
Dina mengambil salah satunya, sebuah dress simple, namun sangat pas ditubuhnya yang mungil namun berisi.
Ia mematut dirinya dicermin, lalu menyisir rambutanya dan dibiarkan tergerai begitu saja.
Ia memoleskan lipstik berwana nude yang membuatnya semakin cantik mempesona.
Meskipun sudah berusia 38 tahun, namun kecantikannya masih tampak sama dan bahkan semakin mempesona.
Ia menggunakan sendal jepit dan keluar rumah, lalu menguncinya.
Andre sedang berlari-lari kecil. Ia menggunakan topi dan kacamata hitam serta memasang hadset serta musik ringan.
Dina berjalan dan celingukan melihat kanan kiri untuk memilih arah jalan yang mana akan ditempuhnya.
Katena bingung, Ia mencoba bertanya kepada seorang wanita yang sedang melintas, dimana Ia dapat menemukan tempat untuknya berbelanja.
Sesaat wanita itu menunjukkan arah sebuah minimarket dan memberikan arahan kepada Dina.
Seaaat Dina menganggukkan kepalanya, mencoba mengerti dengan apa yang diarahkan wanita itu.
Lalu Dina berjalan menyusuri trotoar yang diarahkan oleh wanita itu.
Orang-orang memandangnya dengan begitu takjub. Apalagi para pria yang sedang berpapasan ataupun sedang mangkal. Mereka begitu terpesona akan aura kecantikan wanita tersebut.
setelah jauh berjalan, akhiranya Dina menemukan minimarket yang dikatakan oleh wanita tadi.
Dina sedikit kikuk, karena baru pertama kalinya memasuki tempat itu.
Ia melihat ada banyak berbagai barang kebutuhan tersusun rapi dirak-rak minimarket.
Ia masih mengingat barang-barang yang biasa dibeli Umi saat didesa.
Ia melihat orang-orang yang berbelanja mengambil keranjang berwarna kuning sebagai wadah untuk meletakkan barang belanjaan mereka, Dina mencoba mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut.
Andre yang sudah jauh berlari santai, kini merasakan nafasnya tersengal dan juga merasa haus. Ia memasuki minimarket untuk membeli minuman botol air mineral.
Ia memasuki minimarket dan berniat memilih air mineral yang berada dilemari pendingin.
Sementara itu, Dina sudah banyak memilih bahan kebutuhannya. Dari beras, mie instan, minyak goreng, telur dan juga barang lainnya.
Ia melihat kopi kesukaannya. Ia teringat nika Abah sangat menyukai kopi hitam itu, dan selalu Ia seduhkan setiap pagi sewaktu remaja dulu. Ia teringat akan Abahnya, dan ingin mengambil kopi itu.
Sesaat Dina memandang seorang pria disisinya yang menggunakan kacamata hitam dan memakai topi sedang menatapnya bingung serta bengong.
"Ambillah, jika Kamu menginginkannya" ucap Dina ramah, lalu melepaskan bungkus kopi itu, dan memilih mengambil bungkus yang masih tersisa satu lagi.
Lalu Dina memasukkan kopi itu kedalam keranjangnya dan menjnggalkan pria itu yang berdiri mematung hingga Dina menghilang dari pandangannya.
Kini Dina bingung untuk membayarnya dimana. Ia melihat ada dua orang mengantri sembari menenteng keranjang belanja mereka masing-masing.
Lalu Ia melihat seorang pembeli itu membayar belanjanya ditempat tersebut. Maka Dina memastikan jika itu tempat pembayarannya.
Ia ikut mengantri, dan kini hanya tinggal seorang wanita dan dirinya yang menunggu antrian.
Sementara itu, Pria yang tak lain adalah Andre merasakan detak jantungnya berdetak begitu sangat kencang. Ia seperti sedang mengalami tremor dan tak tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Ia menuju kasir, dan melihat wanita yang membuat dadanya bergemuruh itu sedang mengantri. Lalu kini gilirannya yang menyerahkan semua belanjaannya dan menunggu kasih menghitungnya.
Andre melangkahkan kakinya menuju kasir, ikut mengantri dibelakang wanita.
Rambut itu, tubuh langsing berisi, dengan wajah ayu rupawan. Apakah Ia wanita yang sama? Atau Ia hanya sedang berhalusinasi.
Andre bingung mengapa Ia begitu sangat gemetaran. Tubuhnya tak juga dapat dikontrol untuk menetralkan detak jantungnya.
Dina sudah selesai belanja, Ia menenteng begitu banyak belanjaan, namun sepertinya tidak merasa keberatan.
Andre mempercepat membayar belanjanya yang hanya sebotol minuman air mineral, Ia tidak jadi mengambil kopi tersebut.
Andre terburu-buru keluar dari minimarket, dan layanknya seorang penguntit, Ia mengukuti Dina dari kejauhan.
Ia tidak pernah merasakan begitu penasaran kepada seorang wanita, kecuali seorang gadis yang pernahbIa tinggalkan didesa sekitar 21 tahun yang lalu.
Dan kini rasa penasaran itu datang kembali, dan mulai mengusiknya.
Ia terus mengikuti kemana arah wanita yang berjalan dengan santainya, seolah tak merasakan berat sedikitpun dengan beban yang dibawanya begitu sangat banyak.
Saat dipertengahan jalan, Ia melihat beberapa preman mencegah sang wanita. Sepertinya mereka tergoda akan kecantikan dan pesona sang wanita yang begitu memancar sempurnah.
Andre berhenti sejenak, mencoba memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh ke tiga preman itu.
Dina menghentikan langkahnya, lalu berdiri terdiam saat melihat para preman itu mulai mengitarinya.
"Hello cantik, gak berat ya bawa karung beras dan belanjaan sendirian?" tanya seorang diantara mereka, yang menggunakan kaos singlet dan memperlihatkan tato hampir diseluruh tubuhnya.
Karena gemas melihat bokong Dina yang menonjol dengan pinggang ramping dan pinggulnya yang lebar, salah seorang dari ketiga preman itu memegang bokong Dina dan memikinnya dengan keras.
Andren yang melihatnya merasa sangat marah, entah mengapa Ia tiba-tiba tak suka dengan perbuatan preman itu yang telah memegang bokong wanita yang kini sedang diintainya.
Andre berjalan cepat dan ingin menghajar preman itu, namun Ia kalah cepat, sebab Dina sudah menghajar pria itu dengan mudahnya dan membuatnya babak belur.
Seketika Andre terperangah dan bukan hanya Ia saja yang terkejut dibuat wanita cantik itu, tetapi juga orang-orang yang berada disekitarnya dan juga kedua preman yang menyaksikan rekannya itu babak belur.
Kedua preman itu merasa hancur harga dirinya dikalahkan seorang wanita. Karena selama ini mereka sangat ditakuti oleh warga sekitar dan para pedagang yang sering dipalakin uang dagangannya.
Tak ingin mendapat malu, maka keduanya secara bersamaan menghajar Dina. Namun lagi-lagi orang terperangah dibuat oleh Dina, karena dengan mudah Dina meringkus ketiga preman itu. Apalah preman baginya, Banaspati saja bisa Ia kalahkah, apalgi cuma preman rendahan.
Seketika para pedangan kecil disana bersorak mengejek ketiga preman itu, dan mereka meninggalkan lokasi dengan perasaan malu dan juga dendam kepada Dina.
Dina kembali memunguti belanjaannya, dan akan beranjak pulang. Orang-orang bertepuk tangan dan mengucapkan terimakasih kepada Dina karena sudah berhasil membuat ketiga preman itu babak belur.
Dina hanya tersenyum ramah, lalu berjalan kembali kerumah barunya.
Andre masih terus menjadi penguntit untuk mengetahui dimana sang wanita itu tinggal.