
Edy hanya hanya tersenyum melihat Asih membantai ke tiga pria tersebut. Bahkan Ia menikatinya sebagai tontonan gratis.
Setelah ketiga pria itu terkapar, barulah Asih menyudahi aksinya.
"Kiri Bang.." teriak Edy, lalu turun dari angkot dan diikuti oleh Asih, sedangkan ketiga pria itu hanya meringis menahan sakit.
Asih memberikan uang 100 ribu rupiah, lalu pergi begitu saja, membuat sopir itu bengong.
Edy tampak ingin menyeberangi jalan. Lalu Ia meraih pergelangan tangan Asih, mengajaknya untuk menyeberangi jalanan yang padat.
Setelah berhasil menyeberangi jalan, keduanya dengan berjalan kaki memasuki sebuah Showroom yang ada di depan mereka.
Karyawan showroom itu menghampiri keduanya dengan ragu, sebab, mereka sudah diperhatikan oleh para karyawan yang memandang mereka dengan tatapan ragu-ragu.
"Ada yang dapat Kita bantu, Pak, Bu" ucap Seorang karyawati yang berusaha bersikap ramah kepada calon pembelinya.
Para karyawan mereka menatapi penampilan Asih dan Edy yang terlihat tidak begitu meyakinkan jika mereka memiliki uang.
"Kami butuh mobil yang bagus.." jawab Edy dengan santai.
Lalu karyawati yang berpakaian serba ketat itu mencoba membawa mereka ke tempat mobil yang dipajang.
"Silahkan, Pak, Bu.. Ada harga ada kualitas" ucap Karyawati itu mengingatkan.
Edy melihat mobil yang baknya terbuka sedikit, biasanya tertulis 4×4 didinding mobilnya.
"Yang itu saja, soalnya bisa dibawa kearea atau medan yang sulit" ucap Edy menunjuk salah satu mobil tersebut.
Karyawati itu tersenyum miris "Itu cashnya diatas 600 jutaan" jawab Karyawti itu dengan senyum terpaksa.
"Saya tau, dan saya mau yang itu" ucap Edy menjelaskan sekali lagi.
Karyawati tersenyum simpul, lalu menuju meja pengurusan berkas-berkasnya.
"Silahkan duduk, Pak, Buk" ucap Karyawati itu mempersilahkan.
"Baik, Pak, Buk.. Ini mau dibeli secara cash atau credit..?"tanya. Karyawan administrasi.
"Cash" jawab Edy dengan singkat.
Edy menjulurkan tangannya, meminta Asih mengeluarkan ke dua Kartu saktinya.
Saat Asih membuka tas jorannya, tanpa sengaja karyawan itu melihat sebilah mata pedang yang berkilau dan juga senjata lainnya.
Karyawan itu memucat ketakutan, mengira jika Asih dan Edy akan melakuka n perampokan dishowroom mereka.
Namun akhirnya karyawan itu bernafas lega saat Asih mengeluarkan dua kartu miliknya yang terdapat saldo sangat menggiurkan.
Lalu Asih memberikan juga kartu tanda penduduknya.
Setelah melalui proses yang sedikit panjang, akhirnya mkbil itu sah menjadi milik Asih, karena Mobil itu atas namanya.
Karyawan itu juga tercengang saat melihat isi dari saldo yang dimiliki oleh Asih. Karyawan itu menelan salivanya karena ternyata tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.
sementara itu, jack berlari menghindari kejaran Lee yang tadi mengikutinya. Ia yakin jika gembel itu adalah seoarang intelegen. Ia terus berlari dan mengkabari rekan-rekannya jika pergerakan mereka telah diketahui oleh para aparat.
Melihat Lee yang tak lagi mengejarnya, Jack mencoba mengatur nafasnya, Ia tampak begitu tersengal.
"Aku harus menghubungi si bos.. Tetapi jika sampai mengadu kepadanya dan Aku gagal melakukan tugas darinya, bisa diomelin Aku nanti" guman Jack dalam hatinya.
Setelah dapat mengatur nafasnya, Ia berjalan menuju tempat Ia memarkirkan mobilnya, lalu bergerak meninggalkan lokasi.
Disisi lain, Seorang pria yang sedari tadi tak sadarkan diri, perlahan mengerjapkan matanya, Ia tersentak kaget saat melihat dirinya berada didadalam sebuah ruangan dengan dikelilingi oleh beberapa orang untuk diintrograsi.
"Sudah bangun?" tanya seorang diantara mereka, dengan tatapan penuh selidik.
"Eh.. Anu.." ucapnya dengan gemetar.
"Siapa yang menyuruhmu mengedarkan uang palsu tersebut?" tanya.seorang penyidik dengan penuh penekanan.
"Saya tidak kenal, saya hanya disuruh dan dijanjikan akan diberi imbalan" jawabnya dengan gemetar.
"Jangan bohong..!! Karena jika sampai Kamu berbohong, maka Kamu akan mendaptkan resiko yang lebih besar" ancam penyidik tersebjt, membuat pria itu bergidik ketakutan.
"Benar, pak.. Sumpah.. Saya hanya mengingat wajahnya, tidak tahu namanya" ucap Pria itu gemetaran.
"Baiklah.. Coba gambarkan bagaimana rupanya?" ucap penyidik itu, lalu meminta rekannya untuk melukis wajah pria yang digambarkan tersebut.
Setelah selesai, penyidik tersebut menunjukkan hasil lukisannya kepada pria yang menjadi terduga tersebut.
Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu penyidik terus mengorek informasi dari keterangan para terduga pelaku tindak kejahatan.
Edy dan Asih mengendarai mobil barunya. Mereka mencari sebuah rumah murah untuk mereka tinggal.
"Asih... Nanti malam Aku akan pulang kerumah sekejap, Aku ingin mengambil tabunganku, tidak mungkin Aku mengandalkan tabunganmu saja untuk biaya hidup Kita. Namun sepertinya Aku dan Kamu harus memiliki phonsel agar bisa saling menghubungi satu sama lain" ucap Edy menjelaskan.
Lalu Edy membawa mobilnya kesebuah toko phonsel, dan mereka membeli dua buah phinsel canggih dan lengkap dengan Sim cardnya.
Setelah mengakatifkannya, lalu keduanya bertukar nomor.
Edy menyimpan nama gadis itu dengan nama 'My Honey'. Sedangkan Asih hanya menyimpannya dengan sebuah tanda titik saja.
Lalu keduanya kembali kerencana awal, mencari rumah sederhana untuk tempat tinggal mereka, sembari mengendarai mobil Tri*ton mereka.
Lee merasakan titik signal Asih tidak terlalu jauh dari lokasinya. Asih berpindah-pindah dari satu titik ketitik lainnya.
"Asih... Siapa pemuda itu? Aaaarrrgggh.. " Lee melemparkan barang yang berada diatas mejanya.
Seketika Chakra dan Rere saling pandang, tidak biasanya mereka melihat Lee sekacau itu.
Lalu Cakhra dan Rere berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh, dan juga tidak ingin bertanya. Rere sebenarnya merasa sangat penasaran dengan apa yang dialami oleh atasannya, namun semuanya masih ia coba tahan, jika waktu memungkinkan Ia akan mencoba bertanya tentang apa yang sedang dirasakan oleh atasannya.
Senja berganti malam. Lee melihat jika Asih berhenti disatu titik dan tampaknya menetap disana.
Lee berencana untuk menyantroni rumah tersebut saat Chakra dan Rere sudah tertidur.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggunya tiba, Lee mengendap-endap menyelinap keluar dari markas, lalu menuju ketempat titik dimana Asih berada.
Setelah menemukan titik lokasi, dan Lee memastikan jika rumah mungil di ujung gang yang sangat sepi dan jauh dari rumah penduduk lainnya, merupakan lokasi tempat Asih tinggal, maka Lee menghentikan motornya.
Ia mengamati rumah itu layaknya seorang maling. Sesaat Ia melihat sebuah mobil keluar dari rumah tersebut, Lee bersembunyi dari balik pohon yang tumbuh disekitar lokasi.
"Apakah itu mobil pria yang bersama Asih waktu itu? Jangan-jangan mereka berken*can" guman Lee dalam hatinya.
Setelah mobil itu menjauh, Lee kini berjalan kaki menuju rumah tersebut, lalu perlahan mengetuknya.
Terdengar suara derap langkah kaki menuju pintu, dan pintu terbuka..
"Lee.." ucap gadis itu lirih.
Tanpa dipersilahkan masuk, Lee menyerobot masuk dan mengunci pintu itu dengan cepat.
Layaknya setahun tak bertemu, Lee mendekap tubuh gadis itu dengan erat, melepaskan kerinduannya.
"Aku merindukanmu... Mengapa Kau tega mengkhianatiku, bersama pria lain.. Apakah gak ada rasa cinta dihatimu?" ucap Lee yang semakin mengeratkan dekapannya.
Asih bingung dengan perasaanya. Ia masih mengingat pesan Edy terhadapnya. Namun Ia juga tak ingin melepaskan pemuda itu..