Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 200



Ke sepuluh pria itu tersentak dengan kehadiran sosok bercadar yang membantu petugas pelabuhan palsu tersebut.


Mendapati pelurunya yang dapat ditangkis dengan mudah, maka pria yang mencoba menembak Lee membrondongkan pelurunya ke arah Asih, dqn dengan gerakan cepat Asih menghalaunya dengan menggunakan pedangnya.


Sementara itu Lee menghadapi Ke sembilan pria lainnya.


Mendapati pelurunya telah habis, pria yang merupakan sniper jitu tersebut dengan cepat mengganti senjatanya yang terselip disaku celana bagian sampingnya.


Namun Ia kalah cepat dengan gerakan Asih yang telah lebih dahulu melompat diudara dan mendaratkan kedua lututnya tepat dileher lawannya, lalu gerakan memelintir, hingga terdengar suara tulang leher patah dan membuat pria itu ambruk seketika.


Sementara itu, Edy juga mengenakan penutup wajah dan membantu membantu menghabisi sisa kesembilan pria berpakaian hitam tersebut.


Mereka terus menembakkan peluru ke arah lawannya dengan sangat cepat.


Lalu Lee mencoba menghindar dibalik badan counteiner dan kembali membalas tembakan para pria berseragam hitam tersebut.


Dua orang diantaranya menyerang Asih dengan terus menembakkan senjata api mereka. Namun Asih mengecoh mereka dengan menghilang dikegelapan malam dan membuat mereka kebingungan.


Dan saat yang tepat, Asih tiba-tiba berada diantara kedua para pria tersebut, dan saat mereka menembakkan pelurunya, Asih menghilang dengan cepat, hingga kedua pria itu saling menembak satu sama lain dan membuat keduanya tercengang dan saling tatap satu sama lain, lalu ambruk bersamaan karena saling tertembak peluru sesama rekannya.


Kedua pria itu terkapar dilantai pelabuhan dengan bersimbah darah.


Dilain sisi, Lee berhasil melumpuhkan salah seorang pria berseragam hitam dengan menembak pria itu tepat dibagian dadanya.


Kini tersisa 6 orang pria lagi. Suasana yang remang-remang membuat membuat mereka kesulitan mencari para penyusup yang berusaha untuk menggagalkan rencana mereka.


Dua orang diantara mereka yang bersiaga saling melindungi dengan berjalan saling memunggungi mencoba menjaga kewaspadaan dengan terus menajamkan segala panca indera mereka untuk mendeteksi keberadaan lawannya.


Dan..


Wuuuusshh.. Buugggh..


Sebuah tendangan tanpa bayangan menghantam keduanya secara bersamaan hingga membuat keduanya terpental dan rubuh ke lantai pelabuhan.


Lalu dengan cepat seorang pria bertopeng melumpuhkan lawannya hingga tak bergerak lagi.


Tersisa 4 pria lagi yang kini bergerak berpencar dan mencoba membaca pergerakan lawannya.


Sebuah bayangan melesat dengan cepat melintasi pria bertubuh kekar yang sedang berada dibalik counteiner dan menatap penuh kewaspadaan.


Lalu sebuah tangan menarik lehernya dari balik celah counteiner dengan menggunakan lengannya, lalu menekannya hingga membuat pria itu kehabisan nafasnya, lalu ambruk dibalik celah counteiner.


Pria berseragam petugas pelabuhan itu muncul dari balik celah counteiner setelah melumpuhkan lawannya.


Tersisa tiga pria yang masih terus mencari lawan merekan dalam kegelapan. Seorang diantaranya berjalan dengan senjata api yang siap siaga.


Lalu dengan tiba-tiba seorang wanita bercadar melompat dari atas counteiner, dan mendarat dileher lawannya, dan menghantamkan sikunya dikepala pria tersebut, hingga lumpuh tak bergerak, Lalu sosok wanita itu melompat diudara dan meberikan tendangan terakhir hingga tak berkutik.


Edy bersembunyi dibalik mobil truck gandeng yang yang terguling, dan ketika seorang lawannya berjalan mengendap dibalik sisi sebelahnya, lalu bayangan pria itu tampak hampir mendekat dengan senjata api ditangannya dan..


Buuughhh...


Sebuah tendangan telak di pergelangan tangannya dan membuat senjata api itu terpental.


Maka pertarungan tangan kosongpun terjadi, hingga membuat mereka saling serang satu sama lainnya.


Pria berseragam hitam itu melayangkan tendangan di perut Edy hingga membuat Edy mundur kebelakang beberapa langkah.


Tersisa satu pria yang masih terus waspada mencari lawannya. Mengetahui jika rekan-rekannya sudah tewas, Ia semakin merasa ciut nyalinya.


Ia mencoba celingukan kesana kemari dengan tetap bersikap waspada, dan...


Buuuuugh.. Sebuah tendangan yang mengahantam punggungnya, lalu pukulan tepat dibagian lehernya yang membuatnya mengalami patah tulang, dan..


Braaaaaaak...


Pria itu ambruk seketika ditangan seorang wanita bercadar.


Sesaat wanita yang tak lain adalah Asih berbalik kngin menghampiri Edy yang tampaknya akan membuka pintu counteiner yang berisi para tahanan wanita.


Namun saat Ia berbalik, Ia tanpa sengaja bertabrakan dengan pria berseragam petugas pelabuhan, dibalik cadarnya Ia dapat melihat siapa pria tersebut, namun sang pria tidak dapat melihat siapa dibalik cadar yang telah membantunya menghancurkan para pria utusan mafia tersebut.


Seketika Asih terdiam, namun Ia tidak ingin membuat pria itu penasaran dan menimbulkan luka dihati sang pria kembali menganga, dengan cepat Ia melesat dan menghampiri Edy yang berhasil membuka gerbong penutup counteriner.


Tanpa menunggu persetujuan Edy, Asih kembali membopong tubuh pria itu dipundaknya, dan menghilang di kegelapanalam, sebelum sang pria mengenali siapa dirinya.


Sementara itu, Lee yang diam terpaku merasa jika Ia mengenali aroma tubuh sang wanita bercadar, namun melihat para tawanan berhamburan keluar dari counteiner, membuyarkan lamunannya.


Dan seperti biasanya, aparat datang terlambat saat semuanya telah usai.


Lalu para aparat kepolisian membawa para tawanan untuk didata dan dikembalikan ke negara asalnya.


Lee berjalan dengan gontai. Ia masih memikirkan siapa sosok dibalik cadar tersebut.


Ia menuju mobil yang disembunyikan disuatu tempat, lalu menuju pulang menuju rumah kostnya.


Sepanjang perjalanan, Ia melihat bayangan mata sang wanita yang tampak begitu tak asing baginya.


Di lain sisi, Asih menghempaskan begitu saja tubuh Edy diatas kasur hotel.


"Awww.. Mengapa Kau begitu sangat kasar? Dan Kau sudah membuatku begitu sangat turun pamorku dihadapan para gadis-gadis itu" omel Edy yang berusaha beranjak bangkit dari ranjangnya.


Asih masih terdiam, dan dan tak menggubris ocehan Edy. Ia masih mengingat dengan jelas tatapan sang pemuda.


Asih mencoba menepisnya dan berusaha melupakannya.


Melihat Asih terdiam sejak dari pelabuhan, Ia merasa sangat penasaran.


Pria itu mencoba menghampiri sang wanitanya "Ada apa, Sayang?" tanya Edy yang mendekap tubuh Asih dari arah belakang.


Mendapati sang suami yang mengkhawatirkannya, Asih memutar tubuhnya dan menghadap Edy, lalu memberikan kecupan termanisnya dibibir sang pujaan hatinya.


"Tidak ada apa-apa, Sayang.. Hanya merasa kasihan melihat para tawanan itu" jawab Asih berbohong.


Edy hanya menaikkan satu alisnya, dan mencoba mempercayai apa yang diucapkan sang istri.


Sementara itu, para tawanan dibawa ke kantor polisi dan tempatkan di asrama yang dijaga ketat oleh aparat.


Mereka diberi perawatan medis, karena banyak yang mengalami dehidrasi dan harus dirawat intensif terlebih dahulu, sebelum dipulangkan kembali ke negara asalnya.


Mereka diberi asupan makanan dan minuman yang membuat mereka kembali untuk memulihkan kesehatannya.


Dan kabar terungkapnya trafficking tersebut membuat amarah Wei memuncak, apalagi diketahui para pengawalnya tewas mengenaskan, meskipun mereka adalah pengawal-pengawal pilihan yang memiliki kemampuan menembak dan bela diri.