Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 204



Lee membawa si gadis pirang ke dalam rumah kos gadis itu yang mana hanya bersebelahan dengannya.


Tampak gadis itu berjalan tertatih dan tampak dibetis sang gadis bekas sabetan benda pipih seperti ikat pinggang.


Lee menduga jika gadis itu mengalami penyiksaan saat berada didalam sekapan sang mafia.


"Mengapa Kau bisa melarikan diri? Atau mereka sengaja melepaskanmu?" tanya Lee penasaran.


Lalu sang gadis menggelengkan kepalanya.


"lalu siapa?"


"Seorang gadis cantik yang juga mengalami penculikan sama sepertiku, namun bedanya Ia memiliki ilmu bela diri yang tinggi sehinggga dapat melumpuhkan si Robert sialan itu" jawab sang gadis dengan kesal.


Seketika Lee terdiam "Seperti apa ciri-cirinya?" cecar Lee tak sabar.


Si gadis pirang memasuki rumah kosnya dan duduk di sofa dengan tubuh lelah. Lee mengekorinya.


"Ya cantik. Rambutnya lurus panjang sepinggang dengan diikat ekor kuda. Ia memakai pakaian stelan yang terbuat dari kulit berwarna coklat tua dengan pas dibodynya yang ramping" jawab si gadis pirang menyebutkan ciri-cirinya.


"Apakah Ia membawa pedang?" tanya Lee dengan penuh selidik.


Si gadis pirang menggelengkan kepalanya "Sepertinya mereka menculik gadis itu saat sedang tertidur" gadis itu menghela nafasnya dengan berat.


Lee beranjak dari duduknya, mengambil air putih dari dalam lemari es dan memberikannya kepada gadis tersebut.


Si gadis pirang menerimanya, lalu meneguknya hingga habis.


"Yang mengherankan, Ia bisa menggendongku dibahunya dan membawaku hingga kemari. Bukankah itu hal yang mustahil?" ucap si gadis yang tampak bingung sendiri.


Lee semakin meyakini jika wanita yang dimaksud gadis itu adalah Asih. Namun mengapa Asih bisa sampai ke negera Asing? Apa yang dicarinya? Bahkan sampai terlibat dengan Mafia bernama Robert tersebut? Lee masih begitu sangat penasaran.


"Mengapa kau begitu ingin tahu tentang gadis itu? Apakah Kau mengenalnya?" tanya si gadis penuh selidik.


Lee menatap si gadis pirang "Tidak.. Aku tidak mengenalnya" jawab Lee cepat. Ia tidak ingin orang-orang mengenal Asih apalagi sampai mencurigainya.


"Oh, Ya.. Aku Lee.. Kamu siapa?" tanya Lee memcoba mengalihakan pembicaraan mereka.


"Aku Rebbeca, senang bertemu denganmu"ucap Rebbeca dengan senyum termanisnya.


Lee menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Baiklah.. Aku pulang dulu, kamu istirahatlah" ucap Lee, lalu beranjak keluar dari rumah kos milik Rebecca, dan berlalu pergi.


Gadis itu segera menutup pintu dan menguncinya. Sesaat Ia menghubungi seseorang dan tampak sangat serius.


Sementara itu. Robert merangkak untuk bangkit. Ia merasakan lato-latonya sangat begitu sakit akibat tendangan yang dilakukan oleh Asih.


Ia tak menduga jika tanpa senjata apapun alias tangan kosong, Asih dapat melumpuhkannya.


"Siaall..! Bisa-bisanya Aku dikalahkan oleh gadis itu. Mengapa Ia memiliki tenaga yang begitu kuat? Makan apa dia? Masa Iya makan besi" gerutu Robert dengan kesal dan mencoba berdiri dengan tubuh sempoyongan.


Sesampainya diranjangnya, Ia menelfon bodyguardnya untuk memanggil dokter, sebab Ia tidak ingin lato-lato dan senjatanya harus hancur ditangan si gadis misterius.


Lee memasuki kamarnya. Ia mencoba mengingat kejadian di pelabuhan dan juga di kantor polisi. Ia memastikan jika wanita bercadar itu adalah Asih dan Ia juga sudah mengenali jurus sang wanita, sebab Ia sudah lama mengenalnya.


Lee berbaring ditepian ranjang dengan menatap nanar langit-langit kamar kos nya.


"Mengapa Kau sampai berada ditempat ini? Itu sama saja kau membuatku semakin sulit untuk melupakanmu Asih.." Guman Lee lirih dan penuh dengan hati yang luka.


Di sisi lain, Robert mengerang kesakitan saat Dokter memeriksa kondisi lato-lato dan senjatanya yang tampak membengkak dan memerah.


"Apakah ini dapat sembuh, Dok?" tanya Robert penaaaran.


"Ya tergantung keburuntungan" jawab Dokter itu yang menambah semangatnya semakin menurun.


Ia memandang ke arah benda kesayangannya yang tampak membengkak.


"Minum obat ini dengan teratur dan oleskan salep ini. Diharapkan Anda tidak dulu melakukan hal bercinta dan bekerja berat jika tidak ingin senjata kesayangan anda bertambah bengkak dan bisa saja di operasi" pesan sang dokter yang membuat Robert semakin bergidik.


"Siaaall..!! Awas saja jika aku menemukanmu kembali" maki Robert kepada Asih.


Lalu dokter itu berpamitan untuk pergi, dan keluar dari kamar Robert.


Ditempat lain, Rebbeca membuka pakaiannya, lalu memeriksa berbagai bekas luka sabetan yang yang dilakukan oleh Robert.


Ia mengambil salep pereda nyeri dan mengoleskan semua bekas luka sabetan tersebut.


Rebecca merasa jika gadis yang menyelamatkannya itu membuat Robert lemah. Sebab itu terlihat dari cara pandangan Robert kepada sang gadis tangguh tersebut.


Rebecca menyadari jika seorang gadis sepertinya, seharusnya memiliki kemapuan bela diri seperti yang dimiliki oleh si gadis penyelamat dirinya.


"Bagaimanapun Aku harus mengucapkan terimakasih kepadanya, jika bertemu suatu saat nanti" guman Rebbeca dengan lirih.


Ia meringis menahan sakit saat mengoleskan salep itu dibagian luka dekat buah melonnya.


Ia tak menduga jika Robert sangatlah kejam dan juga kasar. Ia harus berhati-hati dan mempersiapkan senjata jika ingin berpergian.


Rebecca kembali memakai pakaiannya dan mencoba untuk beristirahat.


Malam semakin larut, namun Lee masih terbenam dalam bayangan Asih. Saat-saat mereka melewati waktu bersama dan saat awal mereka bertemu membuatnya kembali mengulik kenangan yang tidak dapat dilupakannya begitu saja.


Ia mencoba memejamkan matanya dan berharap semua tentang Asih akan hilang saat Ia terbangun dari tidurnya.


Sementara itu Robert sibuk dengan senjatanya, dan mengoleskan salep pereda nyeri yang diberi oleh dokter tersebut dan itu sangat menyiksanya.


Bagaimana mungkin Ia harus libur bercinta, dan jika saja sampai Ia tidak dapat lagi melakukan kebiasaanya, maka itu akan membuatnya hilang pamornya.


Robert meringis menahan sakit saat menyentuh lato-latonya. Mungkin itu balasan bagi Robert karena telah menyiksa Rebecca, kini Ia mendapatkan karmanya.


Bodyguard kepercayaannya masuk ke kamarnya dan tanpa sengaja melihat lato-lato milik Robert yang membengkak. Ia ingin tertawa dan juga kasihan, hingga membekap mulutnya dan memutar tubuhnya kembali kebelakang.


Robert yang tak menyadari jika menjadi bahan tertawaan bodyguardnya masih sibuk mengoleskan salep tersebut dan berharap segera sembuh.


Tiba-tiba saja Lukas masuk menyelonong ke kamar kakaknya dan tersentak kaget melihat apa yang terjadi pada kakaknya.


"Apa yang terkadi padamu? Mengapa bisa sampai seperti ini?" tanya Lukas penasaran.


"Diamlah..!! Dan cepat keluar, ini bukan urusanmu..!!" jawab Robert kasar. Ia tidak ingin Lukas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Lalu Lukas mau tak mau meninggalkan kamar Robert yang tampaknya sedang dalam kondisi kesal, dan Ia tak ingin mencari masalah lalu memilih untuk keluar.