Buhul ghaib

Buhul ghaib
Serangan Ular Berbisa



Dina beranjak dari tidurnya. Ia begitu sangat lelahnya.


pukul 3 pagi. Dina bergegas untuk bangun. Ia merasa sangatningin buang air kecil. Bayangan pria yang masuk kedalam kamarnya masih terngiang jelas dibenaknya. Namun Ia memastikan jika pria itu kini sedang dalam kesakitan, dan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.


Dina beranjak dari ranjangnya. Ia keluar menuju dapur dan mengarah berjalan ke sungai untuk berwudu'.


Dina menuruni jalanan tanah merah yang terasa licin karena terpaan hujan malam tadi. Dina berjalan dengan sangat hati-hati.


Sesampainya ditepian sungai, Dina mengambil timba air, lalu mengangkat air.


Ia merasakan sesak pipis, lalu bergegas menunaikan hajatnya. Setelah selesai Ia beristinja.


Kini Ia ingin sekalian berwudhu' sembari menunggu adzan subuh.


Saat Ia menimba air tersebut, Ia mendengar suara desisan ular. Saat Ia belum sempat untuk memastikannya, tampak seekor ular raksasa berkepala manusia sebesar bayang pohon kelapa dengan panjang 10 meter, menyembul dari dalam air. Lalu melipat tubuhnya seperti lingkaran anti nyamuk.


Ular berkepala manusia itu membawa tongkat bermata biru . Perlahab Ia semakin mendekatkan dirinya kepada Dina, dan jarak mereka yang cukup dekat.


Dina menjatuhkan timbanya ditepian sungai. Ia berdiri terpaku, menatap Ristih dengan nafas memburu.


Ia melit tubuh Dina lalu membawa Dina mengambang tinggi setinggi tiga meter diudara.


"Kau.. Mengapa kau hadir dalam kehidupanku..? Kau merusak segalanya. Kehadiranmu telah membuat pria pujaanku menghindariku. apakah kau tau.? Aku sangat membencimu, dan aku ingin melenyapkanmu.!" ucap Ristih dengan lirih dan penuh penekanan.


Dina merasakan tulang-tulang tubuhnya seakan hendak remuk. Ia kesulitan bernafas, karena Tistih begitu erat membelitnya.


Sepertinya siluman ular itu begitu sangat membenci dan menaruh dendam padanya.


Ristih seolah-olah menganggap Dina sebagai bencana dan ancaman untuknya.


Ular siluman itu semakin mengeratkan belitannya, membuat Dina semakin sesak.


"Kau dan anak gadismu itu sama saja. Sama-sama sialan dan menyulitkanku. Tahukah kau? Anak gadismu itu yelah melukai anakku, dan kini aku sebagai ibunya, akan menuntut balas pada Ibunya, atas ketidak sopanannya." Ristih menambahnjumlah belitan dan memperratkannya.


Dina semakin lemah, dan wajahnya hampir membiru. "aku akan merusak wajahmu yang cantik, agar Sadewo tak lagi menyukaimu." ucap Ristih dengan nada penuh penekannan.


Wajah Ristih dan Dina begitu terasa amat dekat. Dina meringis menahan kesakitan yang teramat sangat. Ia semakin lemah.


Ristih mengangkat tongkatnya keatas. Lau membacakan srbuah mantra kegelapan, seketika tongkatnya mengeluarkan cahaya biru yang menyambar langit, Ia jngin merusak wajah Dina dan menjadikan Dina cacat seumur hidupnya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Bromo saat melihat wajah jelek istrinya.


Seketika langit berubah terang, namun orang tidak menyadarinya. Mereka, seperti merasa tersihir dan tertidur terlelap.


Ristih memutarkan tongkatnya, lalu dari semburat cahaya biru mendadak berubah menjadi hitam pekat. Ristih menggenggam cahaya hitam pekat tersebut ditangannya. Lalu melepaskannya. Cahaya yang kini berubah menjadi asap hitam itu menimbulkan aroma amis yang amat sangat.


Ristih melebarkan telapak tangannya, lalu menggerakkan pergelangan tangannya layaknya seseorang sedang menari. Lalu Ia meniupkannya mengarah kepada wajah Dina.


Asap itu berguluung-gulung dan siap menyambar wajah Dina yang kini sudah pasrah, namun tetap berdoa memohon perlindungan Rabb-Nya


Jarak asap hitam yang bergulung itu semakin dekat, dan hanya sekitar 5 cm meter saja siap merusak kecantikan Dina.


Lalu sebuah cahaya berwrna pink memancar dari kening Dina, dan menghantam asap hitam tersebut, dan menimbulkan suatu ledakan yang sangat dahsyat.


Duuuuuuuaar..


Suara ledakan itu sangat kuat dan menyebar keseluruh alam.


Dina dan Ristih sama terkejutnya. Dina memejamkan matanya untuk menghindari pendaran cahaya tersebut.


Pink diamond yang pernah diletakkan dikeningnya memberikan efek melindungi.


Ristih mentup wajah dan meliduni matanya dengan menggunakan lengannya.


Ristih menggeram, dan keterkejutannya itu membuat Ia sedkit mengendurkan belitannya ditubuhny Dina. Sehingga membuat Dina sedikit lega dan bernafas.


Lalu Ristih kembali memutar tongkatnya, dan ingin mekukai Dina dengan yang lebih dahsyat lagi.


Ia membaca mantra kegelapan, selain ingin membuat cacat wajah Dina Ia juga ingin membuat Dina lumpuh.


Setelah mendapatkan kembali cahaya hitam tersebut, Ristih semakin memperbesar kekuatannya. Ia kembali mengambil kekuatan kegelapan itu dengan wajah penuhbamarah dan dendam.


Ristih meniupkan asap hitam dengan cepat. Asap itu bergulung-gulung dan menimbulkan suara desingan yang amat dahsat. bersamaan dengan itu, sebuah anak panah melesat dengan kecepat tinggi.


Wuuuuusssssshhh...ssstt..


Dan..


Aaagghhhhh...


Seketika Ristih melepaskan belitannya dan tubuh Dina melayang akan jatuh dan..


Wusssh...


Seseorang menangkap pinggangnya dengan cepat, dan mendekapnya penuh cinta.


Ristih mengerang kesakitan. Ia memandang sosok pria yang memnaggul tubuh Dina. Tatapannya sangat tajam.


"Kau..! Akan kuhancurkan desa ini.. Lihat saja..!!" ucap Ristih mengancam. Lalu menghilang.


Bromo merasakan Dina, istrinya meletakkan kepalanya dibahunya. Dina lemah.


Dengan cepat Bromo membawanya masuk kedalam rumah. Abah dan umi masih terlelap dalam peraduannya, dan tak menyadari apa yang sedang terjadi.


Bromo membaringkan tubuh Dina diatas ranjang dengan lembut.


Ia memandang wajah istrinya dengan sendu. Bromo menyibakkan rambut yang menutupi wajah.


Bromo terperanjat, karena ada sedikit noda membiru dipipi dekat dengan telinga kananya. Titik yang semula membiru, kini mulai menghitam.


Ternyata asap hitam buatan Ristih tadi terpecik sedikit mengenai wajah Dina. Asap itu mengandung racun bisa ular yang sangat berbahaya.


"siaalan kamu Ristih..!!" Bromo menggeram dengan penuh amarah. Ingin rasanya Ia meremukkan tubuh siluman ular tersebut. Ia merasa sangat geram. Ia beranjak dari ranjang. Lalu merubah wujud sempurnahnya, Ia mengantisipasi jika tiba -tiba mertuanya terbangun dan melihatnya dalam wujud setengah buaya akan menkmbilkan kegaduhan dan kehebohan.


Bromo keluar dari kamar, menuju rak bumbu. Ia berjalan dengan sangat ringan. Bromo mengambil 7 ruas kunyit, lalu membersihkannya. Ia memarutnya dan menkmbulkan suara.


Sreeek...sreeek...sreek..


Suara itu membangunkan Umi Lastri yang sedang tertidur. Ia merasa penasaran dengan orang yang sedang memarut sesuatu didapur. "apa uang diparut Dina dipagi buta seperti ini..?" umi Lastri merasa heran. Ia beranjak bangkit dari tidurnya. Lalu mencoba keluar dari kamarnya.


Saat Ia berada diambang pintu penghubung dapur,Ia terperanjat dengan penampakan seirang pria berbadan kekar sedang memarut kunyit ditangannya.


"si..siapa kau..? Apa yang sedang kau lakukan disini?" ucap Lastri dengan gemetar.


Bromo memalingkan wajahnya. "Aku Mi, menantu Umi." jawab Bromo tenang. Ia dengan santai memeras parutan kunyit itu dan mengambil sari.


Lastri terperangah dengan apa yang dilihatnya.


"sejak kapan menantunya ini pulang, dan tiba-tiba saja sudah berada didapur.


"untuk apa kunyit itu.?" tanya Lastri penasaran.


"Dina digigit ular berbisa saat akan ke sungai untuk buang air kecil. Jadi sari kunyit ini untuk membuang racunnya dan menetralkannya, serta membantu penyembuhannya." jawab Bromo dengan tenang.


"a..apa..Dina tersengat ular berbisa.?" seketika wajah panik Lastri tergambar jelas diwajahnya. Ia menerobos masuk kedalam kamar untuk mekihat puterinya.


Bromo mengikutinya dari arah belakang.


Tampak Lastri begitu sangat khawatir. "Dina..bangun nak.. Jangan tinggalkan Umi lagi. Isaknya sembari tergugu.


"maaf Umi, bisakah Umi bergeser sedkit, saya akan memberikan ramuan ini untuk menolongnya." titah Bromo dengan sopan.


Lastri mengangguk dan beringsut dari dari tepian ranjang.


Bromo mendekati Dina, laku menyendokkan sedikit demi sedikit sari kunyit tersebut sembari membaca shalawat.


Setelah habis, Bromo meletakkan gelas tersebut keatas meja kayu yang terdapat di sisi ranjang.


Ia kemudian menyentuh kulit wajah Dina yang menghitam. Ia merafalkan mantra dengan memejamkan matanya. Lalu dengan lembut membelai luka menghitam tersebut.


Seketika luka itu menyamar, dan mulai menghilang.


"Bu.. Saya nitip Dina ya, nantinsetelah Ia bangun, tolong buatkan sari kunyit lagi, begitu juga sore nanti. Saya ada urusan sebentar. Dan untuk Abah dan Umi jangan dulu pergi kehutan mencari bambu, karena akan ada serangan ratusan ular yang menuju desa. ingatkan kepada warga agar menutup segala lubang yang ada dirumah, mengunci pintu dan tidak berkeliaran untuk hari ini." Bromo memberikan penjelasan dan peringatan kepada Umi.


"kau baru saja datang, dan hendak pergi. Bajkan meninggalkan istrimu yang sedang sakit." ucap Lastri dengan kesal.


"maaf Umi, ada sesuatu hal yang harus saya selesaikan, dan sangat mendesak. Saya tidak dapat menjelaskannya kepada Umi. Tolong sampaikan oesan saya tadi kepada Warga, dan jangan sampai lupa" Bromo kembali mengingatkan.


Lastri hanya melongo mendengar perkataan menantunya itu. Dan tanpa menunggu jawaban dari sang mertua, Ia keluar dari kamar, menuju dapur, memberikan persediaan sembako di dekat perapian. Lalu memberi perusai ghaib pada rumah mertuanya, dan segera menghilang, untuk memberikan balasan kepada Ristih.


"


"