
Pria bertubuh tinggi besar terjerembab ditanah. Ia berusaha bangkit dan mencoba untuk kembali melawan.
Ia mengambil senjata tajam milik rekannya yang sudah dikumpuhkan, lalu berdiri dengan sempoyongan dan menghampiri Lee dengan mengayunkan senjata tajamnya.
Lee mencoba menghindarinya, lalu dengan cepat memutar katananya dan mengayunkan tendangannya kepada pria yang sempoyongan tersebut dan membuatnya kembali tersungkur.
Pria itu kembali mencoba bangkit, dan dengan gerakan yang tak tentu arah, pria itu mengayunkan senjata tajamnya kesana-kemari, karena Ia merasa sudah tidak dapat mengontrol pandangannya yang mulai kabur.
Melihat hal tersebut, Bata Sembrani menendangng denngan kuat hingga membuat pria itu tersungkur.
Dengan cepat Lee naik ke atas punggung Bara lalu bergegas meninggalkan para perampok tersebut.
Saat mereka sedang dalam perjalanan, Lee masih merasa bingung bagamana caranya Bara dapat menemukannya, namun Ia tak sempat untuk memikirkannya, karena saat ini Ia sedang dalam perjalanan untuk menjemput Edy yang sedang menuju markas Wei.
Saat memasuki tepian kota, suasana begitu sangat lengang, tak ada aktifitas yang berarti, semua terlihat sepi dan tak ada warga yang terlihat beraktifitas, seluruh rumah terkunci rapat dan hanya terlihat kegiatan mereka jendela kaca yang hanya melintas sejenak atau duduk santai memandang dengan nanar.
Seluruh kota bagai kota mati yang tak berpenghuni yang sepi dan juga lengang.
Bara terus berlari menuju kemana tempat Edy sedang membutuhkan bantuan.
Ditempat lain, seorang pria tampak tersengal nafasnya, Ia seperti merasakan sesak dan bantuan pernafasan sudah diberikan, Ia membutuhkan tranfusi darah untuk mengatasi kondisinya yang saat ini sedang memprihatinkan.
Chakra yang mengetahui hal tersebut segera menghampiri tenaga medis dan menawarkan donor darah untuk pria yang mengalami sesak nafas dan membutuhkan darah.
Setelah melalui pengecekan, ternyata Chakra memiliki golongan darah yang sama dengan pria yang tak lain Andre, ayah biologisnya.
Pria itu menyebut satu nama 'Dina' yang selalu keluar dari bibirnya.
Sepertinya Ia memiliki dosa yang teramat begitu besar terhadap wanita bernama Dina, sehingga membuatnya harus mengigau menyebut nama tersebut.
Chakra mencoba mendekatkan telinganya kepada pria itu, dan kini Ia mendengar jika pria itu menyebut nama ibunya.
Chakra merasa iba, mencoba menyingkirkan dendamnya, dan menggengam tangan Andre yang tampak gelisah dan memanggil nama wanita yang terus berada di memorynya.
Andre tak dapat mengenali sosok Chakra, Ia hanya merasakan nyaman saat jemari itu menggenggam jemarinya.
Seorang tenaga medis datang dan memberikan tranfusi darah kepada Andre. Saat darah itu mengalir ke aliran darahnya, Ia merasakan semakin begitu tenang dan perlahan kegelisahannya kian memudar.
Chakra memandanginya dengan perasaan yang tak dapat Ia lukiskan.
Saat bersamaan, suara kegaduhan terjadi diluar tenda. Chakra melepaskan genggaman tangannya dan mencoba melihat apa yang terjadi diluar sana.
Rere berlari menghampirinya dan berhenti tepat dihadapannya.
Dengan nafas tersengal Ia mencoba menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya dengan benar.
"Ada apa? Apa yabg terjadi?" tanya Chakra dengan penasaran.
Rere mengarahkan jemari telunjuknya ke arah kerumunan dibalik mobil ambulance, dan sesudah nafasnya merasa normal, Rere menarik pergelangan tangan Chakra untuk melihat apa yang terjadi.
Chakra hanya bisa mengikuti langkah Rere kemana Ia akan dibawa melangkah pergi.
Sesampainya ditempat kermuan, tampak bebepa orang tenaga medis yang menggeleparkan tubuhnya dihalaman rumah sakit karena barusan saja menghirup asap hitam yang dimenyebar di udara karena dilemparkan seseorang.
Chakra yang menggunakan masker dan tak dapat dapat menghirup asap itu hingga masih dapat terselamatkan.
Beberapa pasien yang baru datang juga terkena imbasnya dan menambah memperburuk kondisi mereka.
Seketika Chakra bergegas dan menuju tenda dimana ayahnya dirawat.
Chakra memasuki tenda dan melihat sosok mengerikan menggengam sesuatu yang sangat asing bagi Chakra, sebuah tabung kaca yang tampak merupakan cairan berwarna hitam.
Dengan cepat Chakra meraih pisau sankur yang yang Ia sembunyikan di saku celana disisi kanannya, dan..
Wuuusss...
Pisau itu menancap di didada sosok tersebut, dan dengan cepat kembali seperti semula tanpa luka sedikitpun.
Chakra terperangah dan menatap dengan penuh keheranan. Ia menduga jika sosok itu bukanlah manusia, lalu sosok itu melemparkan tabung kaca tersebut ke arah Chakra dan dengan cepat Chakra menatapnya.
Saat Ia berhasil menangkapnya, sosok itu telah menghilang melalui pintu tenda didepannya.
Rere datang menghampiri dan melihat apa yang digenggam oleh Chakra.
"Apa ini?" tanya Rere penasaran, sembari meraihnya dari tangan Chakra.
Chakra berusaha bangkit dari lantai tenda, dan berdiri dengan tegak.
"Entahlah.. Aku memergoki seseorang yang mencurigakan, dan anehnya Ia tahan terhadap senjata tajam dan tidak dapat terluka. Ia melemparkan tabung ini kepadaku, lalu menghilang" jawab Chakra menjelaskan.
Rere terdiam sejenak "Ini mirip dengan cairan yang terpecah didepan sana dan menyebabkan para medis kejang. Kemungkinan ini racun yang sengaja disebarkan untuk membuat wabah infeksi ini semakin menyebar dan sulit ditangani, kita harus menemukan penyusup itu dan memusnahkan tabung ini agar tidak mencemari udara" ujar Rere.
Chakra hanya mengerutkan keningnya mendengar penjelasan dari Rere.
"Dimana sebaiknya memusnahkannya?" tanya Chakra merasa bingung.
Rere terdiam sejenak, mencoba berfikir dimana Ia harus memusnahkan tabung tersebut tanpa mencemari udara ataupun air.
"Masukkan kedalam toilet saja" ucap Chakra menyarankan.
Rere menatap pada Pemuda didepannya.
"Boleh juga" jawabnya, lalu Ia bergerak mencari toilet yang seperti disarankan oleh Chakra, namun toilet tampak ramai karena banyaknya pasien.
Rere mengurungkan niatnya dan mencoba mencari tempat aman lainnnya.
Seketika Rere berinisiatif untuk menguburnya saja. Rere menu menuju halaman belakang rumah sakit, lalu menggunakan sebuah pisau Ia menggali sebuah lubang dan menanam tabung tersebut.
Saat sudah menanamnya, Ia menusuknya hingga terdengar suara tabung itu pecah dan kembali menimbunnya hingga tak ada yang melihatnya dan menutupinya dengan beberapa sampah agar tidak ada yang melihatnya.
Lalu Rere beranjak dari tempat tersebut, dan saat Ia akan pergi meninggalkan halaman belakang, satu sosok menghadangnya, dengan seringai mengerikan Ia mentap Rere dan merubah wujudnya menjadi sosok manusia berkepala ular kobra.
Seketika Rere tersentak ketakutan melihat hal tersebut, sebab seumur hidupnya Ia tidak pernah melihat makhluk seperti itu.
Makhluk itu melesat dan menyerang Rere yang masih diam terpaku menatap dengan bingung.
Entah keberanian darimana Ia menggunakan pisaunya dan dengan cepat membalas serangan sosok mengerikan itu.
Rere mengingat ucapan Chakara jika sosok itu tahan terhadap senjata tajam. Lalu Rere mencoba menyerang kepala sosok tersebut. Hingga tanpa diduga sosok itu hancur menjadi serpihan. Rere menilai jika kelemahan sosok itu pada kepalanya, sebab hanya kepalanya yang berubah menajdi sosok lain.
Rere terperangah melihatnya, dan ternyata analisanya benar.