Buhul ghaib

Buhul ghaib
Draft lagi-6



Andre mengahampiri wanita yang kini sedang berlumuran darah dari bagian wajahnya karena saat Dina melemparkannya keluar dari balkon kamar, wajah wanita itu mendarat dilantai trotoar yang kasar.


Andre berjongkok melihat wajah wanita yang luka parah tersebut.


"Heei.. Kau apakan anak buahku?" tanya Andre dengan tatapan intimidasi.


Ristih menoleh kearah Andre, kembali menatap penuh amarah.


"Dia memaksaku melakukan hal itu, Aku bisa apa?" jawab Ristih beralibi.


"Dasar Kau brengseek.!!" ucap Andre dengan kesal. Lalu Ia menjitak kening Ristih dengan kasar, sehingga membuat wanita itu terjengkang kelantai.


"Buang Dia ketempat yang jauh, jangan sampai Ia berkeliaran disini" titah Andre dengan kesal.


Lalu Jodi yang merasa sangat geram karena kehilangan teman karibnya langsung saja menyeret wanita itu dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.


Jodi dibantu 2 orang temannya langsung membawa tubuh wanita itu kesuatu tempat yang jauh dan sepi.


Saat itu Edy sedang merasa galau, Ia bingung harus berbuat apa karena Asih masih tertidur dan terlihat mendengkur.


Ia berniat ingin berjalan-jalan dan mencari udara segar.


Saat itu Ia ingin membuka pintu rumah. Namun Ia mendengar suara deru mesin mobil berhenti tak jauh dari rumah yang kini mereka tinggali.


Edy mengurungkan niatnya, Ia mengintai dari balik tirai jendela. Ia melihat 3 orang bertubuh kekar menggunakan topeng penutup wajah dan keluar dari mobil lalu menuju bagasi mobil.


Tak berselang lama, tampak ketiga pria itu menarik sesuatu dan mengangkatnya, lalu membuangnya ketempat sampah.


Mereka mengedarkan pandangannya dengan tatapan was-was, takut jika ada yang mengawasi semua perbuatan mereka.


Setelah merasa aman, mereka pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Setelah melihat para ketiga pria itu pergi. Edy yang merasa penasaran dengan isi didalam karung tersebut, bergegas membuka pintu dan menghampiri karung tersebut.


Ia melihat jika karung itu tampak ada noda darah merembes keluar dari sela-sela karung.


Edy yang merasa curiga segera membuka karung tersebut dan tersentak kaget saat melihat isi dari karung tersebut.


Edy celingukan kesana kemari. Lalu menarik karung itu kedalam rumah, dan meletakkannya didapur. Ia mengeluarkan seseorang dari dalam karung tersebut.


Ia terkejut ketika melihat seorang wanita bertubuh aduhai terluka parah dengan wajah yang penuh darah yang terus mengalir dari kulitnya yang penuh luka.


Edy menatapnya dengan seksama. Seketika Edy dikejutkan oleh tangan wanita itu yang bergerak menangkap peegelangan tangannya.


Ternyata Ristih menyadari jika sepertiga permata mirah delima itu tersembunyi ditubuh pemuda itu.


Ristih ingin mengambilnya, namun Ia harus menyesap bibir pemuda itu untuk mengeluarkan permata tersebut.


Ristih semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Edy dan memaksa pemuda itu untuk bercinta dengannya.


Edy yang bingung dengan keinginnan wanita itu berusaha melepaskan cengkraman tangan wanita misterius itu.


"Heei.. Siapa Kau?! Apa yang Kau inginkan?!" tanya Edy dengan nada penekanan.


Suara Edy yang sangat keras membangunkan Asih yang sedang tertidur pulas.


gadis itu mendengar suara keributan dari arah dapur, lalu Ia bergegas menuju dapur dan melihat seorang wanita dengan luka parah berusaha untuk menindih Edy.


Dengan cepat Asih menendangkan kakinya ke wajah wanita hingga tersungkur kelantai.


Ia meraih tubuh Edy yang terlentang dilantai dan membantunya berdiri.


"Apa yang Kau lakukan dengan wanita itu? Mainan ini milikku, dan jangan pernah mencoba membaginya dengan orang lain" ucap Asih sembari mencengkram lato-lato milik Edy yang masih terbungkus celana jeans.


Seketika Edy membolakan matanya atas perbuatan konyol Asih, lalu Ia menepis tangan Asih agar menjauh dari lato-latonya.


"Kau..?!" ucap Asih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Mengapa Kau membawanya kedalam rumah?" tanya Asih dengan kesal.


Seketika Edy mengangkat kedua bahunya "Aku hanya kasihan melihatnya, karena ada orang yang membuangnya." jawab Edy dengan merasa tak bersalah


"Sudah tahu dibuang orang, tetapi malah Kamu pungut" ucap Asih dengan geram.


Lalu Asih menyeret wanita itu keluar dari dapur dan melemparkannya kehalaman belakang.


"Kita harus membunuhnya, jika tidak Dia yang akan membunuh Kita" ucap Asih dengan kesal.


"Bagaimana mungkin Kita membunuhnya, Apa kesalahannya?" tanya Edy penasaran.


"Apakah Kau tidak tahu siapa wanita ini?" ucap Asih dengan geram.


Edy mebggelengkan kepalanya, karena Ia memang tidak mengetahuinya.


"Dia ini Ristih, ratu siluman ular yang waktu itu ingin menjadikanmu sebagai tumbal persembahan. Ia akan mengambil sepertiga batu mirah delima yang ada ditubuhmu dan tubuhku" ucap Asih menjelaskan.


Seketika Edy terperangah, bagaimana mungkin siluman itu kini menjadi manusia biasa.


"Ambilkan Dwi Sulaku, kita harus mengirimkannya ketempat asalnya." ucap Asih dengan nada perintah.


Seketika Edy bergegas kekamar dan mencari tas joran milik Asih, lalu mengambil senjata dwi sula yang diminta oleh Asih.


Ia memberikannya kepada Asih, lalu dengan cepat Asih meraihnya, dan menancapkan Senjata itu kejantung Ristih "Kembalilah ke alammu" ucap Asih dengan penuh amarah, lalu mencabut senjata itu, dan mengangkat tubuh Ristih, dan menendangnya dengan sekuat tenaga hingga melayang keudara.


Ristih yang sudah tidak berdaya hanya pasrah dengan nasibnya, dan Ia hanya dapat mengerang kesakitan.


Lalu tampak sebuah bayangan secepat kilat menangkap tubuh itu dan membawanya pergi.


Seketika Asih terperangah, karena melihat sekilas bayangan tersebut.


"Berhati-hatilah. Sebaiknya kita harus melindungi satu sama lain. Dan ku ingatkan padamu, jangan pernah membagi mainanku kepada wanita lain" ucap Asih dengan tatapan intimidasi.


Lalu Ia pergi memasuki kamar dan membersihkan diri dikamar mandi.


Ia berniat jika hari ini akan mencari keberadaan Wei, untuk mengambil kembali batu permata miliknya.


Edy masih menenangkan hatinya, mencoba membujuk lato-latonya yang sedikit bergerak-gerak karena ulah Asih tadi.


Setelah merasa normal, Ia memasak sarapan sembari membersihkan sisa noda darah yang tercecer dilantai.


"Mengapa Aku bisa seperti ini? Menuruti gadis itu, bahkan rela memasak sarapan untuknya" guman Edy dalam hatinya.


Namun Ia sendiri tidak tahu, mengapa Ia begitu menjadi penurut kepada seorang gadis setengah siluman itu.


Asih setelah Asih selesai mandi, Ia melihat Edy sudah menyiapkan sarapan dan juga membersihkan noda darah dilantai dapur.


"Sudah selesai mandinya, Nona?" tanya Edy dengan mengedipkan satu matanya.


Asih hanya menjawab dengan mencibirkan bibirnya.


Sungguh hal itu membuat Edy semakin gemas. "Siang ini Aku akan mencari keberadaan Wei, Aku harus merebut kembali batu mustika itu" ucap Asih, sembari menyuapkan sarapannya.


Edy menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi Ia hanya bisa mematuhi apapun yang diucapkan oleh Asih, gadis itu sudah mengubahnya menjadi sesorang yang hanya bisa mematuhi segala ucapan dari gadis itu.


"Apakah Kau mengetahui dimana letak batu permata itu?" tanya Edy dengan penasaran.


Asih menatapnya dengan seksama. "Aku dapat merasakan getarannya, dan Aku dapat mengikuti getaran itu" jawab Asih lalu menghabiskan suapan terakhirnya.